Monday, December 26, 2016

Ujian Atau Hukuman?

(Refleksi 12 Tahun Gempa Tsunami Aceh)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Desember 2016

Khairil Miswar di depan Mesjid Ulee Lheu Banda Aceh  Awak Tahun 2005

Rabu pagi (07/12/2016) menjelang subuh sekira pukul 05.00 Wib, Aceh kembali diguncang gempa berkekuatan 6,5 SR. Puluhan bangunan toko, rumah warga dan beberapa rumah ibadah pun ambruk. Korban pun berjatuhan, sampai saat ini dilaporkan bahwa korban sudah mencapai sekitar 102 orang masyarakat meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Pemandangan yang tak kalah menyedihkan adalah rubuhnya sejumlah mesjid di Kabupaten Pidie Jaya. Kerusakan juga menimpa dayah Mudi Mesra Samalanga dan juga Kampus STAI Al-Aziziyah, pusat pendidikan para santri di Kabupaten Bireuen.


Sampai Kapan Kita Harus Lebay?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 Desember 2016

Sumber Foto: T. A. Talsya

Dalam beberapa hari terakhir ini, nama Cut Nyak Meutia terus disebut-sebut. Media sosial pun tumpah-ruah dengan komentar terkait pahlawan wanita Aceh ini. Semua bicara tentang Cut Nyak Meutia. Tentu tidak ada yang aneh ketika Cut Nyak Meutia ini terus dibicarakan, sebab beliau adalah sosok berani yang telah berjuang mengusir kaphe Belanda dari tanah Aceh. Namun, diskursus tentang Cut Nyak Meutia yang berlangsung dalam beberapa hari ini tidak terkait sama sekali dengan aktivitas perjuangan beliau di masa lalu. Tapi, hanya sebuah ekspresi kekesalan sebagian anak negeri karena menurut mereka Cut Nyak Meutia telah “dilecehkan.”


Friday, December 16, 2016

Bukan Salah Dawud Beureueh

(Sebuah Koreksi)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 November 2016

Abu Dawud Beureueh (Pegang Tongkat)
Sumber Foto: T. A. Talsya

“Aceh tidak jadi merdeka karena kesalahan Daud Beureueh.” Kalimat sederhana ini sering diulang-ulang oleh sebagian kalangan di Aceh. Bahkan sadisnya lagi, ada pula segelintir pihak yang menuding bahwa Daud Beureueh telah menjual Aceh kepada Jakarta, padahal pada saat kemerdekaan RI diproklamirkan, seperti disebut Al Chaidar, Teungku Umar Tiro selaku pewaris keluarga Tiro pun ikut mengibarkan Merah Putih. Terlepas siapa yang pertama sekali meluncurkan statemen dha’if ini, tapi yang jelas Daud Beureueh tidak mungkin melakukan klarifikasi atas penistaan sejarah semacam ini.


Wednesday, November 16, 2016

Dayahisme Vs Acehisme dalam Pilkada Bireuen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Oktober 2016



Sebagian masyarakat Bireuen beberapa waktu lalu terhebohkan dengan keputusan tim dokter RSUZA yang menyatakan bahwa salah seorang bakal calon Bupati atas nama Saifannur tidak lulus tes kesehatan. Kabar duka ini berkembang cepat dengan bantuan media sosial. Saifannur sebagaimana dirilis oleh beberapa media menyatakan menolak hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim dokter tersebut. Aksi penolakan ini kemudian berlanjut dengan “serbuan” tim sukses Saifannur ke Panwaslih Aceh. Nasib serupa (tidak lulus tes kesehatan) juga dialami oleh sejumlah bakal calon lainnya di beberapa daerah di Aceh.


Mari Selamatkan Indonesia, Tuan Presiden!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 November 2016

Sumber Foto: Poskota News

Sungguh di luar dugaan bahwa aksi 4 November 2016 (411) yang melibatkan sejumlah komponen Umat Islam di tanah air berlangsung damai, aman dan tertib. Jumlah massa yang kabarnya jutaan telah berhasil menebar damai di hari yang berkah, hari Jumat. Mereka melakukan aksi damai setelah sebelumnya bermunajat kepada Tuhannya melalui shalat berjamaah – dengan kondisi berdesak-desakan. Dengan jumlah massa yang membludak itu, jika mereka mau, mereka bisa saja menurunkan Presiden dari tahtanya, tapi kenyataannya tidak mereka lakukan. Hal ini membuktikan bahwa kaum muslimin itu setia pada tujuannya – mereka ingin hukum ditegakkan seadil-adilnya.


Saling Tipu Antara Rakyat dan Politisi

Oleh: Khairil Miswar 

Batee Iliek, Samalanga 11 November 2016

Sumber Foto: Enrichment Journa

Agama melarang keras menipu. Banyak sekali teks-teks agama yang menjadi dasar hukum dilarangnya menipu. Perbuatan menipu adalah perbuatan yang keji. Menipu tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan diri sendiri. Pada dasarnya menipu adalah sebuah perbuatan yang jika terus diulang-ulang maka ia akan menjadi satu sifat yang melekat pada diri seseorang.


