Rencong Ayah

 

Ilustrasi AI

Cerpen Tin Miswary

Bidin mengelus-elus rencong itu dengan tangan kanannya yang sedikit bengkok sembari duduk bersila di dalam kamar ayahnya. Sesekali dia mengangkat peninggalan ayahnya itu tinggi-tinggi; mengacungkannya pada cahaya lampu yang bersinar remang. Bias cahaya kuning lampu yang diselimuti jaring laba-laba itu membuat ujung rencong sedikit berkilat. Kembali dia mengusap benda itu dengan lembut, kepalanya menengadah ke langit-langit kamar. Dia merasakan kehadiran ayahnya di kamar itu.

“Dia ayahmu.”

Suara itu terdengar lamat-lamat di telinga Bidin yang sedari tadi mendekap sunyi. Dia menarik napas dalam, mengedar pandang ke sekeliling kamar, berharap ayahnya berdiri di sana dan lalu mengulang kata-kata itu sekali lagi. Sekali saja, agar hatinya tak lagi gelisah. Namun, sunyi kembali melekap.

Dipandanginya lagi rencong berwarna kuning itu. Senjata yang terbuat dari emas dengan sarung dari gading tersebut sudah berusia lebih satu abad, diwariskan turun-temurun; dari kakek kepada ayahnya dan sekarang berpindah ke tangannya. Benda kecil itu meliuk menyerupai tulisan bismillah. Gagangnya melekuk laksana huruf ba. Sementara bujuran dari gagang gading itu membentuk huruf sin. Rupa lancip di pangkal gagang menjelma huruf mim. Lalu keluk belati emas hingga ke ujung menggambarkan huruf lam. Ujung runcing sebelah atas mendatar dan lekukan di bagian bawah diyakini sebagai huruf ha. Bidin hafal betul dengan simbol-simbol itu.

 Malam semakin larut. Hawa dingin turun menyergap bersama gelap yang kian pekat. Dalam remang lampu kamar, pikiran Bidin memelesat jauh. Mengenang kembali peristiwa kelam itu, ketika ayahnya dibunuh seperti babi di jalanan kota, dan ketika ibunya mati seperti anjing; sementara ia sendiri berteriak, menangis membelah langit, tak ada yang peduli, sampai kemudian seseorang memungutnya seperti anak kucing.

“Kemarilah anakku,” kata ayahnya, yang menurutnya bukan ayahnya, dan lalu dipeluknya Bidin yang sedang menangis. Anak itu melawan dengan keras. Dia meronta seraya menarik-narik tangan ayah dan ibunya yang telah dingin. Matanya memandangi kedua tubuh yang terbaring kaku di jembatan kota sampai kemudian laki-kaki itu membopong bocah mungil itu ke suatu tempat—yang selama bertahun-tahun kemudian menjadi rumahnya sendiri.

Bidin menghela napas, mencoba meredam kenangan pahit yang bergelayut di ingatannya. Diletakkannya rencong emas itu di pangkuan. Dalam kesamaran cahaya lampu, dia merasakan kesunyian di rumah itu, kesunyian yang semakin dalam. Di rumah itu dia lahir dan dibesarkan ayah ibunya, dan lalu keduanya mati begitu saja, meninggalkan ia seorang diri dalam kerumunan orang-orang asing yang telah merampas harapannya dengan begitu kasar.

“Jangan kau kenang lagi. Biarkan ingatan itu pergi,” kata ayahnya suatu hari, yang menurutnya bukan ayahnya. Namun, semakin waktu bergerak cepat, semakin lekat pula ingatan itu, mematuk-matuk kepala Bidin setiap hari.

*

Peristiwa itu terjadi dua puluh dua tahun lalu, ketika Bidin masih berusia lima tahun sepuluh bulan dua belas hari. Ketika itu, Kota Lameulo diserbu barisan laskar yang datang dari segala penjuru. Dipimpin kaum Teungku, para laskar menggempur habis-habisan kaum Teuku yang kala itu hendak bermain mata dengan Belanda, setelah Jepang lari terbirit-birit usai Hiroshima diserbu sekutu.

Bidin yang sedang bermain bersama teman-teman seusianya di bawah rumah panggung berlarian ketika suara meriam berdentam hebat. Bidin menaiki tangga, memasuki rumah, dan lalu berteriak memanggil ibunya. Dari arah tangga, seorang perempuan muda berwajah penuh keringat, meminta Bidin segera turun. Bocah itu memeluk ibunya seperti kucing menerkam tikus; hampir saja keduanya jatuh terguling di anak tangga.

