Ali Basyah dan Orang-Orang di Bukit Batu
![]() |
| Ilustrasi Kurungbuka |
Cerpen Tin Miswary
Suara Ali Basyah terdengar hingga ke selatan, membuat lelaki jompo
yang menghuni rumah di ujung kampung itu tersentak kaget. Lelaki itu bangkit
dari pratah dan duduk sejenak,
mengingat-ingat suara siapa itu, berteriak-teriak di pagi buta. Ketika suara
itu terdengar lagi, dia pun berdiri dan lalu berjalan dengan langkah gontai.
Dia yakin itu suara Ali Basyah, keponakan satu-satunya yang ia punya. Dengan
sarung yang hampir melorot, lelaki sepuh itu terus berjalan, membuat napasnya
tersengal-sengal.
“Ada apa lagi?” tanya laki-laki itu, sesampainya di sana.
Dia bertanya pada Ali Basyah yang duduk memeluk lutut di ambang
pintu.
“Televisiku dicuri orang!”
Suara Ali Basyah terdengar bergetar. Ada kepiluan dalam suara itu. Dia
menangkupkan kedua tangan pada wajahnya yang merah, menahan embun di matanya
agar tak menitis ke tanah.
Mendengar jawaban Ali Basyah, lelaki tua itu menarik napas,
menepuk-nepuk pundak keponakannya yang terus menangis. “Sabarlah!” bisiknya,
seraya memapah Ali Basyah ke dalam rumah. Sudah lama sekali keponakannya tak
menangis.
Sejak memiliki televisi di rumahnya, hidup Ali Basyah terlihat
aman-aman saja dan tidak ada lagi pikiran aneh yang merasuk kepalanya. Namun,
hari ini, ketika televisinya dicuri orang, kesedihan Ali Basyah kembali mengapung.
Jika tidak segera ditangani, maka petaka besar akan terjadi di Bukit Batu. Karena
itu, sang paman buru-buru menenangkan Ali Basyah.
Sejak memiliki televisi di rumahnya, Ali Basyah memang sering berlagak
pintar di hadapan teman-temannya. Ketika bercakap-cakap di kedai minum misalnya,
dia akan memperkenalkan kata-kata aneh pada orang-orang yang duduk di sana. Kata-kata
yang tidak pernah didengar orang-orang di kampung itu. Kalau dipikir-pikir,
memang wajar saja dia begitu, sebab dari lima ratus penduduk yang menghuni
kampung Bukit Batu, hanya Ali Basyah yang punya televisi di rumahnya. Ali
Basyah membeli televisi itu pada Oktober 1987, dua hari sebelum kecelakaan
besar terjadi di Bintaro, tabrakan kereta api yang menewaskan 156 orang.
Ketika peristiwa itu ia ceritakan pada orang-orang kampungnya yang
baru pulang dari sawah, mereka hanya melongo. Sudah lama mereka tak melihat
kereta api melintasi kampung, seperti ketika mereka masih remaja. Yang tersisa
sekarang hanya rel-rel kosong yang sebagian telah dibongkar dan dicuri oleh
anak-anak sebagai modal membeli ganja. Rel itu dijual kepada penadah dengan
harga mahal dan penadah akan menjual lagi kepada orang-orang kampung dengan
lebih mahal lagi. Oleh orang-orang di Bukit Batu, rel itu digunakan sebagai
tungku masak, besinya kuat dan tahan sampai kiamat.
Begitulah Ali Basyah, dia selalu membawa berita-berita baru pada
orang-orang di Bukit Batu, berita yang kadang-kadang tidak dikabarkan radio.
Kalau pun ada kabar dari radio, mereka hanya bisa mendengar ocehan penyiar,
tanpa bisa melihat kejadian itu dengan jelas seperti halnya Ali Basyah.
