Luka Perempuan dalam Desing Peluru

Ilustrasi AI


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 22 Januari 2024

Judul Buku      : Tak Ada Embusan Angin

Penulis            : Aveus Har

Penerbit           : Diva Press

Tebal               : 182 halaman

Tahun Terbit   : Oktober, 2023

ISBN               : 978-623-189-276-8

 

Maneh Maulu adalah potret gadis Aceh yang memiliki karakter unik. Secara intelektual dia cerdas karena akrab dengan sejumlah buku sejak kecil. Namun, akibat doktrin dari ayahnya, dia memelihara kebencian dan dendam terhadap Jawa—yang dianggapnya sebagai penjajah. Kurangnya perhatian orang tua, setelah ayahnya terlibat GAM dan lalu hidup di pengasingan (Norwegia) dan ibunya mati ditembak tentara—membuat karakter Maneh menjadi semakin kompleks: dia ternyata begitu polos dalam hal seksualitas.

Sejak usia 10 tahun, Maneh sudah mengalami pelecehan seksual dari Ahmadi, teman masa kecilnya. Perlakuan itu kembali berulang ketika dia tinggal bersama bibinya. Saat itu, kedua sepupunya berebut mengerayangi tubuh belianya, walau tak sampai memerkosa. Puncak pengalaman seksualitas Maneh terjadi ketika pamannya sendiri memilih memerkosa gadis itu dengan kasar. Berikutnya dia juga diperkosa tentara.

Paman Maneh adalah cuw’ak yang membantu tugas-tugas operasi militer ketika Aceh berstatus Daerah Operasi Militer (DOM) sampai pecahnya perang terbuka GAM dan TNI. Hampir setiap penangkapan dan pembunuhan terhadap gerilyawan GAM melibatkan peran cuw’ak sebagai informan. Profesi cuw’ak tidak hanya ditakuti dan dibenci oleh GAM, tapi juga dimusuhi oleh mayoritas rakyat Aceh yang percaya bahwa Aceh harus merdeka dari kolonialisme Jawa.

Dalam novel “Tak Ada Embusan Angin,” Aveus Har berhasil menggambarkan suasana Aceh dimulai sejak era DOM sampai dengan era pasca tsunami dengan cukup baik. Narasi, deskripsi dan detail yang disajikan dengan penuh penghayatan membuat ingatan-ingatan tentang masa itu kembali menguar, terlebih ketika menceritakan tentang ragam penyiksaan dan perlakuan aparat kepada masyarakat sipil yang sangat-sangat tidak manusiawi.

Novel setebal 182 halaman ini mengingatkan saya pada teman-teman kami yang diculik dan ditemukan sebagai mayat beberapa hari setelahnya, dan juga sahabat-sahabat kami yang ditembak dan ditenggelamkan ke sungai Arakundo. Dalam memori kolektif masyarakat Aceh, bekas-bekas luka itu tetap ada. Ia boleh saja mengering, tapi parutnya yang hitam takkan pernah hilang. Parut yang senantiasa mengingatkan orang Aceh pada satu fase sejarah paling kelam, di mana masyarakat sipil diperlakukan “seperti babi.”

Sebelum menulis novel ini, Aveus Har pastinya sudah melakukan riset dan pembacaan data yang cukup serius. Hal ini terlihat dari keberhasilannya menghadirkan suasana mencekam pada masa DOM (1989-1998). “Ada orang laki-laki diikat tangan dan kakinya, disuruh jalan melompat-lompat … sampai di pinggir kali dia ditembak” (hal. 15). Kepolosan Maneh yang menjadi tokoh utama novel ini juga diperankan dengan baik dalam keseluruhan cerita, seperti ketika ia pertama kali mengalami pelecehan seksual. “Aku masih saja diam, masih telentang, masih memandanginya. Aku tidak ingat apa yang kupikirkan saat itu. Barangkali saat itu aku serupa manusia primitif yang pertama kali melihat pesawat terbang” (hal. 22).

Aveus Har juga memasukkan adegan perkosaan oleh aparat TNI kepada ibunya Maneh, di mana peristiwa ini memang lazim terjadi di masa konflik Aceh. “Di depanku, bergiliran mereka menusukkan boneka kayu di selangkangan mereka pada selangkangan ibu” (hal. 28). Novel ini juga menyisipkan beberapa kritik, baik terhadap pemerintah, GAM dan formalisasi Syariat Islam, “Kamu tahu … sejak perjanjian Helsinki, kita kehilangan isu bersama. Isu yang dihadirkan adalah syariat Islam, padahal perjuangan kita adalah kemakmuran” (hal. 156). Disorientasi ini memang benar-benar terjadi, di mana sebelumnya GAM dengan tegas menolak formalisasi Syariat Islam sebagai solusi penyelesaian konflik, tapi pasca damai mereka justru menggunakan isu ini untuk kepentingan kekuasaan.

Meskipun karakterisasi tokoh, penggambaran budaya Aceh dan suasana perang sudah cukup baik, namun novel ini masih menyisakan sejumlah “cacat” yang luput diperhatikan penulis, misalnya tentang perjuangan ulama (hal. 61). Fakta sebenarnya mayoritas ulama dayah tidak pernah mendukung GAM secara terbuka. Kemudian, pertemuan Maneh dan pamannya juga terjadi tiba-tiba tanpa ada penjelasan bagaimana itu bisa terjadi (hal. 64). Selain itu, tidak lazim juga seorang cuw’ak di wilayah A dieksekusi di wilayah B karena GAM memiliki teritorial masing-masing.

Demikian juga referendum yang disebut sebagai inisiatif GAM (hal. 66) juga kurang tepat. Referendum adalah murni gagasan pergerakan sipil yang saat itu terkonsolidasi dalam organisasi Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), bahkan sebagian elite GAM justru menolak gagasan tersebut. Begitu pula dengan tindakan Nezar (aktivis mahasiswa) yang mengajak Maneh untuk memotong kelamin paman (hal. 64) juga kurang rasional karena faktanya aktivis mahasiswa sangat anti kekerasan, apalagi penyiksaan.

Namun begitu, novel yang berhasil menarik perhatian dewan juri dalam Sayembara Novel DKJ 2023 ini sangat direkomendasikan untuk dibaca guna mengetahui bagaimana keperihan masyarakat sipil di wilayah perang agar kita bisa menemukan kembali rasa kemanusiaan kita di masa depan. Dan semoga saja novel ini membantu kita untuk lebih bijak melihat Papua yang masih membara.

Resensi ini sudah terbit di Harian Bhirawa Jumat 26 Januari 2024.

loading...

No comments