Marbut Tak Boleh Berpolitik
![]() |
| Ilustrasi AI |
Cerpen Tin Miswary
“Dia tidak boleh jadi imam di kampung ini!” seru Teungku Talib,
mantan imam besar di Bukit Batu. Dia mengatakan hal itu padaku dua minggu lalu
saat kami tanpa sengaja bertemu di masjid selepas shalat Magrib. Sejak tidak
lagi menjadi imam di sana, Teungku Talib memang sudah jarang sekali datang ke
masjid. Paling-paling dia datang dua minggu sekali untuk mengabarkan pada
orang-orang bahwa dia masih hidup.
Saat itu aku mengabarkan bahwa Teungku Said baru saja pulang dari
Makkah setelah belajar tujuh tahun di sana. Dia sangat fasih berbahasa Arab
walau pun aku sendiri tidak bisa membedakan apakah dia sedang bicara atau
berdoa. Di telingaku semuanya terdengar sama. Aku katakan pada Teungku Talib
kalau Teungku Said cocok menjadi imam di masjid kami. Saat itulah rona muka
Teungku Talib merah padam, seperti wajah ayam betina mengeram telur yang tak
kunjung menetas.
“Dia tidak boleh jadi imam di masjid ini. Kamu tahu kenapa? Ajaran
di Makkah itu tak sesuai dengan ajaran Abu-Abu kita di sini. Abu-Abu kita
orang-orang keramat dan tanah kita adalah tanah berkah, tidak boleh dikotori
dengan ajaran-ajaran yang tidak benar. Kamu harus hati-hati, jangan sampai satu
kampung tersesat hanya karena dia menjadi imam.”
Teungku Talib menutup pembicaraan sambil menatap tajam ke arahku.
Dia berpesan agar aku memperingatkan orang-orang kampung untuk tidak memilih
Teungku Said dalam pemilihan imam bulan depan. Sebagai orang yang mengagumi Teungku
Talib tentunya aku percaya apa yang dia katakan. Tidak ada daya bagiku untuk
membantah atau sekadar bertanya.
Teungku Talib adalah orang paling alim di Bukit Batu. Dia sangat
dihormati oleh orang-orang. Bahkan ada yang mengatakan kalau dia itu seorang
wali keramat—yang jika dia mau—dia bisa shalat Jumat di Makkah hanya dengan
masuk ke dalam kelambu. Ada beberapa saksi yang mengaku melihat Teungku Talib
memasuki kelambu dan lalu hilang entah ke mana. Ketika keluar dari sana dia
membawa pulang beberapa tangkai kurma sebagai bukti bahwa dia benar-benar
shalat Jumat di Makkah.
Di kampung kami orang-orang alim yang sudah mencapai level wali
seperti Teungku Talib biasanya tidak lagi dipanggil dengan gelar Teungku, tapi
mereka akan dipanggil dengan gelar Abu. Ini adalah gelar paling tinggi yang
hanya bisa didapat oleh orang-orang tertentu. Tapi, Teungku Talib menolak
dipanggil Abu. Katanya dia tidak layak menyandang gelar sebesar itu. Dia memang
benar-benar tawaduk, pikirku.
“Kita mesti meniru padi. Makin berisi makin merunduk,” katanya suatu
hari.
Pengakuan itu dipercaya begitu saja oleh orang-orang Bukit Batu,
demikian juga denganku. Aku ingat pelajaranku saat mengaji bahwa kata-kata
orang alim mestilah dipegang dan tak boleh ditolak. Mereka pewaris Nabi.
Membantah pewaris Nabi bisa mengundang petaka; ilmu tidak berkah dan hidup tak
bahagia.
Namun, cerita yang kudengar dari Walid Harun—ini adalah gelaran lain
di bawah Abu—bahwa Teungku Talib bukan sedang mengamalkan ilmu padi.
“Sebenarnya beliau malu dipanggil Abu,” tegas Walid saat bertemu
denganku di balee Bukit Kapur, tempat dia mengajarkan santri-santrinya membaca
kitab Bajuri.
“Malu kenapa, Walid?” tanyaku dengan sopan.
“Ya, malulah ….”
“Aku tidak mengerti. Kalau berkenan, mungkin Walid bisa terangkan
padaku.”
