Dakwah Seorang Prajurit

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 30 Desember 2020


Dakwah Seorang Prajurit


Judul Buku
: Riak Dakwah di Samudera

Penulis   : Letkol Laut (KH) Husni, S. Ag

Penerbit : Pustaka Prima

ISBN        : 978-623-93332-7-0

Tebal       : ix + 188 hlm

Tahun Terbit : November 2020


Membahas tulisan seorang prajurit (tentara), memori kita akan terkenang pada dua sosok perwira besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tidak hanya gemar membaca tapi juga produktif menghasilkan karya tulis. Mereka adalah Jenderal Abdul Haris Nasution dan Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang.


Yang disebut pertama, Nasution, adalah jenderal di Indonesia yang paling banyak menulis buku. Nasution telah menulis 11 jilid buku Seputar Perang Kemerdekaan dan 3 jilid buku Tentara Nasional Indonesia. Buku-buku lainnya yang ditulis Nasution, di antaranya: Catatan Catatan Sekitar Politik Militer Indonesia (1954), Meneruskan Perjuangan Orde Baru (1973) dan Pokok-Pokok Gerilya (1954).


Sementara Simatupang seperti dirilis tirto.id, sepanjang karier kepenulisannya juga telah menghasilkan sejumlah buku, di antaranya: Laporan dari Banaran (1960), Soal-Soal Politik Militer Indonesia (1956), Harapan Keprihatinan dan Tekad (1985), Pelopor Dalam Perang Pelopor Dalam Damai (1981) dan beberapa buku lainnya.


Selain dua nama besar itu, beberapa prajurit lainnya yang produktif menulis adalah Sajidiman Surjodiputro, Himawan Sutanto, Saurip Kadi, Chappy Hakim dan Prayitno Ramelan. Selain sebagai prajurit, nama-nama tersebut juga dikenal publik sebagai seorang penulis yang produktif di Indonesia. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa menulis bukanlah “keahlian” yang hanya bisa dimiliki oleh penulis an sich atau jurnalis belaka, tapi juga bisa dilakukan oleh siapa saja dari latar belakang apa saja, termasuk prajurit.


Dakwah Seorang Prajurit


Memang seorang
prajurit tidak punya “kemerdekaan penuh” untuk bisa menuangkan pikiran-pikirannya ke ranah publik layaknya jurnalis karena mereka adalah bagian dari sistem pertahanan negara, di mana ada kode etik dan rahasia negara yang tidak bisa begitu saja dikemukakan secara luas. Namun, di luar hal-hal tersebut ada banyak sekali tema tulisan yang bisa diangkat oleh prajurit semisal pengalaman-pengalaman mereka dalam pertempuran, gagasan tentang sistem pertahanan negara atau pun tema-tema lainnya dengan tetap menjaga profesionalisme seorang prajurit.

Baca Juga: Memperbincangkan Nasionalisme Orang Aceh


Buku bertajuk “Riak Dakwah di Samudera” yang ditulis Letkol Laut (KH), Husni adalah salah satu contoh hasil karya prajurit yang menurut penilaian pengamat politik Indonesia, Fachry Ali, dalam endorsenya kepada buku ini, “Tidak lari dari korps di mana ia tetap berartikulasi dalam tugas sebagai militer.” Dengan kata lain, dalam menuangkan gagasan-gagasanya, penulis buku ini tidak melupakan posisinya sebagai seorang militer.


“TNI telah menabuh perang terhadap Covid-19 dengan mendukug dan melaksanakan setiap kebijakan dan strategi pemerintah dalam penanggulangan penyebaran Covid-19. Hingga semua yang dilakukan TNI…merupakan langkah jihad” (hal. 12). Di sini terlihat jelas posisi seorang penulis yang tidak keluar dari kesatuannya sebagai seorang prajurit profesional.


Jiwa prajurit dalam buku ini juga terlihat dalam artikel yang berjudul ‘Membangun TNI AL’ dengan menulis, “Persoalan penetapan perbatasan negara maritim dengan negara tetangga hingga saat ini belum tuntas, akan menjadi konflik di kemudian hari…kita kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan setelah Mahkamah Konstitusi Internasional pada 17 Desember 2002 memutuskan negeri Malaysia sang pemilik asli. Selanjutnya, persoalan Ambalat dan Tanjung Datu menghiasi rangkaian masalah perbatasan antara negara RI-Malaysia” (hal. 13). Dalam paragraf ini, Husni (penulis), mencoba menyampaikan kegelisahaannya sebagai seorang perwira TNI AL dalam melihat konflik perbatasan dengan negara tetangga.


Di bagian pertama buku ini, sebagai prajurit TNI AL, Husni lebih tampak terfokus pada tulisan-tulisan yang membahas tentang pelanggaran wilayah perairan yang dilakukan negara asing. “TNI AL harus mempunyai kekuatan yang kredibel…hanya dengan kekuatan yang kredibel maka pihak AL mampu memagari dan menjaga keamanan perairan yurisdiksi Indonesia dari segala macam bentuk pelanggaran…Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia harus menunjukkan keberadaannnnya ke dunia internasional” (hal. 98).


Di bagian kedua, buku ini menyajikan tulisan-tulisan yang bersifat religius, namun tetap memiliki kaitan dengan nasionalisme kebangsaan. Tulisan-tulisan religius ini juga sesuai dengan latar belakang Husni yang menyandang gelar Sarjana Agama dari Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry. Dengan kata lain, Husni sendiri adalah seorang prajurit yang religius dan taat. Karena itu, dalam tulisan-tulisannya, Husni juga sering mengutip ayat Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan rujukan bagi seorang Muslim.


“Kita semua melihat dengan mata kepala sendiri betapa banyak bencana yang datang menghantam Bumi Pertiwi…Sebagai orang yang beriman, hendaknya mengambil pelajaran (ibrah) dari datangnya semua bencana dan musibah ini…” (hal. 129). Selain menulis pesan-pesan keagamanaan, di halaman-halaman lainnya, penulis buku ini juga menceritakan pengalamannya selama berada di tanah suci Arab Saudi ketika menjadi petugas haji.


Di bagian terakhir buku ini, penulis juga mengomentari berbagai fenomena sosial yang terjadi di Indonesia, di antaranya seruan untuk menjalankan protokol kesehatan selama Covid-19, bahaya narkoba, kabar bohong yang beredar di media sosial, perjudian dan problem-problem sosial lainnya. Hal ini menunjukkan kepedulian seorang prajurit terhadap berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, di mana tak jarang ia juga menawarkan solusi-solusi praktis.


Di samping menjalankan tugasnya sebagai seorang prajurit di Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) Belawan, di waktu-waktu senggangnya, Husni juga aktif menulis di beberapa media, khususnya di Sumatera Utara. Buku ini adalah kumpulan tulisan yang sebagiannya telah terbit di media. Bahasa buku ini cukup ringan dan renyah sehingga bisa dibaca oleh siapa saja. Bagi anak muda buku ini bisa menambah wawasan nasionalisme, khususnya terkait persoalan-persoalan di lautan Indonesia yang kerap mengalami sengketa. Untuk para prajurit buku ini diharapkan bisa memberi motivasi bagi mereka agar aktif dan berani menulis seperti Nasution dan Simatupang yang melegenda itu. Dan, Husni sudah mengikuti langkah mereka.


Artikel ini sudah terbit di Harian Analisa Medan


loading...

No comments