Tuesday, November 8, 2016

Pemimpin Jubun

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 06 November 2016


Sumber Foto: Pixabay


Idealnya, seorang pemimpin itu dicintai oleh rakyatnya, dan ia pun mencintai rakyatnya. Kondisi ini hanya akan terjadi jika hubungan keduanya berada dalam harmoni. Dan harmoni itu sendiri baru tercapai jika pemimpin itu mampu mengayomi, melindungi dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Adapun rakyat menunjukkan sikap taatnya kepada si pemimpin. Jika keseimbangan ini mampu dibangun, maka keharmonisan itu akan hadir dengan sendirinya.


Adili Ahok!

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 16 Oktober 2016

Sumber Foto: LinkedIn

Pasca pernyataannya yang kontroversial dan dianggap menistakan Islam – Ahok terus saja “diserang” dari segala penjuru oleh umat Islam Indonesia. Statemen Ahok terkait surat Al-Maidah ayat 51 telah memicu terjadinya reaksi keras dari kaum muslimin. Dalam pernyataannya, yang kemudian tersebar luas melalui media sosial – Ahok disebut-sebut telah melakukan penistaan terhadap agama dan juga “pelecehan” terhadap para tokoh agama (ulama). Pada awalnya, Ahok bersikukuh bahwa dirinya tidak berniat menistakan Alquran. Namun dalam perkembangan selanjutnya, Ahok secara resmi meminta maaf kepada umat Islam.


Tuesday, November 1, 2016

Para Pewaris Tiro dalam Pilkada Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Oktober 2016

Hasan Tiro
Foto: Viva.co.id

Ada yang unik dalam Pilkada Aceh 2017, di mana ada empat tokoh “pewaris Tiro” yang akan bersaing ketat. Harian Waspada Medan dalam edisi 26/10/16 juga menampilkan headline bertajuk 4, 5, 6 Mantan Petinggi GAM. Para pewaris Tiro (anak didik Hasan Tiro) dimaksud adalah Zakaria Saman (nomor urut 2), Zaini Abdullah (nomor urut 4), Muzakkir Manaf (nomor urut 5) dan Irwandi Yusuf (nomor urut 6). Keempat tokoh ini nantinya akan “bertempur” meraih simpati masyarakat Aceh pada Februari mendatang.


Ahok dan Alquran

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Oktober 2016

Ahok. Sumber Foto: Benteng NKRI

Kalau boleh jujur, saya melihat Ahok tak ubahnya pelawak yang sedang naik daun. Selama kepemimpinannya di Jakarta, entah sudah berapa banyak lawakan yang dilakoninya. Setiap lawakan yang dilakukan oleh Ahok kerap kali menuai kritik dari publik, baik dari masyarakat Jakarta, atau pun masyarakat Indonesia pada umumnya.


Berebut “Paling GAM”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Oktober 2016

Foto Para Pendukung PA pada Kampanye Pilkada 2012

Guru saya, Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, dalam salah satu artikelnya dengan tajuk Menyoal Eskalasi Konflik Keagamaan di Harian Serambi Indonesia beberapa waktu lampau telah mengupas satu topik menarik terkait fenomena keagamaan di Aceh. Gejala sosial kegamaan yang sedang melanda Aceh itu menurut guru saya telah melahirkan paradigma baru dalam beragama: “berebut paling siap mati.” Dalam artikel itu, guru saya mengupas tentang berbagai problem keagamaan dan juga kasus-kasus intoleransi antar umat beragama di Aceh. Sebelumnya, juga pernah muncul berbagai tulisan dari penulis lainnya, terkait gejala sosial keagamaan dengan topik dan tajuk hampir serupa: “Berebut Paling Saleh.” 


Monday, October 24, 2016

Dosen Bek Sok, Mahasiswa Bek Ulok

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 Oktober 2016

Dr. Hisyami Yazid, Lc, M. Ag
Salah Seorang Dosen Favorit Penulis di PPs UIN Ar-Raniry

Saat ini netizen Aceh sedang larut dalam keasyikan apologis dalam menyikapi kasus mahasiswa versus dosen di Universitas Negeri Malikussaleh (Unimal). Sebagian kalangan dengan berbagai rupa kampanye emosional terlihat begitu bersemangat menggalang dukungan untuk si mahasiswi. Sedangkan sebagian kalangan lagi dengan segala daya dan upaya juga melakukan “jihad argumen” guna membela sang dosen. Ketika kabar kontroversial ini bergulir, saya berusaha menyimak setiap argumen yang saling berbenturan di media sosial.


MUI dan Para “Pecundang”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Oktober 2016

Prof. Dr. HAMKA, Ketua MUI Pertama
Sumber Foto: Buku Rusydi Hamka

Pernyataan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta Ahok diproses hukum karena telah menghina Alquran dan ulama akhirnya menuai protes dari insan-insan latah dan para “pecundang” agama. Republika Online (18/10/16) mengabarkan bahwa sebuah petisi agar MUI dibubarkan telah mencuat di laman chage.org. Dalam petisi dimaksud, MUI dituding sebagai provokator yang telah memicu keresahan di tengah masyarakat. MUI juga dituduh sebagai lembaga yang menebarkan kebencian, permusuhan dan teror terhadap sesama.


