Monday, December 29, 2014

Komparasi Pemikiran Abu Hasan Al-Asy'ari dan Sirajuddin Abbas tentang Konsep Istiwa

Oleh: Khairil Miswar

Makalah
Agustus, 2014
KATA PENGANTAR


K.H. Sirajuddin Abbas


Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Swt, Tuhan seru sekalian alam yang telah memberikan nikmat dan karuni-Nya kepada kita semua. Selawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw dan juga kepada para sahabat dan ahlul bait beliau sekalian.



Aceh, Politik dan Al-Qur'an

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 Mei 2013

“Aceh nyoe kaya nama pih meugah
Meubek meutuwah gata peuhina” 
(Syeh Rih Krueng Raya,1985)

Ketika nama Aceh disebut, kira-kira apa yang terlintas di benak kita selaku anak bangsa? Tidak bisa tidak, tentunya kita akan merasa bangga dan terkagum-kagum. Tidak cuma kita sebagai putra-putri Aceh yang lahir dan hidup di Aceh, mereka yang di seberang sanapun ikut tersenyum termalu-malu. Betapa tidak, banyak sekali hal istimewa di Aceh yang tidak pernah mereka temui di tanah kelahiran mereka. 



Aceh dan Eksistensi Indonesia

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Agustus 2013

Khairil Miswar
Foto Tahun 1999
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, sebagaimana disebutkan oleh T. A Talsya (1990a) tidak diketahui oleh masyarakat Aceh, meskipun proklamasi tersebut telah disiarkan oleh beberapa radio. Pada 21 Agustus 1945, Radio Australia kembali menyiarkan bahwa Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, namun sayangnya informasi ini juga tidak diketahui oleh orang Aceh karena ketika itu radio-radio milik rakyat telah disita oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak meletusnya Perang Asia Timur Raya. Berita kemerdekaan Republik Indonesia baru diketahui oleh rakyat Aceh pada tanggal 15 September 1945.



Wednesday, December 24, 2014

Tgk. Muhammad Daud Beureu-eh; Sang Revolusioner dan Mujaddid Tanah Rencong


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 30 April 2013

A. Pendahuluan

Rasanya tidak ada orang Aceh yang tidak kenal dengan nama Tgk. Muhammad Daud Beureu-eh. Sosok kharismatik Aceh yang pernah membuat pemerintah Jakarta panik dan kalang kabut khususnya di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Biasanya, ketika menyebut nama Daud Beure-eh, memori orang-orang tua kita di Aceh langsung tertuju kepada peristiwa berdarah yang dikenal dengan Pemberontakan DI TII. 



Syari’at Islam di Aceh, Antara Semangat dan Kenyataan (Sebuah Harapan Pada Pemimpin Baru)

Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 09 Juni 2012

Khairil Miswar
Foto Tahun 2005
Syariat Islam di Aceh yang pada awalnya merupakan produk politik Jakarta dengan maksud meredamkan bara konflik di Aceh akhirnya dalam perjalanannya telah berevolusi menjadi sebuah kebutuhan yang paling urgen dan sakral bagi rakyat Aceh. Adalah logis jika rakyat Aceh dalam konteks kekinian merindukan penerapan Syariat Islam di bumi Serambi Mekkah ini mengingat romantika sejarah kejayaan Aceh masa lalu tidak terlepas dari kejayaan Islam itu sendiri. Aceh merupakan gerbang satu – satunya yang menjadi pintu utama masuknya agama Islam ke nusantara. 



Sunday, December 21, 2014

Hentikan Stigma Sesat Terhadap Wahabi


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 19 Januari 2012

Sebelum menulis tulisan ini penulis sempat berfikir ratusan kali tentang efek negatif dari sebagian sahabat yang nantinya kebetulan membaca tulisan ini. Sebenarnya, penentangan yang akan datang dari sebagian sahabat menurut penulis wajar-wajar saja dan merupakan konsekuensi yang harus diterima sepenuh hati. Sebelumnya beberapa tulisan dengan tema hampir serupa, baik yang dimuat oleh Harian Aceh maupun dibeberapa media online banyak mendapat kritik dan kecaman dengan bahasa yang kurang sedap. Kecaman dan kritik tersebut biasanya terjadi di kolom komentar yang biasanya terletak dibawah tulisan (edisi website).


