Tuesday, November 1, 2016

Para Pewaris Tiro dalam Pilkada Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Oktober 2016

Hasan Tiro
Foto: Viva.co.id

Ada yang unik dalam Pilkada Aceh 2017, di mana ada empat tokoh “pewaris Tiro” yang akan bersaing ketat. Harian Waspada Medan dalam edisi 26/10/16 juga menampilkan headline bertajuk 4, 5, 6 Mantan Petinggi GAM. Para pewaris Tiro (anak didik Hasan Tiro) dimaksud adalah Zakaria Saman (nomor urut 2), Zaini Abdullah (nomor urut 4), Muzakkir Manaf (nomor urut 5) dan Irwandi Yusuf (nomor urut 6). Keempat tokoh ini nantinya akan “bertempur” meraih simpati masyarakat Aceh pada Februari mendatang.

Hadirnya empat pewaris Tiro dalam kontestasi politik Aceh 2017 tentunya didasari oleh berbagai persoalan yang tidak tuntas secara internal sehingga tokoh-tokoh dimaksud memilih jalan politiknya sendiri-sendiri. Namun demikian keempat kandidat pewaris Tiro tersebut memiliki semangat yang sama – semangat perubahan, menuju Aceh sejahtera dan bertabat. Keempat pewaris Tiro ini, selain melawan pesaing internal – nantinya juga akan berhadapan dengan kandidat di luar “trah” Tiro, yaitu Abdullah Puteh (mantan Gubernur Aceh) dan Tarmizi Karim (Bupati Aceh Utara dan juga mantan Pj Gubernur di beberapa provinsi).

Dinamika Politik GAM

GAM terus berubah, dan perubahan itu sendiri adalah suatu keniscayaan. Dalam ruang politik tentu tidak ada yang namanya konsensus abadi, ia terus menyesuaikan diri dengan guliran masa sehingga kesempurnaan yang diidamkan itu tercapai. Demikian pula dengan GAM, sebuah gerakan politik bersenjata yang digagas oleh Paduka Yang Mulia Teungku Muhammad Hasan Di Tiro 40 tahun lalu juga tidak kekal dari perubahan. 

Pasca damai Aceh tahun 2005, GAM bermetamorfosis menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA). Pilkada Gubernur Aceh 2006 adalah pentas politik praktis pertama yang melibatkan GAM (sekarang KPA) sebagai petarung politik. Meskipun pra damai (sebelum 2005), GAM nampak solid, namun pada Pilkada 2006 “ketegangan” internal sudah mulai terlihat. Pada saat itu, dukungan KPA terbelah ke dalam dua kekuatan politik. Para petinggi GAM (KPA) memberi dukungannya kepada pasangan Hasbi Abdullah-Humam Hamid (H2O), sedangkan para mantan kombatan dan akar rumput (basis utama GAM) melabuhkan dukungannya kepada Irwandi-Nazar (Irna/Sinar). “Pertarungan” kala itu dimenangkan oleh pasangan Irwandi-Nazar.

Pada Pemilu Legislatif 2009, salah satu basis politik yang di masa konflik dan Pilkada 2006 masih “bersepakat” dengan GAM pun secara tegas memisahkan diri bayang-bayang GAM. Pada tahun 2007, para aktivis Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dan “konco-konconya” mendeklarasikan berdirinya Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA). Demikian pula dengan mantan kombatan dan petinggi GAM juga mendirikan partai tersendiri, Partai Aceh (PA). Sebelumnya, beberapa elemen aktivis lainnya juga mendeklarasikan Partai Rakyat Aceh (PRA). Dengan demikian, Pemilu Legislatif 2009 menjadi ajang “pertempuran” sesama partai “pro perjuangan” yang akhirnya dimenangkan oleh Partai Aceh dengan perolehan kursi mengagumkan.