Tuesday, October 18, 2016

Politik Rebus Telur Hiu

Oleh: Khairil Miswar 

Lhokseumawe, 12 Oktober 2016

Ilustrasi. Sumber: www.pinterest.com
Dunia politik tidak selamanya identik dengan keseriusan, sama halnya dengan bunga, ia memiliki rupa-rupa warna. Terkadang politik itu penuh dengan kesedihan, kedegilan, kekacauan, bahkan ketakutan. Politik juga sebuah komedi yang penuh dengan lawakan dari para pelakunya. Tersebab politik itu penuh warna, maka berbeda-beda pula tipikal para politisi itu, tergantung kekuatan nalar dan mental masing-masing mereka.


Thursday, October 13, 2016

Tim Sukses dan Sukses Tim

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 06 Oktober 2016

Rombongan Deklarasi Cabup/ Cawabub Partai Aceh Di Bireuen
Oktober 2016

Istilah tim sukses lazim dipakai dalam kegiatan suksesi politik, baik dalam Pilkada, Pileg, maupun Pilpres. Namun demikian, istilah ini tidak terbatas pada dua momen itu saja. Hampir setiap kegiatan berbau politik selalu saja melibatkan tim sukses. Seorang siswa yang ingin menjadi ketua OSIS saja butuh kepada tim sukses guna menciptakan kondisi agar dirinya terpilih. Seorang keuchik di gampong juga “dijamin” tidak akan menang tanpa kerja keras tim sukses. Demikian pula dengan jabatan teungku imum atau bahkan Imum Syik – yang meskipun sakral, tetap saja dibayangi oleh berbagai trik tim sukses.


Friday, October 7, 2016

Pemimpin Hercules

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 Oktober 2016

Sumber: gizmodo.com
Tersiar kabar bahwa beberapa calon pemimpin di Aceh, baik bacalon Gubernur, walikota dan bupati beserta bacalon wakilnya tengah dilanda duka yang mendalam – luka yang menusuk ulu hati. Sedih! Begitulah suasana hati yang mendera beberapa tokoh yang punya cita-cita besar untuk menjadi pemimpin di tanoh indatu.


Tuesday, October 4, 2016

Latah Boleh, Tapi Jangan Terlalu…

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 28 September 2016

Sumber: habadaily.com
Kemarin malam (27/09/16) ketika sedang menunggu bus untuk meluncur ke Kuta Raja, seperti biasa saya “utak-atik” facebook – untuk menghilangkan kejenuhan karena bus yang ditunggu tak datang-datang. Begitu layar facebook terbuka, terpampanglah sebuah foto – yang rupanya sedang menghebohkan jagad maya di Aceh. Dalam foto itu, Tgk. H. Usman Ali yang dikenal dengan Abu Kuta Krueng – nampak sedang mencium (dengan kening) tangan Gubernur Aceh (Zaini Abdullah) sembari tangan kirinya memegang “kunci besar.”


Wednesday, September 28, 2016

Isu Aliran Sesat dan Kekerasan Komunal

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 September 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.aljazeera.com
Dalam konteks sosiologis sebagaimana dikemukakan oleh para sosiolog, di antaranya Martin Van Bruinessen, aliran sesat adalah sebuah pemikiran (paham) yang menyimpang dari keyakinan mainstream. Dalam konteks yang lebih luas, term mainstream (yang dianggap benar) dan term sesat (sempalan) sangat berkaitan dengan kondisi politik. Artinya, paham yang dianut oleh negara dan para penguasa politik akan dianggap sebagai mainstream. Sebaliknya, paham yang dianut oleh minoritas sering diidentikkan sebagai paham menyimpang (sempalan).


Tuesday, September 20, 2016

Toleransi Hanya di Bibir!

(Pelarangan Mesjid Muhammadiyah di Bireuen)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 September 2016

Foto HAMKA bersama Tokoh Muhammadiyah Aceh
Sumber: Majalah Pedoman Masjarakat No. 11 Thn Ke IV, 16 Maret 1938
(Koleksi Pribadi Kamaroezzaman Abdullah Musa)

Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, Islam telah mengenal konsep toleransi (tasamuh) jauh sebelum konsep tersebut dikampanyekan oleh Barat. Islam juga sudah mempraktikkan Hak Azasi Manusia ketika Eropa masih “tertidur.” Islam adalah agama yang syumul (sempurna) yang tidak hanya mengatur tentang hubungan manusia dengan Rabbnya, tetapi juga mengandung sejumlah pedoman terkait hubungan antar sesama manusia, baik hubungan seagama maupun lintas pemeluk agama. Islam juga menyediakan azas-azas yang menyangkut dengan politik dan tata negara serta segudang konsep lainnya.


Sunday, September 18, 2016

Pemuda dan Fenomena “Politik Pragmatis”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 September 2016


Soekarno. Sumber Foto: http://www.bintang.com/
“Beri aku seribu orang tua, akan kucabut semeru dari akarnya. Dan beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncangkan dunia.”

Kalimat yang kononnya diucapkan oleh Soekarno ini begitu populer di tanah air. Kalimat ini hampir selalu digunakan untuk menyemangatkan kaum muda. Dalam kalimat ini, pemuda digambarkan sebagai sosok yang penuh tenaga, kuat dan cerdas sehingga dengan jumlah sepuluh orang saja mampu mengguncang dunia yang begitu luas. Berbeda dengan orang tua, meskipun berjumlah seribu orang hanya mampu mencabut akar semeru.


Perbedaan Bukan Untuk Saling Menindas!

