Tuesday, August 30, 2016

“Wafatnya” Toleransi di Bireuen

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 26 Agustus 2016



Saya yakin, siapa pun akan tersenyum dan terkagum-kagum pada saat membaca komentar ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bireuen, saudara Hamdani. Komentar yang lumayan lucu dan bahkan menggelitik. Komentar dimaksud adalah terkait tidak dikeluarkannya rekomendasi pembangunan Mesjid Taqwa Muhammadiyah di Juli dengan alasan yang “aduhai”.


Saturday, August 27, 2016

Aceh; Nasionalisme Yang Terus Diuji

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 14 Agustus 2016

Khairil Miswar 2016

Bagi masyarakat Aceh, Agustus merupakan bulan yang sangat istimewa tersebab ada dua momen sakral yang terus diperingati saban tahun. 17 Agustus adalah hari paling “keramat” bagi masyarakat Aceh, di mana daerah ini pernah menjadi pusat pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi militer Belanda tempo doeloe. Para mujahidin Aceh, dimulai dari Tgk Chiek Ditiro sampai dengan Tgk. Dawud Beureueh telah mengukir sejarah gemilang dengan perjuagan heroik untuk mengusir para serdadu Belanda. Di saat daerah lain di Indonesia telah berhasil ditundukkan oleh penjajah, Aceh kembali menunjukkan rasa nasionalismenya untuk menopang agar Republik yang baru seumur jagung itu dapat berdiri tegak. Radio Rimba Raya berhasil meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia masih berdenyut di saat Belanda melakukan agresi militernya. Perang Medan Area menjadi lahan jihad bagi para mujahidin dan nasionalis Aceh agar Merah Putih tetap Berjaya.



Tuesday, August 23, 2016

Bireuen dalam “Rebutan”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 21 Agustus 2016

Khairil Miswar: Lukisan Budi Azhari
Bireuen, uteun ubeut, tapi rimueng jai that”
(Bireuen, hutannya kecil, tapi harimaunya banyak). Kalimat ini dan yang serumpun dengannya sudah sangat sering saya dengar dari mulut para politisi di Bireuen, baik secara langsung maupun dirawikan oleh orang lain. Entah kapan kalimat ini pertama kali muncul, wallahu a’lam – belum ada penelitian serius yang coba menyelidik. Masyarakat Bireuen (tentu tidak semuanya) sepertinya sudah akrab dengan kalimat ini. Setiap menjelang Pilkada (Pilbub) kalimat ini kembali ramai diucapkan dari mulut ke mulut. Tanpa butuh pemancar, kalimat ini terus menyebar menembus lorong-lorong kecil di perkampungan dan tidak ketinggalan gang-gang di perkotaan.