Bantayan
![]() |
| Ilustrasi AI |
Cerpen Tin Miswary
Rintik
gerimis manja pagi itu belum juga reda. Ia terus menitik membasahi tanah
berbatu di sebuah kampung wilayah selatan. Kampung yang belum tersentuh
kebisingan suara sepeda motor, mobil dan truk berbadan panjang yang seringkali memacetkan
kota-kota besar. Kampung yang masih aman bagi burung-burung, gerombolan tupai
dan sekumpulan paduan suara cacing tanah plus jangkrik dengan nyanyian
keroncongnya.
Di
tengah semburan gerimis nan halus, di sebuah gubuk kecil, terlihat seorang
pemuda tanggung sedang mengikat tali sepatu.
“Ini
payung agar kamu tidak basah sampai ke jalan raya,” seru Haji Nyak Mad sembari
mendekati Bantayan yang masih terlihat sibuk dengan tali sepatu yang telah
menguning.
“Baik
Abu,” jawab Bantayan—si anak tunggal yang ditinggal mati ibunya—Cut Halimah
yang mati muda saat melahirkan anak pertamanya.
Bantayan
mulai berjalan, sedikit cepat, tapi hati-hati. Sesekali dia juga melirik ke
arah sepatunya, menghindari tumpukan berwarna hijau pekat yang telah menjadi
pemandangan umum di kampung itu, kotoran lembu—yang berjejer seperti ranjau di
masa perang. Sekali saja terpijak, tidak ada pilihan lain, kecuali menangis.
Sampai
di jalan raya, Bantayan menumpangi labi-labi tua yang suaranya sudah seperti
gemuruh. Bantayan memilih duduk di pojok sambil mengatur napasnya yang hampir
putus. Dia baru saja menyelesaikan maraton seorang diri sejauh satu kilometer.
Labi-labi
tua itu berjalan cepat. Sesekali ia tampak menghindari lubang menganga yang
digenangi air. Labi-labi tua itu pun menepi di depan sebuah sekolah menengah
swasta. Gerimis masih belum berhenti.
*
Pada saat sedang belajar, tiba-tiba Pak Majid
memasuki ruang kelas dan menitip pesan kepada Bu Mala, guru Matematika yang
wajahnya mirip-mirip Meriam Bellina agar Bantayan segera merapat ke ruang kepala
sekolah. Mendapat panggilan itu, Bantayan pun menurut.
Bantayan
langsung saja memasuki ruang sempit yang penuh dengan tumpukan kertas. Pak
Majid, kepala sekolah berkumis tebal, berkulit gelap dan bertubuh gempal
terlihat telah menunggu dengan wajah sangar.
“Ayo
masuk!” seru Pak Majid.
Seperti
tawanan yang akan dihukum mati, Bantayan mendekat dengan langkah pelan dan
wajah menunduk.
“Hari
ini adalah hari terakhirmu di sekolah ini,” ucap Pak Majid sambil matanya
membelalak lebar. Kalimat itu seperti petir yang menyambar ubun-ubun Bantayan.
Wajahnya berubah tegang.
“Maaf
Pak,” jawab Bantayan lesu.
“Maaf
bagimu telah habis, Bantayan!” timpal Pak Majid dengan rona wajah semakin
angker.
“Ini
ada surat, sampaikan kepada orang tuamu,” sambung Pak Majid sambil menyodorkan
secarik kertas ke hadapan Bantayan yang semakin pucat.
*
Bantayan
kembali ke rumah dengan wajah murung. Tatapannya kosong, lidahnya kelu dan
sulit digerakkan. “Abu, aku dikeluarkan dari sekolah,” ucap Bantayan kepada
Haji Nyak Mad yang baru saja selesai mengikat kerbau di batang kelapa.
“Maafkan
aku Abu,” sambung Bantayan sembari menunduk.
Membuka
surat itu, wajah Haji Nyak Mad merah menyala, giginya gemeratak dan mulutnya
terlihat komat-kamit, tanpa suara.
