Wednesday, July 27, 2016

Kudeta Turki dan “Perang” Media Sosial

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 23 Juli 2016

Sultan Muhammad Al-Fatih
Sumber Foto: histoireislamique.wordpress.com

Upaya kudeta yang dilakukan oleh segelintir militer Turki beberapa waktu lalu terhadap Erdogan berakhir dengan kegagalan. Entah karena persiapan yang belum matang, atau “kharisma” Erdogan yang terlalu kuat sehingga dalam sekejap dapat diredam. Berbagai spekulasi pun berkembang pasca kudeta Turki. Sebagian pengamat, seperti dirilis sindonews.com (18/07/16) menilai ada kejanggalan dalam kudeta tersebut. Di antara kejanggalan dimaksud adalah aksi kudeta yang dilakukan antara pukul 21.00-200.00 malam, di mana masih banyak masyarakat yang terjaga. Sementara kudeta sebelumnya (sebagaimana lazimnya) dimulai pada pukul 04.00 pagi. Menurut pengamat, kejanggalan ini sangat kentara, karena kudeta yang dilakukan pada “jam-jam” sibuk sangat mungkin bagi Erdogan untuk menggerakkan massa guna melakukan perlawanan terhadap pemberontak dengan cara tampil di televisi.


Tu Sop dan Cerminan “Kejenuhan” Ulama

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 25 Juli 2016

Sumber Foto: www.naceh.com
Kemarin (24/07/16) sewaktu perjalanan pulang dari Samalanga dalam rangka mewawancarai seorang informan untuk kebutuhan penelitian, sesampai di kawasan Blang Bladeh, mobil butut yang saya tumpangi berjalan seperti merayap. Maju, berhenti, maju dan berhenti lagi. Seketika itu saya bangun dari “pembaringan” dan melihat jauh ke depan. Ternyata jalanan sedang dilanda macet. Saya berusaha melihat lebih jauh ke depan, samping dan belakang. Saya melihat ramai sekali masyarakat yang umumnya berkostum putih duduk rapi di mobil bak terbuka yang terus berjalan lambat. Sebagian yang lain menggunakan sepeda motor dan juga mobil minibus. Setelah merayap beberapa saat, mobil butut kami terus mendekat ke Lapangan Geulumpang Payong. Sampai di sana, jalanan juga terlihat macet dari arah timur (arah Matangglumpangdua). Setelah berusaha melihat kiri-kanan, saya baru tahu bahwa kemacetan tersebut terjadi akibat melimpah-ruahnya massa yang sama-sama menuju Glumpang Payong – dalam rangka Deklarasi Pasangan Balon Bupati Bireuen, Tu Sop – dr. Pur.


Sunday, July 10, 2016

Kutub Pemikiran Teuku Zulkhairi, Nauval dan Syah Reza

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 07 Juli 2016

Khairil Miswar 2016

Telah berlangsung diskusi menarik via tulisan di rubric kupi beungoh pada Ramadhan lalu antara Teuku Zulkhairi dan Nauval Pally Taran. Setelah menyimak ulasan dari dua sosok tersebut, maka dapat dipastikan jika keduanya berasal dari dua kutup pemikiran yang berbeda. Jika hendak memakai istilah yang digunakan oleh penulis-penulis kontemporer, maka Teuku Zulkhairi berada di kutup tradisionalisme skolastik yang sangat terikat dengan mazhab tertentu, sedangkan Nauval Pally Taran masuk dalam katagori tradisionalisme Salafi yang tidak terikat dengan mazhab tertentu, di mana pemikiraannya banyak merujuk pada praktek Salaf. Namun demikian klasifikasi ini tidaklah absolut. Artinya, masih terbuka peluang untuk direvisi kembali. Saya mungkin terlalu buru-buru dalam mengelompokkan kedua sosok ini, tapi klasifikasi ini penting guna mengurai “benang kusut” antaranya keduanya.