Menertawakan Hidup
![]() |
| Ilustrasi AI |
Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 16 Januari 2024
Judul
Buku : Tragedimu Komediku
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Pojok Cerpen
Tebal : xii + 276 halaman
Tahun
Terbit : Juli, 2023
ISBN : 978-623-5869-18-6
Judul buku “Tragedimu
Komediku” karya Eka Kurniawan yang diterbitkan Pojok Cerpen mengingatkan kita
pada quote popular: “The world is a
tragedy to those who feel, but a comedy to those who think.” Quote tersebut
diyakini berasal Horace Walpole, seorang penulis
berkebangsaan Inggris yang hidup pada abad 18. Namun, beberapa sumber menyebut
kutipan itu adalah milik Jean de La Bruyère, seorang penulis Prancis satu abad
sebelumnya.
“Dunia adalah
komedi bagi mereka yang memikirkannya, atau tragedi bagi mereka yang
merasakannya,” demikian maksud kutipan itu. Sayangnya, di pengantar bukunya,
Eka Kurniawan sama sekali tidak menyinggung kutipan dari kedua penulis tersebut;
sekadar untuk memastikan apakah dia mendapat inspirasi dari sana untuk judul
bukunya atau tidak. Namun, bagi Eka, hal itu sepertinya tidak penting.
Buku setebal 276
halaman ini berisi 68 esai yang ditulis Eka Kurniawan di Koran Jawa Pos
beberapa tahun sebelumnya. Topik dalam esai-esai itu cukup beragam. Umumnya
adalah “celotehan-celotehan” ringan dalam menyikapi berbagai peristiwa yang
terjadi. Dalam esai-esai tersebut, penulis mencoba memberi respons terhadap apa
saja yang ia lihat, dengar dan ketahui dengan menggunakan perspektif seorang “pengamat.”
Dia tidak hanya “menguliti” kebijakan-kebijakan pemerintah yang menurutnya
kurang tepat, tapi juga mencoba mengoreksi beberapa perilaku masyarakat yang menurutnya
harus diubah. Pikiran-pikiran itu ia sampaikan dalam bentuk candaan yang diisi dengan
cerita-cerita satire.
Di bagian awal
bukunya, Eka mengulas novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker dengan nama
pena Multatuli. Menurutnya, novel yang berkisah tentang penderitaan pribumi tersebut
telah berhasil mempermalukan masyarakat Belanda atas kebijakan-kebijakan
pemerintah kolonial di tanah jajahan. Eka menghubungkan novel tersebut dengan
realitas yang terjadi di Indonesia, di mana ada banyak sekali kebijakan yang
membuat kita sendiri—sebagai rakyat—merasa malu, seperti dalam petikan berikut:
“Mulailah membaca
tentang reformasi, Munir, dan Papua sekarang juga. Itu akan mempermalukan kita,
memang, seperti orang Belanda merasa malu saat membaca Max Havelaar. Tapi, kita
harus melewatinya” (hal. 4).
Terkait dengan
orang-orang Papua, Eka juga menulis esai khusus dengan tajuk “Kita, Tetangga
dan Papua.” Dia mengawali esai itu dengan cerita tentang pesta perkawinan
adiknya yang sedianya akan dilaksanakan di gedung sehingga para tetangga
mengajukan protes karena acara di gedung akan menafikan peran-peran mereka, di
mana mereka tidak bisa terlibat dalam pesta tersebut. Dia menghubungkan
pengalaman pribadi ini dengan nasib orang-orang Papua.
Eka menulis: “Setiap
kali saya pergi ke toko swalayan atau warung makan, masih mungkin saya bertemu
orang sebagai pelayan maupun pemilik warung yang berasal dari Padang, Aceh,
Bugis dan Bali. Tapi, tak pernah saya bertemu orang Papua. Jika kamu bekerja di
sebuah kantor, seberapa kemungkinannya kolega kerjamu orang Papua?” (hal. 37). Dan,
apa yang dikatakan Eka memang benar, sebagai bangsa terkadang kita lupa bahwa
Papua adalah bagian dari kita.
Di bagian lain, Eka juga membicarakan banyak isu lainnya, tak melulu politik, tapi juga soal kekerasan seksual, sikap rasis, perang, konflik, disrupsi kuasa, narasi tunggal dan tentunya kesusasteraan. Sebagai seorang sastrawan (novelis), hampir semua esai Eka dalam buku ini mengandung kutipan dari karya sastra yang pernah ia baca, baik novel, cerpen dan bahkan film. Sepertinya Eka sengaja menggunakan karya-karya fiksi itu sebagai neraca untuk melihat realitas sesungguhnya yang terkadang penuh dengan komedi dan bahkan tragedi.
Penggunaan gaya bertutur dalam setiap esai membuat buku ini menjadi sangat ringan dibaca semua kalangan. Kadang-kadang ia juga menyelipkan humor seperlunya, terlebih ketika ingin mengkritik sesuatu, apakah itu pemerintah, masyarakat atau dirinya sendiri. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah tidak adanya klasifikasi topik atau pembagian bab, seolah memaksa pembaca untuk menyelesaikan buku ini sekali duduk. Atau mungkin gaya demikian adalah ciri khas penerbit Pojok Cerpen, sebab buku Nezar Patria yang terbit sebulan lalu juga disusun dengan pola yang sama.
Artikel ini sudah terbit di Harian Bhirawa Jumat 19 Januari 2024.



Post a Comment