Saturday, May 13, 2017

Pasca Ahok Kalah

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 Mei 2017

Foto: nahimunkar.com

Pilgub DKI telah usai dengan kemenangan yang diperoleh Anis-Sandi dalam pencoblosan beberapa waktu lalu. Rival mereka, Ahok-Jarot harus rela menerima kekalahan. Jika dicermati, kekalahan telak yang dialami Ahok-Jarot menjadi bukti bahwa gelora umat Islam yang menyala-nyala tak dapat dilawan. Bangkitnya sentimen keagamaan di tubuh umat Islam Indonesia merupakan salah satu faktor penting yang membuat Ahok terjungkal. Solidaritas umat Islam ini pada awalnya berpunca pada tindakan Ahok yang telah menistakan Al-Quran plus sikap tak etis yang ditunjukkannya kepada Rais Am Nahdatul Ulama, KH. Ma’ruf Amin. Akhirnya, dua sikap ini telah memicu kemarahan publik, khususnya umat Islam.

Kekalahan Ahok-Jarot pasca disambut gegap gempita oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Tidak hanya di DKI Jakarta, informasi kekalahan Ahok juga tersebar cepat melalui media sosial dan mendapat sambutan meriah dari banyak kalangan. Ada dua keuntungan yang diperoleh umat Islam dari kekalahan Ahok. Pertama, kalahnya penista Al-Quran dalam Pilgub DKI. Kedua, terbebasnya Jakarta dari kepemimpinan non muslim. Tentunya, dua hal ini adalah pencapaian besar dan sudah cukup membanggakan bagi sebagian besar umat Islam.

Namun sayangnya, sebagian umat Islam menunjukkan eforia berlebihan dalam menyambut kekalahan Ahok. Bahkan di media sosial pun muncul berbagai rupa meme bernada “ejekan” dan cenderung melanggar batas-batas kepatutan. Secara sosiologis, kegembiraan sebagian besar umat Islam atas kekalahan Ahok terbilang wajar. Tetapi, ekspresi yang berlebihan justru dapat menghilangkan akal sehat.

Secara politis, bagi partai pendukung Anis-Sandi, kekalahan Ahok adalah satu prestasi politik guna membangun kekuatan baru menjelang Pilpres 2019. Tapi, bagi umat Islam, kekalahan Ahok bukanlah segalanya, karena masih banyak tugas-tugas lain yang menumpuk di hadapan. Kekalahan Ahok adalah kemenangan kecil bagi umat Islam. Artinya, pasca Ahok kalah, umat Islam tidak boleh berhenti untuk terus berjuang sesuai konstitusi. Sebagaimana telah kita saksikan, pasca aksi penistaan yang dilakukan Ahok, semangat ukhuwah Islamiyah umat Islam Indonesia semakin mantap. Umat Islam telah berhasil meninggalkan perselisihan internal (khilafiyah) untuk kemudian bersatu melawan Ahok. 

Namun demikian, kita berharap umat Islam tidak larut dalam eforia kemenangan, karena perlawanan terhadap kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok belum berakhir hanya karena Anis-Sandi telah terpilih sebagai pemimpin Jakarta. Tuntutan minimal dari jaksa terhadap tindakan Ahok tentunya masih jauh dari harapan dan bahkan mengecewakan umat Islam. Seperti diungkap Din Syamsuddin (republika.co.id, 22/04/17), bahwa ujaran kebencian yang ditebarkan Ahok adalah bentuk intoleransi dan sebuah sikap anti kebhinekaan. Menurut Din, jika hal ini dibiarkan, maka akan berpotensi merusak tatanan kerukunan antar umat beragama.

Din Syamsuddin juga menegaskan bahwa tuntutan JPU dalam pengadilan Ahok terkesan mengabaikan rasa keadilan dan menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam melindungi tersangka penistaan agama. Selain itu, masih menurut Din, penundaan pembacaan tuntutan beberapa waktu lalu dengan alasan yang dibuat-buat dan bertentangan dengan jurisprudensi merupakan sebuah kecenderungan mempermainkan hukum sehingga jika dibiarkan akan menimbulkan ketidakpercayaan (distrust) kepada instansi penegakan hukum (okezone.com, 22/04/17).

Menyimak pernyatan Din Syamsuddin hendaknya umat Islam tidak terbuai dengan geloran kemenangan Anis-Sandi yang notabene adalah kemenangan pragmatis dan politis. Secara politis, pihak yang paling diuntungkan dari kemenangan Anis-Sandi adalah partai politik pengusung. Adapun masyarakat Jakarta baru diuntungkan jika nantinya kepemimpinan Anis-Sandi mampu melakukan perubahan besar dan merealisasikan janji-janjinya di masa kampanye.

Perjuangan Politik Atau Agama?

Pasca Ahok terjungkal, ada satu pertanyaan penting yang harus segera dijawab umat Islam; apakah gerakan umat Islam selama ini yang dimulai 14 Oktober 2016, 4 November 2016 (411), 2 Desember 2016 (212) dan 11 Februari 2017 (112) benar-benar didasari oleh agama atau hanya sekedar trik politik? Atau mungkin gerakan tersebut merupakan gabungan dari keduanya (agama dan politik)? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya sangat tergantung pada sikap umat Islam pasca kekalahan Ahok.

Uniknya, sebelum pertanyaan ini terjawab, kita telah disuguhkan sebuah informasi kontroversial yang dirilis tirto.id terkait hasil investigasi Allan Nairn. Dalam investigasinya, Allan Nairn menyebut Ahok hanyalah dalih untuk melakukan makar guna menjatuhkan Jokowi dari tampuk kekuasaan. Bahkan, Nairn juga menuding adanya keterlibatan militer dalam aksi-aksi selama ini. Tapi sayangnya, kesimpulan Allan Nairn terlalu prematur dan cenderung spekulatif.

Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang, umat Islam harus segera mempertegas posisinya. Umat Islam harus mampu membuktikan kepada publik, bahwa segala bentuk gerakan yang berlangsung akhir-akhir ini adalah murni didorong oleh semangat keagamaan dan bukan sekedar trik politik belaka sebagaimana dituding oleh sebagian pihak. Jika umat Islam berhenti bergerak pasca kemenangan Anis-Sandi, maka kondisi ini akan semakin memperkuat tesis sebagian kalangan bahwa pergerakan umat Islam hanyalah manuver politik untuk mengantarkan Anis-Sandi sebagai pemimpin DKI. Menyikapi ini, umat Islam harus terus bergerak sampai Ahok benar-benar mendapat hukuman maksimal yang setimpal dengan tindakannya. Dan aksi 505 yang berlangsung beberapa hari lalu setidaknya sudah mampu memalingkan tudingan Nairn.

Untuk ke depan, umat Islam juga harus mampu membuktikan bahwa gerakan masif yang dilakukan selama ini benar-benar terbebas dari intervensi dan campur tangan militer. Keterlibatan militer dalam aksi-aksi umat Islam harus dicegah sedini mungkin sehingga gerakan umat Islam tidak dituding sebagai bagian dari skenario makar guna melengserkan Jokowi sebagaimana dituding Allan Nairn. Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Waspada Medan

Share this article :


No comments:

Post a Comment