Thursday, September 7, 2017

Menjenguk Bunker Peninggalan Kolonial di Bireuen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Juli 2017

Penulis di Bunker Jepang

Setelah menempuh perjalanan sekira 2 km dari Kota Bireuen (Jumat, 14/07/17), kami pun tiba di kawasan perbuktikan yang oleh pemiliknya dinamai sebagai Puncak Teulaga Maneh. Kawasan ini masuk dalam wilayah kecamatan Juli dan Kota Juang. Lahan seluas 8 hektar ini adalah milik seorang warga Kecamatan Kota Juang, Muslem, yang sering disapa Tu Lem.


Tu Lem; Mimpi Besar Eks Combatan

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 17 Juli 2017

Penulis dan Tu Lem (Kaos Hijau)

Sekira dua minggu lalu, ketika sedang asyik-asyiknya meneguk kopi bersama Azmi Abubakar, tepatnya di sebuah warkop di depan Meunasah Kulah Batee Bireuen – kami dihampiri oleh seorang pemuda yang sebelumnya tidak saya kenal. Azmi mengenalkan si pemuda tersebut kepada saya. “Namanya Muslem, biasa dipanggil Tu Lem”, kata Azmi kepada saya. Dan kami pun bersalaman. “Tu Lem ini mantan kombatan”, tambah Azmi. Saya hanya mengangguk-nganguk mendengar penjelasan Azmi.


Thursday, August 24, 2017

Cambuk Garis Selfi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Juli 2017

Foto: http://diliputnews.com

Aceh kembali dilanda isu seksi terkait wacana modifikasi hukuman cambuk yang kononnya muncul pasca pertemuan Gubenur dan Wakil Gubernur Aceh dengan Presiden Jokowi di Istana Negara. Menurut riwayat, hukuman cambuk yang selama ini dilakukan secara terbuka akan dilaksanakan secara tertutup. Wacana ini kononnya dimaksudkan agar para investor tidak takut menanamkan modalnya di Aceh.


Intimidasi Barbarian

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Juli 2017

Foto: kaskus.co.id

“Seorang ahli IT dibacok.” Demikian tajuk berita dari beberapa media yang terlihat menyebar merayap melalui media sosial. Bahkan sebelum media maenstream merilis laporan resmi, media sosial telah lebih dulu hadir dengan ragam liputan terkait pembacokan terhadap Hermansyah, salah seorang ahli IT yang menyebut “tragedi” chat Habib-Firza sebagai palsu. Pada awalnya, laporan-laporan dari media sosial sempat membingungkan sebagian netizen dengan beredarnya foto-foto pembacokan yang sebagiannya justru hoax.


Thursday, July 27, 2017

Apa Karya dan Riwayat Terpendam Bagian II

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 Juni 2017

Penulis di depan rumah Apa Karya (2017)

Pagi itu (09/07/17), saya menikmati secangkir kopi panas bersama Azmi Abubakar di seputaran Kota Bireuen. Di sela-sela diskusi ringan, saya mengajukan satu pertanyaan kepada Azmi. Bagaimana bisa Apa Karya (Zakaria Saman) membangun rumah semegah itu? Awalnya saya menduga Azmi akan terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Tapi dia hanya tersenyum.


“Duet Maut” dan Identitas Simbolik

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 Juli 2017



Senior saya Risman Rachman, dalam catatan redaksi AceHTrend dengan tajuk “Style Aceh, Dok Takhem” mencoba mengulas tentang munculnya berbagai style pakaian yang digunakan kepala daerah di Aceh. Dari hasil pantauannya di media sosial, Risman menyebut ada tiga style yang sedang “viral” saat ini, yaitu meusingklet gaki, meugantung gaki dan meusarong gaki.


Tuesday, July 25, 2017

Menatap Bireuen dari Puncak Teulaga Maneh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 08 Juli 2017



Saya bersama Bang Azmi Abubakar mengawali pagi (Jumat, 06/07/17) dengan meneguk kopi di pusat Kota Bireuen, tepatnya di depan Meunasah Kulah Batee. Sambil menikmati kopi sanger, kami terlibat perbincangan dengan seorang pemuda Bireuen, sebut saja namanya “brother” (untuk menghindari menyebut bunga). Brother mengajak kami untuk jalan-jalan sambil menunggu waktu Jumat. Setelah menceritakan sedikit tentang objek yang akan dituju, kami pun merasa tertarik dan bahkan terhipnotis.