Dalam Pilkada Gubernur 2012 GAM terus “terbelah” ke dalam beberapa kutup politik. Saat itu, konsentrasi GAM (PA) terpusat dalam dua kubu besar. Lahirnya Partai Nasional Aceh (PNA) yang dibidani Irwandi Yusuf semakin mempertegas “keterpecahan” itu. Kontestasi politik pada Pilkada 2012 telah mengakibatkan para pewaris Tiro kembali berhadapan. Dua kekuatan besar yang bersaing ketat kala itu adalah pasangan Muzakkir Manaf-Zaini Abdullah dari Partai Aceh, berhadapan dengan pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan dari jalur independen. Kedua kubu ini mendapat dukungan dari para mantan GAM, baik secara organisasi (Muzakir-Zaini), maupun secara personal (Irwandi-Muhyan). Pasangan lainnya yang juga ikut bersaing adalah Muhammad Nazar-Nova Iriansyah yang didukung oleh para aktivis Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dan juga beberapa faksi GAM (PA) yang “membelot.” Dalam “kenduri politik” tersebut pasangan Muzakkir-Zaini dari Partai Aceh kembali memenangkan “pertarungan” karena pasangan ini mendapat dukungan dari mayoritas mantan GAM.

Pertarungan para pewaris Tiro terus berlanjut pada Pemilu Legislatif 2014, di mana Partai Aceh kembali berhadapan dengan Partai Nasional Aceh yang juga didirikan oleh para tokoh GAM. Namun sayangnya, kehadiran Partai Nasional Aceh (PNA) yang juga disokong oleh beberapa tokoh GAM ternyata tidak mampu mengimbangi “jurus” yang dimainkan Partai Aceh. Perolehan kursi PNA dalam Parlemen Aceh jauh dari harapan dan bahkan kalah saing dengan Partai Nasional. Alhasil, Partai Aceh kembali beroleh kegemilangan pada Pemilu Legislatif 2014.

Masa Depan Partai Aceh

Seperti telah diulas di atas bahwa “pertarungan” para pewaris Tiro telah dimulai sejak Pilkada 2006 dan terus berlanjut hingga saat ini. Dalam amatan penulis, Pilkada 2017 adalah “pertarungan” terbesar para pewaris Tiro pasca GAM terjun ke kancah politik praktis. Pilkada 2017 juga akan menjadi penentu masa depan Partai Aceh. Dalam Pilkada kali ini, konsentrasi mantan GAM terpecah ke dalam empat kutup, dua di antaranya punya potensi untuk memenangkan pertarungan; pasangan Muzakkir Manaf dan pasangan Irwandi Yusuf. Adapun Zaini Abdullah dan Zakaria Saman nampaknya tidak memiliki basis dukungan massif seperti dua pasangan disebut pertama.

Jika merujuk kepada peta awal penyebaran dukungan dan afiliasi partai politik pendukung, dapat diduga bahwa posisi pasangan Partai Aceh (PA) sedang “terancam”, di mana beberapa daerah yang menjadi basis utama Partai Aceh telah “dikecohkan” oleh kehadiran pasangan lain. Kabupaten Bireuen yang merupakan salah satu daerah basis Partai Aceh telah “terganggu” dengan kuatnya “kharisma” Irwandi Yusuf sebagai putera Bireuen asli. Demikian pula Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya juga telah “terbelah” dengan kehadiran dua tokoh daerah dan juga mantan petinggi GAM, Zaini Abdullah dan Zakaria Saman. Kabupaten Aceh Utara yang merupakan daerah asal Muzakkir Manaf (Cagub PA) juga tidak bisa diandalkan sebagai basis PA karena kehadiran Tarmizi Karim yang juga putera daerah.

Kabupaten Aceh Timur yang awalnya juga merupakan basis PA nampaknya juga tidak akan mampu mendulang suara yang signifikan kepada Muzakkir Manaf. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kehadiran Abdullah Puteh yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh di era konflik, ditambah lagi dengan kehadiran salah satu kandidat Bupati Aceh Timur (mantan GAM) yang kononnya juga mengarahkan dukungannya kepada Irwandi Yusuf. Perubahan peta politik ini juga terjadi di beberapa daerah lainnya di Aceh, seperti Bener Meriah, Aceh Tengah dan wilayah Barat Selatan.

Apakah Partai Aceh akan tetap memperoleh kejayaan pada Pilkada 2017? Tentu hanya waktu yang bisa menjawabnya. Akhirnya kita hanya dapat berdoa agar pertarungan para pewaris Tiro pada pilkada kali ini dapat berjalan aman dan damai, tidak seperti pilkada dan pileg sebelumnya yang diwarnai oleh berbagai rupa kekerasan dan teror. Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Waspada

Share this article :


No comments:

Post a Comment