“Semua orang tahu nama beliau itu Talib. Kamu bisa bayangkan gak,
bagaimana kalau tiba-tiba orang memanggilnya dengan gelar Abu Talib?”
Aku masih belum mengerti apa yang dimaksud Walid Harun. Apa mungkin
karena aku jarang makan telur, sehingga otakku sulit menangkap makna yang
dimaksud? Atau Walid Harun sengaja menggunakan balaghah untuk mengetes kemampuan bahasa Arabku? Kalau iya, lalu
kenapa dia tidak bertanya dalam bahasa Arab saja? Aduh, aku segan ingin
bertanya lagi. Walaupun aku sudah tidak mengaji lagi pada Walid Harun, tapi dia
tetap guruku. Aku pikir, aku tidak mungkin mendesaknya.
“Kenapa bingung?” tanya Walid Harun padaku yang masih terdiam di balee
yang sudah kosong. Tinggal kami berdua di sana. Para santri sudah pulang ke rumah
masing-masing. Matahari sudah di atas kepala. Sebentar lagi makan siang.
“Tidak Walid,” jawabku sedikit tersipu. “Aku tidak apa-apa.”
“Jadi, kamu sudah tahu kan kenapa Teungku Talib tidak mau dipanggil
Abu?”
Untuk beberapa menit aku terdiam dan menatap wajah Walid dengan
penuh takjub. Suatu hari nanti aku ingin menjadi orang alim seperti dia yang
dihormati banyak orang. Dia juga punya kemampuan bicara di atas rata-rata
sampai-sampai orang sulit memahami apa yang dia katakan. Persis seperti membaca
kita kuning; walau bisa membaca lancar, namun belum tentu tahu maknanya.
“Itu tandanya kamu malas belajar sejarah,” kata Walid kemudian.
Mendengar tuduhan Walid, aku terkesiap. Sebenarnya aku tersinggung. Namun,
aku tidak boleh membantahnya. Kata-kata seorang guru adalah kebenaran. Aku
harus menerima tuduhan itu dengan lapang dada, walau sebenarnya aku menyukai
sejarah. Tapi, sudahlah. Walid pasti lebih tahu.
Melihat aku yang masih kebingungan, Walid Harun terkekeh. Dia menutup
mulutnya dengan ridak yang tadinya
tersangkut di bahunya.
“Kamu tahu siapa Abu Talib?” Walid kembali bertanya.
“Ya, Walid. Beliau paman Nabi yang sangat sayang kepada Nabi. Namun,
dia tidak mau beriman,” jawabku cepat, agar Walid tahu kalau aku paham sejarah.
“Nah, sekarang kamu paham maksudku?”
Aku berpikir keras. Kali ini aku tidak boleh gagal. Aku harus
membuktikan pada Walid bahwa aku layak dibanggakan. Walau jarang makan telur,
pikiranku jernih. Aku merasakan dahiku mengerut, mencoba mengumpulkan urat-urat
halus di otakku agar mereka segera bekerja mencari jawaban yang bisa kuajukan
pada Walid.
“Masih belum paham juga?” Pertanyaan Walid terdengar seperti petir. Kalau
begini lebih baik aku mengalah saja. Benar. Walid pasti lebih tahu.
“Baiknya Walid ceritakan saja. Aku belum bisa menangkap maksud
Walid.
“Baiklah,” kata Walid, “tapi kamu harus janji, jangan sampai cerita
ini sampai ke telinga Teungku Talib.” Aku mengangguk.
“Bagaimana pun beliau adalah orang yang dihormati di kampung kita
ini,” lanjut Walid, “beliau tidak mau dipanggil dengan gelar Abu karena beliau
tidak ingin orang-orang menyamakan beliau dengan Abu Talib. Kamu tahu kan kalau
Abu Talib itu meskipun menyayangi Nabi, namun dia menolak beriman. Ini sangat
fatal, tapi masih lebih baik ketimbang Abu Lahab yang membenci Nabi. Jadi ….”
Walid kembali terkekeh.
“Kalau Teungku Talib memakai gelar Abu, maka dia akan menjadi Abu Talib.