Monday, July 24, 2017

The Power of Singklet Gaki

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 04 Juli 2017



Mungkin tidak berlebihan jika ada segelintir pihak yang menuding kita sebagai bangsa peniru. Kita boleh saja tidak sepakat dengan tudingan ini, tapi hampir setiap waktu kita berhadapan dengan realitas teumiree (meniru). Contoh paling aktual mungkin dapat kita saksikan sendiri dalam dunia musik Aceh. Dengan pengecualian beberapa kelompok musik etnik, hampir sebagian besar lagu-lagu Aceh merupakan copy paste dari musik India dengan hanya mengubah syair dalam bahasa Aceh. Sehingga tidak heran jika seorang penyanyi bisa mengeluarkan empat sampai lima album dalam setahun.


Saturday, July 15, 2017

Apa Karya dan Riwayat Terpendam (Bagian I)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Juni 2017

Penulis bersama Apa Karya (Banda Aceh, 2016)


Sambil menikmati segelas kopi sanger, seorang teman yang juga orang dekat Apa Karya (Zakaria Saman) menceritakan sebuah peristiwa unik sekaligus mengharukan. Dalam logika sosial politik pasca konflik Aceh, cerita serupa ini hampir-hampir tidak bisa diterima oleh akal sehat mayoritas masyarakat Aceh. Dan dalam konteks yang lebih luas, kisah ini pun akan dianggap berlawanan dengan nalar sebagian kita yang telah terperangkap dalam kubangan “hedonisme.” Bukan tidak mungkin cerita ini akan divonis sebagai hanya imajinasi belaka.


Wednesday, July 12, 2017

Para “Pemburu” Salib

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 30 Juni 2017



Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Kristen adalah salah satu agama misi, di mana para penganutnya diperintahkan untuk menyebarkan ajarannya ke seluruh dunia. Penyebaran misi ini dilakukan melalui berbagai strategi, baik melalui peperangan maupun melalui pendekatan kultural. Dalam praktiknya, upaya Kristenisasi juga dilakukan dengan pendekatan ekonomi guna menyukseskan misinya. 


Tuesday, July 11, 2017

Menyiram Bunga Kertas di Hari Raya Medsosiah

Oleh: Khairil Miswar 

Bungkaih, 25 Juni 2017

Foto: Doc. Google

Kedatangan Ramadhan biasanya hanya disambut oleh orang-orang yang berpuasa, sebaliknya, kehadiran hari raya disambut dengan sangat meriah oleh setiap mereka yang merasa dirinya muslim, bahkan oleh mereka yang tidak berpuasa sekali pun. Meskipun sebagian kita bisa dengan mudah melupakan puasa, tapi hampir semua kita tidak mampu melupakan hari raya.


Friday, June 30, 2017

Netizen Beriman

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 Juni 2017

Foto: nybooks.com

Belum lama ini, Majelis Ulama Indonesia telah menerbitkan Fatwa MUI No. 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui media sosial. Fatwa ini menurut KH. Ma’ruf Amin, seperti dirilis kompas.com (05/06/17), dibuat akibat adanya kekhawatiran terkait maraknya ujaran kebencian dan permusuhan yang dilakukan oleh sebagian kalangan melalui media sosial. Dengan terbitnya fatwa ini diharapkan mampu meminimalisir penyebaran kabar bohong (hoax) yang saat ini telah mengarah pada upaya adu domba di tengah masyarakat.


Thursday, June 29, 2017

Mahasiswa Genit

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 21 Juni 2017

Foto: stuff.co.nz

Belum lama ini, Gubernur Zaini Abdullah mendapatkan penghargaan dari sejumlah mahasiswa yang diserahkan pada acara buka puasa bersama di Pendopo Gubernur Aceh. Dalam acara tersebut juga dilakukan penyerahan draft rekomendasi hasil Konferensi Aktivis Mahasiswa Aceh kepada Gubernur. Pada kesempatan itu, Zaini juga sempat menjelaskan berbagai keberhasilan pembangunan selama lima tahun kepemimpinannya (Serambi Indonesia, 19/06/17).


Monday, June 26, 2017

Kaum Homo dan Vonis Cambuk

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 Juni 2017

Foto: http://elwaha-dz.com

Baru-baru ini publik Indonesia dikejutkan dengan terbongkarnya pesta seks kaum gay yang bertajuk “The Wild One.” Pesta seks “menyimpang” ini digrebek oleh Tim Gabungan Polres Jakarta Utara dan Polsek Kelapa Gading dengan menangkap 144 orang (okezone.com). Temuan yang mengejutkan ini membuktikan bahwa fenomena gay (homoseksual) di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.