“Di mana ayah?” tanya Bidin yang mulutnya masih menempel di perut perempuan itu. Dari kejauhan suara peluru senapan berdesing-desing. Tampak sekumpulan perempuan dan anak kecil berlarian tak tentu arah, sementara para laki-laki menjulang bedil, membawa rencong dan kelewang, menuju alun-alun kota.

“Habisi semua Teungku budak Jepang!”

Kata-kata itu terdengar beberapa kali dalam kerumunan pasukan bangsawan yang memenuhi jalan-jalan kota. Bedil-bedil di tangan mereka membidik tepat di jantung para laskar yang semakin mendekat. Sabetan kelewang dan tikaman rencong membuat tubuh para laskar Merah Putih bertumbangan.

“Balas! Jangan beri ampun pada pengkhianat. Habisi budak-budak Belanda!”

Laki-laki bertubuh tinggi besar dengan peci hitam di kepala itu menembaki kelompok bangsawan yang kian terjepit. Mereka menjerit memohon ampun. Namun, kelewang tidak memiliki telinga, menebas leher mereka seperti batang pisang.

Di tengah kecamuk perang yang sama sekali tak seimbang, perempuan muda itu menggendong Bidin, berjalan dalam kerumunan yang penuh sesak, memanggil-manggil nama suaminya. Bidin terus menangis. Mata kecilnya memandangi mayat-mayat bergelimpangan di kota itu dan lalu berteriak memanggil ayahnya.

Bocah itu menunjuk ke selatan setelah hidungnya mencium aroma tubuh ayahnya di seberang jembatan. Perempuan itu berjalan terseok-seok sembari berdoa agar peluru tak hinggap di tubuh anaknya. Namun, belum lagi dia sempat menyapa suaminya, tubuh laki-laki itu seperti hendak bersujud dan lalu roboh membentur tanah. Sebutir peluru bersarang tepat di jantungnya.

“Sial! Tak kutahu ada perang. Rencongku tertinggal.”

Suara itu bergetar seiring dengan nyawanya yang tiba-tiba hilang dan lalu terbang mengendap di perut burung-burung hijau. Perempuan itu berteriak, tak sadar anaknya terjatuh dari pelukan. Saat itulah sebutir peluru yang sedari tadi mencari mangsa bersarang di leher perempuan itu. Dia tersungkur, memeluk suaminya yang telah lebih dulu memejam mata. Bidin yang kebingungan menangis keras, keras sekali, sampai-sampai beberapa ekor merpati yang terbang mengambang di langit kota menaruh iba. Namun, sekumpulan merpati itu tidak memiliki daya di hadapan manusia.

Saat itulah, ketika suasana telah lengang, ketika peluru tak lagi terbang, seorang laki-laki berpeci hitam menghampiri Bidin. Menggendong bocah itu dan lalu membawanya berlari, meninggalkan mayat yang berserakan.

“Tak sengaja aku menembak ayahmu,” kata laki-laki itu bertahun-tahun kemudian, setelah Bidin tumbuh remaja. “Tapi, bisa kupastikan bahwa aku tidak menembak ibumu. Saat itu begitu kacau, bahkan aku tak bisa mengenali teman-temanku sendiri.”

Kata-kata itu terus saja terngiang di telinga Bidin. Sebenarnya dia sudah lupa pada peristiwa itu. Namun, laki-laki yang kini ia panggil ayah mengungkitnya kembali, membuat tidur Bidin tak lagi lena.

*

Bidin kembali mengangkat rencong itu tinggi-tinggi. Dua hari lalu ayahnya, yang menurutnya bukan ayahnya, membawa Bidin ke rumah itu. Rumah yang telah ia lupakan bertahun-tahun. “Ambil rencong itu dan balaslah dendammu!” kata laki-laki itu dari luar kamar.

Bidin meninggalkan kamar itu, membawa turut rencong di tangan. Dia menatap ayahnya, yang menurutnya bukan ayahnya.

“Bagaimana mungkin aku bisa membunuhmu, Ayah?”

Laki-laki itu menarik rencong dari tangan Bidin. “Aku akan bertemu ayahmu.”

Bidin memandangi wajah pucat ayahnya, yang menurutnya bukan ayahnya. Dia melihat wajah ayahnya di sana, tersenyum dalam.

Cerpen ini sudah terbit di Harian Suara Merdeka Kamis 25 Januari 2024.

loading...

No comments