Pengakuan-Pengakuan yang Pelik
Cerpen Tin Miswary
Sudah hampir sebulan aku mendekam dalam sel yang
hanya memiliki luas satu kali dua meter. Orang-orang menyebut sel kecil ini
sebagai sel tikus. Hanya ada satu lampu di bagian tengah langit-langit. Lampu yang
hidup segan mati tak mau setelah tubuhnya dipenuhi debu-debu hitam yang
melekat. Lampu pijar berwarna remang itu sering kali berkedip sendiri. Seperti
pengidap insomnia yang mengantuk tapi tak bisa tidur.
Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa mengukur
nasib. Dan aku pun larut dalam nasib yang tak pernah kuinginkan. Nasib yang
telah membuatku terkurung di kamar pengap ini. Kamar yang dikelilingi jeruji
dan sarang laba-laba yang bergelantungan. Kamar yang mengeluarkan aroma sesak
bekas napas-napas manusia yang melekat di dinding dan lantai kotor penuh kecoa.
Ruangan ini sama sekali tidak cocok untuk anak usia delapan belas sepertiku.
Tapi nasib tak bisa diajak diskusi.
Tidak ada toilet di sini. Ketika aliran kencing kian
bergolak aku terpaksa memukul jeruji hingga berdenting. Itu adalah caraku
memanggil polisi agar ia membuka sejenak pintu besi dan menuntunku ke kamar
mandi. Kadang-kadang ketika malam telah larut dan perutku sedang berkecamuk,
aku terpaksa menampung kotoranku dalam plastik kresek agar aromanya tidak
menyebar dan lalu aku letakkan di pojok sel untuk kemudian menjadi hidangan
bagi kecoa yang kelaparan. Sebotol air putih yang saban hari diantarkan polisi
ke ruangan ini bukan saja kujadikan minuman, tapi juga aku sisakan sebagai
pembersih. Untuk cebok!
Itu semua karena ayahku. Sudah berkali-kali aku
ingatkan agar ia tidak mengawini Suti, gadis kampung yang pernah menjadi
pacarku. Tapi kepergian ibu dua tahun lalu membuat hidup ayahku begitu sepi.
Dia butuh teman sampai kemudian nekat mengawini Suti. Berkali-kali kuingatkan,
tapi ayah keras kepala.
“Apa tidak ada perempuan lain di kampung ini
sehingga ayah tertarik pada Suti?”
“Bukan begitu, Nak. Ayah kasihan padanya setelah ibu
bapanya meninggal ditelan tsunami.”
“Suti terlalu muda untukmu, Ayah.”
“Ya, tapi kenapa, Nak?”
Aku tidak mau kita mencumbui perempuan yang sama,
Ayah.
Hampir saja kalimat itu keluar dari mulutku, tapi urung. Aku segera sadar dan
lalu diam.
Dua hari kemudian ayah pun menikahi Suti. Dan akhirnya petaka itu pun bermula. Aku
menyutubuhi Suti di kamar ibuku yang kini menjadi kamarnya bersama ayah. Aku
melakukan itu sebelum genap seminggu ia menjadi istri ayahku. Teriakan Suti
membuat orang-orang kampung berkumpul di rumahku. Saat itu ayahku tidak di
rumah. Orang-orang kampung menyerahkanku pada polisi sampai akhirnya aku
dikurung di kamar ini. Ayahku meninggal sebelum sempat menjengukku, anak
satu-satunya yang paling dia sayangi. Ayah meminum racun serangga dua hari
setelah kejadian itu.
***
Tiba-tiba saja sel gelap nan sempit yang aku tempati
ini menjadi ramai. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan badan berisi
dimasukkan ke sel. Laki-laki berusia sekira lima puluh itu masuk dengan wajah
menunduk dan lalu duduk di sampingku sembari menjulurkan kakinya ke depan. Pintu
sel ditutup. Laki-laki berkulit sawo matang itu berpaling ke arahku. Dia
melempar senyum sambil mengangguk pelan.
Hari-hari berlalu tapi kami tak pernah bicara dan
hanya saling tatap sembari menyembul senyum. Hampir tiap hari laki-laki itu
dikunjungi kerabat, sanak saudara dan teman-temannya. Sesuatu yang tidak pernah
aku alami sejak aku terdampar di kamar ini. Mereka membawa kue, manisan, kopi
dan beberapa bungkus rokok. Dia bukan orang biasa, batinku.
Pada suatu malam dia menghampiriku sembari
menyodorkan sebatang rokok. Dia menepuk-nepuk bahuku dengan tangannya yang
kekar.
“Sudah berapa lama kamu di sini, anak muda?”
“Lebih sebulan.”
“Kamu mencuri?”
“Tidak.”
“Membunuh orang?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku bersanggama dengan istri ayahku.”
Laki-laki itu terkejut. Hampir saja rokok di
bibirnya terjatuh, tapi dia segera menguasai dirinya kembali dan mencoba
tersenyum. Untuk beberapa lama kami terdiam.