Pedagang Bertaqwa

Oleh: Khairil Miswar

Banda Aceh, 03 Juni 2017s

Mekkah Tempoe Doeloe
Foto: hawamer.com

Aktivitas perdagangan memiliki peran penting dalam penyebaran Islam sampai ke negeri-negeri yang jauh seperti Indonesia. Seperti diketahui, salah satu pintu masuknya Islam ke Indonesia, termasuk Aceh, adalah melalui transaksi perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang di masa lalu. Tidak hanya di Nusantara, penyebaran Islam melalui perdagangan juga terjadi di belahan bumi lainnya. Dengan kata lain, para pedagang muslim memiliki jasa besar dalam upaya Islamisasi di beberapa belahan dunia.


Friday, June 23, 2017

Ketika Mata Menjadi Hakim

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 04 Juni 2017

Foto: allaboutvision.com

Dalam KBBI, kata ‘melihat’ dimaknai sebagai sebuah tindakan menggunakan mata untuk memandang suatu objek. Sementara kata ‘memperhatikan’ diartikan sebagai kegiatan melihat dalam jangka waktu lama dan teliti. Dengan demikian, melihat dan memperhatikan selain memiliki persamaan, juga terdapat perbedaan. Kegiatan melihat hanya terjadi sepintas, sedangkan memperhatikan membutuhkan waktu lama dan tidak hanya melibatkan mata, tetapi juga pikiran, hati, dan kejelian.


Thursday, June 15, 2017

PLN Tuli Peluit

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Mei 2017

Foto: guoguiyan.com

Ramadhan pertama kampung saya gelap. Buka puasa perdana hari itu terpaksa menggunakan perasaan, karena stok lilin telah kosong. Bukan tidak ada persiapan, tapi karena terlanjur percaya kepada janji PLN, yang katanya Ramadhan tidak ada pemadaman. Tapi, kenyataannya PLN tetap ulok. Dan kita pun sudah terbiasa dengan ulok ala PLN.


Thursday, May 25, 2017

Intelektual Garis Tombol

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 Mei 2017

Foto: Buku Sepuluh Tahun Darussalam

“Atas dasar pemikiran jang bersendikan adjaran Ilahi, maka Darussalam adalah lambang kedamaian dan tjinta-kasih, tempat mentjetak manusia jang beriman dan berbakti, tempat menggali ilmu pengetahuan untuk disumbangkan kepada ummat manusia, tempat membina Manusia Pantjasila jang berdjiwa besar, berpengetahuan luas dan berbudi luhur.” (Ali Hasjmy, Sepuluh Tahun Darussalam, 1969).


Negara Semakin Panik!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 Mei 2017

Foto: aktual.com

Kemarin (08/05/17), Menkopolhukam Wiranto telah menggelar konferensi pers dan mengumumkan pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Wiranto menyebut keberadaan HTI dapat membahayakan NKRI. Secara lebih tegas seperti dilansir detik.com, Wiranto menyatakan bahwa HTI sebagai ormas berbadan hukum tidak melaksanakan peran positif dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Wiranto juga menyebut aktivitas HTI telah menimbulkan benturan di masyarakat serta mengancam keamanan.


Saturday, May 13, 2017

Pasca Ahok Kalah

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 Mei 2017

Foto: nahimunkar.com

Pilgub DKI telah usai dengan kemenangan yang diperoleh Anis-Sandi dalam pencoblosan beberapa waktu lalu. Rival mereka, Ahok-Jarot harus rela menerima kekalahan. Jika dicermati, kekalahan telak yang dialami Ahok-Jarot menjadi bukti bahwa gelora umat Islam yang menyala-nyala tak dapat dilawan. Bangkitnya sentimen keagamaan di tubuh umat Islam Indonesia merupakan salah satu faktor penting yang membuat Ahok terjungkal. Solidaritas umat Islam ini pada awalnya berpunca pada tindakan Ahok yang telah menistakan Al-Quran plus sikap tak etis yang ditunjukkannya kepada Rais Am Nahdatul Ulama, KH. Ma’ruf Amin. Akhirnya, dua sikap ini telah memicu kemarahan publik, khususnya umat Islam.


Friday, May 12, 2017

Mengusir Kepanikan

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 8 Mei 2017

Foto: antaranews.com

Tersiar kabar, Gubernur Kalimantan Barat diusir dari Aceh. Sekejap saja kabar ini pun beredar luas. Informasi ini juga sempat dirilis oleh beberapa media online di Aceh. Harianmerdeka.com (06/05/17) misalnya, mengabarkan bahwa puluhan aktivis FPI mendatangi hotel tempat menginap Gubenur Kalbar yang kononnya bernama Cornelis. Menurut Harian Merdeka, penolakan tersebut disebabkan oleh tindakan Cornelis yang disebut-sebut sering menolak kehadiran ulama ke Kalbar. Alhasil, masih menurut Harian Merdeka, Gubernur Cornelis – seperti diakui oleh pihak Hotel Hermes, akhirnya meninggalkan Aceh.