“Berapa
kali sudah kuingatkan, kamu jangan lagi mengisap ganja? Jangan berjudi dan
jangan mengganggu perempuan,” bentak Haji Nyak Mad tiba-tiba. “Besok kamu akan
kuantarkan ke dayah. Aku sudah kehabisan akal mendidikmu agar menjadi manusia.
Kamu telah mempermalukan aku, ibumu dan mendiang kakekmu. Kamu tahu, kakekmu
seorang ulama besar?” teriak Haji Nyak Mad. Dan Bantayan masih saja berdiri
mematung, tanpa suara.
*
Keesokan
harinya, Haji Nyak Mad sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja, sarung dan
peci. Semuanya serba putih. Dia tampak gagah dengan pakaian itu.
“Bantayan,
cepat keluar! Kita akan berangkat ke kampung Barat,” seru Haji Nyak Mad.
Hanya
selang beberapa menit, Bantayan pun keluar sambil memikul pakaian yang
dibungkus plastik hitam. Wajahnya masih murung seperti narapidana yang putus
asa.
Dua
orang anak manusia itu pun meluncur dengan sepeda tua yang sudah berumur hampir
satu abad. Haji Nyak Mad terus mengayuh dengan napas berat. Bantayan duduk di
belakang ayahnya seraya memeluk bungkusan pakaian sebesar anak gunung.
Si
Bantayan, pemuda pendiam, suka madat, mahir judi, sering mencuri telur ayam dan
hobi perempuan akan dititipkan di sebuah dayah besar di Kampung Barat. Mungkin
ini adalah hukuman terberat yang pernah diterima Bantayan selama hidupnya.
Dibuang dari kampung!
*
Tepat
pukul dua siang, setelah menempuh perjalanan melelahkan dengan sepeda tua
warisan Teungku Haji Abdul Malik al-Malemi—kakeknya si Bantayan, akhirnya
mereka tiba di Kampung Barat. Di sana terlihat wanita-wanita dengan jilbab
panjang dan laki-laki memakai peci beragam rupa.
Dari
kejauhan terlihat Abu Teulaga Rawa sudah menunggu.
“Mulai
hari ini, anak lelakiku ini kutitipkan kepada Abu,” ucap Haji Nyak Mad Pelan.
“Aku
ingin suatu ketika kelak ia menjadi pengganti kakeknya,” sambung Haji Nyak Mad
dengan wajah penuh harap.
Abu
Teulaga Rawa hanya mengangguk sambil menunduk seperti sedang menghitung
sesuatu. “Kemari mendekat, Bantayan,” seru Abu. Diciumnya kening Bantanyan yang
masih terlihat pucat dan gugup. Betapa tidak, mulai hari itu dia akan hidup di
penjara yang akan membelenggu segala nafsunya.
“Tidak
ada lagi kebebasan. Tidak ada lagi ganja! Oh daduku…! Senyum para gadis pun tiada
lagi. Hampa benar hidupku….” teriak Bantayan dalam hati.
Dalam
ketermenungan itu, Bantayan seperti mendengar suara ayahnya, “Jika di tempat
ini kamu belum bisa berubah, maka kamu bukan anakku lagi.”
Tiba-tiba
Bantayan mendongak. Dilihatnya Haji Nyak Mad telah berlalu dengan sepeda tua
warisan kakeknya. “Abu….!”
***
Sepuluh tahun berlalu. Tidak sekali pun Haji
Nyak Mad menjenguk anak semata wayangnya. Anak piatu yang ditinggal mati
ibunya. Dia sengaja bersikap seperti itu agar anak yang paling disayanginya itu
bisa berubah. Akan tetapi dia masih mengirimkan sejumlah uang untuk Bantayan
melalui Abu Teulaga Rawa.
Namun
harapan tinggallah harapan. Saat malam menjelang, bukannya mengaji, Bantayan bersama
Do Kaha dan Do Karim selalu saja menyusup ke bilik-bilik santri perempuan.
