Cita-Cita Indonesia Emas dan Aktor Figuran yang Mengubah Sejarah
Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 24 Oktober 2023
Dari sejumlah buku bergenre politik yang pernah saya baca, mulai dari buku-buku terbitan lokal, nasional dan bahkan buku-buku internasional berbahasa Inggris—yang membuat saya berkelahi dengan google translate dan aplikasi-aplikasi terjemahan yang kerap menjerumuskan—saya menemukan banyak sekali anekdot di sana. Meskipun sebagiannya terbilang lucu, namun hampir tak ada yang mampu menarik perhatian saya. Masalahnya, anekdot-anekdot itu hanya mampu mengajak kita tertawa dan belum berhasil mengajak kita berpikir. Karena itu, saya pikir anekdot itu hanya diproduksi untuk hiburan, bukan untuk mendidik apalagi untuk mengubah paradigma umat yang akhir-akhir ini kian absurd.
Namun, saya
ingat pada satu buku yang saya baca lima belas atau sepuluh tahun lalu. Buku
itu ditulis Sukran Vahide, berkisah tentang biografi Bediuzzaman Said Nursi,
seorang pemuka agama di Turki pasca runtuhnya Dinasti Usmani. Syukur buku itu
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga saya tak perlu
repot-repot berkelahi dengan kamus dan google
translate. Saya menemukan satu kalimat menarik di sana: audzubillahi mina syaithan wa mina siyasah. Untung saja waktu itu
belum ramai tuding-menuding soal penistaan agama sehingga tak ada seorang pun
yang menganggap kalimat itu sebagai pelecehan. Dalam bahasa Indonesia kalimat
itu bisa diterjemahkan sebagai: Aku berlindung dari godaan setan dan politik.
Bagi saya, anekdot semacam
ini bukan sekadar mengajak orang-orang untuk tertawa dan tersenyum-senyum
sendiri, tapi lebih dari itu, mampu memantik urat-urat di kepala untuk berpikir
deras. Bagaimana tidak, dalam kalimat itu, Nursi memandang politik setara atau
mungkin sinonim dengan setan sehingga ia memohon perlindungan Tuhan dari godaan
keduanya. Sebagai wujud baik sangka, saya pikir Nursi benar; bahwa setan dan
politik memang sama-sama menggoda, menipu, menghanyutkan dan akhirnya
menggiring kita ke neraka, apakah neraka akhirat atau neraka dunia.
Saya pikir saya tidak perlu
memberi contoh untuk hal-hal seremeh ini. Ada banyak sekali karakteristik
politik yang tampak sepadan dengan gaya-gaya setan ketika mereka mencoba
menggoda Adam dan Ibrahim. Perbedaan hanya terletak pada sosok yang digoda.
Adam berhasil digoda dengan tipuan yang dilakukan setan sehingga dia bersama
istrinya memakan buah yang dilarang dalam surga. Sementara Ibrahim justru
melempari setan dengan batu sampai setan itu lari terbirit-birit dan tersungkur
di tanah.
Dalam politik pun begitu.
Hari ini berkata begini besok berkata begitu. Hari ini bergaya lugu dan culun,
tapi esok hari kelihatan tamak dan rakus. Hari ini berjanji, besok mengingkari.
Begitulah setan dan politik saling berkelindan, saling meniru. Kalau sudah begitu,
pilihan hanya dua: Mengalah pada setan seperti Adam atau menghajar setan
seperti Ibrahim, melemparinya dengan batu-batu. Semuanya sangat bergantung pada
pola pikir dan pola perasaan masing-masing kita: menyerah atau melawan.
Melihat
Capres-Cawapres Menjelang Indonesia Emas
Anggap saja penjelasan saya di atas sebagai
anekdot belaka. Jangan diambil hati, apalagi sampai dibawa perasaan. Beban
negara sedang berat, jangan ditambah lagi dengan timbangan perasaan yang
nantinya justru membuat kita semua tenggelam. Sekali lagi, kuatkanlah hati dan
bersabarlah karena orang-orang sabar bisa ikut nyapres berkali-kali
disayang Tuhan.