Ketika Muallem Harus Mengalah

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Mei 2017

Foto: acehterkini.com

Baru-baru ini netizen Aceh dihebohkan dengan beredarnya sebuah video berdurasi 1 menit 18 detik yang diposting seorang netizen di media sosial. Dalam video tersebut terlihat sebuah mobil CRV putih berplat BK 1603 ET yang ditumpangi Wakil Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf (Muallem). Mobil tersebut dipaksa oleh masyarakat setempat untuk “balik kanan” karena berlawanan arah.


Monday, May 8, 2017

Saudara Kembar “Berebut Tahta” (PA vs PNA)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 30 April 2017 

Foto: aceh.tribunnews.com

Sebelum terlalu jauh, penting ditegaskan bahwa tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mempertentangkan Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA) yang notabene berasal dari satu “kandang.” Tapi hanya sebuah upaya menjenguk masa lalu demi tercapainya masa depan yang lebih baik. Para pendiri kedua partai ini (PA dan PNA) sama-sama berasal dari kombatan dan juga sipil Gerakan Aceh Merdeka. Sebagaimana telah kita saksikan, pasca ditandatanganinya MoU Helsinky, GAM telah meninggalkan pola perlawanan bersenjata dan beralih ke panggung politik.


Friday, May 5, 2017

Jangan Biarkan Tikus Bunuh Diri

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 30 April 2017

Ilustrasi

Dulu, pada sekira tahun 2013, saya sempat membaca sebuah status menarik dari akun facebook yang menamainya dirinya sebagai “Status Suka-Suka Gue.” Si pemilik akun menulis: “Ribuan tikus terindikasi bunuh diri, diduga tak tahan selalu disamakan dengan koruptor.” Pada 2016 saya kembali menemukan sebuah twitan sejenis dari akun twitter @Liputan9. Dan, kemarin (29/04/17), ketika memantau beranda facebook, status serupa kembali muncul. Kali ini diposting oleh kakanda kita, Ampuh Devayan dengan tampilan yang lebih kreatif: “Breking News: Seekor tikus ditemukan gantung diri. Diduga ia nekat mengakhiri hidupnya karena malu disamakan dengan koruptor.” 


Wednesday, May 3, 2017

Para Pemuja dan Akal Yang Tertidur

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 27 April 2017

Ilustrasi
Foto: wallpaper-gallery.net

Ahbib habiibaka haunan ma ‘asa an yakuuna baghiidhaka yauman ma, wabghidh baghidhaka haunan ma ‘asa an yakuuna habiibaka yauman ma (cintailah kekasihmu sekedarnya saja, bisa jadi orang yang kamu cintai itu akan menjadi orang yang kamu benci di kemudian hari. Dan bencilah musuhmu sekedarnya juga, siapa tahu suatu saat dia akan menjadi orang yang paling kamu cintai).


Sunday, April 30, 2017

Selamatkan Mante!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 April 2017

Ilustrasi
Foto: pinterest.com

Kemajuan teknologi komunikasi di zaman multimedia seperti saat ini telah berdampak pada banjirnya informasi. Akibatnya, arus informasi yang kian hebat itu pun tak bisa dibendung. Melalui media sosial, beragam informasi bertaburan dan menyebar cepat ke seantero negeri. Sebagian informasi yang mengalir deras itu memang mencerahkan dan berdampak pada kecerdasan publik. Namun terkadang kita juga dihadapkan pada informasi palsu (hoax) yang membuat kewarasan sebagian kita tergadaikan sehingga muncullah fitnah dan saling hujat di media sosial.


Saturday, April 29, 2017

National Of Pruet

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 April 2017

Ilustrasi
Foto: /clipartfox.com

Di masa konflik, nama Zakaria Saman telah menjadi semacam legenda bagi masyarakat Aceh. Namanya begitu populer masa itu, tetapi tidak semua orang Aceh mengenal rupa dan wujudnya. Jabatannya sebagai Menteri Pertahanan GAM juga turut mengangkat namanya sebagai sosok yang paling ditakuti dan dicari oleh tentara Republik. Di masa perang, Zakaria Saman juga dikenal sebagai sosok “sangar” dan misterius.


Friday, April 28, 2017

Agam Gatai

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 April 2017

Ilustrasi
Foto: thehistoryblog.com

Beberapa tahun lalu, ketika dalam perjalanan ke Banda Aceh, saya menumpangi bus antar kota. Saat itu, saya mendapat jatah duduk paling belakang. Saya duduk berdampingan dengan seorang wanita bersama anak kecil. Si wanita tersebut adalah istri pak supir. Bersama kami juga ada seorang kernet (kinet). Seperti biasa, ketika bus melaju, semua lampu dimatikan sehingga keadaan menjadi gelap. 


