Wednesday, September 28, 2016

Isu Aliran Sesat dan Kekerasan Komunal

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 September 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.aljazeera.com
Dalam konteks sosiologis sebagaimana dikemukakan oleh para sosiolog, di antaranya Martin Van Bruinessen, aliran sesat adalah sebuah pemikiran (paham) yang menyimpang dari keyakinan mainstream. Dalam konteks yang lebih luas, term mainstream (yang dianggap benar) dan term sesat (sempalan) sangat berkaitan dengan kondisi politik. Artinya, paham yang dianut oleh negara dan para penguasa politik akan dianggap sebagai mainstream. Sebaliknya, paham yang dianut oleh minoritas sering diidentikkan sebagai paham menyimpang (sempalan).


Tuesday, September 20, 2016

Toleransi Hanya di Bibir!

(Pelarangan Mesjid Muhammadiyah di Bireuen)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 September 2016

Foto HAMKA bersama Tokoh Muhammadiyah Aceh
Sumber: Majalah Pedoman Masjarakat No. 11 Thn Ke IV, 16 Maret 1938
(Koleksi Pribadi Kamaroezzaman Abdullah Musa)

Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, Islam telah mengenal konsep toleransi (tasamuh) jauh sebelum konsep tersebut dikampanyekan oleh Barat. Islam juga sudah mempraktikkan Hak Azasi Manusia ketika Eropa masih “tertidur.” Islam adalah agama yang syumul (sempurna) yang tidak hanya mengatur tentang hubungan manusia dengan Rabbnya, tetapi juga mengandung sejumlah pedoman terkait hubungan antar sesama manusia, baik hubungan seagama maupun lintas pemeluk agama. Islam juga menyediakan azas-azas yang menyangkut dengan politik dan tata negara serta segudang konsep lainnya.


Sunday, September 18, 2016

Pemuda dan Fenomena “Politik Pragmatis”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 September 2016


Soekarno. Sumber Foto: http://www.bintang.com/
“Beri aku seribu orang tua, akan kucabut semeru dari akarnya. Dan beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncangkan dunia.”

Kalimat yang kononnya diucapkan oleh Soekarno ini begitu populer di tanah air. Kalimat ini hampir selalu digunakan untuk menyemangatkan kaum muda. Dalam kalimat ini, pemuda digambarkan sebagai sosok yang penuh tenaga, kuat dan cerdas sehingga dengan jumlah sepuluh orang saja mampu mengguncang dunia yang begitu luas. Berbeda dengan orang tua, meskipun berjumlah seribu orang hanya mampu mencabut akar semeru.


Perbedaan Bukan Untuk Saling Menindas!

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 05 September 2016

Mesjid Muhammadiyah Bireuen

Kita dilahirkan dari rahim berbeda. Kita hidup dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kita belajar dari guru yang berbeda. Kita memiliki tingkat kecerdasan berbeda. Kita memiliki emosi yang berbeda. Dan segudang perbedaan telah melingkar, tidak ada pintu keluar. Lantas kenapa kita risih dengan perbedaan? Kenapa tidak kita nikmati saja perbedaan itu? Bukankah perbedaan itu satu keniscayaan? Karena perbedaan itulah kita dituntut untuk saling mengenal – mengenal sesuatu yang berbeda dari diri kita.


Sunday, September 11, 2016

Negeri “Durkaha”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 02 September 2016

Foto: www.suara.com

Ada perasaan miris bercampur marah ketika membaca sebuah artikel di JPNN yang bertajuk “Rumah Pengibar Merah Putih Saat Proklamasi Juga Digusur”. Beliau adalah H. Ilyas Karim warga kelurahan Rajawati yang menurut riwayat adalah salah seorang pengibar bendera Merah Putih pada saat Indonesia Raya yang kita huni ini diproklamirkan oleh Soekarno Hatta. JPNN merilis kabar bahwa rumah H. Ilyas Karim juga ikut digusur oleh aparat negara. Padahal, sebagaimana pengakuannya kepada JPNN, beliau bukanlah warga liar, beliau membayar pajak, memiliki KTP sebagai bukti beliau adalah penduduk yang sah – bukan migran dari negara asing. Bahkan beliau juga mengaku memiliki surat tanah dan bangunan yang lengkap – pertanda bahwa beliau bukan pengungsi dari negara luar.