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 05 September 2016

Mesjid Muhammadiyah Bireuen

Kita dilahirkan dari rahim berbeda. Kita hidup dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kita belajar dari guru yang berbeda. Kita memiliki tingkat kecerdasan berbeda. Kita memiliki emosi yang berbeda. Dan segudang perbedaan telah melingkar, tidak ada pintu keluar. Lantas kenapa kita risih dengan perbedaan? Kenapa tidak kita nikmati saja perbedaan itu? Bukankah perbedaan itu satu keniscayaan? Karena perbedaan itulah kita dituntut untuk saling mengenal – mengenal sesuatu yang berbeda dari diri kita.


Sunday, September 11, 2016

Negeri “Durkaha”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 02 September 2016

Foto: www.suara.com

Ada perasaan miris bercampur marah ketika membaca sebuah artikel di JPNN yang bertajuk “Rumah Pengibar Merah Putih Saat Proklamasi Juga Digusur”. Beliau adalah H. Ilyas Karim warga kelurahan Rajawati yang menurut riwayat adalah salah seorang pengibar bendera Merah Putih pada saat Indonesia Raya yang kita huni ini diproklamirkan oleh Soekarno Hatta. JPNN merilis kabar bahwa rumah H. Ilyas Karim juga ikut digusur oleh aparat negara. Padahal, sebagaimana pengakuannya kepada JPNN, beliau bukanlah warga liar, beliau membayar pajak, memiliki KTP sebagai bukti beliau adalah penduduk yang sah – bukan migran dari negara asing. Bahkan beliau juga mengaku memiliki surat tanah dan bangunan yang lengkap – pertanda bahwa beliau bukan pengungsi dari negara luar.


Tuesday, August 30, 2016

“Wafatnya” Toleransi di Bireuen

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 26 Agustus 2016



Saya yakin, siapa pun akan tersenyum dan terkagum-kagum pada saat membaca komentar ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bireuen, saudara Hamdani. Komentar yang lumayan lucu dan bahkan menggelitik. Komentar dimaksud adalah terkait tidak dikeluarkannya rekomendasi pembangunan Mesjid Taqwa Muhammadiyah di Juli dengan alasan yang “aduhai”.


Saturday, August 27, 2016

Aceh; Nasionalisme Yang Terus Diuji

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 14 Agustus 2016

Khairil Miswar 2016

Bagi masyarakat Aceh, Agustus merupakan bulan yang sangat istimewa tersebab ada dua momen sakral yang terus diperingati saban tahun. 17 Agustus adalah hari paling “keramat” bagi masyarakat Aceh, di mana daerah ini pernah menjadi pusat pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi militer Belanda tempo doeloe. Para mujahidin Aceh, dimulai dari Tgk Chiek Ditiro sampai dengan Tgk. Dawud Beureueh telah mengukir sejarah gemilang dengan perjuagan heroik untuk mengusir para serdadu Belanda. Di saat daerah lain di Indonesia telah berhasil ditundukkan oleh penjajah, Aceh kembali menunjukkan rasa nasionalismenya untuk menopang agar Republik yang baru seumur jagung itu dapat berdiri tegak. Radio Rimba Raya berhasil meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia masih berdenyut di saat Belanda melakukan agresi militernya. Perang Medan Area menjadi lahan jihad bagi para mujahidin dan nasionalis Aceh agar Merah Putih tetap Berjaya.



Tuesday, August 23, 2016

Bireuen dalam “Rebutan”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 21 Agustus 2016

Khairil Miswar: Lukisan Budi Azhari
Bireuen, uteun ubeut, tapi rimueng jai that”
(Bireuen, hutannya kecil, tapi harimaunya banyak). Kalimat ini dan yang serumpun dengannya sudah sangat sering saya dengar dari mulut para politisi di Bireuen, baik secara langsung maupun dirawikan oleh orang lain. Entah kapan kalimat ini pertama kali muncul, wallahu a’lam – belum ada penelitian serius yang coba menyelidik. Masyarakat Bireuen (tentu tidak semuanya) sepertinya sudah akrab dengan kalimat ini. Setiap menjelang Pilkada (Pilbub) kalimat ini kembali ramai diucapkan dari mulut ke mulut. Tanpa butuh pemancar, kalimat ini terus menyebar menembus lorong-lorong kecil di perkampungan dan tidak ketinggalan gang-gang di perkotaan.


Wednesday, July 27, 2016

Kudeta Turki dan “Perang” Media Sosial

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 23 Juli 2016

Sultan Muhammad Al-Fatih
Sumber Foto: histoireislamique.wordpress.com

Upaya kudeta yang dilakukan oleh segelintir militer Turki beberapa waktu lalu terhadap Erdogan berakhir dengan kegagalan. Entah karena persiapan yang belum matang, atau “kharisma” Erdogan yang terlalu kuat sehingga dalam sekejap dapat diredam. Berbagai spekulasi pun berkembang pasca kudeta Turki. Sebagian pengamat, seperti dirilis sindonews.com (18/07/16) menilai ada kejanggalan dalam kudeta tersebut. Di antara kejanggalan dimaksud adalah aksi kudeta yang dilakukan antara pukul 21.00-200.00 malam, di mana masih banyak masyarakat yang terjaga. Sementara kudeta sebelumnya (sebagaimana lazimnya) dimulai pada pukul 04.00 pagi. Menurut pengamat, kejanggalan ini sangat kentara, karena kudeta yang dilakukan pada “jam-jam” sibuk sangat mungkin bagi Erdogan untuk menggerakkan massa guna melakukan perlawanan terhadap pemberontak dengan cara tampil di televisi.


