Saturday, February 25, 2017

Politik Aswaja Aceh dalam Teka-Teki

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 Januari 2017

Abu Tumin Saat Berorasi dalam Kampanye Irwandi Nova di Lapangan Blang Asan (2017)

Teka-teki sering kali menghadirkan kebingungan dan kebimbangan. Tepatnya, teka-teki adalah dilema bagi pikiran. Untuk menjawab teka-teki tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran dan kecerdasan, tapi butuh kecerdikan. Dalam teka-teki, lengah berarti “mati”, karena dalam satu kedipan mata saja kita bisa tertipu. Tidak hanya itu, bahkan teka-teki terkadang menarik kita dalam pusaran ambiguitas. Teka-teki tidak mengenal kebenaran absolut dan kita hanya akan terpenjara dalam kemungkinan-kemungkinan.

Dalam teka-teki, sesuatu yang rasional dalam satu sudut pandang bisa irrasional dalam sudut pandang lain. Logika dan rasionalitas bukanlah senjata ampuh untuk menjawab teka-teki. Sebuah teka-teki hanya bisa dijawab dengan memahami metode “cocoklogi.” Hidup dalam teka-teki adalah hidup dalam ketidakjelasan, kebingungan dan ketidakpastian. Kehidupan dalam dalam teka-teki akan mengurung kita dalam dunia prasangka yang tidak berkesudahan. Teka-teki adalah misteri.

Kita bisa menemukan teka-teki hampir dalam setiap ruang kehidupan. Mungkin teka-teki yang paling familiar adalah teka-teki silang yang banyak terpajang di toko-toko buku. Bahkan teka-teki pun sering pula diselipkan dalam buku-buku pelajaran formal di sekolah-sekolah. Namun demikian, teka-teki dalam tulisan ini adalah teka-teki dalam pengertian yang seluas-luasnya, tidak terbatas pada kolom-kolom kosong yang harus diisi secara silang sampai mata br’at br’eut (kabur).

Teka-teki dapat kita temukan dalam kehidupan keluarga, komunitas dan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan secara luas. Seorang pejabat bisa saja kebingungan dalam teka-teki ketika berhadapan dengan berbagai regulasi yang nampak berbenturan. Seorang panglima perang pun sering terperangkap dalam teka-teki ketika berhadapan dengan musuh dalam pertempuran. Bahkan seorang ulama pun tidak terlepas dari teka-teki ketika menemukan dalil-dalil dhanni dalam penetapan hukum sehingga melahirkan hasil ijtihad yang berbeda satu sama lain.

Sebagaimana telah disinggung bahwa teka-teki menyelinap dan merayap hampir dalam setiap lini kehidupan. Dunia politik yang penuh dengan “hiruk-pikuk” pun tidak bisa membebaskan diri dari teka-teki. Salah satu teka-teki “terbesar” dalam dunia politik Aceh akhir-akhir ini adalah sikap politik Aswaja Aceh. Penamaan Aswaja dalam tulisan ini merujuk pada cara pandang fenomenologi, dalam hal ini nama tersebut berasal dari mereka sendiri, bukan penamaan dari kelompok lain.

Teka-Teki

Dalam sudut pandang sosiologis, kehadiran Aswaja dalam pentas politik Aceh bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang. Kemunculan Aswaja dalam politik Aceh tentunya telah diawali oleh “negosiasi-negosiasi sunyi” – yang tidak semuanya terekam media. Meskipun negosiasi tersebut berlangsung dalam keadaan sunyi, tapi sebagiannya juga meletup melalui fenomena-fenomena yang dapat diamati dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, kita juga punya keyakinan bahwa dalam kehidupan insani tidak ada yang namanya tiba-tiba, karena kemunculan fenomena itu sendiri sangat dipengaruhi oleh beragam faktor.

Fenomena kemunculan Aswaja Aceh di panggung politik praktis 2017, baik langsung atau pun tidak telah turut menyumbangkan “kebingungan” sehingga menghasilkan persepsi publik yang beragam. Kubu pasangan cagub Muzakkir Manaf-TA Khalid misalnya, mengklaim bahwa mereka mendapat dukungan Aswaja. Bahkan klaim ini turut dipertegas oleh Tu Bulqaini yang disebut-sebut Ketua Aswaja Aceh. Dalam pemberitaan yang dilansir beberapa media, Tu Bulqaini dengan “gerbong” Aswajanya menyatakan telah berkomitmen untuk memberi dukungan kepada Muzakkir Manaf (Muallem). Bahkan informasi terakhir yang berkembang menyebut bahwa relawan Aswaja sudah siap memenangkan Muallem.

Pada awalnya, klaim dukungan Aswaja hanya dimainkan oleh pihak Muallem. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, klaim ini mulai “melemah” setelah kehadiran Abu Tumin dalam Kampanye Akbar Irwandi-Nova di Lapangan Blang Asan Matangglumpangdua Bireuen. Kehadiran Abu Tumin dalam kampanye tersebut tidak hanya sekedar melakukan prosesi peusijuek, tetapi “terjun” langsung dalam orasi politik yang secara tegas meminta masyarakat Aceh untuk memilih Irwandi-Nova.

