Thursday, October 13, 2016

Tim Sukses dan Sukses Tim

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 06 Oktober 2016

Rombongan Deklarasi Cabup/ Cawabub Partai Aceh Di Bireuen
Oktober 2016

Istilah tim sukses lazim dipakai dalam kegiatan suksesi politik, baik dalam Pilkada, Pileg, maupun Pilpres. Namun demikian, istilah ini tidak terbatas pada dua momen itu saja. Hampir setiap kegiatan berbau politik selalu saja melibatkan tim sukses. Seorang siswa yang ingin menjadi ketua OSIS saja butuh kepada tim sukses guna menciptakan kondisi agar dirinya terpilih. Seorang keuchik di gampong juga “dijamin” tidak akan menang tanpa kerja keras tim sukses. Demikian pula dengan jabatan teungku imum atau bahkan Imum Syik – yang meskipun sakral, tetap saja dibayangi oleh berbagai trik tim sukses.

Untuk dapat menjadi ketua ormas kita pun dituntut bekerja sama dengan tim sukses. Begitu juga dengan jabatan sebagai ketua partai politik, kita juga harus mampu melakukan “servis” terbaik terhadap tim sukses. Tanpa tim sukses, “kacau” rasanya. Mungkin cuma jabatan kepala keluarga yang tidak butuh kepada tim sukses, karena organisasi keluarga tidak berbasis politik.

Tim sukses memegang peranan penting dalam kontestasi politik, baik untuk memenangkan calon yang diusungnya, atau pun sebaliknya membuat calon tersebut terjungkal. Idealnya, tim sukses adalah cerminan dari calon yang diusungnya, namun dalam realitas, sebagian tim sukses justru menjadi “rayap” yang membuat pesona kandidatnya hancur di mata publik. Tim sukses serupa ini – yang merusak citra kandidat lebih layak disebut sebagai sukses tim. Artinya, kesuksesan hanya berada di pihak mereka (tim), bukan di pihak kandidat. Kesuksesan dimaksud bisa berupa aliran dana dan fasilitas yang mereka nikmati selama kegiatan suksesi. Sedangkan sang kandidat hanya bisa gigit jari.

Diakui atau pun tidak, pada umumnya sosok kandidat dalam dunia politik itu ibarat orang yang sedang karam di tengah lautan. Dengan bahasa yang lebih halus, seseorang yang ingin meraih kemenangan di pentas politik itu akalnya tinggal setengah, sedangkan setengah lagi adalah gumpalan-gumpalan khayali yang senantiasa meliputi. Jika otak para kandidat itu dibelah, maka kita akan mendapat bongkahan harapan yang kian menggurita. Dalam kondisi inilah, tim sukses akan bertindak sebagai “dewa penyelamat.”

Kandidat yang sedang karam di tengah lautan akan diselamatkan dengan rupa-rupa mantra oleh tim sukses. Demikian pula bongkahan harapan yang ada di otak kandidat akan disangga oleh otot-otot kuat tim sukses sehingga harapan tersebut dapat terwujud. Di musim-musim politik, kandidat dan tim sukses ibarat pinang tak terbelah – keduanya menyatu dan mesra, sebut saja seperti Romeo dan Juliet. Tapi, ketika pemilu telah usai, kandidat dan tim sukses berganti peran sebagai Tom and Jerry.

Sukses Tim 

Seperti telah diulas di atas, tim sukses adalah sekumpulan orang yang dengan segenap tenaga melakukan berbagai manuver dan propaganda agar kandidat yang diusungnya memperoleh kemenangan. Sebaliknya, sekumpulan orang yang dengan segala kelihaian dan basa-basinya – yang melakukan berbagai trik agar kandidat terpengaruh dengan mantera palsunya – sehingga si kandidat memberikan segala fasilitas kepadanya – dengan harapan beroleh kemenangan, maka mereka adalah sukses tim, bukan tim sukses. Keduanya (tim sukses dan sukses tim) nampak mirip sehingga ramai kandidat yang terkecoh.

