Friday, March 31, 2017

"Kekalnya" Kekerasan di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 10 Maret 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: toonsonline.net

Sudah menjadi semacam aksioma, bahwa rentetan kekerasan yang terus terjadi di Aceh pasca damai, dianggap sebagai sebuah kewajaran. Argumen yang diajukan cukup klasik, di mana kondisi tersebut dianggap sebagai ekses konflik yang terjadi puluhan tahun. Alasan-alasan serupa inilah yang terus dipertahankan sebagai satu-satunya tawaran jawaban sehingga memberi kesan bahwa rupa-rupa kekerasan yang terus bermunculan di Aceh hanyalah fenomena biasa. 


Tuesday, March 28, 2017

Jurus Meu-angen Zaini Abdullah

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Maret 2017

Ilustrasi
Sumber Foto: pinterest.com

Ada beragam rasa dan komentar yang bermunculan di media sosial ketika tiba-tiba saja Gubernur Zaini Abdullah memainkan jurus “mematikan” menjelang akhir jabatannya. Sebuah jurus yang membuat sebagian kalangan terkejut-kejut dan sebagian lagi tersenyum-senyum sambil terpingkal-pingkal. Pihak yang terkejut adalah mereka yang pada awalnya tidak pernah menduga bahwa Zaini Abdullah akan melakukan aksi nekat karena telah ada larangan dari Mendagri. Adapun pihak yang tersenyum adalah mereka-mereka yang berada di belakang Zaini Abdullah, karena “mantera” yang disembur telah berhasil dan sukses.


Saturday, March 25, 2017

Raja Salman, Aceh dan Wahabi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 Februari 2017



Dua tahun lalu, tepatnya pada 28 Februari 2015, saya pernah menulis artikel singkat di kompasiana dengan tajuk “Wahabi, Wahabi, dan Wahabi.” Artikel tersebut adalah jawaban singkat saya kepada salah seorang santri Aceh yang terlihat begitu resah dan gelisah dengan “Wahabi.” Pada saat itu, seorang yang mengaku sebagai santri Aceh menulis sebuah surat terbuka kepada Kapolda Aceh yang pada saat itu akan mendatangkan seorang penceramah dari Arab Saudi, Syaikh Adil Al-Kalbani. Sayangnya surat terbuka santri tersebut tidak mendapat respon dari Kapolda saat itu dan tetap mendatangkan Syaik Al-Kalbani ke Aceh.


Wednesday, March 15, 2017

Partai Aceh dan “Pengadilan Rakyat”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Februari 2017



Hasil pleno KIP Aceh pada 25 Februari 2017 menetapkan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah sebagai pemenang Pilkada 2017 dengan perolehan suara 898.710 (37%). Adapun pesaing ketatnya, Muzakkir Manaf-T.A Khalid berada di urutan kedua dengan jumlah suara 766.427 (31%). Seperti diwartakan oleh Harian Aceh.co.id, seluruh saksi pasangan calon menyatakan menerima kemenangan Irwandi. Adapun penolakan hanya ditunjukkan oleh saksi Muzakir-T.A Khalid yang diwakili Adi Laweung dengan memilih keluar dari ruang sidang pleno. Adi Laweung seperti dirilis Serambi Indonesia, menyatakan menolak hasil Pilkada 15 Februari.


Monday, March 13, 2017

Woe-Woe, “Manifesto” Yang Gagal?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Maret 2017

Ilustrasi

Pesta demokrasi telah usai dengan berakhirnya prosesi Pilkada 2017. Komisi Independen Pemilihan (KIP), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota sebagai pihak penyelenggara pilkada juga telah mengetuk palu di sidang pleno sebagai pertanda permainan telah berakhir. Hasil pleno KIP yang digelar beberapa waktu lalu telah menetapkan para pemenang. Tentunya keputusan KIP ini tidak akan mampu memuaskan semua pihak, karena kursi kepala daerah hanya tersedia untuk dua orang; gubernur/ bupati/ walikota dan satu orang wakilnya. Bagi yang belum beruntung tidak perlu gundah dan gelisah, teruslah berusaha dan berdoa. Seperti kata A. Hasan (ulama Persis), jika tidak percaya kepada takdir, maka anggap saja kenyataan ini sebagai giliran.


Friday, March 10, 2017

Bila Cinta Didusta…

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Februari 2017

Sumber Foto: spring.org.uk

“Bila cinta didusta
Hati mulai gelisah
Hilang kekasih hati
Hidup jadi merana”
(Screen)
Tajuk tulisan ini sengaja saya copot dari judul lagu yang dinyanyikan oleh group band Screen asal Malaysia yang sempat populer dalam blantika musik Indonesia pada era 90-an. Lagu tersebut dinyanyikan dengan begitu syahdu oleh G-Mie, vocalis Screen yang berambut panjang dan berdahi lebar. Alunan gitar yang dipetik Wan juga terdengar mendayu-dayu ketika lagu ini didendangkan. Saya pribadi sebagai penikmat lagu-lagu Malaysia pun terpaksa peuduk jaroe ateuh dhoe guna memulai sebuah lamunan ketika syair-syair itu dilagukan.


Saturday, March 4, 2017

Bireuen Tanah Kita!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Februari 2017

Sumber Foto: TA. TAlsya, 1990

Sebagaimana telah lazim kita amati, bahwa politik selalu saja menghadirkan hal-hal yang tidak terduga dan cenderung di luar prediksi. Dalam politik, para peramal pun harus menutup muka ketika ramalannya meleset jauh. Kemenangan Saifannur di Bireuen misalnya, adalah sesuatu yang berada di luar dugaan. Kemenangan Abu Syik di Pidie pun demikian, meskipun telah terjadi berbagai upaya “penggagalan”, tapi kenyataannya Abu Syik menjadi jawara. Demikian pula dengan aura kemenangan Irwandi pun berada di luar prediksi, di mana struktur politik Partai Aceh nampak lebih lengkap dan merata di seluruh Aceh, tapi nyatanya Irwandi mampu mendominasi perolehan suara. Mawardi Ismail menyebut fenomena ini sebagai silent power, dan sebagai orang kampung saya lebih suka menyebutnya “gunung berapi.”