Saturday, April 22, 2017

Jangan Seperti Lembu

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 April 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: strangehistory.net

Bek lage leumo (jangan seperti lembu). Demikian kata-kata yang diucapkan oleh orang tua dulu ketika kita meledakkan petasan di waktu magrib. Pada waktu kecil, sebagian kita juga mungkin pernah mandi bareng dalam kulah mesjid (bak wudhu). Jika aksi ini diketahui pak bilal, maka stempel lagee leumo pun akan segera tertancap di jidat kita. Demikian pula ketika disuruh mengaji, sebagian kita mungkin ada yang berpura-pura ke dayah, tapi tembus ke belakang, ke kolam, menangkap bace (gabus). Pada saat aksi kita digrebeg oleh teungku, lagi-lagi kita dianugerahkan pujian eksotis, bit keuneuk jeut keu leumo (benar-benar mau jadi lembu). 


Adat dan Akai Burek Katek

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 April 2017

Sumber Foto: theodysseyonline.com

Kata akai menurut Kamus Aceh-Indonesia (Aboe Bakar dkk, 1985) bisa dimaknai bermacam-macam. Akai dalam bahasa Aceh terkadang sinonim dengan kata akal dalam bahasa Indonesia. Tetapi dalam kondisi tertentu, masih menurut kamus, kata akai juga bisa dimaknai sebagai sebuah kecakapan atau daya upaya, sebagai contoh: jih panyang akai (dia panjang akal/ pandai). Akai juga bisa diterjemahkan sebagai sebuah sifat atau watak, seperti: si Amat sit ka lagee nyan akai (si Amat memang sudah demikian sifatnya). Sebagai bahasa yang kaya, kata akai dalam bahasa Aceh juga bisa didefinisikan sebagai perilaku, sebagai contoh: jih brok that akai (dia buruk sekali perilakunya).


Saturday, April 15, 2017

Novel dan “Jihad” Melawan Koruptor

Oleh: Khairil Miswar

Bireueu, 12 April 2017

Sumber Foto: http://poskotanews.com

Masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan aksi ala “barbarian” yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan pada 11/04/17. Detik.com melaporkan Novel disiram air keras oleh OTK sehingga menimbulkan luka yang serius. Kejadian ini sebagaimana dilansir oleh beberapa media terjadi pada saat Novel dalam perjalanan pulang ke rumahnya selesai melaksanakan shalat subuh di sebuah mesjid dekat rumahnya.


Kautsar, “Luthernya” Partai Aceh!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 April 2017

Sumber Foto: Kautsar.net

Ini adalah tulisan kedua saya tentang sosok politisi muda Aceh yang juga mantan pejuang jalanan yang tetap “lancang” bersuara dalam desingan peluru di masa lalu. Dalam tulisan pertama beberapa waktu lalu, saya mencoba mengoreksi, untuk tidak menyebut mengkritik statemen politik Kautsar terkait keterlibatan ulama dalam politik yang menurut saya terlalu lebay. Dalam tulisan ini, sebagai seorang penulis merdeka, saya akan mencoba mengapresiasi sikap politik Kautsar yang baru-baru ini menuai kontroversi dan bahkan mendapat kritik dari internal Partai Aceh, tempat ia bernaung. Kautsar telah menunjukkan sebuah sikap berani yang muncul dari kader partai politik berbasis “komando” semisal Partai Aceh.


Wednesday, April 12, 2017

Hikayat Penjilat

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 08 April 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: escama.deviantart.com

Sebelum terlalu dalam, baiknya kita ajukan satu pertanyaan. Apakah menjadi penjilat itu sebuah pilihan atau takdir? Sebelum menjawab, mungkin langkah pertama yang patut dilakukan adalah memperjelas di mana posisi kita ketika aksi jilat-menjilat itu kita lakoni. Dalam kondisi normal, ketika aksi jilat hanya dimaksudkan sebagai sarana memperkuat posisi guna memperoleh keuntungan, maka jurus jilat itu adalah pilihan. Sebaliknya, dalam kondisi sekarat, di mana gerakan jilat menjadi satu-satunya jalan mempertahankan posisi, tidak untuk mencari keuntungan, tapi hanya menghindari kerugian, maka dalam kondisi ini jilat menjadi takdir. Namun demikian, tesis ini masih terbuka untuk dikritik, sebab ia bukan ayat kitab suci.


Monday, April 10, 2017

Mayoritas Yang Tertindas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 April 2017

Sumber Foto: thefix.com

Akhir-akhir ini, pemerintah RI di bawah kendali Jokowi yang dikenal humanis dan merakyat terkesan sedang berupaya mengulang sejarah rezim otoriter, di mana stigmatisasi terhadap “gerakan koreksi” yang dilakukan oleh jumhur umat Islam terlihat semakin meningkat. Pola stigmatisasi terhadap tokoh-tokoh umat Islam sebagai “pelaku makar” semakin intens dilakukan oleh pemerintah guna meredam “gerakan perlawanan” mayoritas yang merasa diperlakukan tidak adil di negerinya sendiri. Secara sosiologis, ketidakpuasan dari kalangan muslim selama ini yang notabene adalah penduduk mayoritas di negeri ini disebabkan oleh penegakan hukum yang dinilai setengah hati.


Friday, April 7, 2017

Menjemput Mante

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 01 April 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: viral.kincir.com

Kiranya perlu ditegaskan bahwa saya tidak dalam posisi membenarkan keberadaan Suku Mante dan tidak pula berkepentingan untuk menafikan eksistensi suku tersebut. Terlepas apakah suku tersebut benar ada atau hanya sekedar mitos, yang jelas pemberitaan terkait suku Mante telah melahirkan kehebohan baru, tidak hanya di Aceh, tetapi informasi tersebut juga telah menjalar dalam pemberitaan media nasional. Dan bahkan media asing pun turut mengulas tentang penemuan Mante di pedalaman Aceh. Akhirnya kita pun larut dalam Mante.