Sebagaimana telah disinggung, tim sukses akan bertindak sebagai “dewa penyelamat” ketika kontestasi politik digelar. Sedangkan sukses tim akan memanfaatkan segala keadaan guna meraup keuntungan untuk timnya. Sukses tim dengan segala keahliannya juga akan memanfaatkan kegalauan kandidat dengan menjual harapan-harapan yang menjulang, sehingga kandidat terpana dan rela mengeluarkan sejumlah biaya demi terwujudnya harapan itu.

Ketika pesta politik usai, jika kandidatnya menang, maka tim sukses akan bereuforia untuk beberapa lama – dan seiring perjalanan waktu akan terdengar tangisan-tangisan kecil dari mereka dan akhirnya tangisan itu akan berevolusi menjadi sebuah ledakan dahsyat – dan lahirlah perlawanan terhadap kandidat yang diusungnya tersebab banyak janji yang tak terpenuhi. Dalam kondisi ini, si kandidat akan berubah menjadi hantu yang sulit ditemui dan tim sukses pun akan meramu sejumlah mantera guna menghujat si kandidat yang dulu dibelanya mati-matian. Adapun jika kandidat yang diusungnya kalah, tim sukses pun akan berurusan dengan pasal hutang-piutang. Dalam sebagian kasus, si kandidat akan mencari tempat-tempat sunyi guna menyepikan diri dari kejaran tim sukses.

Berbeda halnya dengan tim sukses, sukses tim akan bernasib lebih mujur jika kandidatnya menang. Dia akan terus melagukan hikayat ular guna melilit kandidatnya yang telah beroleh kejayaan. Meskipun si kandidat berusaha melupakannya, namun sukses tim tersebut tidak akan pernah berduka, karena selama suksesi politik berlangsung, dia telah meraup keuntungan yang berlimpah, berupa makan minum, peng pulsa, peng minyeuk dan segenap fasilitas lainnya. Demikian pula jika kandidatnya kalah, sukses tim akan bersegera meninggalkan kandidatnya tersebut dalam kesendirian – sambil melambaikan tangan sembari melenggok girang.

Lantas bagaimana caranya mengidentifikasi seorang tim sukses? Secara sederhana, ada beberapa indikator yang bisa dijadikan sebagai alat ukur, di antaranya: bekerja sesuai fungsi dan jabatannya; menjaga perilaku dalam berkampanye sehingga kandidatnya tidak tercemar; melaporkan kenyataan di lapangan sesuai dengan fakta; menasehati kandidatnya jika melakukan kesalahan; menggunakan anggaran dari kandidat sehemat-hematnya; menutupi aib kandidatnya; bekerjasama dengan tim lainnya dan tidak membuat faksi sendiri; dan tidak menjadikan kandidatnya sebagai ATM.

Adapun sukses tim dapat diidentifikasi dengan beberapa ciri berikut: sering membawa kabar gembira bahwa seisi kampung sudah klop untuk mendukung; sering melapor bahwa anggaran harus ditambah; sering memuji kandidatnya dengan senandung menidurkan; sering menjelekkan lawan politik di depan kandidatnya; memastikan bahwa kandidatnya akan menang mutlak; suka merendahkan anggota tim; meminta fasilitas berlebihan seperti mobil operasional, peng pulsa, peng minyeuk, dan peng kupi.

Setelah memahami ulasan di atas, saya menyarankan kepada tim sukses untuk hati-hati agar tidak ditipu oleh kandidat. Demikian pula kandidat harus pandai-pandai memilih tim agar tidak ditipu oleh sukses tim. Kandidat, tim sukses dan sukses tim biasanya akan saling bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling lihai menipu. Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah diterbitkan di AceHTrend

Share this article :


No comments:

Post a Comment