Tu Sop dan Cerminan “Kejenuhan” Ulama

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 25 Juli 2016

Sumber Foto: www.naceh.com
Kemarin (24/07/16) sewaktu perjalanan pulang dari Samalanga dalam rangka mewawancarai seorang informan untuk kebutuhan penelitian, sesampai di kawasan Blang Bladeh, mobil butut yang saya tumpangi berjalan seperti merayap. Maju, berhenti, maju dan berhenti lagi. Seketika itu saya bangun dari “pembaringan” dan melihat jauh ke depan. Ternyata jalanan sedang dilanda macet. Saya berusaha melihat lebih jauh ke depan, samping dan belakang. Saya melihat ramai sekali masyarakat yang umumnya berkostum putih duduk rapi di mobil bak terbuka yang terus berjalan lambat. Sebagian yang lain menggunakan sepeda motor dan juga mobil minibus. Setelah merayap beberapa saat, mobil butut kami terus mendekat ke Lapangan Geulumpang Payong. Sampai di sana, jalanan juga terlihat macet dari arah timur (arah Matangglumpangdua). Setelah berusaha melihat kiri-kanan, saya baru tahu bahwa kemacetan tersebut terjadi akibat melimpah-ruahnya massa yang sama-sama menuju Glumpang Payong – dalam rangka Deklarasi Pasangan Balon Bupati Bireuen, Tu Sop – dr. Pur.


Sunday, July 10, 2016

Kutub Pemikiran Teuku Zulkhairi, Nauval dan Syah Reza

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 07 Juli 2016

Khairil Miswar 2016

Telah berlangsung diskusi menarik via tulisan di rubric kupi beungoh pada Ramadhan lalu antara Teuku Zulkhairi dan Nauval Pally Taran. Setelah menyimak ulasan dari dua sosok tersebut, maka dapat dipastikan jika keduanya berasal dari dua kutup pemikiran yang berbeda. Jika hendak memakai istilah yang digunakan oleh penulis-penulis kontemporer, maka Teuku Zulkhairi berada di kutup tradisionalisme skolastik yang sangat terikat dengan mazhab tertentu, sedangkan Nauval Pally Taran masuk dalam katagori tradisionalisme Salafi yang tidak terikat dengan mazhab tertentu, di mana pemikiraannya banyak merujuk pada praktek Salaf. Namun demikian klasifikasi ini tidaklah absolut. Artinya, masih terbuka peluang untuk direvisi kembali. Saya mungkin terlalu buru-buru dalam mengelompokkan kedua sosok ini, tapi klasifikasi ini penting guna mengurai “benang kusut” antaranya keduanya.


Tuesday, June 14, 2016

Aceh dan Toleransi Umat Yang Gagal

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 12 Juni 2016

Sumber Foto: Buku Gebyar Muktamar Muhammadiyah Ke 43

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada Februari 2016, saya mendapatkan satu eks salinan (copian) surat yang ditandatangi oleh Camat Juli, Drs. Munir. Salinan surat dan sejumlah lampiran tersebut saya peroleh dari seorang informan di Kabupaten Bireuen. Hal ini tidaklah aneh, karena saya sendiri adalah warga Kabupaten Bireuen. Surat tersebut berisi Hasil Rapat Musyawarah Rencana Pembangunan Mesjid At-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli.



Thursday, June 9, 2016

“Monopoli Mazhab” di Aceh

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 30 Mei 2016

Penulis di Mesjid Al-Izzah Cot Seurani, Aceh Utara
Jumat, 27 Mei 2016
Dengan dikeluarkannya Maklumat Perang 1873 oleh Belanda, Aceh memasuki perang panjang dengan para penjajah kulit putih. Perang Aceh-Belanda ini berlangsung lama dan memakan banyak korban di kedua belah pihak. Satu versi menyebut perang ini berlangsung selama 30 tahun (1873-1903), sedangkan versi yang lain menyebut 69 tahun (1873-1942), yaitu sampai datangnya Jepang ke Aceh. Tidak lama setelah Belanda pergi, Aceh kembali menggempur Jepang sampai akhirnya Jepang pun menyerah atas tekanan pihak sekutu. Pertumpahan darah di Aceh tidak berhenti di sini. Pada awal-awal kemerdekaan RI, tragedi berdarah kembali terjadi di Aceh dengan meletusnya Perang Cumbok, antara pihak ulama dan masyarakat – berhadapan dengan Ulee Balang yang berlanjut pada Revolusi Sosial yang sangat “menyedihkan” itu.


