Mengunjungi Kampung Halaman Melalui Cerita
Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 13 Desember 2023
Judul
Buku : Selama Air Hilir
Penulis : Rilda Taneko
Penerbit : Dunia Pustaka Jaya
Tebal : 418 halaman
Tahun
Terbit : Agustus, 2023
ISBN : 978-623-221-886-4
Hidup jauh di negeri orang tak lantas membuat Rilda Taneko melupakan
kampung halamannya sendiri. Bentang jarak dan waktu justru membuat ingatannya
tentang kampung halaman semakin mengapung. Dari Lancaster, Inggris, tempat
sekarang ia berdiam, Rilda berhasil menyelesaikan novel tentang romantika
kehidupan di kampung halamannya, Lampung. Novel “Selama Air Hilir” yang menurut
pengakuannya ditulis selama 2,5 tahun dan diselesaikan pada musim semi di
Inggris Raya dapat dilihat sebagai wujud kerinduannya pada kampung halaman.
Dalam novel setebal 418 halaman tersebut terlihat jelas—sebagai
penulis—Rilda seperti “menyusupkan” dirinya sendiri dalam cerita melalui
karakter-karakter tokoh yang ia bangun. Dia juga “menyisipkan” keterkaitan
antara Lampung dan Inggris, di mana Lampung sebagai titik berangkat dan Inggris
sebagai titik berlabuh. Angkasa sebagai tokoh utama dalam novel ini lahir dan
tumbuh di Lampung, dan lalu, di akhir cerita memilih menetap di Inggris. Sama
persis seperti dialami sendiri oleh Rilda (penulisnya).
Novel ini dibuka dengan kegetiran sosok Angkasa, seorang anak
perempuan berusia 11 tahun yang kerap mengalami kekerasan (fisik dan mental)
dari Alamsyah, papinya. Alamsyah sendiri dilanda bimbang oleh kelahiran Angkasa
dengan fisik berbeda. “Aku begini, istriku begini, kok anakku begitu?”
(hal.38). Namun, sampai dengan kematiannya akibat kerusuhan Mei 1998, Alamsyah
yang saat itu sudah berubah dan bersikap lembut kepada Angkasa—setelah
mengikuti kelompok pengajian—tidak mampu membuktikan kecurigaan atas perselingkuhan
istrinya ketika berlibur di Eropa.
Angkasa juga mengalami perlakukan aneh dari Safira, Maminya, yang
setelah kepulangannya dari Eropa seperti menderita tekanan mental sampai
kemudian ia meninggal karena over dosis. “…Mami mengusap salep itu di seluruh
tubuhku. Seolah Mami berharap … kulitku bisa berubah (hal. 42).
Cerita kemudian berpindah ke sebuah dusun di Hutan Register di
pedalaman Lampung. Di sini Angkasa menyamar sebagai anak laki-laki untuk
menghilangkan jejak dari Amalia, tantenya sendiri. Angkasa berkenalan dengan teman-teman
baru, Adit dan Rico. Penyamaran yang dilakukan Angkasa terkadang membingungkan
dirinya sendiri, seperti ketika dia diajak Pak Tazwin untuk salat Jumat. “Aku
menoleh pada Ibu dengan bingung. Apa aku harus membawa mukena?” (hal. 138). Di Hutan
Register Angkasa dan teman-temannya juga belajar tentang toleransi seperti
terlihat dari kata-kata Adit: “Dan tiang bisa
baca komik waktu kalian mengaji” (hal. 197).
Di Hutan Register yang dikuasai perusahaan ‘perambah hutan’ Angkasa mengalami
sendiri aksi penggusuran oleh pemerintah. Kedatangan warga ke Hutan Register
sendiri dilatari oleh krisis ekonomi yang menyebabkan mereka kehilangan
pekerjaan. Namun, warga dusun di sana dituduh sebagai penduduk ilegal. Setelah
gubuk-gubuk mereka dihancurkan mereka harus mempertahankan bangunan sekolah.