Dilubanginya bilik-bilik papan itu. Dinikmatinya pemandangan-pemandangan tak
layak dari dalam bilik. Ah…
Dayah
yang dulunya dianggap sebagai penjara ternyata menjadi surga baru bagi
Bantayan. Butiran-butiran dadu impor pun terus menemani hari-hari Bantayan
bersama dua sahabat karibnya. Lintingan ganja yang diselundupkan melalui
bungkusan bawang pun masuk dengan liarnya ke bilik Bantayan.
*
Pada
suatu malam, tanpa sadar, karena sedang asyik mengintip bilik si Maryamah,
sebuah pecut rotan tiba-tiba mendarat di punggung Bantayan.
“Aduh…”
Bantayan
meringis sambil melihat ke belakang. “Ampun Abu!”
“Ini
adalah kali kelima kutemukan kau di tempat ini. Besok segera kau tinggalkan
dayahku!” ucap Abu Teulaga Rawa setengah berteriak. Bantayan terdiam. Badannya
menggigil. Hampir saja ia pingsan.
“Jangan
beritahu ayahku,” pinta Bantayan sembari mencium tangan Abu Teulaga Rawa yang
terlihat layaknya algojo.
Malam
itu Bantayan tidak bisa tidur. Ada kegelisahan tak terperi.
“Ini
adalah malam terakhirku di surga ini,” keluh Bantayan.
“Awas
kau Do Kaha dan Do Karim! Kalian mengkhianatiku,” Bantayan mendesis mengutuk
dua sahabat yang telah menjebaknya.
*
Mentari
belum lagi terbit. Langit sedikit terang dengan sisa-sisa bintang yang masih
berjaga. Tepat pukul empat pagi, Bantayan bergegas keluar dari dayah Kampung
Barat. Dengan langkah pelan ia terus berjalan menyusuri jalan berbatu disertai
dinginya hawa pagi.
“Aku
tidak mungkin kembali ke rumah ayahku. Telah putus hubunganku dengannya sejak
pecut rotan itu mendarat di punggungku. Aku harus mencari tempat baru.”
Bantayan
terus mengigau seraya kakinya terus melangkah.
Sampai
di jalan raya, Bantayan menumpang sebuah truk pengangkut lembu yang akan
bergerak ke kota. Perjalanan pagi itu ditemani cahaya di ufuk timur yang mulai
menyala.
“Dek
Gam, kamu turun di sini saja,” ujar supir truk dari arah depan. Bantayan yang sedari
tadi duduk menyudut bersama lembu pun melompat turun. Dan truk pun kembali
melaju.
Tidak
lama berselang, bus lintas Sumatera tiba-tiba berhenti dan hampir saja menabrak
tubuh kerempeng yang terlihat lelah. Bantayan pun naik sembari matanya melirik
ke arah kursi yang masih kosong.
“Di
sini saja Teungku,” perintah kernet sembari menunjuk kursi di samping toilet.
Bantayan tampak tersenyum saat dipanggil dengan sebutan teungku. Ya,
cukup wajar, karena Bantayan memakai sarung dan peci.
*
Menjelang Magrib, bus berbadan panjang itu pun
tiba di Sumatera Utara. Bantayan turun dengan bungkusan pakaian di pundaknya.
Penampilannya masih seperti seorang santri dengan peci menutup kepala. Lama dia
termenung di terminal yang baru kali pertama dikunjunginya. Tiba-tiba terdengar
suara azan. Bantayan pun melangkah ke arah masjid.
Di
luar masjid keadaan semakin gelap. Selesai salat, larutlah Bantayan dalam
ketermenungan. Hendak kemana ia menuju tak diketahuinya. Bingung. Perut pun
sudah mulai keroncongan. Sejak pagi cacing-cacing di perutnya terus bernyanyi.
Tak ada makanan. Sebab uang di sakunya telah habis. Hanya satu linting ganja
yang tersisa. Itu pun disembunyikan di lipatan celana dalam.