HAM=HOM


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 23 Mei 2011

Khairil Miswar
Foto Tahun 1999
Banyak orang – orang yang mengaku tokoh HAM tapi mereka tidak faham bahkan tidak mengenal HAM. Kata – kata HAM sering didefinisikan sesuai dengan hajat dan selera mereka. Seorang guru yang mencubit muridnya karena bandel juga sering dituding melanggar HAM. Seorang suami yang memarahi istrinya karena rajin selingkuh juga dianggap melanggar HAM. Seorang ayah yang menampar anaknya karena ugal-ugalan dijalan juga dikatakan melanggar HAM. Sungguh hidup kita telah dikuasai oleh HAM, bacut – bacut HAM. Anehnya ketika kita tanyakan kepada mereka apa itu HAM, mereka akan menjawab HŐEM. Demikian liarnya pemakaian istilah HAM sehingga terkadang kita kebingungan.. 



Habis Sesat Terbitlah Stres


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 05 April 2011

Sumber: jadiberita.com
Secara sederhana aliran sesat dapat diartikan sebagai sebuah aliran atau sekte dalam suatu agama yang sebagian atau seluruh ajarannya bertentangan dengan aturan dasar agama tersebut. Dalam Islam aliran sesat ini sering disebut dengan istilah “ Firqah Dhallah “. Sebenarnya istilah aliran sesat bukanlah hal baru dalam Islam. Salah satu aliran sesat terbesar yang masih eksis sampai sekarang adalah sekte Syi`ah yang mayoritas berkembang di Iran.



Guru Agama, antara Profesi dan Kompetensi


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 18 Februari 2012

Dalam paradigma Jawa pendidik diidentikkan dengan guru (gu dan ru) yang berarti “digugu” dan “ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru memiliki seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru memiliki kepribadian utuh, yang karenanya segala tindak – tanduknya patut dijadikan panutan dan suri teladan oleh peserta didik (Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah, 2010, hal 87)



Fenomena Dukun di Aceh


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 18 Oktober 2011

Ilustrasi. Sumber: www.ceritamu.com
Aksi main hakim sendiri kembali terjadi Aceh. Beberapa hari lalu di beberapa media diberitakan tiga unit rumah milik keluarga Ismail Abdullah di desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa, Bireuen hangus dibakar massa. Warga didesa tersebut menduga sebagian besar santri, terutama remaja putri di desa itu yang selama ini sering kesurupan dan mengalami kemasukan setan akibat ulah Ismail Abdullah. Warga juga menyebutkan, sebelum ketiga rumah tersebut dibakar, pada malam itu puluhan santri Dayah Darul Islam di sana mengalami kesurupan (Harian Aceh, 17/10/11). 



Fenomena Dakwah di Aceh


Oleh : Khairil Miswar 

Ditulis Pada Tanggal 01 Mei 2011

Menjadi da`i atau pendakwah merupakan pekerjaan yang sangat mulia dalam Islam. Tidak semua orang dapat menggeluti profesi yang mulia ini dikarenakan butuh proses yang lumayan panjang. Penguasaan ilmu ( materi dakwah ) merupakan hal yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap pendakwah. Selain pengetahuan agama seorang pendakwah juga dituntut untuk memahami ilmu – ilmu non syariat yang berhubungan dengan persoalan-persoalan sosial. Selanjutnya para pendakwah juga harus menguasai ilmu sejarah khususnya yang menyangkut dengan riwayat kehidupan Nabi Saw, shahabat, tabi`in, tabiut tabi`in, imam mujtahid dan sejarah Islam secara umum. 



Fenomena Atheisme dan Komunisme di Indonesia


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Juli 2012

Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani (atheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/ kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya (Wikipedia).



