Friday, April 28, 2017

Agam Gatai

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 April 2017

Ilustrasi
Foto: thehistoryblog.com

Beberapa tahun lalu, ketika dalam perjalanan ke Banda Aceh, saya menumpangi bus antar kota. Saat itu, saya mendapat jatah duduk paling belakang. Saya duduk berdampingan dengan seorang wanita bersama anak kecil. Si wanita tersebut adalah istri pak supir. Bersama kami juga ada seorang kernet (kinet). Seperti biasa, ketika bus melaju, semua lampu dimatikan sehingga keadaan menjadi gelap. 

Dalam perjalanan, meskipun agak gelap, saya berhasil menyaksikan sebuah pemandangan langka (setidaknya bagi saya). Saat itu, si kernet nampak “bercumbu” dengan si wanita yang sedang memangku anaknya. Kondisi jatah duduk memaksa saya untuk melihat pemandangan yang syahdu tersebut. Tidak ada pilihan lain karena saya duduk berdampingan dengan mereka. Dan mereka pun terus bercumbu dalam kegelapan sampai akhirnya saya pun tertidur akibat “mata lelah.”

Ketika bus berhenti untuk makan minum, si wanita langsung turun menemui abang supir yang tidak lain adalah suaminya. Mereka terlihat mesra sambil menyantap makanan. Si kernet juga duduk bersama mereka. Saya tidak tau, apakah si supir tau kalau istrinya juga menjadi “santapan” si kernet dalam bus. Seiring perjalanan waktu kisah itu pun seperti hilang dalam ingatan.

Kisah si kernet dan istri supir seperti ternukil di atas kembali teringat pada saat saya membaca berita yang dilansir acehtribunnews.com terkait pemerkosaan anak di bawah umur di Aceh Tamiang. Dikabarkan bahwa seorang gadis di bawah umur diperkosa oleh seorang oknum supir Jumbo. Tragisya lagi, aksi bejat ini turut dibantu oleh istri si pelaku. Ini adalah kebiadaban bertingkat yang dilakukan secara berjamaah oleh suami istri.

Mengenal Agam Gatai

Sebelumnya, dengan maksud menyambut Hari Kartini, saya telah menulis tentang sebagian oknum wanita Aceh yang larut dalam fenomena kacingieng. Kali ini, saya akan mengajak tuan-tuan untuk menjenguk saudara kembar kacingieng yang untuk sementara saya beri nama agam gatai. Istilah agam gatai ini sebenarnya sudah cukup familiar di telinga masyarakat kita.

Untuk memahami istilah frasa agam gatai tidak mempan jika menggunakan pendekatan leksikal. Sebab pendekatan leksikal akan melahirkan makna yang kacau. Dalam bahasa Aceh kata agam bermakna laki-laki, sedangkan kata gatai bermakna gatal. Tentu akan sangat aneh jika agam gatai dimaknai sebagai lelaki gatal, meskipun maknanya berdekatan.

Isttilah agam gatai dalam pemahaman orang Aceh adalah sosok laki-laki yang suka selingkuh, gemar mengganggu wanita dan hobi melakukan berbagai tindakan asusila seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Secara historis, sosok agam gatai telah hidup di dunia ini dari zaman dahulu kala di berbagai belahan dunia dengan nama dan istilah berbeda.

Lagee Leumo

Beberapa waktu lalu, saya juga sudah pernah menulis tentang lembu. Ditinjau dari segi perilaku dan sifat, agam gatai memang lagee leumo (seperti lembu) yang gampang saja melakukan pelecehan seksual dan bahkan pemerkosaan, tidak hanya di tempat sunyi, tetapi juga di tempat-tempat umum. Jika kita mau jujur, sebenarnya agam gatai lebih “binatang” dari lembu, sebab lembu tidak diberi akal, sedangkan agam gatai kebanjiran akal.

Meskipun tidak berakal, lembu masih dibutuhkan oleh masyarakat karena bisa diajak membajak sawah. Sebaliknya, agam gatai, meskipun sempurna akal, tetapi ia menjadi sampah bagi masyarakat. Jika lembu hanya mengotori ruas jalan dengan taiknya, maka agam gatai justru mengotori lingkungan dengan sikap hewani. Parahnya lagi agam gatai juga mencemari keturunan dengan nafsu kebinatangan. Agam gatai adalah hama dan parasit yang merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Perilaku agam gatai tidak hanya dilakukan oleh supir dan kernet sebagaimana telah diulas di atas, tetapi siapa pun berpotensi menjadi agam gatai. Di perkantoran misalnya, saya pernah menyaksikan oknum PNS laki-laki yang menepuk pinggul oknum pegawai wanita. Perilaku ini sudah menjadi semacam hiburan. Anehnya yang kena tepuk pun santai saja dan hanya berkata “adduh.” 

Aceh sebagai wilayah yang telah menerapkan syariat Islam sudah saatnya melawan segala bentuk gerakan agam gatai yang dipraktikkan oleh peniru-peniru lembu. Agam gatai harus dikucilkan dari kehidupan masyarakat karena perilakunya yang rusak. Kepada orang tua kita berharap agar terus mengawasi anak-anak perempuannya dari ancaman agam gatai. Orang tua juga diharapkan agar mendidik anak laki-lakinya agar tidak menjadi agam gatai di kemudian hari. 

Bahkan kita sendiri sebagai agam juga harus menghindari pergaulan dengan agam gatai agar tidak tertular penyakit ini. Atau kita sendiri juga agam gatai?

Artikel ini sudah diterbitkan di AceHTrend

Share this article :


No comments:

Post a Comment