Selamat Hari Kacingieng!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 21 April 2017

Ilustrasi
Foto: http://liuwelli.deviantart.com

Seperti biasa, tanggal 21 April selalu saja diperingati sebagai Hari Kartini atau dalam bahasa kerennya, “Hari Ibu Kita Kartini.” Bagi masyarakat Indonesia, Kartini adalah simbol perlawanan wanita terhadap perilaku diksriminatif kaum laki-laki. Kartini juga dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Oleh sebab itu tidak perlu heran ketika sosok-sosok wanita sukses di Indonesia juga digelari sebagai Kartini.


Saturday, April 22, 2017

Jangan Seperti Lembu

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 April 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: strangehistory.net

Bek lage leumo (jangan seperti lembu). Demikian kata-kata yang diucapkan oleh orang tua dulu ketika kita meledakkan petasan di waktu magrib. Pada waktu kecil, sebagian kita juga mungkin pernah mandi bareng dalam kulah mesjid (bak wudhu). Jika aksi ini diketahui pak bilal, maka stempel lagee leumo pun akan segera tertancap di jidat kita. Demikian pula ketika disuruh mengaji, sebagian kita mungkin ada yang berpura-pura ke dayah, tapi tembus ke belakang, ke kolam, menangkap bace (gabus). Pada saat aksi kita digrebeg oleh teungku, lagi-lagi kita dianugerahkan pujian eksotis, bit keuneuk jeut keu leumo (benar-benar mau jadi lembu). 


Adat dan Akai Burek Katek

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 April 2017

Sumber Foto: theodysseyonline.com

Kata akai menurut Kamus Aceh-Indonesia (Aboe Bakar dkk, 1985) bisa dimaknai bermacam-macam. Akai dalam bahasa Aceh terkadang sinonim dengan kata akal dalam bahasa Indonesia. Tetapi dalam kondisi tertentu, masih menurut kamus, kata akai juga bisa dimaknai sebagai sebuah kecakapan atau daya upaya, sebagai contoh: jih panyang akai (dia panjang akal/ pandai). Akai juga bisa diterjemahkan sebagai sebuah sifat atau watak, seperti: si Amat sit ka lagee nyan akai (si Amat memang sudah demikian sifatnya). Sebagai bahasa yang kaya, kata akai dalam bahasa Aceh juga bisa didefinisikan sebagai perilaku, sebagai contoh: jih brok that akai (dia buruk sekali perilakunya).


Saturday, April 15, 2017

Novel dan “Jihad” Melawan Koruptor

Oleh: Khairil Miswar

Bireueu, 12 April 2017

Sumber Foto: http://poskotanews.com

Masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan aksi ala “barbarian” yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan pada 11/04/17. Detik.com melaporkan Novel disiram air keras oleh OTK sehingga menimbulkan luka yang serius. Kejadian ini sebagaimana dilansir oleh beberapa media terjadi pada saat Novel dalam perjalanan pulang ke rumahnya selesai melaksanakan shalat subuh di sebuah mesjid dekat rumahnya.


Kautsar, “Luthernya” Partai Aceh!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 April 2017

Sumber Foto: Kautsar.net

Ini adalah tulisan kedua saya tentang sosok politisi muda Aceh yang juga mantan pejuang jalanan yang tetap “lancang” bersuara dalam desingan peluru di masa lalu. Dalam tulisan pertama beberapa waktu lalu, saya mencoba mengoreksi, untuk tidak menyebut mengkritik statemen politik Kautsar terkait keterlibatan ulama dalam politik yang menurut saya terlalu lebay. Dalam tulisan ini, sebagai seorang penulis merdeka, saya akan mencoba mengapresiasi sikap politik Kautsar yang baru-baru ini menuai kontroversi dan bahkan mendapat kritik dari internal Partai Aceh, tempat ia bernaung. Kautsar telah menunjukkan sebuah sikap berani yang muncul dari kader partai politik berbasis “komando” semisal Partai Aceh.


Wednesday, April 12, 2017

Hikayat Penjilat

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 08 April 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: escama.deviantart.com

Sebelum terlalu dalam, baiknya kita ajukan satu pertanyaan. Apakah menjadi penjilat itu sebuah pilihan atau takdir? Sebelum menjawab, mungkin langkah pertama yang patut dilakukan adalah memperjelas di mana posisi kita ketika aksi jilat-menjilat itu kita lakoni. Dalam kondisi normal, ketika aksi jilat hanya dimaksudkan sebagai sarana memperkuat posisi guna memperoleh keuntungan, maka jurus jilat itu adalah pilihan. Sebaliknya, dalam kondisi sekarat, di mana gerakan jilat menjadi satu-satunya jalan mempertahankan posisi, tidak untuk mencari keuntungan, tapi hanya menghindari kerugian, maka dalam kondisi ini jilat menjadi takdir. Namun demikian, tesis ini masih terbuka untuk dikritik, sebab ia bukan ayat kitab suci.


