Saturday, November 14, 2015

Da’i Pelawak

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 November 2015

Ustaz Maulana. Sumber Foto: www.dianliwenmi.com
Setelah episode Wisnu dan “insiden Fatihah” berlalu, baru-baru ini jagad maya kembali dihebohkan oleh sosok Ustaz Maulana, seorang “da’i kocak” yang sering menghiasi layar televisi di Indonesia. Menyaksikan ceramah-ceramah yang disampaikan Maulana, tidak ubahnya seperti menyaksikan pentas lawak semisal Ria Jenaka di masa orde baru atau Opera Van Java di orde reformasi. Meskipun pentas dan tujuannya berbeda, tapi penampilannya nyaris sama.

Bagi seorang pelawak, tampil lucu di hadapan hadirin adalah suatu keharusan, karena tugas pelawak adalah membuat hadirin tertawa. Aksi tertawa merupakan reaksi terhadap kelucuan. Untuk menciptakan suasana yang lucu, seorang pelawak dituntut untuk kreatif. Dengan demikian pahamlah kita bahwa pekerjaan “membuat lucu” merupakan domain pelawak, bukan arena seorang ustaz atau da’i (pendakwah). Namun demikian, bukan berarti seorang ustaz atau pendakwah tidak boleh lucu atau tertawa, bahkan Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam pun tertawa (tersenyum). Seorang da’i boleh saja membuat hadirin tertawa agar suasana dakwah tidak kaku, tetapi ada batas-batas yang harus dijaga sehingga pendakwah tidak berubah menjadi pelawak. 

Perbedaan mendasar antara pelawak dan pendakwah terletak pada tujuan. Tujuan utama pelawak adalah menghibur hadirin, sedangkan tujuan utama pendakwah adalah menyampaikan pesan-pesan agama. Memang, bisa saja seorang pelawak menyisipkan pesan-pesan religius melalui aksi lawaknya, demikian pula seorang pendakwah bisa pula membuat hadirin tertawa seperlunya. Namun demikian, pendakwah tetaplah pendakwah, dan pelawak tetaplah pelawak.

Da’i Pelawak 

Seiring dengan majunya dunia televisi, banyak bermunculan da’i-da’i pelawak yang menghibur pemirsa. Salah satu di antaranya adalah Ustaz Maulana yang membuat “kehebohan” beberapa waktu lalu. Di satu sisi, kemunculan da’i-da’i pelawak telah memberi dampak yang luar biasa untuk mengurangi “stres” sebagian masyarakat. Namun di sisi lain, keberadaan da’i-da’i pelawak mengakibatkan fungsi utama dari pendakwah sebagai pembawa pesan agama telah bergeser ke arena hiburan yang terkesan “hura-hura”.

Da’i pelawak tidak hanya muncul di televisi, tetapi da’i model ini juga banyak “berkeliaran” di kota dan di kampung-kampung. Ada anggapan sebagian masyarakat bahwa semakin lucu atraksi yang dimainkan oleh seorang da’i maka popularitas da’i tersebut akan semakin memuncak dan semakin digemari. Terkadang pesan-pesan agama yang suci dikemas dengan sajian “olok-olok” oleh da’i pelawak sehingga substansi dari pesan tersebut menjadi hilang. Akhirnya yang menjadi kesan bagi pendengar hanyalah kelucuannya saja, sedangkan pesan-pesan agama sama sekali tidak berbekas. 

Aksi lawak dalam dakwah tidak hanya dilakukan oleh “ustaz televisi” semisal Maulana, tetapi juga dipraktekkan oleh pakar dan intelektual ternama semisal Said Agil Siradj yang beberapa waktu lalu pernah “ngelawak” dengan menyebut malaikat Munkar Nankir belum berhasil menanyai almarhum Gus Dur di kuburannya. “Lucu” memang, tapi apakah “lawak” seperti ini pantas dilakukan oleh seorang da’i?

Kita bisa saja berapologi bahwa dunia telah berubah, sehingga materi dakwah pun harus “dilawakisasi” sedemikian rupa agar menarik perhatian pemirsa. Kita boleh saja berargumen bahwa materi dakwah yang kaku akan membuat pendengar menjadi bosan dan tertidur. Tapi, haruskah kita menjadikan pesan-pesan agama sebagai bahan olok-olok agar laris di hadapan pendengar? Apakah para pendahulu kita menjadikan lawak sebagai metode untuk berdakwah? Mari berpikir! Wallahul Musta’an.

Artikel ini sudah dipublikasikan di Kompasiana
Share this article :


1 comment: