Friday, December 1, 2017

Apa Karya dan Riwayat Terpendam (Bagian III)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Agustus 2017

Foto: http://aceh.tribunnews.com

Pada umumnya tokoh-tokoh pergerakan politik di tanah air, tak terkecuali Aceh, akan memilih tinggal di pusat kota seperti halnya ibu kota provinsi, ketika memasuki masa-masa pensiun. Fakta terbaru dapat kita saksikan pasca ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005 – di mana saat itu ramai tokoh-tokoh GAM yang memilih menetap di Banda Aceh, Jakarta dan bahkan ada yang tetap enjoy berada di luar negeri. Di antara faktor yang mendorong mereka untuk menetap di pusat-pusat kota adalah alasan keamanan.


Parade Kegenitan

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 01 Agustus 2017

Ilustrasi: ecards.myfuncards.com

Kita tentu memiliki pandangan masing-masing terhadap kata “genit.” Demikian juga dengan saya. Bagi saya, kegenitan adalah sebuah bentuk kelatahan terstruktur dan sistematis, meskipun tidak masif. Dan semua kita berpeluang untuk genit. Di satu sisi, kegenitan dibutuhkan sebagai sebuah media ekspresi. Bagi sebagian orang, menggunakan kegenitan sebagai media adalah sebuah keasyikan. Sementara di sisi lain, kegenitan justru dapat mengguncang kewarasan dan mematahkan akal sehat sehingga ia dipandang memuakkan. Terlepas di posisi mana kita berdiri, hampir setiap saat kita dihadapkan pada rupa-rupa kegenitan.


Thursday, October 26, 2017

Dari Kejora Menuju Kecoa

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Juli 2017



Ada satu keyakinan di sebagian benak masyarakat kita bahwa mulut politisi tidak bisa dipercaya. Keyakinan semacam ini tentunya tidak lahir dengan sendirinya, tetapi ia dilatari oleh segudang pengalaman yang dialami oleh masyarakat itu sendiri. Keyakinan ini sendiri bisa benar, dan bisa salah. Tapi ini adalah sebuah penilaian ala publik yang tentunya tidak bisa diremehkan.


Pembubaran Ormas dan Otoritarianisme

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Juli 2017

Foto: topsy.one

Akhirnya ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dalam beberapa waktu lalu sempat menjadi perbincangan di kalangan penguasa, resmi dibubarkan. Seperti dirilis kompas.com (19/07/17), Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM mencabut status badan hukum HTI. Pencabutan status ormas ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No 2 Tahun 2017 yang baru saja disahkan. HTI adalah organisasi pertama yang menjadi “korban penertiban” dari Perpu tersebut. Perpu ini diterbitkan pada 12 Juli 2017. Dan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM, secara resmi, pemerintah mengumumkan pembubaran HTI.


Teuku Johan Marzuki; Keuchik Berprestasi Asal Bireuen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Juli 2017

Teuku Johan Marzuki

“Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia.” Kata-kata ini sering diulang-ulang oleh Soekarno untuk menggugah semangat pemuda-pemuda Indonesia di masa lalu. Sejarah telah mencatat bahwa jiwa-jiwa muda kala itu telah menggerakkan spirit perlawanan terhadap kolonialisme. Dan suksesnya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 juga tidak terlepas dari dorongan para pemuda.


Thursday, September 7, 2017

Menjenguk Bunker Peninggalan Kolonial di Bireuen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Juli 2017

Penulis di Bunker Jepang

Setelah menempuh perjalanan sekira 2 km dari Kota Bireuen (Jumat, 14/07/17), kami pun tiba di kawasan perbuktikan yang oleh pemiliknya dinamai sebagai Puncak Teulaga Maneh. Kawasan ini masuk dalam wilayah kecamatan Juli dan Kota Juang. Lahan seluas 8 hektar ini adalah milik seorang warga Kecamatan Kota Juang, Muslem, yang sering disapa Tu Lem.


Tu Lem; Mimpi Besar Eks Combatan

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 17 Juli 2017

Penulis dan Tu Lem (Kaos Hijau)

Sekira dua minggu lalu, ketika sedang asyik-asyiknya meneguk kopi bersama Azmi Abubakar, tepatnya di sebuah warkop di depan Meunasah Kulah Batee Bireuen – kami dihampiri oleh seorang pemuda yang sebelumnya tidak saya kenal. Azmi mengenalkan si pemuda tersebut kepada saya. “Namanya Muslem, biasa dipanggil Tu Lem”, kata Azmi kepada saya. Dan kami pun bersalaman. “Tu Lem ini mantan kombatan”, tambah Azmi. Saya hanya mengangguk-nganguk mendengar penjelasan Azmi.