Monday, December 26, 2016

Ujian Atau Hukuman?

(Refleksi 12 Tahun Gempa Tsunami Aceh)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Desember 2016

Khairil Miswar di depan Mesjid Ulee Lheu Banda Aceh  Awak Tahun 2005

Rabu pagi (07/12/2016) menjelang subuh sekira pukul 05.00 Wib, Aceh kembali diguncang gempa berkekuatan 6,5 SR. Puluhan bangunan toko, rumah warga dan beberapa rumah ibadah pun ambruk. Korban pun berjatuhan, sampai saat ini dilaporkan bahwa korban sudah mencapai sekitar 102 orang masyarakat meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Pemandangan yang tak kalah menyedihkan adalah rubuhnya sejumlah mesjid di Kabupaten Pidie Jaya. Kerusakan juga menimpa dayah Mudi Mesra Samalanga dan juga Kampus STAI Al-Aziziyah, pusat pendidikan para santri di Kabupaten Bireuen.


Sampai Kapan Kita Harus Lebay?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 Desember 2016

Sumber Foto: T. A. Talsya

Dalam beberapa hari terakhir ini, nama Cut Nyak Meutia terus disebut-sebut. Media sosial pun tumpah-ruah dengan komentar terkait pahlawan wanita Aceh ini. Semua bicara tentang Cut Nyak Meutia. Tentu tidak ada yang aneh ketika Cut Nyak Meutia ini terus dibicarakan, sebab beliau adalah sosok berani yang telah berjuang mengusir kaphe Belanda dari tanah Aceh. Namun, diskursus tentang Cut Nyak Meutia yang berlangsung dalam beberapa hari ini tidak terkait sama sekali dengan aktivitas perjuangan beliau di masa lalu. Tapi, hanya sebuah ekspresi kekesalan sebagian anak negeri karena menurut mereka Cut Nyak Meutia telah “dilecehkan.”


Friday, December 16, 2016

Bukan Salah Dawud Beureueh

(Sebuah Koreksi)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 November 2016

Abu Dawud Beureueh (Pegang Tongkat)
Sumber Foto: T. A. Talsya

“Aceh tidak jadi merdeka karena kesalahan Daud Beureueh.” Kalimat sederhana ini sering diulang-ulang oleh sebagian kalangan di Aceh. Bahkan sadisnya lagi, ada pula segelintir pihak yang menuding bahwa Daud Beureueh telah menjual Aceh kepada Jakarta, padahal pada saat kemerdekaan RI diproklamirkan, seperti disebut Al Chaidar, Teungku Umar Tiro selaku pewaris keluarga Tiro pun ikut mengibarkan Merah Putih. Terlepas siapa yang pertama sekali meluncurkan statemen dha’if ini, tapi yang jelas Daud Beureueh tidak mungkin melakukan klarifikasi atas penistaan sejarah semacam ini.