Wednesday, May 25, 2016

Guru dan Kekerasan

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 April 2016 

Ilustrasi. Sumber Foto: www.altkia.com

Akhir-akhir ini, kita sering membaca berita di media, baik media lokal maupun nasional terkait beberapa dugaan kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa di sekolah. Ada media yang mengabarkan bahwa seorang siswa ditampar atau pun ditendang oleh guru, bahkan uniknya ada yang dipukul pakai palu. Membaca berita semacam ini tentu akan melahirkan perasaan miris. Bahkan tidak sedikit kalangan yang “panik”, khususnya dari kalangan orang tua siswa – yang dengan menggebu-gebu melempar kritikan pedas kepada guru. Dalam kondisi ini, guru yang diduga melakukan kekerasan tersebut berada pada posisi “terhukum”, “tercaci” dan “terpojok”. Aksi “bully” semacam ini tidak hanya dilakukan oleh orang tua siswa dan masyarakat luas, tetapi terkadang juga melibatkan Dinas Pendidikan tempat para guru bernaung, di mana mereka juga ikut “mengecam.” Hampir tidak ada seorang pun yang menaruh simpati kepada guru ketika mereka berada dalam posisi sulit seperti ini. Demikian pula, ketika guru – akibat dugaan kekerasan harus berhadapan dengan hukum, juga sepi dari advokasi, padahal organisasi “pembela guru” hampir tak terhitung jumlahnya. Tapi semuanya diam membisu. Jika pun ada yang bersuara hanya satu dalam berjuta dan bisa dihitung dengan jari. Buktinya ramai guru yang akhirnya dibui. Tidak percaya, silahkan googling!


Monday, May 16, 2016

Kepemimpinan Ulama di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 06 Mei 2016

Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh
Sumber Foto: thpardede.wordpress.com

Tidak lama lagi Aceh akan kembali berhadapan dengan pesta demokrasi untuk memilih para pemimpin yang akan duduk di tampuk kekuasaan, baik gubernur, bupati dan juga walikota. Para politisi dan tim sukses di Aceh sudah mulai tersibukkan dengan berbagai aktivitas untuk menghadapi prosesi Pemilukada yang akan digelar pada 2017 mendatang. Dalam beberapa hari terakhir ini, para politisi, pihak legislatif dan eksekutif di Aceh juga tersibukkan dengan polemik persyaratan calon Independen – yang sampai saat ini belum mencapai kata sepakat.


Saturday, April 30, 2016

Calon Independen dan Kemunduran Demokrasi di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 April 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.aktual.com

Dalam beberapa hari terakhir surat kabar di Aceh menyajikan berita terkait keinginan Legislatif Aceh (DPR Aceh) yang hendak memperketat persyaratan bagi calon Independen dalam Pilkada mendatang. Ketua Banleg DPR Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky dalam keterangannya yang dirilis mediaaceh.co (12/04/16) berdalih bahwa upaya memperketat persyaratan independen bertujuan untuk mencegah calo politik. Menurut Iskandar Usman Al-Farlaky, selama ini kandidat dari calon Independen mendapatkan KTP dari cara-cara yang tidak sah seperti di toko foto copy. Iskandar juga menyebut bahwa selama juga terjadi transaksi jual beli KTP. 



Monday, March 28, 2016

Politik Labeling

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: diversityrules.typepad.com

Mungkin tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya hidup ini jika kita tidak mengenal bahasa. Tentunya kita akan sulit melakukan komunikasi dengan orang lain. Untuk bisa melakukan komunikasi, kita membutuhkan bahasa, baik bahasa verbal, isyarat maupun melalui simbol-simbol tertentu. Namun dalam artikel ini, kajian kita fokus pada bahasa verbal, karena tipe bahasa inilah yang banyak digunakan manusia, khususnya di abad modern.


Mari Buat “Bom” di Kedai Kopi!

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: news.liputan6.com
“Di dunia ini hanya di Aceh yang 80 persen generasi muda menghabiskan waktu di warung kopi siang dan malam. Ini musibah yang lebih besar dari bom atom di Jepang.”


Monday, March 21, 2016

Pemimpin “Teler”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: perongratis.blogspot.com

Bagai jamur di musim hujan, peredaran dan juga konsumsi narkoba terus saja meningkat dari hari ke hari. Seperti kata pepatah “patah tumbuh hilang berganti.” Serupa pula dengan pepatah lain “mati satu tumbuh seribu.” Semakin diungkap semakin lihai. Satu pelaku ditangkap, ratusan lainnya bermunculan. Satu “markas” digrebeg, puluhan “markas” lainnya bertebaran, hampir di seluruh pelosok tanah air. Dari segi semangat, bandit-bandit narkoba ini patut diacungi jempol, tanpa rasa takut, tanpa segan dan tanpa rasa malu mereka terus menunjukkan eksistensinya. Begitulah! 


Sunday, March 20, 2016

Djangan Batja Boekoe!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.ihsyah.web.id

Kita semoea tentoe pernah mendengarkan jang bahwa ada sebahagian orang jang merasa alergi atau poen tidak soeka dengan boekoe. Orang terseboet kadang2 djuga melarang kita oentoek membatja boekoe karena ditakoetkan kita akan mendjadi tersesat nantinja. Dia senantiasa memberikan peringatan pada kita bahwa membatja boekoe dapat memboeat kita sesat. Saja tidak tahoe apakah orang2 seperti Hamka, Hasbi Ash-Shiddqiey, Ali Hasjimi, Mohammmad Natsir, Aboebakar Atjeh, Sirajuddin Abbas dan laen2 orang djoega sesat, karena mereka itoe adalah pengarang2 besar. Djika membatja boekoe itoe sesat, tentoelah pengarang2 boekoe lagi2 sesat karena mereka banjak menoelis boekoe.