“Aku sangat menyesal dan merasa terkutuk,” tegasku.
Lalu aku pun menceritakan padanya apa yang telah terjadi. Dia mendengar dengan
penuh takzim sembari sesekali mengangguk dan menggeleng.
“Bagaimana dengan Bapak?” tanyaku tiba-tiba.
Laki-laki itu terkesiap. Dia memejam mata beberapa saat dan lalu bercerita.
“Sebenarnya sulit meyakinkan orang-orang,” laki-laki
itu mulai bercerita dengan wajah menunduk. “Sudah sepuluh tahun lebih aku
membangun pesantren. Murid-muridku cukup ramai. Namaku terkenal ke mana-mana
dan aku sering diundang berceramah ke kampung-kampung yang jauh. Aku memberi
pengajian di sana-sini. Menasihati orang-orang agar mendekatkan diri pada
Tuhan.”
Aku mengangguk sambil sesekali menyembur asap rokok
ke langit-langit kamar.
“Pada suatu malam aku meminta seorang santri untuk
memijit badanku yang lelah. Anak itu menurut saja dan aku pun membuka
pakaianku. Malam itu aku hanya menggunakan sarung. Entah kenapa tiba-tiba benda
kecil dalam sarungku seperti bergerak-gerak. Lalu aku meminta santri remaja itu
untuk duduk di atas ranjang. Perlahan kubuka pakaiannya sampai-sampai ia
seperti bayi yang baru dilahirkan.”
Tiba-tiba jeruji besi di hadapan kami berdenting.
“Ini ada roti. Kalau mau silakan makan,” kata seorang polisi sambil melempar
bungkusan roti bakar dalam sel. Entah kenapa malam ini polisi itu begitu
perhatian. Aku dan laki-laki itu segera menyantap roti bakar dengan nikmat.
Perut lapar membuat kami lupa mengucapkan terima kasih.
“Aku meminta anak itu untuk membelakangiku.”
Laki-laki itu melanjutkan cerita. “Anak itu kebingungan dan mencoba melawan.
Lalu aku katakan padanya bahwa ritual ini demi keberkahan ilmunya. Lazimnya
seorang santri, anak laki-laki itu pun mengangguk dan…. Aku melakukannya
berkali-kali sampai akhirnya sebuah benda asing membentur kepalaku dengan
sangat keras. Aku terjaga dengan tangan terikat di tengah kerumunan polisi.”
“Jadi, Bapak melakukannya dari belakang?”
“Ya.”
“Pada anak kecil?”
“Ya.”
“Bapak merasa nikmat?”
“Ya. Begitulah.”
Jujur saja aku sedikit bingung mendengar cerita
laki-laki itu. Bagaimana mungkin ia beroleh kenikmatan dari anak kecil?
Laki-laki pula? Sementara aku, untuk berhubungan dengan wanita saja harus
memilih-milih. Yang putih. Yang bersih. Yang manis. Dan segar. Ya,
sekurang-kurangnya seperti Suti.
“Apa Bapak tidak suka dengan perempuan?”
“Tentu suka. Aku sudah punya istri dan dua anak
gadis.”
“Lalu, kenapa…?”
Sejenak laki-laki itu terdiam. Dia menengadahkan
wajahnya ke langit-langit kamar sembari mengembuskan napas panjang. Lalu
mengusap-usap wajahnya beberapa kali sampai berona kemerahan dan melempar
pandang ke arahku.
“Mungkin ini takdir Tuhan.”
“Bagaimana Bapak tahu ini takdir Tuhan?”
“Karena apa yang aku alami berada di luar
kemampuanku.”
“Sejak kapan Tuhan menakdirkan Bapak begitu?”
“Sejak aku remaja.”
Laki-laki itu kembali diam beberapa saat. Dia
menoleh ke kiri dan kanan. Lalu ia mulai berbisik padaku dengan suara yang
nyaris tak terdengar.
“Ketika usiaku lima belas aku disodomi oleh guruku.”
“Tunggu dulu! Apa yang Bapak maksud dengan sodomi?”
“Ya ... dari belakang.”
Laki-laki itu menjawab cepat-cepat sembari
mengerutkan kening. Mungkin dia kesal dengan pertanyaanku yang tidak bermutu.
Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin sebuah cerita menjadi kabur
hanya karena istilah-istilah yang tidak kumengerti. Tersebab itu mestilah aku
bertanya.
“Kata guruku. Ini untuk keberkatan ilmu yang aku
pelajari. Karena itu aku dilarang menceritakannya kepada siapa pun. Aku bahkan
tidak memberi tahu kepada ibu bapaku. Aku memendamnya bertahun-tahun sampai
akhirnya aku dewasa dan menikah. Lalu….”
Tiba-tiba ceritanya terputus. Polisi penjaga sel
kembali memukul jeruji sehingga berdenting. Kali ini dia tidak membawa roti dan
justru berteriak keras.
