Thursday, September 7, 2017

Menjenguk Bunker Peninggalan Kolonial di Bireuen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Juli 2017

Penulis di Bunker Jepang

Setelah menempuh perjalanan sekira 2 km dari Kota Bireuen (Jumat, 14/07/17), kami pun tiba di kawasan perbuktikan yang oleh pemiliknya dinamai sebagai Puncak Teulaga Maneh. Kawasan ini masuk dalam wilayah kecamatan Juli dan Kota Juang. Lahan seluas 8 hektar ini adalah milik seorang warga Kecamatan Kota Juang, Muslem, yang sering disapa Tu Lem.

Setelah tiba di puncak, Tu Lem membawa kami menuruni lereng perbukitan yang lumayan terjal. Untuk menuruni lereng ini dibutuhkan kehati-hatian, keberanian dan juga kesiapan fisik. Jika tidak hati-hati, kita bisa saja meluncur bebas ke arah bawah.

Kami pun turun perlahan dengan mengandalkan rerumputan dan ranting sebagai alat pegangan. Setelah berjalan sekitar 5 menit, kami pun sampai ke lokasi. Tu Lem menunjukkan kepada kami beberapa lubang mirip gua. Menurut informasi dari Tu Lem, lubang-lubang mirip gua ini adalah bunker peninggalan Jepang. Seperti diketahui bahwa bunker merupakan jenis bangunan pertahanan militer yang dibangun di bawah tanah. 

Posisi bunker-bunker tersebut membelakangi arah laut. Kami pun memasuki beberapa bunker yang terlihat gelap. Dengan bermodalkan senter kecil kami mencoba melihat bangunan tersebut dari dalam. Sesekali kelelawar kecil terlihat terbang di atas kepala kami. Bunker-bunker ini nampaknya masih sangat kokoh meskipun sudah berusia puluhan tahun.

Di kawasan ini terdapat belasan bunker yang sebagiannya sudah dibersihkan oleh Tu Lem. Dilihat dari ukuranya, bunker ini memiliki luas yang berbeda-beda. Ada beberapa bunker dengan ukuran kecil menyerupai tempat persembunyian. Sementara bunker-bunker lainnya berukuran agak luas dan terdapat beberapa ruangan di dalamnya. Bahkan ada bunker yang memanjang seperti terowongan menembus ke luar. Sebagian bunker juga dilengkapi dengan beberapa lubang udara mirip cerobong.

Sampai saat ini belum diketahui apakah bunker-bunker tersebut merupakan peninggalan Jepang atau Belanda, karena tidak ditemukan tulisan apa pun di bunker tersebut. Tapi jika merujuk pada keterangan ahli dalam beberapa literatur, karakteristik bunker yang memiliki lorong, kamar dan lubang di bagian atas pada umumnya dibangun oleh Jepang.

Artikel ini sudah diterbitkan di AceHTrend

Share this article :


No comments:

Post a Comment