Pernah suatu kali orang-orang berdebat soal A. Rafiq, penyanyi
dangdut yang suaranya sering terdengar di radio. Orang-orang itu berdebat di
kedai minum. Kata sebagian orang, A. Rafiq berkulit hitam, karena orang
berkulit hitamlah yang punya suara bagus, seperti Bilal bin Rabah. Sebagian
yang lain membantah, mengatakan A. Rafiq tampan seperti Yusuf. Maka berdebatlah
mereka sampai-sampai pemilik kedai minum terpaksa mematikan radio. Saat itulah
Ali Basyah datang, memberi penjelasan bahwa A. Rafiq berkulit kuning bertubuh
tinggi.
“Aku sudah melihat langsung,” kata Ali Basyah.
“Benarkah? Di mana?” tanya mereka.
“Aku menonton Album Minggu Kita.”
“Di mana itu?”
“Di televisi.”
“Ooooo….”
Mereka pun mengangguk-angguk, memuji Ali Basyah yang beruntung, bisa
melihat langsung sosok A. Rafiq, yang ketika dia bernyanyi, orang-orang akan
mengerubungi radio.
Di lain waktu, setelah pulang bekerja dari Pabrik Limun 66 di Kota
Bireuen, Ali Basyah yang singgah di kedai minum mengisahkan tentang
kepahlawanan Saddam Husen melawan Iran. Katanya Saddam sangat gagah dan
berwibawa dengan pakaian militer dan pistol di pinggang. Ali Basyah mengaku
sering melihat orang itu di televisi dalam siaran “Dunia dalam Berita.”
Orang-orang di kedai minum mendengar cerita Ali Basyah dengan takjub
seraya berangan-angan suatu saat mereka juga punya televisi. Karena itu mereka
selalu menyisakan uang untuk bisa membeli buntut di kedai Aliong. Namun,
harapan mereka tak pernah tercapai dan uang mereka selalu saja hangus.
Sebagian orang kampung Bukit Batu merasa iri pada Ali Basyah yang
memiliki televisi di rumahnya. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sebab
dari 500 penduduk di Bukit Batu, hanya Ali Basyah yang punya pekerjaan mapan,
sebagai karyawan pabrik limun di kota, sementara 499 penduduk lainnya bekerja
sebagai petani di sawah tanpa irigasi, beternak ayam kampung yang hanya
beberapa ekor, memiara kambing yang kekurangan rumput, dan sebagai buruh pengangkut
padi dengan upah makan hati. Maka, sampai kiamat pun mereka tidak akan bisa
membeli televisi, kecuali jika mereka punya mimpi yang benar tentang
nomor-nomor buntut yang harus dibeli pada Aliong.
Akan tetapi, Ali Basyah bukanlah orang yang sombong, dia selalu
datang membawa kabar, membagi cerita dan mengisahkan hal-hal menarik di
televisi. Cuma saja dia terkesan sok pintar karena terlalu banyak membawa
istilah baru dalam percakapan di kedai minum. Pernah suatu ketika para peternak
kambing dibuat bingung oleh istilah-istilah yang dibawa Ali Basyah, begitu juga
petani dan buruh pengangkut padi.
“Bagaimana keadaan fauna kalian, apakah sudah siap dijual?” tanya
Ali Basyah suatu hari. Mendapat pertanyaan demikian, beberapa orang yang duduk
di kedai minum terheran-heran, seraya menebak-nebak apa yang dimaksud Ali
Basyah. Tak ingin terus-terusan penasaran akhirnya mereka bertanya dan Ali
Basyah pun menjelaskan dengan tekun tentang istilah baru yang ia dengar di
televisi.
Di lain waktu dia bertanya soal flora di kampung mereka apakah sudah
siap panen, dan ketika teman-temannya tertegun, dia pun memberi pengertian
tentang istilah itu. Demikian seterusnya, selalu saja ada istilah-istilah baru
dari Ali Basyah yang membuat sebagian orang di kampung itu menghormati
laki-laki itu melebihi Guru Majid, yang sebelumnya dianggap paling tahu dan
paling pintar di Bukit Batu.
Sebelum Ali Basyah memiliki televisi, Guru Majid-lah yang menjadi
sumber pengetahuan di kampung itu. Dia adalah satu-satunya guru di SD Bukit
Batu yang mengajar enam kelas sekaligus dan menguasai semua pelajaran, dari
bahasa Indonesia, IPA, agama, olah raga sampai dengan matematika. Sesekali dia
juga mengajar bahasa Inggris. Guru Majid sendiri adalah lulusan SPG yang
setelah lulus langsung ditempatkan di SD Bukit Batu.