“Hei, kalian jangan bergadang. Tidur sana. Besok
kalian akan dihadapkan ke pengadilan,” seru si polisi dari balik terali besi
yang mengurung kami. Mendengar amaran itu kami pun terpaksa mengambil posisi
untuk tidur. Aku bergeser menuju dinding kiri dan laki-laki itu bergerak ke
arah kanan. Dia berjalan terbungkuk-bungkuk sedang aku memilih merangkak dengan
lutut.
***
“Berdasarkan
bukti dan keterangan saksi-saksi, kasus pemerkosaan yang dituduhkan kepada
saudara terdakwa sama sekali tidak terbukti di muka hukum. Maka dari itu, demi
keadilan, majelis hakim menjatuhkan vonis bebas kepada terdakwa dan
merehabilitasi nama baik terdakwa. Dengan demikian Saudara Salman bin Rasyid
dinyatakan terbebas dari segala tuduhan.”
Mendengar putusan hakim yang dibacakan tepat jam
tiga siang, jujur aku kebingungan. Segera kusalami para hakim dan mereka pun
pergi meninggalkan ruangan.
Ruang pengadilan seketika sepi. Aku melirik ke kanan
kiri. Akhirnya aku menemukan polisi yang membawaku kemari. Polisi yang
memberiku roti bakar sekaligus menghardikku agar tidur cepat.
“Kenapa bisa begini?” tanyaku serius.
“Semua saksi memberi keterangan bahwa kamu tidak
memperkosa Suti.”
“Bagaimana bisa?”
“Ya, Suti sebagai saksi korban sudah meninggal dua
hari setelah ayahmu meneguk racun serangga.”
“Jadi?”
“Tanpa saksi dan bukti, hakim tidak berdaya.”
Polisi itu segera membimbingku keluar dari ruang
pengadilan yang terlihat lengang. Dia menuntunku perlahan dan lalu berbisik,
“Aku terpaksa meracuni Suti dan memaksa orang-orang untuk berbohong di
pengadilan. Ini semua permintaan ayahmu sebelum ia bunuh diri.”
Polisi itu menepuk bahuku sembari tersenyum.
“Lalu, Anda siapa?” tanyaku.
“Apakah itu penting?” tanyanya.
“Ya,” sahutku.
“Ibuku seorang janda miskin. Dia ditinggal mati
ayahku. Kamu tahu? Ayahku mati karena ulah ayahmu. Dulu, ayahku terlibat
kelompok pemberontak. Saat itu ayahmu adalah seorang polisi. Dia melaporkan
ayahku pada tentara sampai akhirnya ayahku menemui ajalnya di Rumoh Geudong.
Bertahun-tahun kemudian ayahmu menyesal. Untuk menebus dosanya dia memberikan
sepetak tanah kepada ibuku. Dia juga membiayai sekolahku tanpa sepengetahuan
ibumu. Ketika aku berusia delapan belas dia memintaku masuk polisi. Dia mengurus
segalanya dan akhirnya aku jadi seperti sekarang. Selain dendam, aku juga
berutang budi padanya. Sebab itulah aku menuruti permintaannya untuk
menyelamatkanmu.”
Sembari mengusap wajahnya polisi itu segera
membelakangiku dan beranjak pergi.
“Tunggu dulu!”
“Ada apa lagi?”
“Bagaimana dengan laki-laki itu?”
“Laki-laki mana?”
“Yang bersamaku di penjara.”
“Oh. Namanya Ustaz Imran.”
“Ustaz Imran? Aku sering mendengar nama itu. Dia
penceramah yang paling digemari ayahku. Di mana dia sekarang?”
“Dia juga divonis bebas tadi pagi”
“Bagaimana bisa?”
“Seperti yang kulakukan untukmu.”
“Jadi Anda membunuh anak itu?”
“Tidak.”
“Jadi?”
Sejenak polisi itu terdiam. Dia berbalik ke arahku
dan lalu berbisik, “Ayah anak itu pernah melakukan hal yang sama padaku lima
belas tahun lalu, ketika aku masih remaja. Saat itu aku diselamatkan Ustaz
Imran. Sekarang aku ingin membalas jasanya. Aku meminta ayah anak itu untuk
diam. Kalau tidak, maka kehormatannya akan jatuh.”
***
Tiba-tiba saja aku seperti patung yang ditinggal
sendirian di gurun pasir. Aku dikerumuni laki-laki telanjang dan
perempuan-perempuan tua yang menari-nari. Aku sempat berpikir, kenapa dunia
begitu pelik? Aku pun berteriak keras. Keraaas sekali.
“Tenang Pak. Kita suntikkan obat dulu, ya?”
Seorang suster berbaju putih dengan jarum di tangan
tampak tersenyum ke arahku.
“Suntikkan antipsikotik!” bisik seorang lak-laki
berjas putih dengan stetoskop tergantung di lehernya.
Cerpen ini sudah terbit di Harian Waspada pada 10 Desember 2023
Post a Comment