“Gedung sekolah seolah menjadi satu-satunya harapan yang tersisa” (207).
Untuk mempertahankan gubuk mereka, penduduk juga melakukan tindakan di
luar dugaan seperti aksi telanjang yang dilakoni Mbak Beth dan Patiyah. “Tapi
aparat tetap tidak peduli. Mereka bahkan mendorong Mbak Beth dan Ibu hingga
jatuh terjerembap … telanjang begitu rupa ….” (hal. 250). Pengusuran
berlangsung tragis di bawah tindakan represif aparat: “Tiga puluh tiga orang
penduduk tewas dan puluhan terluka” (hal. 251). Kengerian itu terjadi di masa
reformasi, setelah rezim otoriter tumbang.
Cerita berlanjut ketika Angkasa tersesat dalam hutan. Angkasa
mengalami menstruasi pertamanya di sana. Dia sempat terkejut dan mengira darah
yang mengucur berasal dari gigitan pacet (hal. 272). Di sebuah desa tak jauh
dari hutan, dia ditemukan oleh istri bupati (Hana) yang telah menggusur
dusunnya. Hana datang bersama Amalia yang sudah lebih dulu menghubungi Nyai
Rajo. Di desa itu, Angkasa juga bertemu dengan ayah kandungnya, Brian, warga
Inggris (hal. 337). Cerita ditutup dengan keberangkatan Angkasa, Amalia dan
Brian ke Inggris. Walau keberangkatan hari itu gagal karena Angkasa menderita
demam, tapi akhirnya Angkasa benar-benar menetap di Inggris.
Novel ini menjadi menarik karena menggunakan sudut pandang seorang
anak perempuan berusia 11 tahun (Angkasa). Rilda berhasil membangun karakter
anak-anak dengan cukup baik. Namun, ada kejanggalan pada karakter Rico yang
kata-katanya terlihat tidak sepadan dengan usianya. “Kita harus menghapus
kenangan yang tidak mengenakkan buat Angkasa” (hal. 394). Terdapat keanehan
juga pada cara bicara Brian yang kelihatan terlalu fasih berbahasa Indonesia,
padahal dia baru belajar. Tidak adanya penjelasan dan catatan kaki dalam
penggunaan bahasa daerah juga sedikit mengganggu.
Ada juga adegan yang tidak lazim, di mana Angkasa, Rani dan dua anak laki-laki (Adit dan Rico) tidur di satu ranjang di kamar Angkasa (hal. 394). Mengingat usia mereka sudah memasuki masa SMP, hal ini tentu tidak lazim. Selain itu, pembicaraan Angkasa dan orang dewasa semisal Hana tentang perselingkuhan ibu kandungnya (Safira) dengan Brian juga terbilang tabu (hal. 340).
Namun, kejanggalan dan “cacat logika” tersebut tidak memengaruhi bangunan cerita karena Rilda cukup cermat pada detail, alur, plot dan karakter tokoh. Rilda berhasil mengaduk emosi pembaca melalui kegetiran Angkasa ketika orang tuanya masih hidup, kasih sayang Patiyah, perselingkuhan Safira dan Brian, Alamsyah yang dikhianati, kekecewaan Amalia, perlawanan penduduk Hutan Register, skandal perdagangan perempuan dan hubungan rumit antar tokoh. Selain keberhasilannya dalam mengeksplorasi adat istiadat, budaya dan mitos yang berkembang di Lampung, Rilda juga menyajikan banyak sekali kejutan dalam cerita. Tampilnya tokoh-tokoh perempuan hebat seperti Hana (Ibu Bupati) dan Nyai Rajo juga menjadi nilai lebih dari novel bergenre realis ini. Terakhir, novel ini juga membawa pesan tentang optimisme—bahwa dalam kegetiran hidup selalu ada harapan yang membentang.
Artikel ini sudah terbit di Harian Bhirawa, Jumat 22 Desember 2023

Post a Comment