Sekumpulan Camar dan Perahu yang Pergi
![]() |
| Ilustrasi LiteraSIP |
Cerpen Tin Miswary
“Pengungsi-pengungsi itu terlalu malas, jorok dan suka membuat
keributan,” kata Nyak Lah pada istrinya petang itu, ketika beberapa perahu
mendekati pantai Kuala Raja. Mendengar ocehan suaminya, yang selalu
diulang-ulang setiap kali ada pengungsi yang datang, Dek Nong hanya tersenyum,
senyum kesedihan yang selalu muncul tatkala para pengungsi menuruni perahu dan
berdiri lesu di bibir pantai. “Tidakkah kau ingat pada tsunami yang singgah di
pantai ini?” tanya Dek Nong pada suaminya yang berdiri angkuh seraya tangannya
mengibas-ngibas ke arah laut, mengusir pengungsi yang datang.
Itu bukanlah kali pertama ia bertanya pada suaminya dan bukan
pertama kali pula suaminya melukis senyum sinis di bibirnya, senyum yang
membuat pertanyaan Dek Nong jatuh terjerembap di hamparan pasir, di bawah batang
kelapa yang berayun pelan. Jika sudah begitu, Dek Nong hanya bisa melempar
pandang ke tepian pantai, menyaksikan tubuh-tubuh ringkih yang mengiba dengan
mata redup seraya menatap haru anak-anak yang menangis, menarik-narik tangan
ibu mereka di pantai itu.
Memang dalam beberapa tahun ini pengungsi itu semakin ramai saja.
Mereka berdatangan bagai laron yang mengurubungi lampu-lampu, membuat
orang-orang di pantai Kuala Raja dan pantai-pantai sekitar merasa curiga kalau
mereka akan membuat koloni baru di tanah itu, merebut tanah dan mengusir
penghuninya.
Awalnya para pengungsi itu diterima dengan sangat baik oleh penduduk
yang bukan saja menyediakan tempat untuk berlabuh, tapi juga seabrek makanan
yang siap disantap untuk mengisi perut-perut mereka yang lapar. Namun,
perlakuan itu segera berubah setelah beberapa pengungsi itu melarikan diri dan
membuat masalah di tenda-tenda pengungsian. Pada alasan yang terakhir inilah
Nyak Lah membenci mereka.
“Mereka tak boleh diberi hati,” kata Nyak Lah pada Dek Nong yang
masih duduk setengah berjongkok pada geuleupak,
di bawah rindang pohon kelapa, sementara Nyak Lah masih berdiri menatap laut.
“Mereka sengaja diselundupkan ke kampung kita untuk suatu saat
mereka merebut tanah ini dan mengusir kita seperti Israel mengusir Palestina,”
lanjut Nyak Lah dengan intonasi suara meyakinkan, seolah ia adalah pakar
politik dari Harvard University.
Belakangan ini Nyak Lah memang sering membaca postingan di laman
facebook yang berisi berita tentang pengungsi Rohingya. Dalam berita yang viral
itu tertulis bahwa pengungsi Rohingya adalah orang-orang yang menyamar untuk
membuat koloni baru, untuk menjajah negara-negara yang mereka kunjungi dan lalu
membunuh orang-orang tempatan seperti Netanyahu menggempur Gaza. Nyak Lah yang
tak pernah lulus SD karena harus menjadi nelayan mengikut ayahnya, menelan
berita-berita itu seperti sepotong agar-agar, tanpa perlu dimamah, seolah kabar
itu benar belaka.
Di lain hari, ketika tangkapan ikan di laut sedang sedikit dan
tengkulak membelinya dengan harga murah, Nyak Lah menghabiskan waktunya
menonton Tiktok, mendengarkan analisis politik dari sana; tentang pengungsi
Rohingya yang suka membuat gaduh. Nyak Lah yang tidak pernah lulus sekolah tak
ambil pusing siapa yang berbicara. Bukankah kebenaran itu boleh diambil dari
mana saja? Bahkan dari mulut anjing. Demikian Nyak Lah meyakinkan dirinya
ketika kabar-kabar itu disajikan kreator konten di layar gawainya yang baru
akan lunas bulan depan. Dan dari sanalah Nyak Lah mendapatkan pengetahuan
tentang apa saja, bahkan tentang pengungsi-pengungsi yang kini berlabuh di
Kuala Raja. Nyak Lah tak pernah tahu kalau yang ada di kepala kreator konten
itu hanyalah uang dan uang.
