Dia yang Selalu Sibuk
| Ilustrasi AI |
Cerpen Tin Miswary
Pagi
itu cuaca cukup dingin. Jalan-jalan kota masih tampak basah diliput embun.
Matahari seperti enggan terbit dan awan hitam terus berarak, seolah ingin
segera turun ke bumi. Perlahan buliran bening itu pun kembali menetes menyapa
tanah yang belum lagi kering.
Di
tengah siraman hujan yang semakin deras, Ma’un tampak bersiap-siap ingin
berangkat. Setelah memakai jas hujan dia pun menaiki sepeda motor tua yang
terparkir di depan rumah kecilnya. Rumah yang terbuat dari kayu beratap seng
itu terletak di sebuah gang yang tidak seberapa jauh dari pasar ikan Kota Bireuen.
Di rumah itu, Ma’un tinggal bersama istri dan dua anaknya. Sudah lima tahun dia
mendiami rumah itu.
Rinai
yang terus memercik menyirami bumi tak menghentikan niat Ma’un untuk berangkat
pagi itu. Dia memacu sepeda motornya ke arah timur menuju sebuah desa di
pedalaman. Sepeda motor tua itu tampak lincah menaiki jalanan menanjak dan melewati
bukit-bukit yang setiap pagi menjadi saksi perjalanan Ma’un. Setelah berpacu
lebih dari dua jam dia pun tiba di sebuah sekolah dasar perbatasan kabupaten
itu.
“Kamu
terlambat lagi,” kata kepala sekolah yang sedari tadi tampak berdiri di pintu
gerbang sekolah layaknya komandan batalion. Mendengar teguran atasannya, Ma’un
tidak memberi jawaban apa pun. Dia langsung menuju ruang kelas untuk menyapa
murid-muridnya yang sebagian besar tak bersepatu.
Tepat
pukul dua belas siang, Ma’un pamit pada atasannya. Tanpa peduli apakah mendapat
izin atau tidak, Ma’un pun bergegas memacu sepeda motornya. Dia merasa tugasnya
sudah selesai sesuai dengan jam mengajar yang dibebankan padanya. Besok kalau
tidak ada aral melintang dia akan kembali menyapa murid-muridnya, anak-anak
kampung yang lugu dengan seragam seadanya.
Sudah
lima tahun Ma’un menjadi guru dengan status pegawai negeri. Dalam rentang waktu
itu sudah tiga kali dia dimutasi karena terlambat ke sekolah. Sekolah itu
adalah sekolah ketiga baginya. Teguran dan ancaman pecat sudah sering
didengarnya. Bahkan hampir setiap pagi. Namun Ma’un tak berkecil hati.
Berbeda
dengan guru-guru lain di sekolah itu yang sudah mendapatkan tunjangan
sertifikasi sehingga terlihat sejahtera dan berkecukupan, Ma’un hanyalah guru
biasa. Dia lulus pegawai negeri dengan ijazah diploma di sebuah perguruan
tinggi swasta. Karena tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan pendidikan
sarjana, akhirnya peluang mendapatkan sertifikasi pun kandas. Dia harus berpuas
diri dengan penghasilan pas-pasan sembari menyandang status pegawai golongan
dua.
*
Jam
menunjukkan pukul empat sore. Hujan sudah reda sejak siang tadi, namun masih
menyisakan genangan air di beberapa lubang jalan. Langit pun belum ceria dan
masih terlihat murung dalam buaian awan hitam yang terus menumpuk. Mungkin
nanti malam buliran dingin itu akan kembali turun menyentuh bumi.
Ma’un,
si pemuda yang selalu terlihat sibuk kembali melaju dengan sepeda motornya.
Sore itu dia menuju ke pasar untuk membeli ikan dan sedikit sayur. Aktivitas
ini tidak mungkin ia lakukan di pagi hari karena harus cepat-cepat hadir ke
sekolah. Jika tidak, maka ancaman pemecatan yang selama ini didengungkan di
telingannya akan segera menjadi kenyataan. Dia belum siap dengan kepahitan itu.