Hampir semua warga di Bukit Batu pernah menjadi murid Guru Majid,
termasuk Ali Basyah yang kabarnya tidak bisa membaca. Namun, Ali Basyah
beruntung memiliki paman di pabrik limun sehingga ia diterima bekerja di sana
dan menjadi satu-satunya warga Bukit Batu yang punya gaji bulanan, berbeda
dengan Guru Majid yang gajinya dibayar empat bulan sekali dan hanya cukup untuk
makan dua minggu.
Maka dari itu orang-orang di Bukit Batu selalu saja merasa iri pada
Ali Basyah. Dia punya pekerjaan mapan dan juga televisi. Ketika sedang
bercengkerama di kedai minum, warga Bukit Batu selalu membicarakan Ali Basyah,
tak terkecuali Guru Majid yang gajinya tak pernah naik. Mereka membicarakan
kesuksesan laki-laki itu, seraya berkhayal suatu hari mereka bisa seperti Ali
Basyah. Namun, ada satu hal yang luput dari pengetahuan orang-orang di Bukit
Batu, bahwa Ali Basyah tidaklah sebahagia itu. Yang mereka lihat selama ini
hanyalah permukaannya saja, sementara di lubuk hati Ali Basyah yang paling
dalam terpendam luka yang amat perih.
Kejadian itu bermula sejak ayah ibunya hilang ditelan bumi dalam
pembersihan komunis di Tanah Gayo. Saat itu Ali Basyah berusia 15 tahun dan masih
bekerja sebagai kuli angkut di terminal Bireuen, sementara ayah ibunya menjadi
buruh kopi di Tanah Gayo. Setiap menjelang panen, ayah ibunya berangkat ke sana,
sementara Ali Basyah tinggal bersama pamannya di Bukit Batu, kampung kecil yang
tak begitu jauh dari kota Bireuen.
Beberapa bulan setelah perburuan orang-orang komunis di pulau Jawa, keadaan
di Gayo pun kian mencekam. Dari kabar yang beredar, terjadi penangkapan
besar-besaran di sana. Namun, tidak ada kejelasan apakah ayah dan ibu Ali
Basyah juga ditangkap atau tidak. Biasanya mereka hanya bekerja selama dua atau
tiga bulan di musim panen, setelah itu mereka akan pulang lagi ke Bukit Batu. Namun,
sampai dua tahun kemudian ayah ibunya tak pernah kembali.
Mendapati kenyataan bahwa ayah ibunya hilang begitu saja, Ali Basyah
sangat terpukul. Hampir setiap malam dia bermimpi kalau ayah ibunya dibunuh
tentara. Saat ia menceritakan mimpi itu pada pamannya, dia selalu mendapat
jawaban yang sama; bahwa mimpi hanya tipuan setan. “Mimpi-mimpi aneh itu datang
lantaran kau tak mencuci kaki ketika tidur,” kata pamannya.
Pernah suatu kali dia ingin membakar kantor Koramil. Namun, pamannya
berhasil mencegah, mengatakan bahwa itu tindakan bodoh. “Ayah ibumu dibunuh
dalam mimpi, kalau kau ingin membalas, balaslah dalam mimpi,” ujar pamannya
kala itu. Mendengar jawaban itu, tentu saja Ali Basyah kecewa. Namun, dia tak
mungkin melawan sang paman yang sudah dianggap ayahnya sendiri.
Untuk beberapa hari Ali Basyah tampak bersedih. Namun, tawaran
bekerja di pabrik limun dari pamannya membuat Ali Basyah yang kala itu sudah
berusia 17 tahun berhasil meredam luka hatinya. Sejak hari itu, senyumnya mulai
mengembang. Perlahan-lahan dia melupakan ayah ibunya yang dari dulu memang
kurang akrab dengannya, karena sering ditinggal untuk bekerja.
