Tuesday, January 24, 2017

Republik Meme

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Januari 2017

Sumber Foto: Brilio.net

Majunya peradaban teknologi informasi akan berimplikasi pada dua kondisi. Pertama, menguntungkan; artinya, kemajuan teknologi akan memberikan segala kemudahan bagi segenap masyarakat dalam melakukan interaksi dan komunikasi. Jika dulu kita membutuhkan jasa merpati untuk mengantarkan surat yang memakan waktu berhari-hari, maka sekarang kita cukup menekan tombol “enter” dan kemudian surat itu pun melayang dalam hitungan detik. Kedua, teknologi informasi juga bisa berdampak merugikan. Ocehan-ocehan lebay dan tak bermutu di facebook misalnya, kadang-kadang bisa menyeret kita ke meja hijau melalui UU ITE.


Aceh Sebagai Pelopor Praktik Politik Islami

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 11 Januari 2017

Baliho Dirusak. Sumber Foto: GoAceh

Masyarakat Aceh adalah masyarakat religius. Demikianlah yang dipahami oleh sebagian masyarakat Indonesia. Gelar Serambi Mekkah yang disandang Aceh ratusan tahun lamanya juga semakin mempertegas betapa kuatnya Islam di Aceh. Di samping itu, Aceh juga merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang telah melakukan formalisasi syariat Islam dengan lahirnya berbagai qanun (perda) sebagai dasar hukum penegakan syariat. 


Saturday, January 21, 2017

Pilih Ulama Atau Juhala?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 Januari 2017

Penulis (Khairil Miswar) Tahun 2002 

Sebelum terlalu jauh, baiknya diingatkan di awal, bahwa tulisan ini hadir bukan sebagai kampanye politik, tapi hanya ekspresi keresahan atas sikap “galau” segelintir politisi di Aceh, khususnya di Bireuen – tempat lahir beta. Beberapa hari lalu, (16/01/17) saya sempat membaca sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Pimpinan Redaksi AceHTrend, Muhajir Juli dengan tajuk “Cara Kautsar Melihat Manusia.” Judul artikel tersebut sempat membuat saya penasaran sehingga saya ingin cepat-cepat mengetahui siapa Kautsar yang dimaksud dalam tulisan itu. Apakah dia seorang filsuf besar, seperti Nietzsche? Atau dia seorang psikolog seperti Freud? Atau dia seorang ulama besar seperti Ibn Taimiyah? Pertanyaan serupa ini terus mendesak saya untuk sesegera mungkin membaca artikel tersebut.


Thursday, January 19, 2017

Jilbab Cut Nyak Meutia dalam Polemik

(Tanggapan Terhadap Tulisan Teuku Zulkhairi)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Januari 2017

Sumber Foto: M. Junus Djamil

Menarik sekali membaca ulasan sabahat saya Teuku Zulkhairi dalam tulisan yang bertajuk “Logika Sehat Cut Meutia Berjilbab” pada rubrik Pikiran dalam Tabloid Pikiran Merdeka edisi 153 (9-15 Januari 2017). Dalam tulisan tersebut Teuku Zulkhairi menawarkan pendekatan logika untuk menjawab status jilbab Cut Meutia – dengan menggunakan qiyas iqtirani. Teuku Zulkhairi mencoba mengkritik penggunaan premis yang kurang lengkap sehingga menghasilkan natijah yang keliru, tapi sayangnya, Teuku Zulkhairi tidak mencoba menggunakan qiyas iqtirani itu secara benar dengan menyusun premis baru. Dengan demikian, kritik Teuku Zulkhairi menjadi tidak solutif. 


Friday, January 13, 2017

Politik Teror Itu Seperti Pedang

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 06 Januari 2017

Khairil Miswar (Pakai Peci) Pada saat Verifikasi Faktual Partai SIRA Kabupaten Bireuen
 Oleh Kanwil Depkumham Aceh Tahun 2007

Pemilu Legislatif 2009 adalah pemilu pertama pasca MoU Helsinky untuk memilih calon legislator yang akan duduk di kursi parlemen. Ketika Pileg tersebut digelar, konflik Aceh dengan Pemerintah Pusat baru saja berakhir. Tahun 2009 adalah tahun keempat terciptanya kedamaian di Aceh. Kedamaian dimaksud adalah damai tanpa perang, bukan damai tanpa gaduh. Artinya, meskipun Aceh kala itu berada dalam kondisi damai, namun kegaduhan-kegaduhan politik masih saja berlangsung di hampir seluruh pelosok Aceh.