Monday, March 28, 2016

Politik Labeling

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: diversityrules.typepad.com

Mungkin tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya hidup ini jika kita tidak mengenal bahasa. Tentunya kita akan sulit melakukan komunikasi dengan orang lain. Untuk bisa melakukan komunikasi, kita membutuhkan bahasa, baik bahasa verbal, isyarat maupun melalui simbol-simbol tertentu. Namun dalam artikel ini, kajian kita fokus pada bahasa verbal, karena tipe bahasa inilah yang banyak digunakan manusia, khususnya di abad modern.


Mari Buat “Bom” di Kedai Kopi!

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: news.liputan6.com
“Di dunia ini hanya di Aceh yang 80 persen generasi muda menghabiskan waktu di warung kopi siang dan malam. Ini musibah yang lebih besar dari bom atom di Jepang.”


Monday, March 21, 2016

Pemimpin “Teler”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: perongratis.blogspot.com

Bagai jamur di musim hujan, peredaran dan juga konsumsi narkoba terus saja meningkat dari hari ke hari. Seperti kata pepatah “patah tumbuh hilang berganti.” Serupa pula dengan pepatah lain “mati satu tumbuh seribu.” Semakin diungkap semakin lihai. Satu pelaku ditangkap, ratusan lainnya bermunculan. Satu “markas” digrebeg, puluhan “markas” lainnya bertebaran, hampir di seluruh pelosok tanah air. Dari segi semangat, bandit-bandit narkoba ini patut diacungi jempol, tanpa rasa takut, tanpa segan dan tanpa rasa malu mereka terus menunjukkan eksistensinya. Begitulah! 


Sunday, March 20, 2016

Djangan Batja Boekoe!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.ihsyah.web.id

Kita semoea tentoe pernah mendengarkan jang bahwa ada sebahagian orang jang merasa alergi atau poen tidak soeka dengan boekoe. Orang terseboet kadang2 djuga melarang kita oentoek membatja boekoe karena ditakoetkan kita akan mendjadi tersesat nantinja. Dia senantiasa memberikan peringatan pada kita bahwa membatja boekoe dapat memboeat kita sesat. Saja tidak tahoe apakah orang2 seperti Hamka, Hasbi Ash-Shiddqiey, Ali Hasjimi, Mohammmad Natsir, Aboebakar Atjeh, Sirajuddin Abbas dan laen2 orang djoega sesat, karena mereka itoe adalah pengarang2 besar. Djika membatja boekoe itoe sesat, tentoelah pengarang2 boekoe lagi2 sesat karena mereka banjak menoelis boekoe.


Monday, March 14, 2016

Politik Burȏng Boh Leuping

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Maret 2016 

Ilustrasi. Sumber Foto: www.geishabar.com

Saya dan anda pasti pernah merasakan masa kecil, masa di mana kita hidup tanpa beban. Kerja kita cuma makan, bernyanyi dan berlari-lari. Jika terjadi masalah, tinggal lapor ayah ibu. Ini adalah kondisi umum, meskipun ada sebagian saudara kita yang merasakan pengalaman berbeda.


Tuesday, March 8, 2016

Tere Liye dan Jurus Mabuk Nitizen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.muslimdaily.net


Seolah sudah menjadi “tradisi”, ketika ada ulama keliru fatwa, ada tokoh keseleo lidah, ada akademisi salah bicara dan ada penulis “salah urat” – maka aksi bully pun berhamburan. Aksi bully ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Jika ditelisik lebih jauh, perilaku bully ini sudah ada sejak manusia itu ada. Namun perilaku bully tersebut mencapai puncak “kejayaannya” di zaman ini, di mana kemajuan teknologi informasi semakin “menggila.”


Friday, March 4, 2016

Syariat Islam di Aceh dan Sikap Ambigu

(Tragedi Indonesian Model Hunt 2016 dan Miss Indonesia 2016)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Februari 2016

Sumber Foto: aceh.tribunnews.com

Kehadiran Flavia Celly Jatmiko di pentas Miss Indonesia 2016 beberapa waktu lalu telah mengakibatkan “kegaduhan” di kalangan masyarakat Aceh. Kegaduhan pertama muncul di media sosial dengan adanya kritikan dari para nitizen terhadap panitia Miss Indonesia 2016. Aksi protes tersebut diawali dengan adanya surat terbuka dari beberapa kalangan dan juga dari anggota DPD RI asal Aceh yang ditujukan kepada Flavia Celly Jatmiko, gadis asal Surabaya yang telah mencatut nama Aceh dalam ajang bergengsi tersebut. Kecaman terhadap Flavia Celly Jatmiko disebabkan karena yang bersangkutan telah mencatut nama Aceh tanpa mengantongi izin dari Pemerintah Aceh. Tidak hanya itu, kemarahan sebagian masyarakat Aceh juga disebabkan oleh penampilan Flavia Celly Jatmiko yang tidak sesuai dengan syariat Islam dan juga kearifan lokal di Aceh. Pada perkembangan selanjutnya, kononnya pernyataan keberatan juga datang dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang ditujukan kepada penyelenggara Miss Indonesia 2016. Aksi pencatutan nama Aceh tidak hanya terjadi tahun ini, sebelumnya nama Aceh juga sempat dicatut oleh Ratna Nurlia Alfiandani dalam ajang Miss Indonesia 2015 yang juga berasal dari Surabaya. Miris memang.


Tuesday, March 1, 2016

Miss Aceh, Bergek dan “Kebencian Imitasi”

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 Februari 2016

Sumber Foto: www.muvila.com

Tentunya setiap orang, siapa pun dia – akan merasa terusik dan marah jika kehormatannya dinodai. Kemarahan itu akan semakin memuncak jika penodaan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak pantas. Jika penodaan itu hanya terjadi sekali, bisa jadi itu sebuah kekhilafan, tetapi jika dilakukan berulang-ulang seperti episode sinetron, maka itu adalah tabi’at. Siapa pun dan dari kelompok manapun yang memiliki tabi’at menodai kehormatan orang lain, maka “melawan” adalah solusi paling mujarab.