Monday, March 14, 2016

Politik Burȏng Boh Leuping

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Maret 2016 

Ilustrasi. Sumber Foto: www.geishabar.com

Saya dan anda pasti pernah merasakan masa kecil, masa di mana kita hidup tanpa beban. Kerja kita cuma makan, bernyanyi dan berlari-lari. Jika terjadi masalah, tinggal lapor ayah ibu. Ini adalah kondisi umum, meskipun ada sebagian saudara kita yang merasakan pengalaman berbeda.


Tuesday, March 8, 2016

Tere Liye dan Jurus Mabuk Nitizen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Maret 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.muslimdaily.net


Seolah sudah menjadi “tradisi”, ketika ada ulama keliru fatwa, ada tokoh keseleo lidah, ada akademisi salah bicara dan ada penulis “salah urat” – maka aksi bully pun berhamburan. Aksi bully ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Jika ditelisik lebih jauh, perilaku bully ini sudah ada sejak manusia itu ada. Namun perilaku bully tersebut mencapai puncak “kejayaannya” di zaman ini, di mana kemajuan teknologi informasi semakin “menggila.”


Friday, March 4, 2016

Syariat Islam di Aceh dan Sikap Ambigu

(Tragedi Indonesian Model Hunt 2016 dan Miss Indonesia 2016)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Februari 2016

Sumber Foto: aceh.tribunnews.com

Kehadiran Flavia Celly Jatmiko di pentas Miss Indonesia 2016 beberapa waktu lalu telah mengakibatkan “kegaduhan” di kalangan masyarakat Aceh. Kegaduhan pertama muncul di media sosial dengan adanya kritikan dari para nitizen terhadap panitia Miss Indonesia 2016. Aksi protes tersebut diawali dengan adanya surat terbuka dari beberapa kalangan dan juga dari anggota DPD RI asal Aceh yang ditujukan kepada Flavia Celly Jatmiko, gadis asal Surabaya yang telah mencatut nama Aceh dalam ajang bergengsi tersebut. Kecaman terhadap Flavia Celly Jatmiko disebabkan karena yang bersangkutan telah mencatut nama Aceh tanpa mengantongi izin dari Pemerintah Aceh. Tidak hanya itu, kemarahan sebagian masyarakat Aceh juga disebabkan oleh penampilan Flavia Celly Jatmiko yang tidak sesuai dengan syariat Islam dan juga kearifan lokal di Aceh. Pada perkembangan selanjutnya, kononnya pernyataan keberatan juga datang dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang ditujukan kepada penyelenggara Miss Indonesia 2016. Aksi pencatutan nama Aceh tidak hanya terjadi tahun ini, sebelumnya nama Aceh juga sempat dicatut oleh Ratna Nurlia Alfiandani dalam ajang Miss Indonesia 2015 yang juga berasal dari Surabaya. Miris memang.


Tuesday, March 1, 2016

Miss Aceh, Bergek dan “Kebencian Imitasi”

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 Februari 2016

Sumber Foto: www.muvila.com

Tentunya setiap orang, siapa pun dia – akan merasa terusik dan marah jika kehormatannya dinodai. Kemarahan itu akan semakin memuncak jika penodaan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak pantas. Jika penodaan itu hanya terjadi sekali, bisa jadi itu sebuah kekhilafan, tetapi jika dilakukan berulang-ulang seperti episode sinetron, maka itu adalah tabi’at. Siapa pun dan dari kelompok manapun yang memiliki tabi’at menodai kehormatan orang lain, maka “melawan” adalah solusi paling mujarab.


Monday, February 22, 2016

Aceh dan “Budaya” Konsumerisme

(Let Model)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Februari 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: dreamreader.net

Sebanyak 92 warga biasa yang dijadikan Pegawai Negeri Sipil (PNS) palsu membobol kredit bank di Aceh Tamiang sebesar Rp 12,8 miliar, demikian kabar yang dilansir oleh Serambi Indonesia (20/01/16) beberapa waktu lalu. Kisah tentang pembobolan bank di Aceh juga pernah terjadi pada tahun 2014, di mana ketika itu kononnya terjadi penggelapan uang kredit di Bank Aceh Capem Balai Kota Banda Aceh yang mencapai 4 miliar (SI, 09/01/14).


Sunday, February 7, 2016

LGBT, HAM dan Solusi Temporal

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 06 Februari 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: urban-echo.co.uk
“Semakin banyak orang sudah memahami bahwa orientasi seksual ataupun identitas seksual seseorang tidak membuat seseorang lebih baik ataupun lebih buruk dari orang lain. Tidak ada alasan lagi buat kita untuk merasa malu atau takut karena kita berbeda orientasi seksual dengan orang kebanyakan.”. Demikian kutipan singkat yang saya “cubit” dari website LGBT Indonesia.


Thursday, February 4, 2016

Aneuk Pusue

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 04 Februari 2016

Ilustrasi
Sumber Foto: citizenimages.kompas.com

Nampaknya saya tidak perlu berpanjang-panjang kalam apalagi berputar-putar pada istilah. Semakin panjang semakin bosan, semakin memutar semakin bingung. Langsung saja ke pokok persoalan. Bagi masyarakat Aceh Pantai Timur nampaknya sudah paham betul dengan judul ini. Untuk kawasan Pantai Barat Selatan, saya tidak tahu apakah mereka memakai istilah yang sama atau berbeda. Yang jelas, aneuk pusue ini jika dimelayukan atawa diindonesiakan akan memiliki makna yang serumpun dengan anak ketapel (pusue = ketapel), lebih kerennya peluru ketapel yang berasal dari batu-batu kecil.


