Tuesday, June 14, 2016

Aceh dan Toleransi Umat Yang Gagal

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 12 Juni 2016

Sumber Foto: Buku Gebyar Muktamar Muhammadiyah Ke 43

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada Februari 2016, saya mendapatkan satu eks salinan (copian) surat yang ditandatangi oleh Camat Juli, Drs. Munir. Salinan surat dan sejumlah lampiran tersebut saya peroleh dari seorang informan di Kabupaten Bireuen. Hal ini tidaklah aneh, karena saya sendiri adalah warga Kabupaten Bireuen. Surat tersebut berisi Hasil Rapat Musyawarah Rencana Pembangunan Mesjid At-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli.



Thursday, June 9, 2016

“Monopoli Mazhab” di Aceh

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 30 Mei 2016

Penulis di Mesjid Al-Izzah Cot Seurani, Aceh Utara
Jumat, 27 Mei 2016
Dengan dikeluarkannya Maklumat Perang 1873 oleh Belanda, Aceh memasuki perang panjang dengan para penjajah kulit putih. Perang Aceh-Belanda ini berlangsung lama dan memakan banyak korban di kedua belah pihak. Satu versi menyebut perang ini berlangsung selama 30 tahun (1873-1903), sedangkan versi yang lain menyebut 69 tahun (1873-1942), yaitu sampai datangnya Jepang ke Aceh. Tidak lama setelah Belanda pergi, Aceh kembali menggempur Jepang sampai akhirnya Jepang pun menyerah atas tekanan pihak sekutu. Pertumpahan darah di Aceh tidak berhenti di sini. Pada awal-awal kemerdekaan RI, tragedi berdarah kembali terjadi di Aceh dengan meletusnya Perang Cumbok, antara pihak ulama dan masyarakat – berhadapan dengan Ulee Balang yang berlanjut pada Revolusi Sosial yang sangat “menyedihkan” itu.