19 Tahun Tsunami Aceh: Parade Kesedihan dan Sigap Bencana
Oleh:
Khairil Miswar
Bireuen, 24 April 2023
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI
26
Desember 2004 adalah titik awal lahirnya era baru bagi masyarakat Aceh. Hal ini
ditandai dengan munculnya frasa pascatsunami dalam penulisan sejarah sosial
masyarakat Aceh di kemudian hari. Frasa ini merupakan bagian dari periodisasi
sejarah Aceh kontemporer yang dilandaskan pada satu peristiwa besar bernama
tsunami, di mana peristiwa dimaksud diyakini telah mengubah wajah Aceh di
masa-masa kemudian.
Salah
satu perubahan besar yang terjadi setelah gempa tsunami menghantam Aceh 18
tahun lalu adalah berakhirnya perang antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan
aparat Republik Indonesia setahun setelahnya, tepatnya pada 15 Agustus 2005. Sejarah
mencatat bahwa peristiwa tsunami memiliki kontribusi besar dalam mendorong para
pihak yang bertikai untuk berunding dan mengakhiri perang dengan alasan
kemanusiaan. Dengan adanya kesepakatan damai ini kedua pihak memiliki
kesempatan untuk membangun kembali Aceh yang kala itu telah menjadi puing.
Parade Kesedihan
Sebagai
masyarakat Aceh, saya menyaksikan sendiri kerusakan yang terjadi setelah
gelombang tsunami menyapu bersih daratan. Mayat bergelimpangan dan tersangkut
di sejumlah bangunan; sebagiannya terimpit reruntuhan bangunan dan potongan
kayu. Sebagian yang lain mengambang terapung di genangan air dengan tubuh yang
telah membengkak. Sejumlah mobil hancur berserakan sepanjang jalan sementara
pengemudi dan penumpang telah menjadi mayat. Perahu-perahu nelayan tampak
mendarat di atap-atap gedung bersama sampah yang menumpuk. Ratusan dan bahkan
ribuan mayat tak dikenali dikubur satu liang dalam iringan tangisan dan doa.
Pemandangan
demikian tentu melahirkan kesedihan mendalam, khususnya bagi mereka yang
kehilangan keluarga dan teman akibat bencana dahsyat yang tak pernah diduga
sebelumnya. Pedihnya lagi, kesedihan ini harus diratapi di tenda-tenda
pengungsian yang kala itu menyemak di seantero Aceh. Untung saja pemerintah
sigap dan bantuan internasional pun berdatangan sehingga Aceh bisa kembali
bangkit seperti sedia kala.
Namun
sayangnya, secara faktual kesedihan ini kembali muncul ketika peristiwa itu
diperingati saban tahun. Air mata yang dulunya telah kering kembali menitik
saat peristiwa kelam itu diingat dan diceitakan kembali dalam momen peringatan
tsunami pada setiap 26 Desember. Tanpa sadar luka yang sedianya telah pulih seiring
perjalanan waktu kembali menganga.
Secara
sosio-kultural, memperingati peristiwa-peristiwa besar memang telah menjadi
tradisi bangsa-bangsa di dunia. Secara prinsip hal ini dimaksudkan sebagai
medium untuk mengambil ibrah dari peristiwa yang telah terjadi agar kita
lebih bijaksana dalam menyikapi kehidupan di masa depan. Namun dalam konteks
peringatan peristiwa tsunami di Aceh, yang terjadi justru “parade kesedihan”
yang sama sekali tidak produktif bagi kebangkitan Aceh di masa depan. Hal ini
dibuktikan dengan kembali munculnya kisah-kisah sedih di panggung peringatan
yang membuat keluarga korban kembali meratap.
Idealnya
peringatan peristiwa tsunami di masa depan harus mampu dikemas dalam bentuk
yang lebih produktif sehingga bisa melahirkan optimisme untuk terus bangkit,
bukan justru menjadi medium merawat luka. Peristiwa kelam di masa lalu tersebut
mestilah menjadi alat pecut bagi masyarakat Aceh untuk semakin tanggap terhadap
bencana yang terus mengintai saban hari. Selain persoalan takdir dan
kemunculannya yang tiba-tiba, harus diakui bahwa besarnya jumlah korban dalam
peristiwa tsunami Aceh 18 tahun lalu juga disebabkan oleh belum adanya sikap
sadar bencana di kalangan masyarakat.
Tafsir Bencana
Sejauh
ini sebagian masyarakat Aceh masih menafsirkan bencana hanya sebagai “hukuman
Tuhan” atas ketidakpatuhan dan maksiat yang disebut-sebut kian merajalela.