Daud Beureueh dan Syariat Islam di Aceh


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 September 2013

Bagi kalangan muda yang peduli tentang sejarah Aceh tentu sedikit banyaknya telah mengenal siapa Daud Beureu-eh, baik melalui buku-buku sejarah ataupun lewat cerita lisan. Berbeda halnya dengan pemuda-pemuda kita yang kurang respek terhadap sejarah, mungkin mendengar nama Daud Beureu-eh saja mereka tidak pernah – bahkan apatis.



Ciptakan Dakwah Sehat!


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 01 Mei 2011

Khairil Miswar. Foto Tahun 2013
Sebenarnya pembahasan tentang metode dakwah dan hal-hal yang menyangkut perilaku serta adab para pendakwah sudah sangat sering dibahas oleh para penulis baik melalui buku-buku maupun melalui tulisan-tulisan di media massa. Namun pada kenyataannya etika dan adab penyampaian dakwah yang dilakukan oleh para pendakwah khususnya di Aceh masih jauh dari bimbingan syariat yang murni. Bertolak dari fakta ini membuat saya ingin kembali membahas tema ini walaupun mungkin terkesan sedikit membosankan.



Da'i Selebritis


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Februari 2014

Kemunculan da’i-da’i muda di Indonesia dapat kita saksikan sendiri melalui beberapa stasiun televisi yang ada di Indonesia. Apalagi di Bulan Ramadhan, para da’i nampak kebanjiran job sehingga mereka kelihatan sibuk untuk membagi waktu karena ramainya permintaan untuk manggung. Secara kuantitas, jumlah da’i di Indonesia saat ini, khususnya da’i televisi tidak kalah dan bahkan hampir sebanding dengan jumlah selebritis yang saban hari menghiasi pemberitaan khususnya di acara-acara “infotainment”. Media infotainment itu sendiri meski indentik dengan dunia selebritis, namun pada kenyataannya para da’i juga tidak ketinggalan nimbrung dan diperbincangkan melalui media tersebut.

Ustaz Nur Maulana. Sumber: www.appszoom.com
Pada prinsipnya dengan lahirnya banyak da’i di Indonesia di satu sisi juga patut diapresiasi mengingat keberadaan para da’i itu sendiri sangat dibutuhkan di tengah karut-marutnya Indonesia dengan berbagai “penyakit umat” seperti korupsi, tawuran, perampokan, perkosaan dan tindakan asusila lainnya yang sudah masuk dalam tahap kronis. Namun di sisi lain, dengan munculnya berbagai corak da’i di Indonesia juga patut dikhawatirkan karena nilai-nilai Islam bisa tercoreng akibat perilaku sebagian da’i yang justru melecehkan keagungan Islam itu sendiri.

Kehadiran “ustaz gaul” di Indonesia dengan berbagai gaya dakwah dan penuh dengan lelucon menurut penulis sah-sah saja selama tidak kelewat batas alias kebablasan. Namun dalam pandangan penulis tingkah sebagian da’i (ustaz) di Indonesia hari ini telah masuk dalam katagori memperolok-olok kemuliaan dakwah itu sendiri dengan model dakwah yang dibuat-buat. Perilaku olok-olok tersebut salah satunya adalah dengan munculnya da’i “ala bencong” yang di antaranya dipraktekkan oleh “Ustaz M. Nur Maulana”. Perilaku “da’i bencong” itu sendiri dalam pandangan penulis telah merendahkan nilai-nilai Islam, apalagi Islam secara tegas melarang seorang laki-laki menyerupai perempuan, demikian juga sebaliknya. Perilaku “da’i bencong” merupakan salah satu contoh dari sekian banyak model da’i yang ada di Indonesia hari. Di satu sisi mereka menyiarkan Islam kepada umat, namun di sisi lain mereka justru terkesan merusak nilai-nilai Islam. Sebuah sikap yang jelas-jelas kontradiktif.

