Derita Rohingya; Brutalisme dan Hilangnya Kearifan
![]() |
| Ilustrasi AI |
Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 28 Desember 2023
Dalam perspektif kemanusiaan, aksi pengusiran terhadap para
pengungsi Rohingya di gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA) yang konon dilakukan
oleh sejumlah demonstran baru-baru ini adalah tindakan brutal yang tidak dapat
dibenarkan. Sikap ini sangat kontradiktif dengan kearifan dan nilai-nilai luhur
yang selama ini dipegang kuat masyarakat Aceh. Aksi yang kononnya melibatkan
mahasiwa ini mestinya tidak terjadi jika pemerintah, baik pemerintah provinsi
mau pun pemerintah pusat mengambil sikap sejak awal, bukan justru membiarkan bola
api menggelinding liar dan kemudian membakar kewarasan semua orang.
Seperti dirilis sejumlah media online, para mahasiswa mengambil dan
melempar barang-barang milik pengungsi Rohingya yang membuat para pengungsi
ketakutan. Ditimbang dari perpektif mana pun, tindakan ini adalah biadab, tidak
masuk akal dan berlebihan. Tindakan ini adalah bentuk teror kepada orang-orang
teraniaya yang sama sekali tidak pantas dilakukan, apalagi oleh masyarakat Aceh
yang dikenal religius. Tindakan ini akan memunculkan trauma bagi mereka,
khususnya perempuan dan anak-anak yang sejak dalam perahu sudah mengalami
ketakutan.
Munculnya tindakan-tindakan brutal semacam itu tidak terlepas dari framing, labeling dan stigmatisasi negatif yang dilakukan oleh provokator,
yang hingga saat ini belum diketahui siapa yang memulai. Aksi-aksi penggiringan
opini, pembusukan dan penyebaran stereotipe tersebut berjalan masif di media
sosial yang kemudian membuat publik awam menelannya mentah-mentah, seperti bayi
yang menelan pisang tanpa perlu dimamah. Akibatnya, akal sehat menjadi mati dan
rasa kemanusiaan lebur bersama angin.
Segala bentuk bullying
terhadap pengungsi Rohingya dapat dipandang sebagai strategi dehumanisasi,
yaitu mencerabut unsur-unsur kemanusiaan yang melekat pada setiap manusia.
Dengan dehumanisasi tersebut, mereka akan diposisikan sebagai penjahat,
perusuh, dan imigran gelap yang suatu saat akan menguasai tanah dan mengusir
warga tempatan. Dan, ketika dehumanisasi ini berhasil, maka pengusiran terhadap
mereka akan dipandang wajar dan niscaya. Pengusiran ini kemudian akan dianggap
sebagai upaya preventif guna menolak ancaman yang akan terjadi di masa depan.
Halusinasi demikian tentu saja harus diakhiri, sebab akan membunuh sikap
empati pada masyarakat Aceh yang dulu juga pernah teraniaya dan hidup dalam
ketidakpastian ketika perang masih berkecamuk.
Mahasiswa Kulkas
Hal paling menyakitkan dari aksi pengusiran dan bullying terhadap pengungsi Rohingya adalah terlibatnya mahasiswa,
kader dan aset bangsa masa depan. Sebagai orang-orang terpelajar mestinya
mahasiwa mengedepan pikiran rasional sehingga tidak mudah termakan hoaks yang
tersebar di media sosial. Ketakutan bahwa para pengungsi akan membuat gaduh dan
akan merebut tanah Aceh sebagaimana tersebar di media sosial adalah ketakutan
tak beralasan dan terlalu mengada-ngada, apalagi menyamakan para pengungsi
Rohingya yang notabene adalah Muslim dengan para imigran Yahudi yang menguasai
Palestina pasca Holocaust. Tentu ini absurd.
Harusnya mahasiswa bisa sedikit jeli dan tidak menelan mentah-mentah
informasi tersebut, informasi yang membuat nalar mereka menjadi mati. Harusnya
mahasiswa menjadi penyuluh dan pembela orang-orang tertindas, bukan justru
menjadi bagian dari penindasan, apalagi terhadap orang-orang teraniaya,
orang-orang yang mencari perlindungan seperti pengungsi Rohingya. Karena itu,
aksi yang melibatkan mahasiswa ini patut disesalkan atau mungkin dikutuk
berkali-kali.