Menjelang usia 25, Ali Basyah terpikat pada seorang gadis.
Disampaikannya perasaan itu pada pamannya dan lalu datanglah mereka melamar si
gadis, tak begitu jauh dari Bukit Batu. Lamaran diterima dan mereka pun
menikah. Namun, sampai dengan dua tahun pernikahan, ketika Ali Basyah sudah
berusia 27 tahun, si istri tak kunjung mengandung. Awalnya hal itu tak menjadi
masalah bagi Ali Basyah sampai kemudian sebuah kabar hinggap di telinganya,
bahwa istrinya berselingkuh dengan temannya sendiri, karyawan di pabrik limun.
Tak tahan dengan perselingkuhan itu mereka pun bercerai. Mulai saat
itu, Ali Basyah kembali punya pikiran-pikiran aneh. Dia ingin membunuh pencuri
istrinya dengan botol limun. Namun, pamannya memberi nasihat agar Ali Basyah
tak ceroboh. “Ada banyak perempuan di luar sana,” kata pamannya, sembari
menarik botol limun dari tangan Ali Basyah.
Beberapa minggu kemudian Ali Basyah menikah lagi. Namun, beberapa
bulan dia bercerai lagi. Begitu seterusnya. Sampai dengan usianya menginjak 32
dia sudah menikah 5 kali. Akhirnya dia kembali murung sembari mengutuk nasib
yang selalu buntung. Saat itulah pamannya menyarankan Ali Basyah membeli
televisi, sebagai hiburan agar pikirannya tak lagi sunyi.
Sejak memiliki televisi, Ali Basyah kembali ceria. Sepulang dari
pabrik ia menghabiskan waktu menonton televisi dan kemudian menceritakan
hal-hal baru di kedai minum. Dengan adanya televisi, dia mengetahui banyak hal,
membuat ia lupa pada perempuan dan lalu bulatlah tekadnya untuk membujang.
Namun, hari ini televisi itu telah dicuri.
“Dulu mereka mencuri ayah ibuku, mencuri istri-istriku; sekarang
mencuri televisi ….”
Lelaki itu memeluk Ali Basyah, meminta agar keponakannya tak lagi
menangis.
Sedang sibuk laki-laki itu menghibur Ali Basyah, terdengar suara
becak mesin di pekarangan rumah. Lelaki itu bangkit dan berdiri di ambang
pintu. Namun, belum lagi dia bertanya, suara Guru Majid terdengar lantang,
“Maaf, ya. Tadi sedikit lama.”
Dengan mulut menganga, lelaki jompo itu memandangi si pemilik
becak yang sedang mengangkat televisi
bersama Guru Majid. Laki-laki itu terpaksa mundur dari ambang pintu ketika
televisi dimasukkan ke dalam rumah. Dia melempar pandang pada Ali Basyah yang
masih sesenggukan di ruang tamu.
“Ini saya kembalikan,” kata Guru Majid sambil tersenyum. “Tadi kamu
masih tidur, tapi ada saya tulis di sana,” dia menunjuk ke arah dinding sebelah
timur, “saya pinjam sebentar untuk dibawa ke kedai Aliong. Saya maunya televisi
macam ini, biar sama kita. Terima kasih, ya.”
Guru Majid menyalami Ali Basyah dan pamannya yang masih melongo tak
mengerti. Mata yang kabur membuat Guru Majid tak bisa melihat wajah Ali Basyah
yang merah. Lalu dia berjalan tergesa-gesa keluar, menaiki becak, seraya
memegang televisi yang baru dibeli dari kedai Aliong. Ketika becak itu berlalu,
Ali Basyah bangkit dan menuju dinding sebelah timur. Karena sadar dirinya tidak
bisa membaca, dia menarik tangan pamannya ke sana. Selembar kertas warna putih
bertulis tangan tertempel tepat di belakang televisi.
Pintu rumahmu tidak
dikunci. Tapi, saya lihat kamu masih tidur. Jadi, televisinya saya pinjam
sebentar. Kamu jangan menangis, ya. Ini tidak lama. Tertanda. Guru Majid.
Catatan:



Post a Comment