Mengintip Da’i Aceh 

Pada prinsipnya kritikan dan pujian itu bagai dua sisi mata uang dalam artian saling melengkapi dan menutupi. Pujian diperlukan untuk menambah semangat agar tetap optimis dan juga berguna untuk melahirkan motivasi sehingga usaha-usaha selanjutnya menjadi maksimal. Namun pujian yang berlebihan terkadang dapat membuat seseorang terperosok dalam jurang kehancuran. Sebagaimana halnya pujian, kritik juga diperlukan sebagai penyeimbang agar benih-benih kelemahan, kesilapan dan kesalahan dapat terobati sehingga penyakit “ananiyah” (akulah/ego) tidak hinggap di hati. Dalam konteks inilah penulis memberanikan diri untuk menelurkan tulisan ini. Tidak ada sedikitpun niat di hati penulis untuk menggurui siapapun apalagi sampai menjadi hakim yang memainkan palu.

Sebagaimana telah penulis terangkan di atas bahwa kemunculan da’i yang ber-aneka ragam secara umum terjadi di Indonesia, dan secara khusus fenomena ini juga melanda Aceh. Jika kita cermati dengan seksama hampir dapat disimpulkan bahwa sebagian (besar) da’i di Aceh hari ini tidak jauh berbeda dengan da’i-da’i televisi yang telah penulis singgung di atas. Jika ingin diklasifikasikan, maka secara umum menurut penulis ada dua model da’i di Aceh; pertama “da’i tradisional” dan kedua “da’i modern”. Da’i tradisional adalah da’i yang melaksanakan aktivitas dakwahnya secara sederhana serta mengikut kepada model dakwah para pendahulu umat ini dengan menyuguhkan materi dakwah yang penuh dengan hikmah dan nasehat. Da’i tradisional adalah mereka-mereka yang berdakwah secara bijak dengan menegakkan hujjah (dalil) dalam setiap pembicaraanya serta mengajak umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Model da’i tradisional ini sudah sangat langka di Aceh. Model dakwah tradisional ini biasanya dipraktekkan oleh para “Abu” atau ulama-ulama chiek dengan gaya bicara yang sederhana dan langsung kepada substansi dakwah tanpa dibumbui dengan gaya yang berlebihan.

Sedangkan da’i modern adalah para da’i yang lahir di abad modern dengan model dakwah yang mengikut ala modern. Da’i modern ini terbagi ke dalam dua katagori; Pertama, “da’i modern ala tradisional”; maksudnya gaya ceramah mereka bersifat modern namun prinsip dalam berdakwah tetap mengikut kepada model tradisional yaitu mengajak umat untuk bertaqwa kepada Allah dengan cara menegakkan dalil dalam setiap dakwahnya namun dalam pembicaraannya dibumbui dengan retorika ala modern agar menarik untuk disimak oleh umat. Model da’i seperti ini juga sudah mulai langka di Aceh. 

Selanjutnya tipe kedua dari da’i modern adalah “da’i modern ala selebritis”. Tentang da’i selebritis ini sebenarnya sudah banyak ditulis oleh para penulis di beberapa media, khususnya media nasional. Namun demikian, fenomena ini tetap menarik untuk dibahas. Jumlah da’i ala selebritis ini terbilang cukup banyak di Aceh dan paling digemari oleh sebagian masyarakat Aceh. Da’i model ini adalah para da’i yang memposisikan dirinya sebagai penghibur massa dengan berbagai gaya yang mereka mainkan. Sebagian dari mereka ada yang menjadi pelawak di atas panggung dengan menyuguhkan materi dakwah yang penuh dengan lelucon sehingga massa tertawa terbahak-bahak dan bahkan terpingkal-pingkal mendengar celotehan sang da’i. Dalam menjalankan dakwahnya da’i model ini tidak segan-segan mengarang cerita-cerita lucu untuk disampaikan kepada massa agar dakwahnya menjadi semarak. Ironisnya lagi, dalam sebagian dakwahnya, khususnya dalam dakwah maulid dan israk mi’raj para da’i ini membuat cerita-cerita palsu dan disampaikan dengan gaya meniru “bahasa ala bencong” dengan maksud agar para pendengar tertawa. Terkadang tanpa disadari melalui cerita-cerita palsu tersebut mereka (da’i) justru melecehkan nilai-nilai Islam. 