“Tapi, apakah kau ingat ketika kita sendiri menjadi pengungsi?”
Dek Nong mengulang kembali pertanyaannya, pertanyaan yang sebelumnya
terjatuh di hamparan pasir dan lalu lenyap diembus angin. Saat menanyakan itu
mata Dek Nong masih tertuju pada tubuh-tubuh yang basah kuyup di pinggir laut,
yang menyandarkan tubuh mereka pada dinding perahu.
Nyak Lah yang masih berdiri tiba-tiba saja menoleh pada wajah
istrinya yang masih duduk di atas geuleupak.
Senyum sinis kembali tergurat di bibirnya yang hitam. Dia seperti sedang
menerka-nerka apa yang ada di kepala perempuan itu. Apakah penjelasannya kurang
tajam? Tapi bukankah analisis itu sungguh meyakinkan? Ia sendiri menilai
penjelasan itu sudah cukup ilmiah, sudah cukup menandakan kalau ia memiliki
wawasan internasional.
Nyak Lah tak bersedia menjawab pertanyaan istrinya. Dia kembali
membelakangi Dek Nong, mengibas-ngibaskan tangannya ke arah orang-orang di sana,
menyuruh mereka segera pergi dan pulang ke negeri sendiri.
Melihat laku suaminya yang begitu, Dek Nong memejam mata, menarik
ingatannya ke masa lalu, ketika gelombang setinggi pohon kelapa menghantam
kampung mereka, menghanyutkan rumah-rumah dan membuat mereka timbul tenggelam
dalam gulungan air berbau belerang. Dalam kekalutan itu Dek Nong tak sadar
melepaskan tangan anaknya, membuat anak berusia lima tahun itu hanyut bersama
sampah dan tubuh-tubuh manusia yang mengapung. Pada ketika itu Nyak Lah
menggenggam erat tangan istrinya sampai kemudian mereka tersangkut di atap
masjid.
Sejak saat itu mereka pun tinggal di tenda pengungsian, merintih dan
mengutuk nasib bersama orang-orang yang kehilangan harapan. Saking kecewanya
mereka pada nasib, ketika bantuan datang berjibun, mereka bahkan tak mau
beranjak dari tenda, membiarkan kardus berisi makanan itu terpanggang matahari
di tepian jalan. “Ambillah kotak-kotak itu,” kata Dek Nong, saat melihat Nyak
Lah bermalas-malasan di tenda. Namun, Nyak Lah menghardik istrinya, mengatakan
kalau itu adalah tugas relawan.
“Kita sedang susah, harusnya mereka mengantarnya sampai ke mari,”
jawab Nyak Lah.
“Janganlah membuat masalah. Bantuan sudah datang, kenapa untuk
mengambil saja kau tak mau?” balas Dek Nong pada suaminya yang sejak tinggal di
pengungsian itu menjadi sering marah-marah. Bahkan seminggu lalu Nyak Lah
memukuli para relawan yang melarangnya membuang hajat sembarangan, membuat area
penampungan berbau pesing. Untungnya relawan yang datang dari jauh itu tak
mengambil hati. Dia memaafkan Nyak Lah ketika beberapa temannya ingin membalas
laki-laki itu. “Psikologi pengungsi memang tidak stabil,” begitu kata relawan
pada temannya, membuat teman-temannya yang sudah susah payah mengurus pengungsi
itu diam membisu.
“Pergi bangsat!”
Mendengar suara Nyak Lah yang seperti petir, Dek Nong tersadar dari
lamunan yang membawanya ke masa lalu. Dia membuka mata dan melihat Nyak Lah
bersama puluhan orang di Kuala Raja melempari pengungsi dengan seunudang dan geuleupak, membuat sekumpulan manusia itu kembali menaiki perahu.
Dek Nong menyaksikan perempuan-perempuan menangis, menarik tangan anak kecil
yang sedari tadi meraung-raung. Dan seketika saja perahu-perahu itu menjauh
dari pantai Kuala Raja, kembali terayun bersama gelombang di tengah laut.
Pantai kembali sunyi dan petang pun kian meredup. Di bawah cahaya
matahari yang semakin lindap dan samar, Dek Nong menyaksikan sekumpulan camar
mengiringi perjalanan perahu-perahu itu.
Bireuen,
20 Desember 2023
Catatan:
Geuleupak: kulit kelapa kering



Post a Comment