Monday, April 10, 2017

Mayoritas Yang Tertindas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 April 2017

Sumber Foto: thefix.com

Akhir-akhir ini, pemerintah RI di bawah kendali Jokowi yang dikenal humanis dan merakyat terkesan sedang berupaya mengulang sejarah rezim otoriter, di mana stigmatisasi terhadap “gerakan koreksi” yang dilakukan oleh jumhur umat Islam terlihat semakin meningkat. Pola stigmatisasi terhadap tokoh-tokoh umat Islam sebagai “pelaku makar” semakin intens dilakukan oleh pemerintah guna meredam “gerakan perlawanan” mayoritas yang merasa diperlakukan tidak adil di negerinya sendiri. Secara sosiologis, ketidakpuasan dari kalangan muslim selama ini yang notabene adalah penduduk mayoritas di negeri ini disebabkan oleh penegakan hukum yang dinilai setengah hati.


Friday, April 7, 2017

Menjemput Mante

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 01 April 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: viral.kincir.com

Kiranya perlu ditegaskan bahwa saya tidak dalam posisi membenarkan keberadaan Suku Mante dan tidak pula berkepentingan untuk menafikan eksistensi suku tersebut. Terlepas apakah suku tersebut benar ada atau hanya sekedar mitos, yang jelas pemberitaan terkait suku Mante telah melahirkan kehebohan baru, tidak hanya di Aceh, tetapi informasi tersebut juga telah menjalar dalam pemberitaan media nasional. Dan bahkan media asing pun turut mengulas tentang penemuan Mante di pedalaman Aceh. Akhirnya kita pun larut dalam Mante.


Tuesday, April 4, 2017

Menculik Kewarasan

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Maret 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: .dangerouscreation.com

Sebelumnya perlu diingatkan, bahwa dalam artikel ini saya tidak berada pada posisi mengabaikan isu penculikan anak yang telah menyulut kehebohan dalam beberapa hari terakhir, dan tidak pula pada posisi membenarkan isu tersebut yang telah berdampak pada lahirnya kekerasan-kekerasan baru di Aceh. Tulisan ini hanya mencoba mengurai benang kusut akibat informasi tanpa rawi yang menyebar liar sehingga meretas kewarasan sebagian kita. Informasi tak bersanad itu telah menyulut emosi sebagian masyarakat sehingga masyarakat pula yang harus menjadi tumbal dari “keganasan” saudaranya sendiri.


Monday, April 3, 2017

Politik Keuroekroek

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Maret 2017

Sumber Foto: tandapagar.com

Rupanya istilah “kalah menang itu biasa” sudah tidak lagi relevan dengan dunia politik Aceh yang semakin hari semakin membingungkan. Hal ini dapat kita saksikan sendiri dengan ragam berita yang muncul pasca Pilkada 2017 lalu. Pernyataan siap kalah dan siap menang ternyata hanya bualan belaka. Buktinya, banyak pihak yang sampai dengan saat ini tidak siap menerima kekalahan. Namun demikian, dalam negara demokrasi, kita mendukung penuh segala upaya hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak yang kalah untuk mendapatkan hak politiknya.


Friday, March 31, 2017

"Kekalnya" Kekerasan di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 10 Maret 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: toonsonline.net

Sudah menjadi semacam aksioma, bahwa rentetan kekerasan yang terus terjadi di Aceh pasca damai, dianggap sebagai sebuah kewajaran. Argumen yang diajukan cukup klasik, di mana kondisi tersebut dianggap sebagai ekses konflik yang terjadi puluhan tahun. Alasan-alasan serupa inilah yang terus dipertahankan sebagai satu-satunya tawaran jawaban sehingga memberi kesan bahwa rupa-rupa kekerasan yang terus bermunculan di Aceh hanyalah fenomena biasa. 


Tuesday, March 28, 2017

Jurus Meu-angen Zaini Abdullah

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Maret 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: pinterest.com

Ada beragam rasa dan komentar yang bermunculan di media sosial ketika tiba-tiba saja Gubernur Zaini Abdullah memainkan jurus “mematikan” menjelang akhir jabatannya. Sebuah jurus yang membuat sebagian kalangan terkejut-kejut dan sebagian lagi tersenyum-senyum sambil terpingkal-pingkal. Pihak yang terkejut adalah mereka yang pada awalnya tidak pernah menduga bahwa Zaini Abdullah akan melakukan aksi nekat karena telah ada larangan dari Mendagri. Adapun pihak yang tersenyum adalah mereka-mereka yang berada di belakang Zaini Abdullah, karena “mantera” yang disembur telah berhasil dan sukses.