Kondisi keluarganya tak memungkinkan ia bekerja sebagai TKI di luar negeri atau
pun menjadi buruh seharian penuh.
Setelah
memarkir sepeda motornya, Ma’un melangkah memasuki pasar. Tanpa berlama-lama
dia pun membeli setumpuk ikan dan satu ikat sayur bayam yang sudah mulai layu.
Dia juga menyusuri lorong-lorong pasar untuk mencari martabak kacang pesanan
anaknya dan sirup Dardanila pesanan istrinya.
Ketika
hendak meninggalkan pasar seseorang memanggilnya. “Ngopi dulu!” seru pria itu seraya
melambaikan tangan ke arah Ma’un. Melihat temannya itu, Ma’un hanya tersenyum
sambil tangannya menunjuk ke arah belakang sebagai tanda bahwa ia harus lekas
pulang.
Hampir
semua pedagang di pasar ikan adalah teman-teman Ma’un. Sebelum kejadian itu
menimpa keluarganya lima tahun lalu, ia sering bercengkerama dengan mereka.
Saat itu Ma’un dikenal sebagai sosok yang ramah dan suka bicara. Namun, dalam
lima tahun terakhir ini dia berubah menjadi pendiam. Dia tidak pernah lagi
berlama-lama di pasar. Setelah membeli kebutuhannya dia langsung pergi.
*
Azan
Magrib berkumandang dari menara masjid kota. Langit masih mendung dan gerimis
pun kembali bertaburan. Sesekali suara guruh pun ikut bertabuh riuh mengiring
senja yang telah hilang. Beberapa pedagang gerobak yang khusus berjualan di
malam hari terlihat sibuk menyiapkan barang dagangannya meskipun hujan belum
menunjukkan tanda-tanda reda.
Ma’un
kembali menghidupkan sepeda motornya. Ia menuju ke arah masjid untuk menunaikan
salat Magrib. Ma’un adalah laki-laki yang taat dan selalu hadir di masjid
menjelang salat lima waktu. Bahkan di waktu Subuh yang dingin ditambah rinai
hujan, Ma’un tetap saja menuju masjid. Baginya salat berjamaah di masjid adalah
soal hubungannya dengan Pencipta alam raya yang tidak bisa dicegah oleh siapa
pun, termasuk oleh kondisi keluarganya.
Selepas
menunaikan salat, Ma’un mengarahkan telapak tangannya ke langit. Ia memohon
agar kebaikan-kebaikan selalu menyertai diri dan keluarganya. Dia menitikkan
air mata, berharap Tuhan memenuhi pintanya.
Ketika
ingin bangkit dari sajadah, Imam masjid memanggilnya. Tapi Ma’un terus berdiri
tegak dan memberi aba-aba kepada Imam bahwa ia harus segera pamit. Dia tahu
bahwa malam itu akan digelar ceramah maulid di masjid. Mungkin Imam ingin
mengajaknya meramaikan acara, tapi Ma’un, si pemuda yang selalu sibuk tidak
bisa berlama-lama di masjid. Dia harus
segera pulang.
*
Demikianlah
Ma’un menjalani kehidupannya dalam lima tahun terakhir. Sikapnya yang selalu
terlihat sibuk mulai menuai cemoohan dari orang-orang yang mengenalnya. Di
lingkungan tempat tinggalnya Ma’un dituduh anti-sosial dan tidak mau bergaul
dengan masyarakat.
Di
sekolah, dia selalu menjadi sasaran kemarahan kepala sekolah karena terlambat
datang dan pulang cepat. Bahkan Ma’un juga jarang berkomunikasi dengan guru dan
sejawatya di sekolah. Dia hanya akrab dengan murid-muridnya. Meskipun sering
terlambat, namun Ma’un tak pernah meninggalkan tugasnya.
Teman-teman
Ma’un di pasar menganggapnya sombong karena sudah menjadi pegawai negeri.
Teman-temannya kecewa karena Ma’un sudah tidak lagi mau bercengkerama dengan
mereka. Diajak minum segelas kopi saja Ma’un tidak memiliki waktu. Dia selalu
terlihat sibuk.