Memang dalam konteks teologis, salah satu sebab terjadinya bencana karena
adanya dosa dan maksiat. Hal ini sesuai dengan Quran surat Asy-Syuraa
ayat 30. Dalam hal ini juga terdapat perkataan Ali bin Abi Thalib yang dengan
tegas menyebut musibah turun karena adanya dosa. Namun demikian, kita tidak
bisa menafikan pesan lainnya dalam Alquran tentang kontribusi manusia dalam
mengundang bencana. Hal ini di antaranya disebut dalam Quran surat Ar-Rum
(41-42) bahwa manusia memiliki andil dalam merusak bumi sehingga bencana pun
bermunculan.
Dalam
konteks ini aksi perusakan bumi seperti penambangan liar, penebangan dan
pembakaran hutan, limbah industri, membuang sampah sembarangan dan pencemaran
laut adalah ulah manusia yang dapat dikategorikan sebagai maksiat yang kemudian
menghadirkan bencana alam. Dalam hal ini jelas bahwa bencana memiliki korelasi
dengan ketidakbecusan manusia dalam merawat bumi sehingga ia menjadi salah satu
medium hukuman yang diberikan Tuhan kepada manusia. Karena itu, kesadaran
masyarakat dalam merawat bumi juga menjadi salah satu poin penting guna
menghindari terjadinya bencana. Dengan kata lain, terjadinya bencana bukan saja
disebabkan oleh konser musik sebagaimana dipahami oleh sebagian kalangan, tapi
juga dipicu oleh perilaku kita sendiri yang tanpa sadar setiap saat merusak
bumi demi keuntungan pribadi.
Sigap Bencana
Selain edukasi
soal tafsir bencana yang kerap dipahami secara parsial dan bahkan keliru,
peringatan tsunami juga hendaknya bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat agar
sigap dan tanggap terhadap bencana yang terus terjadi. Hal ini penting agar
peringatan tsunami memiliki nilai edukasi, khususnya terkait kesiapsiagaan
menghadapi bencana. Edukasi ini menjadi poin dalam membangun kesadaran
masyarakat, khususnya di daerah rawan bencana agar korban jiwa dapat
diminimalisasi.
Pemahaman
tentang kesadaran masyarakat terhadap bencana ini bukan dilakukan ketika
bencana sudah terlanjur terjadi, tetapi mesti ditanamkan jauh-jauh hari sebelum
bencana itu datang. Artinya, sedari awal masyarakat sudah harus dibekali dengan
berbagai pengetahuan tentang kebencanaan, mulai dari menjauhi daerah-daerah
rawan bencana sampai dengan pengetahuan tentang strategi menghadapi bencana
ketika mereka terjebak di daerah-daerah tersebut. Jelasnya pendidikan tanggap
bencana meliputi tiga fase, yaitu: fase pra bencana, fase saat bencana terjadi
dan fase pascabencana sebagai upaya pemulihan.
Kesadaran
dan kesigapan terhadap bencana ini memiliki korelasi dengan firman Tuhan yang
mengatakan bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum tanpa ada usaha dan
upaya dari kaum itu sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Dalam konteks ini,
kesigapan terhadap bencana menjadi hal penting yang mesti terus ditanamkan
kepada masyarakat, di mana kesigapan ini menjadi salah satu strategi agar
tercapainya keselamatan sehingga jumlah korban jiwa dapat berkurang.
Selain kesadaran dan kesigapan masyarakat secara personal terhadap bencana, pemerintah setempat juga dituntut aktif dalam mitigasi bencana seperti pemetaan wilayah rawan, penanaman pohon bakau, penghijauan dan hal-hal lain yang dianggap perlu sebelum bencana terjadi. Program ini mesti terus dilakukan dan dikampanyekan secara berulang agar ketahanan kita terhadap ancaman bencana semakin kuat. Dalam hal ini juga dibutuhkan sejumlah regulasi yang mendukung upaya tersebut sehingga mitigasi bencana tidak hanya berada pada tataran konseptual belaka, tapi juga terwujud dalam aksi nyata.
Kita berharap agar peringatan bencana seperti peristiwa tsunami di masa depan tidak lagi terjebak dalam “parade kesedihan” seperti yang berlangsung selama ini, tapi harus mampu menjadi medium dalam menciptakan masyarakat yang sigap bencana melalui edukasi yang intens.
Artikel ini sudah terbit di Harian Serambi Indonesia Sabtu 23 Desember 2023

Post a Comment