Harusnya para mahasiswa yang terlibat dalam pengusiran pengungsi itu
bisa berkiblat pada pengalaman konflik Aceh, ketika gelombang pengungsian
terjadi di mana-mana, ketika rumah-rumah penduduk dibakar, ketika orang-orang
dibantai seperti binatang dan ketika ketakutan menyebar di tengah masyarakat.
Apa yang dilakukan mahasiswa saat itu? Saat itu mahasiswa berdiri dengan dada
membusung untuk melawan segala bentuk penindasan, menyerahkan tubuh-tubuh
mereka sebagai santapan peluru dan berteriak lantang melawan kezaliman, bukan
justru menari-nari di atas penderitaan orang-orang teraniaya seperti
ditunjukkan segelintir mahasiwa pengusir Rohingya yang minus adab.
Di satu sisi memang dapat dimengerti, karena mahasiswa yang terlibat
dalam pengusiran para pengungsi Rohingya adalah mereka-mereka yang terlahir
dalam “kulkas” yang sejuk, ketika perang di Aceh telah berakhir, ketika letupan
senapan tak lagi terdengar, sehingga mereka tidak memiliki empati pada
orang-orang tertindas. Namun, sekiranya mereka mau belajar pada masa lalu,
ketika Aceh dilanda perang atau ketika air laut menghantam daratan saat tsunami
yang kemudian membuat para korban berkumpul di kamp pengungsian, mungkin para
mahasiswa akan berpikir berkali-kali sebelum meneror para pengungsi. Sayangnya,
hal itu tidak terjadi, dan mereka justru termakan provokasi murahan, provokasi
yang seharusnya mereka lawan dengan akal sehat, dengan pengetahuan yang telah
mereka dapat dari kampus-kampus.
Negara yang Sibuk
Sejauh ini tidak terlihat ada sikap tegas dari negara terkait
keberadaan pengungsi Rohingya di Aceh. Kondisi ini telah membuat sebagian oknum
masyarakat yang termakan hoaks kian bingung, yang kemudian mendorong mereka
untuk bertindak di luar akal sehat. Narasi kebencian terhadap pengungsi terus
disebarkan, sementara negara hanya diam dan tidak memberi respons yang berarti,
kecuali beberapa komentar mengambang yang tidak memiliki dampak.
Bisa jadi hal demikian disebabkan oleh kesibukan elite dalam
menghadapi kontestasi Pilres yang semakin dekat sehingga peran-peran mereka
dalam menyikapi persoalan pengungsian tidak muncul ke permukaan. Akibatnya
masyarakat bertindak sendiri-sendiri, seperti dilakukan sekelompok mahasiswa di
Banda Aceh. Kondisi ini seolah dibiarkan liar begitu saja, sehingga benturan
antara penduduk lokal dengan para pengungsi pun tak dapat dihindari. Ketika
kondisi kian keruh, maka yang muncul di permukaan adalah buruknya citra
masyarakat Aceh di mata dunia, di mana sejumlah media dengan penuh semangat
mengabarkan dan mengulang-ulang pemberitaan terkait penolakan pengungsi.
Sialnya lagi, gerakan penolakan yang kian masif ini kemudian dijadikan dalil oleh sebagai pihak untuk menjustifikasi segala bentuk framing yang telah beredar, bahwa para pengungsi Rohingya adalah orang-orang yang tak layak dibantu, suka membuat rusuh dan mengancam stabilitas nasional, yang karena itu mereka harus diusir dan dibiarkan mati di tengah laut.
Harusnya pemerintah menunjukkan perannya agar keriuhan ini segera berakhir, bukan justru menutup mata dan haha hihi atas apa yang terjadi sehingga keresahan masyarakat pun kian membiak. Atau jangan-jangan keriuhan ini sebuah drama?
Artikel ini sudah tayang di Komparatif



Post a Comment