Maksudku, orang-orang akan memanggil beliau dengan nama itu dan orang-orang
akan berpikir kalau dia benar-benar Abu Talib, hehehe….” Walid tak sanggup
menahan tawa sampai tubuhnya terguncang seperti orang kerasukan setan Gunung
Halimon.
Walau dia tertawa hebat, aku tetap saja tidak mengerti di mana
lucunya sampai ia harus tertawa sendiri. Aku jadi ingat penceramah yang
berlama-lama di atas panggung yang sengaja berbicara seperti bencong dengan
mimik dibuat-buat agar orang-orang tertawa, tapi akhirnya dia harus memborong
kelucuan itu seorang diri.
“Kedua,” lanjut Walid, “kamu tentu pernah dengar kalau Abu Talib itu
bisa shalat di Makkah hanya dengan masuk ke dalam kelambu, ya, kan?” tanya
Walid. Tidak ada pilihan bagiku selain mengangguk bagai anak ayam mematuk biji
padi yang tumpah di tanah.
“Kamu tahu kurma-kurma itu kan? Aku yang membeli kurma-kurma itu di
Toko Haji Daud, samping masjid. Aku letakkan kurma itu di bilik kecil samping
kiri kelambu yang menempel ke dinding. Ada lubang di dinding itu. Lubangnya
tembus ke bilik. Nah, di sanalah Abu Talib sembunyi untuk beberapa lama dan
lalu keluar membawa kurma-kurma yang sudah aku letakkan di sana.” Walid kembali
tertawa lepas. Kali ini balee sampai bergoyang bagai diguncang gempa Krakatau.
Dalam gelak tawa Walid siang itu aku coba menyela. Aku ingin
menanyakan satu hal yang kurasa penting.
“Bagaimana pendapat Walid kalau Teungku Said menjadi imam?”
Mendengar pertanyaanku yang berbelok dari tema sebelumnya, Walid
terdiam tiba-tiba. Mulutnya mengatup kencang; menatapku dengan sinis.
Perasaanku tiba-tiba gelisah, takut Walid marah. Bukankah kemarahan seorang
guru akan membuat hidup sengsara?
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Aku terdiam. Tak berani aku memandang wajah Walid. Cambang dan
janggut yang memenuhi dagunya membuat karismanya memancar hebat. Kalau sudah
begini, aku selalu merindukan ilmu menghilang seperti kulihat di film Saur
Sepuh. Tapi, asap putih tak juga membalut tubuhku. Ke mana kalian Brama Kumbara,
Mantili, Lasmini?
“Kamu dengar baik-baik, ya! Teungku Said gak boleh diberi angin di
kampung ini. Kamu tahu, dia sudah mengkhianati pesantren. Dia sengaja mengaji
ke Makkah untuk merusak tradisi yang diajarkan Abu-Abu kita. Tidak! Tidak boleh
dia menjadi imam!”
*
Aku memutuskan kembali ke masjid setelah pamit pada Walid yang masih
berbicara sendirian di balee. Matahari sudah hampir mencium ufuk. Sebentar lagi
ufuk akan menelan dan mengulumnya hingga esok pagi. Pekerjaanku masih banyak.
Bak air belum kukuras, keran macet belum sempat kuperbaiki, leding masih
berlumut dan keramik toilet masih kotor. Sebentar lagi Magrib. Duh!
Ini semua gara-gara Abu Talib dan Walid Harun. Tega-teganya mereka menyeretku
dalam politik. Aku semakin yakin saja kalau politik itu tidak baik, apalagi
bagiku yang jarang makan telur. Bisa-bisa urat-urat halus di otakku putus
sebelum cita-citaku tercapai; menjadi orang-orang karismatik seperti mereka. Aku
tidak akan berpolitik lagi!
“Piyan! Piyan! Piyan ….!”
Suara Teungku Said hampir saja membuat jantungku terpelanting ke
lantai toilet.
“Cepat ini dibersihkan, sebentar lagi azan.”
“Baik, baik, Teungku!”
Segera aku berlari menuju tangga masjid. Aku menyaksikan Abu Talib
dan Walid Harun sedang berjalan di pelataran; menatapku penuh curiga.
Catatan:
Abu: Gelar keagamaan di Aceh
Walid: Gelar keagamaan


Post a Comment