Sedang larut ia dalam kebimbangan, tiba-tiba pundaknya
ditepuk seseorang.
“Lagi
menunggu siapa Teungku? tanya laki-laki
tua berumur lebih setengah abad.
Bantayan
terdiam tidak menjawab. “Mari ikut ke rumahku,” ajak laki-laki itu yang di kemudian
hari diketahui bernama Ustaz Hamidun.
“Aku
sudah tua, sedang di kampungku tidak ada seorang pun yang bisa kuharapkan
menggantikanku. Kalau tiba-tiba aku menghadap Tuhan nanti, tidak akan ada lagi
yang menjadi imam salat. Tidak ada lagi yang mampu mengurus mayat dan membaca
doa-doa ketika mereka dikuburkan,” sambung ustaz Hamidun sambil menggandeng
tangan Bantayan.
*
Setelah
berjalan beberapa menit sampailah mereka berdua di sebuah rumah kecil yang terbuat
dari papan. Di rumah itulah Ustaz Hamidun menetap, membujang seorang diri
sampai rambutnya memutih.
“Mulai
hari ini kamu tinggal di sini saja.”
Bantayan
pun segera meletakkan bungkusan yang dari tadi menekan pundaknya. Dan malam pun
berlalu.
Keesokan
harinya, sambil sarapan, Ustaz Hamidun kembali menceramahi Bantayan yang masih
saja diam mematung. “Mulai hari ini kamu akan kuperkenalkan kepada masyarakat kampung.
Sebab umurku tampaknya tak lagi lama. Kamu harus menjadi panutan di kampung ini,”
ujar Ustaz Hamidun.
Bantayan
mengangguk sembari matanya menatap kosong.
*
Genap lima bulan Bantayan tinggal di kampung
itu, Ustaz Hamidun pun meninggal dunia. Sejak saat itu, Bantayan telah menjadi
tokoh agama yang dihormati. Bantayan menjadi satu-satunya tempat bertanya bagi
mereka yang pagi petang disibukkan dengan rupa-rupa aktivitas mencari sesuap
nasi. Bantayan tampil sebagai imam salat, mengurusi jenazah orang-orang mati
dan memimpin doa-doa dengan modal hasil belajar sekadarnya ketika ia bermukim di
dayah.
Sebuah
dayah megah telah berdiri di samping rumah mendiang Ustaz Hamidun. Biaya
pembangunan dayah itu berasal dari donasi masyarakat yang ingin Bantayan terus
menetap di kampung mereka. Di kampung itu, Bantayan dikenal sebagai seorang
yang taat beribadah, sopan bicaranya dan santun lakunya.
Dan
hari-hari pun terus berlalu. Matahari terbit dan tenggelam. Waktu terus melaju
tanpa jeda. Bulan berganti bulan. Dan tahun demi tahun pun terus menggelinding
menyusuri umur dunia yang semakin tua.
Bantayan
juga sudah terlihat tua. Sebagian rambutnya telah memutih tapi wajahnya masih
menyisakan rona ketampanan. Tapi sayang dia masih membujang.
Pada
suatu malam malapetaka itu pun muncul. Wajah kampung yang dulunya damai dan
tenang terlihat muram. Bulan bersembunyi di balik awan. Segerombolan bintang
pun hilang entah ke mana. Gerimis turun perlahan. Suasana gelap. Jangkrik dan
cacing tanah berhenti bernyanyi. Mencekam.
Diiringi
belaian gerimis di malam gelap, seorang pelarian, seorang tamu yang dihormati
telah mencemari kampung itu. Bantayan mencabuli santrinya.
Hujan
semakin deras. Deraaas sekali.
Bireuen,
14 November 2023
Catatan:
Dayah: Pesantren
Dek Gam: Panggilan
untuk anak laki-laki
Teungku: Panggilan
untuk Santri atau Ustaz.
Cerpen ini sudah terbit di Harian Waspada pada Minggu, 3 Maret 2024.



Post a Comment