Jadi begini. Saya melihat
“sandiwara” politik kita akhir-akhir ini kian menggembirakan. Bagaimana tidak,
usia calon presiden dan wakil presiden yang sebelumnya hanya boleh diisi oleh
mereka yang berusia minimal 40 tahun sekarang boleh dikatakan tidak berlaku
lagi, selama mereka punya pengalaman menjadi kepala daerah dan pernah dipilih
dalam Pemilu. Keputusan yang dibuat MK ini, walau sedikit kontroversial
sampai-sampai mendorong Tempo.co menyebarkan beberapa karakter paman di dunia
hiburan dalam postingan akun media sosialnya seperti Paman Gober, Paman Muthu,
Paman Kikuk, Paman Dolit, Paman Tat dan lalu bertanya paman apalagi?—namun, keputusan
ini pastinya sangat menguntungkan bagi siapa saja yang ingin mencetak sejarah,
sebagai capres atau cawapres termuda di Indonesia dalam seratus tahun terakhir.
Proses Judicial Review yang melibatkan “aktor paman” sebagai salah seorang
hakim dalam keputusan itu telah memberi peluang bagi anak-anak muda untuk
berpartisipasi dalam level tertinggi pencalonan politik, yaitu sebagai capres
dan cawapres. Ini adalah capaian paling mengharukan menjelang Indonesia Emas
pada 2045, di mana peran kaum muda akan menjadi lebih dominan. Dalam hal ini,
di pentas politik, yang menjadi ukuran bukan lagi umur, tapi pengalaman yang
kemudian diwujudkan dalam frasa baru, yaitu “sudah pernah.”
Cuma saja, netizen kita
terlalu usil dan terlihat kurang bisa mencermati capaian ini dengan bijak,
sehingga frasa “sudah pernah” ini kemudian digubah dalam berbagai lirik
mengharukan, seperti: “Usia membuat SIM minimal 17 tahun, namun kalau sudah
pernah mengendarai boleh langsung dibuatkan SIM,” “Usia menikah minimal 19
tahun, namun kalau sudah berpengalaman boleh langsung dinikahkan,” dan
seterusnya. Menyimak fenomena ini, memang harus kita akui kalau netizen kita
benar-benar kocak dan gemar bercanda.
Dan, saya jadi berpikir
bagaimana kalau nantinya, di masa depan, ayah dan anak bisa bersanding menjadi
capres dan cawapres. Toh sejauh ini
tidak ada aturan yang melarang demikian. Kalau pun ada, bukankah bisa dilakukan
Judicial Review. Siapa tahu di masa
depan ada karakter-karakter paman lainnya yang lebih akrobatik sehingga
segalanya menjadi mungkin. Ya, seperti kita lihat di film-film bahwa sosok
paman memang cenderung punya lebih banyak akal ketimbang aktor utama, meskipun
dalam tayangan-tayangan layar lebar paman hanya menjadi figuran. Begitu pun
dalam dunia nyata, sosok paman yang semula hanya figuran juga bisa mengubah
sejarah ketika aktor utama terlihat malu-malu.
Nah, yang menjadi pertanyaan
sekarang, setelah mencermati realitas kekinian, apakah pembahasan tentang
nepotisme atau dinasti politik masih relevan diperbincangkan dalam perkuliahan
politik di tanah air? Apakah mengutuk rezim Orde Baru yang kononnya korup dan
nepotis masih dianggap sebagai kepantasan? Saya pikir, itu semua sudah menjadi
masa lalu ketika karakter paman berhasil memainkan peran.
Lalu, bagaimana dengan doa Said Nursi yang ngotot meminta perlindungan dari godaan setan dan politik? Untuk menjawab pertanyaan pastinya kita harus kembali pada dua aktor di masa lalu: Adam dan Ibrahim. Jika capaian ini kita anggap sebagai kejayaan demokrasi, maka jadilah Adam. Sebaliknya, jika fenomena ini mengusik kewarasan, jadilah Ibrahim. Itu!
Artikel ini sudah pernah diposting di kompasiana
Post a Comment