Tuesday, February 28, 2017

Saifannur, Diammu Gunung Berapi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 17 Februari 2017


Saifannur, S. Sos

“Tidak kusedari diammu gunung berapi.

Tiba-tiba saja meledak membinasakan semua.”
(Exist)

Kutipan di atas adalah penggalan lirik lagu bertajuk “Diammu Gunung Berapi” yang sempat populer di Malaysia dan Indonesia pada era 90-an. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Ezad dari group band Exist asal Malaysia. Lagu ini bahkan telah dihafal dengan baik oleh para remaja di era 90-an. Saya pribadi sangat menikmati lagu ini ketika pulang dari sekolah. Saat itu, lagu ini hampir setiap hari terdengar mengalun di terminal Kota Matangglumpangdua.

Setiap kita bebas saja menafsirkan lirik lagu tersebut dengan menggunakan paradigma masing-masing. Namun demikian, penggunaan tradisi literalisme dalam menafsirkan penggalan lirik lagu ini hanya akan mengurung kita dalam baris-baris kalimat sehingga maknanya menjadi kering. Untuk memahami teks secara mendalam, mungkin pendekatan hermeneutik akan sangat membantu. Dalam tradisi hermeuneutik paling ringan misalnya, kita sebagai penafsir harus menempatkan diri secara objektif dan subjektif dalam posisi pengarang (penulis). Artinya, proses pemaknaan tidak hanya terpaku pada teks semata tetapi juga terkait dengan kondisi sosial politik ketika teks itu diproduksi.

Ulasan singkat di atas hanyalah sebatas pengantar alias basa-basi yang mungkin bermanfaat agar pembaca tidak salah menafsirkan tulisan ini. Artinya, seperti diulas di atas, bahwa tulisan ini hadir juga tidak terlepas dari kondisi sosial politik di tempat penulis bermukim. Tentunya akan sangat berbahaya jika teks dipisahkan dari konteks yang melingkupinya. Pemisahan teks dari kontek akan melahirkan penafsiran yang jauh panggang dari api.

Politik Diam 

Dalam pengertian yang dipersempit, penggalan lirik lagu Exist sebagaimana tercantum di awal tulisan ini, mengingatkan kita agar tidak sekali-kali meremehkan pihak lain yang berada di luar kita. Dalam konteks politik, aksi diam yang dilakukan oleh pihak “lawan” tidak bisa ditafsirkan sebagai potret kelemahan. Demikian pula sebaliknya, aksi show of force yang dilakukan politisi tertentu pun tidak bisa ditafsirkan sebagai simbol kekuatan.

Aksi show of force (unjuk kekuatan) yang sering digunakan politisi dalam kampanye dengan maksud sebagai serangan psikologis terhadap lawan merupakan sebuah strategi klasik yang sangat mudah diobservasi sehingga mudah pula dicarikan penangkalnya. Sebaliknya, gerakan senyap tanpa suara yang di permukaan tampak pasif justru lebih berbahaya karena ia tidak pernah terdeteksi.

Kemenangan Saifannur dalam kontestasi Pilkada Bireuen pada 15 Februari 2017 versi quick count adalah sebuah contoh konkrit, di mana gerakan senyap telah mengalahkan strategi show of force yang populer di zaman klasik. Dalam beberapa Quick Count, suara pasangan Saifannur-Muzakkar jauh melejit meninggalkan pasangan lainnya. Hanya pasangan Tu Sop-dr. Pur yang nampak mengejar dan mengimbangi suara Saifannur, sedangkan pasangan lainnya meuprek-prek, meukuwin dan phak luyak dengan persentase suara yang memprihatinkan. Media sosial semisal facebook yang dulunya ramai dan garang berisi komentar tim sukses seketika berubah layaknya pusara di pedalaman – sepi dan diam membisu.

Di awal kehadirannya di kancah politik praktis Bireuen, Saifannur cenderung dipandang sebelah mata oleh pasangan lain. Anggapan ini turut didukung dengan “kejatuhan” Saifannur di awal pergerakannya, di mana KIP Bireuen saat itu menyatakan Saifannur tidak lolos seleksi kesehatan. Hebatnya, “kejatuhan” yang menyakitkan itu tidak membuat Saifannur patah arang. Dengan segenap daya dan upaya, Saifannur terus bergerak senyap dengan satu keyakinan bahwa “sengsara akan membawa nikmat.” Diagnosa neurobehavior oleh tim kesehatan KIP tentu sangat menyakitkan bagi Saifannur dan gerbong politiknya. Tapi, semangat untuk bangkit terus mendorongnya sehingga kesuksesan pun diraih, dan akhirnya Saifannur kembali mendapat kesempatan bertarung dalam kontestasi politik Bireuen.

Ada dua kesuksesan yang dicapai Saifannur. Pertama, sukses mempertahankan statusnya sebagai seorang yang sehat wal afiat sekaligus meruntuhkan diagnosa neurobehavior sehingga pantas menjadi salah satu calon kandidat Bupati Bireuen. Kedua, sukses memenangkan pertarungan sehingga memperoleh suara dengan persentase yang mengagumkan. Bahkan Partai Aceh yang dulunya mendominasi dinamika politik Bireuen pun menerima dengan ikhlas kemenangan Saifannur. Sebuah sikap kesatria yang patut diberi seribu jempol.

Tragisnya, pasangan petahana yang aktif melakukan pergerakan politik dalam segala lini pun meutumpok dan harus mengurut dada. Harapan mengulang kejayaan dan menuju singgasana pun punah seketika. Para tim sukses yang dulunya garang, sekarang telah berubah menjadi pendiam. Segala harapan di masa kampanye telah meuhamboe, meusipreuk dan kini hanya bisa meratap. 

Lantas, apa ibrah yang dapat diambil dari kemenangan Saifannur? Dalam politik, jangan pernah meremehkan potensi lawan sekecil apa pun. Diam tidak berarti lemah, garang tidak bermakna kuat. Jika laut menunjukkan kekuatannya lewat gelombang, maka gunung berapi memilih diam tak bergerak sembari menyusun kekuatan di perut bumi. Sekarang, mari melakukan evaluasi sembari berucap, “Saifannur, diammu gunung berapi, tiba-tiba saja meledak membinasakan semua.”

Artikel ini sudah diterbitkan di AceHTrend

Share this article :


No comments:

Post a Comment