Di samping itu, ada pula da’i lainnya yang berakting layaknya penyanyi panggung. Setelah membuka pembicaraan dengan puji-pujian sekedarnya plus shalawat ala kadar, mereka (da’i) langsung tancap gas menyanyikan berbagai model lagu, mulai dari lagu India sampai lagu “Krisdayanti dan Syarini”. Tak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang keluar dari mulut mereka, demikian juga tidak ada sebaris haditspun yang mereka bacakan untuk umat.

Menurut penulis, kedua tipe da’i yang penulis sebutkan terakhir adalah para da’i yang telah keluar dari katagori da’i secara hakiki. Mereka hanyalah “da’i majazi” yang secara lahir nampak sebagai da’i karena penampilan mereka dihiasi dengan peci putih dan “ija ridak” di bahu, namun pada prinsipnya mereka hanyalah para penghibur yang menjadikan medan dakwah sebagai sarana bisnis guna meraup keuntungan duniawi. Sebagai da’i seharusnya mereka mencerdaskan umat dengan nilai-nilai Islam, bukannya melalaikan umat dengan nyanyian dan lelucon yang mereka buat-buat.

Menurut penulis, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh harus mengambil peran untuk membimbing para da’i selebritis agar mereka tidak merusak nilai-nilai Islam dengan gaya mereka yang kebablasan dalam berdakwah. Jika kita ingin syariat Islam tegak di Aceh, maka da’i-da’i selebritis ini harus ditertibkan dan dikembalikan ke habitatnya. Model dakwah yang dikembangkan oleh da’i seleberitis sama sekali tidak membawa pengaruh kepada perubahan sikap umat. Munculnya berbagai aliran sesat di Aceh menjadi bukti bahwa dakwah yang dikampanyekan oleh da’i selebritis sama sekali tidak efektif. Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah dimuat di Atjehlink.com


Cintailah Ulama


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 12 November 2011

Ditinjau dari segi bahasa kata `ulama merupakan bentuk jamak (taksir) dari kata `aalimun yang berarti orang yang mengetahui. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi Rh bersumber dari Abu Darda Ra, Nabi Saw bersabda “ Ulama adalah pewaris para Nabi “. Dalam matan hadits tersebut juga disebutkan bahwa para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka ( para Nabi ) mewariskan Ilmu. Dengan demikian jelaslah bahwa ulama adalah orang – orang yang telah mewarisi ilmu dan petunjuk dari para Nabi. 



Percikan Noda di Sorban

Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 06 Januari 2011

Khatib merupakan isim fa`il (Subjek) dari kata khataba yang berarti mengucapkan atau berbicara (Kamus Marbawi), sedangkan da`i merupakan isim fa`il (subjek) dari kata daa`a yang berarti menyeru atau memanggil (kamus marbawi). Jadi secara bahasa khatib dapat diartikan sebagai Pembicara dan da`i berarti Penyeru atau orang yang mengajak. Dalam konteks agama khatib berarti penceramah atau orang yang memberi khutbah, sedangkan da`i dapat diartikan sebagai pendakwah. Walaupun berbeda secara tekstual tetapi kedua kata ini memiliki makna dan tujuan yang sama.



Bid'ah


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 Mei 2012.

Penulis terinspirasi untuk menulis tema ini setelah penulis membaca beberapa komentar di kolom sms harian Pikiran Merdeka yang membahas tentang bid’ah, tentunya ada yang pro dan tidak sedikit pula yang kontra. Sebenarnya perdebatan yang terjadi antara ahlu sunnah dan ahlul bid’ah sudah terjadi ratusan tahun yang lalu sehingga bagi sebagian orang persoalan ini dianggap sebagai persoalan klasik. Namun demikian dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba membahas masalah bid’ah ini menurut beberapa referensi yang pernah penulis pelajari.



Bersatu dalam Keberagaman


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 29 Desember 2011

Islam adalah agama terakhir yang diturunkan oleh Allah sebagai pedoman hidup umat diakhir zaman. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada insan terpilih Muhammad saw melalui perantaraan ruhul amin (Jibril as). Islam diturunkan ditanah Arab ketika kerusakan moral orang – orang Arab mencapai puncak. Islam adalah penyempurna agama – agama terdahulu (Yahudi dan Nasrani). Islam adalah agama baru yang menghapus syariat terdahulu yang sudah diselewengkan oleh pemeluknya. 



