Tuesday, February 28, 2017

Saifannur, Diammu Gunung Berapi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 17 Februari 2017


Saifannur, S. Sos

“Tidak kusedari diammu gunung berapi.

Tiba-tiba saja meledak membinasakan semua.”
(Exist)

Kutipan di atas adalah penggalan lirik lagu bertajuk “Diammu Gunung Berapi” yang sempat populer di Malaysia dan Indonesia pada era 90-an. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Ezad dari group band Exist asal Malaysia. Lagu ini bahkan telah dihafal dengan baik oleh para remaja di era 90-an. Saya pribadi sangat menikmati lagu ini ketika pulang dari sekolah. Saat itu, lagu ini hampir setiap hari terdengar mengalun di terminal Kota Matangglumpangdua.


Saturday, February 25, 2017

Politik Aswaja Aceh dalam Teka-Teki

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 Januari 2017

Abu Tumin Saat Berorasi dalam Kampanye Irwandi Nova di Lapangan Blang Asan (2017)

Teka-teki sering kali menghadirkan kebingungan dan kebimbangan. Tepatnya, teka-teki adalah dilema bagi pikiran. Untuk menjawab teka-teki tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran dan kecerdasan, tapi butuh kecerdikan. Dalam teka-teki, lengah berarti “mati”, karena dalam satu kedipan mata saja kita bisa tertipu. Tidak hanya itu, bahkan teka-teki terkadang menarik kita dalam pusaran ambiguitas. Teka-teki tidak mengenal kebenaran absolut dan kita hanya akan terpenjara dalam kemungkinan-kemungkinan.


Friday, February 17, 2017

Pena-Pena “Sesat”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 08 Februari 2017

Sumber Foto: Riau Online

Pers layaknya cahaya yang menerangi publik dengan siraman informasi dan telah mendedikasikan diri kepada masyarakat dunia tanpa kenal lelah. Tentunya kita tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya dunia tanpa pers. Dengan hanya membaca koran yang merupakan salah satu produk pers, kita dapat mengetahui banyak hal tentang berbagai kejadian yang terjadi di luar sana, bahkan dari tempat yang jauh sekalipun. Kita kenal Yasser Arafat melalui pers, kita kenal Simon Peres pun melalui pers. Demikian pula hancurnya rezim Husni Mubarak di Mesir dan tumbangnya Moammar Khadafi di Libya pun tersebar luas berkat kerja keras insan pers. Untuk itu, kita patut berterima kasih kepada pers atas dedikasi yang tiada henti.


Ahok dan Permohonan Maaf Ala Kancil

Oleh: Khairil Miswar 

Bungkaih, 06 Februari 2017

ILustrasi. Sumber Foto: http://dongengceritarakyat.com/

Agar tulisan ini tidak menggelinding liar, maka penting diterangkan bahwa Ahok yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Gubernur DKI Jakarta non aktif yang saat ini juga kembali mencalonkan diri sebagai kandidat Gubernur periode mendatang. Adapun kancil adalah nama binatang liar yang dalam dunia dongeng dikenal cerdik, tetapi dalam dunia nyata ternyata bodoh. Saya menuduhnya bodoh, karena tidak ada riwayat yang menyebut sang kancil pernah menipu pemburu. Seandainya kancil itu benar-benar cerdas, maka yang namanya sate kancil tidak akan pernah ada. Sebaliknya, pemburulah yang akan disate oleh si kancil. Tapi kenyataannya tidak demikian. 


Friday, February 10, 2017

Apa Karya, Irwandi dan “Perang Wacana”

Oleh: Khairil Miswar 

Peureulak, 03 Februari 2017 

Penulis Saat mewawancarai Apa Karya (2016)

Berita bukanlah peristiwa, tetapi ia adalah sesuatu yang diserap setelah peristiwa, dan ia tidak identik dengan peristiwa, demikian dikatakan Sobur (2015) dalam salah satu bukunya. Kutipan singkat ini mengajarkan kita untuk tidak bertindak “buru-buru” dalam menyimpulkan sebuah pemberitaan yang dihadirkan media. Benar, media adalah pusat informasi, tetapi media bukanlah sumber kebenaran. Paul Watson (Sobur, 2015) mengatakan bahwa konsep kebenaran yang dianut media bukanlah kebenaran sejati, tetapi sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran. Dan Nimmo (2005) juga mengingatkan bahwa berita harus dibedakan dari kebenaran. 


Friday, February 3, 2017

Mimbar Politik dan Politik Mimbar

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 24 Januari 2017



Aceh Nanggroe Teuleubeh Ateuh Rueng Donya” (Aceh negeri terlebih di muka bumi). Kalimat ini tentu tidak asing bagi telinga masyarakat Aceh. Kalimat ini terus diulang-ulang dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain. Dari mana kalimat ini berasal, siapa yang meriwayatkannya, dan sejak kapan kalimat ini muncul, bukanlah persoalan penting bagi masyarakat kita. Buktinya, kalimat ini terus berpindah dari satu bibir ke bibir lainnya, tanpa pernah diketahui siapa yang pertama sekali mengucapkannya.