Dua sampel di atas, meskipun sama-sama mendapat dukungan Aswaja, namun terdapat perbedaan mencolok dalam praktik pengungkapan dukungan. Redaksi bahasa yang digunakan Tu Bulqaini adalah dengan cara mengasosiasikan keputusan politiknya dengan jumhur Aswaja Aceh. Artinya, Tu Bulqaini tidak hanya menyatakan dukungan secara personal kepada Muallem, tetapi dukungan yang bersifat kolektif dengan melibatkan ulama Aswaja lainnya. Secara lebih tegas dapat disimpulkan bahwa Tu Bulqaini “melakukan klaim” bahwa Aswaja Aceh mendukung Muallem.

Sementara itu, pengungkapan dukungan politik yang dipraktikkan oleh Abu Tumin kepada Irwandi lebih bersifat personal dengan menyebut keputusannya sebagai “maklumat.” Di sini terlihat jelas “kebijaksanaan” politik seorang Abu Tumin, di mana beliau tidak membawa “gerbong” Aswaja untuk mendukung Irwandi-Nova. Padahal, jika ditelisik, Abu Tumin adalah ulama Aswaja paling senior dan paling tua di Aceh. Mungkin kenyataan inilah yang kemudian membuat Abu Tumin tampil percaya diri dalam memberikan dukungan politik tanpa harus membawa-bawa nama besar Aswaja – karena sosok Tumin telah dikenal luas sebagai guru besarnya Aswaja Aceh.

Kemudian, jika ditelisik lebih cermat, dukungan Aswaja Aceh tidak hanya “mendarat” pada dua pasangan calon kandidat gubernur (Muallem dan Irwandi), tetapi dukungan tersebut merata kepada kandidat lainnya, meskipun tidak dominan. Tarmizi Karim misalnya, melalui performa kesalehan yang dibangunnya selama ini pun akan menarik faksi-faksi kecil dari Aswaja Aceh untuk memberi dukungan politik. Statusnya sebagai seorang doktor lulusan Tafsir Al-Quran cukup menjadi modal baginya untuk menarik perhatian Aswaja Aceh – tentunya dalam gerakan senyap.

Zakaria Saman yang populer dengan panggilan Apa Karya – mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka pun tidak luput dari lirikan Aswaja Aceh. Bukan tidak mungkin Aswaja “arus bawah” semisal teungku rangkang, teungku imuem gampong dan imum chiek juga memberikan dukungan politik kepada Apa Karya. Demikian pula dengan Abdullah Puteh dengan statusnya sebagai mantan Gubernur Aceh pun tidak tertutup kemungkinan mendapat dukungan Aswaja Aceh. Dalam redaksi yang lebih ringan, sekhek-kheknya (seburuk-buruknya) mantan Gubernur tentu memiliki relasi dengan komunitas-komunitas dayah yang notebene adalah lumbungnya Aswaja Aceh.

Sosok kandidat lainnya yang juga memiliki peluang dilirik oleh Aswaja Aceh adalah Zaini Abdullah alias Abu Doto. Selama menjabat sebagai Gubernur Aceh, Abu Doto juga memiliki hubungan lumayan baik dengan kalangan dayah yang tentunya juga pejuang-pejuang Aswaja. Meskipun tidak membawa “embel-embel” Aswaja, dapat diyakini bahwa ada beberapa “gelintir” faksi-faksi kecil dari Aswaja yang melabuhkan dukungan politiknya kepada Abu Doto.

Uraian singkat di atas hendak memperjelas kepada kita semua, bahwa tidak benar klaim bahwa 100 persen Aswaja Aceh memberikan dukungan politik kepada salah satu calon gubernur. Organisasi Himpunan Ulama Dayah sebagai wadah bernaungnya ulama-ulama Aswaja Aceh juga tidak secara resmi mengeluarkan intruksi untuk memilih kandidat tertentu dalam Pilkada 2017. Meskipun jumhur Aswaja Aceh memberikan dukungan kepada Muallem, namun sampai dengan detik ini belum ada “ijmak” (konsensus) dari Aswaja Aceh terkait keputusan politik ini.

Uraian di atas juga menjelaskan kepada kita semua bahwa meratanya dukungan Aswaja Aceh kepada seluruh kandidat gubernur, meskipun terdapat perbedaan kuantitas, namun perbedaan dukungan politik tersebut adalah sebuah teka-teki yang sampai saat ini belum terjawab. Teka-teki ini akan tetap menjadi misteri selama kontestasi berlangsung. Tidak ada jawaban absolut untuk menjelaskan fenomena ini – yang ada hanya gumpalan-gumpalan prasangka yang akan lebur dengan sendirinya ketika kontestasi usai. 

Negosiasi-negosiasi sunyi yang terjadi antara Aswaja Aceh dan faksi-faksinya dengan para kandidat gubernur dalam prosesi Pilkada kali ini akan terungkap dengan sendirinya ketika ada pihak yang merasa dikecewakan. Dan curahan kekecewaan ini hanya akan terjadi setelah permainan usai. Pada saat itulah, noumena-noumena yang saat ini terendam dalam sunyi akan menggelinding ke zona empiris sehingga muncullah fonemana-fenomena baru yang tidak pernah terduga sebelumnya. Selamat menikmati teka-teki! Wallahul Musta’an.

Artikel ini sudah diterbitkan di AceHTrend

Share this article :


No comments:

Post a Comment