Beda Belum Tentu Sesat, Sesat Sudah Pasti Beda


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Maret 2011

Setelah saya membaca Fatwa MPU Aceh di salah satu Harian lokal di Aceh (Jumat, 11/3/2011) tentang ciri – ciri aliran sesat, secara prinsip saya sangat sepakat untuk menumpas aliran sesat sampai keakarnya. Namun dalam fatwa tersebut saya menemukan satu poin yakni poin ke 3 yang berbunyi ; “meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan iktikad Ahlussunnah wal Jamaah”.



Antara Seni dan Mistis


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 14 Oktober 2011


Ilustrasi. Sumber: travel.detik.com
Bagi masyarakat Aceh khususnya masyarakat Bireuen batu cincin alias “bate incin” memiliki daya tarik tersendiri. Maaf jika dalam tulisan ini saya mengklaim bahwa kebiasaan memakai bantu cincin terkesan Cuma ada di Bireuen. Bisa saja kebiasaan ini juga terdapat di daerah lain. Namun saya melihat peminat batu cincin di Bireuen sangat tinggi dibanding dengan daerah lain. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan saya secara pribadi dan bukan hasil penelitian.



Antara Yahudi, Ki Joko Bodo dan Sunnah Jenggot


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Desember 2011

Dalam suatu ceramah di sebuah desa di Aceh penulis penulis sempat terkejut ketika mendengar sang penceramah membuat pernyataan aneh dan melecehkan sunnah Nabi Saw. Penceramah tersebut menyatakan bahwa orang – orang yang berjenggot adalah yahudi. Entah apa yang menyebabkan penceramah tersebut terlalu ekstrim terhadap jenggot. Anehnya penceramah tersebut merupakan orang yang dihormati oleh masyarakat disekitarnya. Beliau juga dianggap sebagai seorang `alim di daerahnya. 



Amar Ma'ruf Nahi Munkar dalam Pandangan Ulama


(Tanggapan Terhadap Kerancuan Berfikir Syekh Khalil Samalanga)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 Mei 2012

Khairil Miswar. Foto 2013
Menarik sekali membaca tulisan saudara kita Syekh Khalil Samalanga (selanjutnya disebut Syaikhuna) di Harian Pikiran Merdeka (10/05/12) dengan tajuk “Urgensi Hisbah dalam Syari’at”. Dalam tulisan tersebut Syaikhuna secara langsung atau tidak langsung hendak melegalkan aksi kekerasan dalam Islam. Syaikhuna juga memastikan bahwa aksi kekerasan yang sudah terlanjur dilakukan oleh FPI Bireuen adalah sebuah bentuk ketegasan dan bukan kekerasan. Mungkin Syaikhuna belum memahami makna dari kekerasan itu sendiri sehingga terjadi kerancuan dalam mengimplementasikan perilaku tersebut. Apakah merusak harta benda milik orang lain bukan kekerasan? Mencaci orang lain dengan kata-kata tidak pantas apakah bukan kekerasan? Coba deh difikir dan dikaji kembali agar tidak terjadi syubhat dan kekaburan dalam mendifinisikan makna dan bentuk kekerasan. 



Aliran Sesat Vs Aliran Brutal


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 24 November 2012

Sebagaimana kita ketahui bersama melalui berbagai literatur sejarah bahwa Aceh adalah gerbang utama masuknya agama Islam ke Nusantara. Kononnya lagi beberapa personil Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa juga berasal dari Aceh. Di masa lampau Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara. Islam ketika itu menjadi agama resmi kerajaan yang dianut oleh Sultan dan rakyat. Kemegahan Aceh kala itu tidak terlepas dari pengaruh agama Islam yang sudah mengakar dalam benak masyarakat Aceh. Rakyat Aceh adalah masyarakat sangat fanatik terhadap Islam. Rakyat Aceh tidak segan-segan mengangkat senjata apabila agama dan keyakinannya terusik. 



SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA (SPANYOL)

Oleh: Khairil Miswar, S. Pd. I
Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry, Konsentrasi Pemikiran dalam Islam 

Sumber Foto: www.snipview.com

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam Encylopedia Islam, sebagaimana dikutip oleh Merduati, disebutkan bahwa kata Spanyol berasal dari bahasa Arab, yaitu Sabtah yang awalnya berasal dari bahasa Latin; Septem yang berarti tujuh. Lengkapnya Septem Fatres yang berarti tujuh saudara.[1] Di dunia Islam, nama Spanyol lebih dikenal dengan Andalusia.



Antara Polisi Baik dan Polisi Jahat


Oleh: Khairil Miswar


Bireuen, 24 Mei 2013

“Gagah, ganteng, keren dan pemberani”, demikianlah pendapat sebagian orang ketika mereka mendengar nama polisi disebut, namun di sebalik pujian tersebut ada pula sebagian pihak yang menggambarkan polisi sebagai “tukang tilang, kasar, sok pintar, ego dan suka menggertak”. Kedua pandangan di atas jika disatukan maka bisa ditarik benang merah bahwa ada dua model polisi yang lahir dan hidup di tanah air kita Indonesia, yaitu model polisi baik dan model polisi jahat.



50 M untuk WN, Biaya Pengukuhan atau Keangkuhan?


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Oktober 2013

Judul tulisan ini adalah “copy paste” dari status Faurizal Sira, seorang teman di Facebook (02/10/13). Mohon maaf sebelumnya kepada Tgk Faurizal Sira karena status FB-nya terpaksa di “copas”, mengingat sulitnya menemukan judul yang cocok guna sekedar menyikapi pemberitaan Serambi Indonesia (02/10/13) terkait dengan usulan dana pengukuhan WN senilai 50 M. 



Ahlussunnah dan Sikap Caci Maki Ulama


(Catatan Kecil Untuk Mereka Yang Mengaku Dirinya Sebagai Santri)*

Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 20 Januari 2012

Beberapa hari yang lalu penulis sempat terjebak dalam status facebook milik seorang wanita yang mengakui dirinya sebagai seorang santri dan sekaligus seorang mahasiswi di salah satu Universitas Swasta di Aceh. Dalam status facebook wanita tersebut penulis mendapati puluhan bahkan ratusan komentar yang menyudutkan para ulama, khususnya para ulama penegak sunnah. Diantara ulama yang menjadi sasaran facebooker tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah رحمه الله , Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله dan Syaikh Muhammad Nahieruddin Al Al bani رحمه الله . Entah apa yang menyebabkan saudara kita tersebut sangat membenci para ulama. Dalam status facebook tersebut dia bukan saja mencaci tetapi sampai menyesatkan dan bahkan mengkafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله . Sungguh sangat disayangkan apalagi kata – kata cacian tersebut keluar dari mulut (via facebook) seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai seorang santri. Penulis juga pernah menjadi santri selama sebelas tahun (umur 7 tahun sampai 18 tahun ). Sebagai mantan santri penulis juga sangat keberatan dengan ulah orang – orang yang menghina ulama. Pada dasarnya penulis tidak bermaksud memperlebar persoalan ini apalagi hal tersebut terjadi di dunia maya, namun mengingat para ulama yang menjadi sasaran, maka sangat tidak etis rasanya apabila dibiarkan begitu saja. 



Saturday, August 30, 2014

Bireuen dalam Revolusi Kemerdekaan RI (1945-1949)

Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 31 Agustus 2014

Menulis sejarah bukanlah hal mudah, butuh ketelitian dan kejelian dalam menangkap makna berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau. Berbeda halnya dengan menulis novel yang hanya bergantung kepada imanjinasi dan daya khayal seorang penulis. Dalam sebuah novel, seorang penulis memiliki “kekuasaan mutlak” sebagai dalang yang akan menentukan arah cerita. Hal ini tentunya tidak berlaku dalam penulisan sejarah, di mana data dan fakta menjadi “ratu” yang tidak bisa diabaikan.