Saturday, March 25, 2017

Raja Salman, Aceh dan Wahabi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 Februari 2017



Dua tahun lalu, tepatnya pada 28 Februari 2015, saya pernah menulis artikel singkat di kompasiana dengan tajuk “Wahabi, Wahabi, dan Wahabi.” Artikel tersebut adalah jawaban singkat saya kepada salah seorang santri Aceh yang terlihat begitu resah dan gelisah dengan “Wahabi.” Pada saat itu, seorang yang mengaku sebagai santri Aceh menulis sebuah surat terbuka kepada Kapolda Aceh yang pada saat itu akan mendatangkan seorang penceramah dari Arab Saudi, Syaikh Adil Al-Kalbani. Sayangnya surat terbuka santri tersebut tidak mendapat respon dari Kapolda saat itu dan tetap mendatangkan Syaik Al-Kalbani ke Aceh.


Wednesday, March 15, 2017

Partai Aceh dan “Pengadilan Rakyat”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Februari 2017



Hasil pleno KIP Aceh pada 25 Februari 2017 menetapkan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah sebagai pemenang Pilkada 2017 dengan perolehan suara 898.710 (37%). Adapun pesaing ketatnya, Muzakkir Manaf-T.A Khalid berada di urutan kedua dengan jumlah suara 766.427 (31%). Seperti diwartakan oleh Harian Aceh.co.id, seluruh saksi pasangan calon menyatakan menerima kemenangan Irwandi. Adapun penolakan hanya ditunjukkan oleh saksi Muzakir-T.A Khalid yang diwakili Adi Laweung dengan memilih keluar dari ruang sidang pleno. Adi Laweung seperti dirilis Serambi Indonesia, menyatakan menolak hasil Pilkada 15 Februari.


Monday, March 13, 2017

Woe-Woe, “Manifesto” Yang Gagal?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Maret 2017

Ilustrasi

Pesta demokrasi telah usai dengan berakhirnya prosesi Pilkada 2017. Komisi Independen Pemilihan (KIP), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota sebagai pihak penyelenggara pilkada juga telah mengetuk palu di sidang pleno sebagai pertanda permainan telah berakhir. Hasil pleno KIP yang digelar beberapa waktu lalu telah menetapkan para pemenang. Tentunya keputusan KIP ini tidak akan mampu memuaskan semua pihak, karena kursi kepala daerah hanya tersedia untuk dua orang; gubernur/ bupati/ walikota dan satu orang wakilnya. Bagi yang belum beruntung tidak perlu gundah dan gelisah, teruslah berusaha dan berdoa. Seperti kata A. Hasan (ulama Persis), jika tidak percaya kepada takdir, maka anggap saja kenyataan ini sebagai giliran.


Friday, March 10, 2017

Bila Cinta Didusta…

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Februari 2017

Sumber Foto: spring.org.uk

“Bila cinta didusta
Hati mulai gelisah
Hilang kekasih hati
Hidup jadi merana”
(Screen)
Tajuk tulisan ini sengaja saya copot dari judul lagu yang dinyanyikan oleh group band Screen asal Malaysia yang sempat populer dalam blantika musik Indonesia pada era 90-an. Lagu tersebut dinyanyikan dengan begitu syahdu oleh G-Mie, vocalis Screen yang berambut panjang dan berdahi lebar. Alunan gitar yang dipetik Wan juga terdengar mendayu-dayu ketika lagu ini didendangkan. Saya pribadi sebagai penikmat lagu-lagu Malaysia pun terpaksa peuduk jaroe ateuh dhoe guna memulai sebuah lamunan ketika syair-syair itu dilagukan.


Saturday, March 4, 2017

Bireuen Tanah Kita!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Februari 2017

Sumber Foto: TA. TAlsya, 1990

Sebagaimana telah lazim kita amati, bahwa politik selalu saja menghadirkan hal-hal yang tidak terduga dan cenderung di luar prediksi. Dalam politik, para peramal pun harus menutup muka ketika ramalannya meleset jauh. Kemenangan Saifannur di Bireuen misalnya, adalah sesuatu yang berada di luar dugaan. Kemenangan Abu Syik di Pidie pun demikian, meskipun telah terjadi berbagai upaya “penggagalan”, tapi kenyataannya Abu Syik menjadi jawara. Demikian pula dengan aura kemenangan Irwandi pun berada di luar prediksi, di mana struktur politik Partai Aceh nampak lebih lengkap dan merata di seluruh Aceh, tapi nyatanya Irwandi mampu mendominasi perolehan suara. Mawardi Ismail menyebut fenomena ini sebagai silent power, dan sebagai orang kampung saya lebih suka menyebutnya “gunung berapi.”