Di
masjid, meskipun tidak pernah absen salat, namun Ma’un tidak pernah lagi ikut
pengajian atau pun acara-acara yang digelar di sana. Bahkan bertegur sapa
dengan para jamaah juga tidak pernah lagi ia lakukan. Pak Imam yang merupakan
gurunya juga sudah tidak akrab lagi dengannya. Tidak pernah lagi ia berdiskusi
atau sekadar bertanya pada gurunya itu. Ma’un adalah laki-laki yang sibuk.
*
Pagi
itu langit terlihat cerah. Tidak ada lagi gumpalan awan dan rinai hujan.
Matahari dapat dengan leluasa memancar sinarnya ke bumi dan menembus
lorong-loron kota yang sempit. Beberapa pucuk pohon di taman kota tampak
tersenyum dibelai mentari pagi.
Hari
itu Ma’un tidak keluar rumah. Sepeda motornya tampak terparkir di teras rumah
kecilnya. Beberapa kali kepala sekolah menelepon tapi tak diangkat. Ma’un juga
tidak ke pasar hari itu. Bahkan dia tidak hadir di masjid.
Keesokan
harinya pintu rumah Ma’un juga masih tertutup rapat. Sekira pukul dua siang
ketika matahari sedang terik-teriknya membakar, Pak Sadikin, kepala sekolah
yang sedang disulut amarah karena sudah dua hari Ma’un bolos mengajar
mendatangi rumah si laki-laki sibuk itu. Di belakangnya juga terlihat Midi,
teman Ma’un yang memanggilnya di pasar beberapa hari lalu. Tak ketinggalan Pak
Imam masjid yang terlihat mengikuti dua orang yang sudah lebih dulu berjalan di
depannya. Meskipun tak saling kenal, namun mereka bertiga seperti sudah
bersepakat mengunjungi Ma’un yang sudah dua hari tidak menampakkan wujudnya.
Setelah
saling menatap satu sama lain, Pak Imam mewakili mereka bertiga untuk mengetuk
pintu. “Assalamualaikum!” Suara Pak Imam terdengar sampai ke dapur rumah itu.
Sebagai seorang imam meskipun, tidak memakai microphone, tekanan
suaranya tak perlu diragukan.
“Ya,
sebentar.”
Ma’un,
si laki-laki sibuk tampak membuka pintu. Melihat tiga orang tamu yang tak asing
itu, wajah Ma’un terlihat muram bercampur heran. Seperti ada yang mendorong, Ma’un
pun mundur beberapa langkah sembari menoleh ke belakang. Dia menatap istrinya
yang terlentang di ranjang ruang tamu, satu-satunya ruangan di rumah kecilnya.
Istrinya terlihat begitu tua. Sudah lima tahun perempuan itu tidak bisa
menggerakkan tubuhnya. Menurut dokter, istri Ma’un terkena penyakit lumpuh yang
belum diketahui penyebabnya.
Ma’un
kemudian menggeser wajah ke arah dua anaknya yang juga terlentang di samping
istrinya, sepasang bocah kembar berusia dua belas tahun. Kedua anak malang itu
mengikuti jejak ibunya, lumpuh sejak usia tujuh tahun tanpa diketahui
penyebabnya. Sudah lima tahun anak istrinya begitu rupa.
Setiap pagi Ma’un memandikan dan membersihkan tubuh mereka. Dia mengurus segala keperluan anak istrinya: berbelanja, memasak dan menghibur mereka. Sebab itulah Ma’un sering terlambat ke sekolah dan pulang cepat. Sebab itu pula dia tidak bisa berlama-lama di pasar dan hanya sebentar di masjid.
Tanpa dinyana, ketiga tamu yang datang ke rumah itu pun duduk terduduk lemas di lantai depan pintu. Mereka menunduk memandang lantai sambil sesekali mata mereka melirik ke arah Ma’un yang terus mengusap kepala anak istrinya. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Tidak pula dari mulut Ma’un.
Cerpen ini sudah terbit di Harian Waspada Minggu 17 Desember 2023.

Post a Comment