Monday, February 1, 2016

Pemuda dan Kecerdasan Emosional

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 01 Februari 2016

Ilustrasi. Sumber: www.free-management-ebooks.com

Gardner sebagaimana dikutip Hamzah B. Uno (2009) menyebut bahwa seseorang memiliki berbagai rupa kecerdasan, seperti kecerdasan logis matematis, kecerdasan bahasa, kecerdasan musical, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan naturalis, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Selain itu, dalam dunia pendidikan juga dikenal istilah kecerdasan emosional yang dalam pandangan Salovey dan Meyer masuk dalam lingkup kecerdasan sosial (Aunurrahman, 2012). Salah satu bentuk kualitas emosional yang penting bagi keberhasilan seseorang menurut Salovey dan Meyer adalah kemampuan mengendalikan amarah.


Friday, January 29, 2016

Jihad Semesta Melawan Narkoba

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Januari 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: forum.kompas.com

Beberapa waktu lalu, tepatnya 11 Januari 2016, alhmadulillah saya mendapat kesempatan mengikuti Seminar Nasional dengan topik “Memaknai Jihad Kontemporer” di Tiara Hotel Medan. Yang menjadi pemateri saat itu Prof. Dr. Din Sjamsuddin, mantan ketua umum PP Muhammadiyah dan dipandu oleh Dr. Dedi Sahputra. Seminar tersebut dilaksanakan dalam rangka HUT Harian Waspada ke 69.


Wednesday, January 27, 2016

Tolak Kelompok Bersenjata di Aceh!

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 16 Januari 2016

Ilustrasi. Sumber Foto: www.pinterest.com
Menjelang berakhirnya tahun 2015, kelompok bersenjata paling dicari oleh pihak Kepolisian yang dipimpin oleh Din Minimi memutuskan untuk turun gunung alias menyerah kepada Badan Intelejen Negara (BIN), tepatnya kepada Sutiyoso yang saat ini menjabat sebagai kepala BIN. Aksi menyerahnya Din Minimi membuat banyak pihak tercengang dan terheran-heran – dan sebagian terkagum-kagum, sebab sebelumnya kelompok ini telah memaklumkan “perang” terhadap Pemerintah Aceh dibawah kendali Zaini-Muzakkir (Zikir).


Sunday, January 17, 2016

Saudi Vs Iran; Bagaimana Sikap Kita?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Januari 2016

Ilustrasi. Sumber foto: www.youtube.com
Pemerintah Arab Saudi beberapa waktu lalu dikabarkan telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Republik Islam Iran. Aksi pemutusan hubungan ini dilakukan oleh Saudi setelah terjadinya penyerbuan terhadap Kedutaan Saudi di Teheran pada Minggu (3/1/2016). Republika mengabarkan bahwa masyarakat Iran melakukan unjuk rasa menyerbu Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran dengan menghancurkan barang-barang di kantor tersebut.


Tuesday, January 12, 2016

“Senandung Jampoek”

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 08 Januari 2016

Ilustrasi. Sumber: www.kembangpete.com
Dalam keterangannya di media, Zaini Abdullah alias Abo Doto menegaskan bahwa beliau akan kembali mencalonkan diri sebagai cagub pada 2017 mendatang. Dengan adanya pernyataan tersebut telah mempertegas keingian Abu Doto untuk kembali “berkuasa” – yang awalnya dianggap hanya sebagai kabar angin, sekarang berubah menjadi kabar betul. Menurut pengakuannya kepada media (Serambi Indonesia), banyak kalangan yang meminta beliau (Abu Doto) untuk kembali maju guna meneruskan program-program yang sudah digagas dalam kepemipinannya selama ini. Kononnya, akibat dorongan inilah Abu Doto memutuskan untuk maju kembali. Benar tidaknya pengakuan ini wallahu a’lam, kita tidak tahu karena kita tidak ikut beliau turun ke daerah, dan beliau tidak pula memperdengarkan rekamannya kepada kita. Tapi kita berhusnu dhan sajalah.


Wednesday, January 6, 2016

Kembalinya Din Minimi

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 02 Januari 2016

Din Minimi
Sumber Foto: www.acehterkini.com
“Kelompok Din Minimi Turun Gunung”, demikianlah judul berita di halaman muka Harian Waspada Medan edisi 30 Desember 2015. Sebelumnya, artikel tentang Din Minimi juga pernah saya tulis di media ini (Harian Waspada) pada 5 Juni 2015 dengan tajuk “Si Pitung dan Din Minimi”. Kabar terkait menyerahnya Din Minimi pada 28 Desember 2015 lalu berhembus dengan cepat via media online. Bahkan pemberitaan tersebut menjadi topik hangat di media sosial. Din Minimi dan anggota kelompoknya, dijemput langsung oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (Purn) Sutiyoso. Selain itu, Juha Christensen yang merupakan mantan penasihat politik Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) yang juga pernah aktif di Crisis Management Initiative (CMI) Finlandia dan Interpeace juga turut hadir dalam penjemputan itu (waspada.co.id). Kelompok Din Minimi juga menyerahkan 15 pucuk senjata api (senpi) yang terdiri dari 13 pucuk AK-47, sepucuk jenis SS1 dan sepucuk pistol FN bersama tabung pelontar dan amunisi.