Tuesday, February 28, 2017

Saifannur, Diammu Gunung Berapi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 17 Februari 2017


Saifannur, S. Sos

“Tidak kusedari diammu gunung berapi.

Tiba-tiba saja meledak membinasakan semua.”
(Exist)

Kutipan di atas adalah penggalan lirik lagu bertajuk “Diammu Gunung Berapi” yang sempat populer di Malaysia dan Indonesia pada era 90-an. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Ezad dari group band Exist asal Malaysia. Lagu ini bahkan telah dihafal dengan baik oleh para remaja di era 90-an. Saya pribadi sangat menikmati lagu ini ketika pulang dari sekolah. Saat itu, lagu ini hampir setiap hari terdengar mengalun di terminal Kota Matangglumpangdua.


Saturday, February 25, 2017

Politik Aswaja Aceh dalam Teka-Teki

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 Januari 2017

Abu Tumin Saat Berorasi dalam Kampanye Irwandi Nova di Lapangan Blang Asan (2017)

Teka-teki sering kali menghadirkan kebingungan dan kebimbangan. Tepatnya, teka-teki adalah dilema bagi pikiran. Untuk menjawab teka-teki tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran dan kecerdasan, tapi butuh kecerdikan. Dalam teka-teki, lengah berarti “mati”, karena dalam satu kedipan mata saja kita bisa tertipu. Tidak hanya itu, bahkan teka-teki terkadang menarik kita dalam pusaran ambiguitas. Teka-teki tidak mengenal kebenaran absolut dan kita hanya akan terpenjara dalam kemungkinan-kemungkinan.


Friday, February 17, 2017

Pena-Pena “Sesat”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 08 Februari 2017

Sumber Foto: Riau Online

Pers layaknya cahaya yang menerangi publik dengan siraman informasi dan telah mendedikasikan diri kepada masyarakat dunia tanpa kenal lelah. Tentunya kita tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya dunia tanpa pers. Dengan hanya membaca koran yang merupakan salah satu produk pers, kita dapat mengetahui banyak hal tentang berbagai kejadian yang terjadi di luar sana, bahkan dari tempat yang jauh sekalipun. Kita kenal Yasser Arafat melalui pers, kita kenal Simon Peres pun melalui pers. Demikian pula hancurnya rezim Husni Mubarak di Mesir dan tumbangnya Moammar Khadafi di Libya pun tersebar luas berkat kerja keras insan pers. Untuk itu, kita patut berterima kasih kepada pers atas dedikasi yang tiada henti.


Ahok dan Permohonan Maaf Ala Kancil

Oleh: Khairil Miswar 

Bungkaih, 06 Februari 2017

ILustrasi. Sumber Foto: http://dongengceritarakyat.com/

Agar tulisan ini tidak menggelinding liar, maka penting diterangkan bahwa Ahok yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Gubernur DKI Jakarta non aktif yang saat ini juga kembali mencalonkan diri sebagai kandidat Gubernur periode mendatang. Adapun kancil adalah nama binatang liar yang dalam dunia dongeng dikenal cerdik, tetapi dalam dunia nyata ternyata bodoh. Saya menuduhnya bodoh, karena tidak ada riwayat yang menyebut sang kancil pernah menipu pemburu. Seandainya kancil itu benar-benar cerdas, maka yang namanya sate kancil tidak akan pernah ada. Sebaliknya, pemburulah yang akan disate oleh si kancil. Tapi kenyataannya tidak demikian. 


Friday, February 10, 2017

Apa Karya, Irwandi dan “Perang Wacana”

Oleh: Khairil Miswar 

Peureulak, 03 Februari 2017 

Penulis Saat mewawancarai Apa Karya (2016)

Berita bukanlah peristiwa, tetapi ia adalah sesuatu yang diserap setelah peristiwa, dan ia tidak identik dengan peristiwa, demikian dikatakan Sobur (2015) dalam salah satu bukunya. Kutipan singkat ini mengajarkan kita untuk tidak bertindak “buru-buru” dalam menyimpulkan sebuah pemberitaan yang dihadirkan media. Benar, media adalah pusat informasi, tetapi media bukanlah sumber kebenaran. Paul Watson (Sobur, 2015) mengatakan bahwa konsep kebenaran yang dianut media bukanlah kebenaran sejati, tetapi sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran. Dan Nimmo (2005) juga mengingatkan bahwa berita harus dibedakan dari kebenaran.