Monday, November 23, 2015

“Pohon Kohler” dan Sejarawan Dadakan

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 November 2015


Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1890
Sumber Foto: Koleksi Digital Khairil Miswar
Dalam dua hari terakhir, lidah kita semakin fasih mengucapkan kata-kata yang sebenarnya “asing” bagi mayoritas masyarakat Aceh. Kata-kata itu adalah “pohon Kohler”. Kabarnya pada 19 November 2015 pohon tersebut yang awalnya berada di pekarangan Mesjid Raya terpaksa ditebang karena terkena proyek perluasan mesjid. Kononnya pohon tersebut ditanam oleh Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan, untuk mengenang tewasnya Kohler pada perang Aceh 1873.

Pasca penebangan “pohon Kohler”, beragam tanggapan dan komentar pun bermunculan, mulai dari akademisi, pejabat, tokoh masyarakat dan publik pada umumnya. Pro dan kontra tidak dapat dielakkan. Bahkan Walikota Banda Aceh mengaku terkejut dengan penebangan tersebut sehingga tanpa sadar terucap kalimat “astagfirullah” – satu kalimat suci yang tidak pada tempatnya. Ada pula yang menyebut pemerintah Aceh tidak mampu menghargai sejarah hanya karena “pohon Kohler” terkena “gergaji”. Tidak hanya itu, ada juga sebagian komentator yang meyakini bahwa keberadaan “pohon Kohler” itu lebih penting dari payung-payung yang akan dibangun. Ada lagi pendapat lain yang tidak kalah menarik, katanya “semestinya arsitektur menyesuaikan dengan situs yang ada, bukan situs menyesuaikan arsitektur” – satu kalimat yang hanya benar secara konseptual tapi sulit diaplikasikan. Uniknya lagi, ada pihak yang “mengancam” akan menghentikan proyek perluasan Mesjid Raya karena dinggap melanggar etika dan kearifan lokal Aceh. Mereka menyebut bahwa proyek Mesjid Raya dilaksanakan di kawasan bernilai sejarah yang seharusnya tidak ada pembangunan apapun. Luar biasa.

Sementara itu, di media sosial juga banyak bermunculan “sejarawan dadakan” pasca robohnya “pohon Kohler”. Ramai pengguna facebook di Aceh yang memposting foto-foto “pohon Kohler” hasil googling sebagai tanda “berkabung”. Riwayat-riwayat tentang pohon itu bertebaran di media sosial berkat kerja keras “sejarawan dadakan”. Disebut “dadakan” karena kemunculannya yang tiba-tiba. 

Jika dipikir-pikir, sebenarnya kita harus berterima kasih kepada penebang pohon ini karena berkat aksi merekalah (para penebang) nama pohon tersebut semakin populer, khususnya di media sosial. Akhirnya kita pun menjadi akrab dengan “pohon Kohler” tersebut. Seandainya pohon tersebut tidak ditebang, mungkin pohon itu tidak akan sepopuler hari ini. Berkat penebang itulah, kecintaan kita terhadap sejarah bangkit kembali, meskipun sebagian kita mungkin hanya mengikut trend sesaat, yang dalam beberapa hari ke depan (yakin atau pun tidak) kecintaan kita kepada sejarah itu akan kembali hilang dalam ketiadaan.

Sejarah dan Masa Depan

Sejarah yang gemilang itu pastilah menjadi kebanggan setiap bangsa yang akan terus diceritakan dari generasi ke generasi. Sebaliknya sejarah yang kelam akan terus menjadi “mimpi buruk” yang sebisa mungkin ditutupi. Kematian Kohler di pekarangan Mesjid Raya pada 1873 adalah salah satu kebanggan sejarah bagi masyarakat Aceh sehingga patutlah kejadian itu dikenang. Salah satu media untuk mengenang tewasnya Kohler adalah pohon dan prasasti.

Keberatan yang diajukan oleh beberapa pihak atas ditebangnya “pohon Kohler” dalam batas-batas tertentu memang dapat dimengerti, mengingat pohon tersebut adalah satu bukti kebanggan sejarah – sebuah simbol kemenangan, meskipun hanya duplikasi dari pohon terdahulu yang sudah punah dimakan usia. Saya juga tidak tahu apakah waktu itu ada yang marah kepada Tuhan ketika pohon itu “dimatikan Tuhan”. Apakah ada yang menyebut bahwa Tuhan tidak paham sejarah, padahal Tuhan dengan kekuasaan-Nya yang Maha Agung bisa saja membuat pohon itu kekal abadi? Wallahu A’lam.

Warisan sejarah memang patut dijaga dan sejarah itu sendiri juga patut diwariskan kepada anak cucu, tidak hanya sebagai sebuah cerita romantis, tetapi juga menjadi bahan evaluasi dan mampu menjadi spirit untuk menata masa depan yang lebih baik. Aksi penebangan “pohon Kohler” untuk kepentingan perluasan mesjid bukanlah satu kejahatan yang harus dicaci. Lagi pula, menurut informasi yang berkembang, prasati kematian Kohler itu akan diletakkan di tempat semula ketika proyek perluasan mesjid sudah selesai. Dengan demikian, tidak ada sejarah yang hilang sehingga tidak perlu disikapi dengan latah dan lebay.

Terkadang pengambil kebijakan memang dihadapkan pada kondisi dilematik yang serba sulit. Kita ambil contoh perluasan Masjidil Haram di Mekkah yang juga tidak sepi dari kritik karena dianggap telah menghilangkan situs sejarah. Di satu sisi kaum muslimin setiap tahun meminta penambahan kouta haji dan berharap agar ritual tahunan itu bisa berjalan lancar dan nyaman. Tetapi ketika pemerintah Saudi melakukan pembangunan dan perbaikan di sana sini yang tentunya dalam kondisi tertentu juga harus mengorbankan situs sejarah, maka kritik dan kecaman pun beterbangan. Hampir seluruh sudut Mekkah itu bernilai sejarah, lantas haruskan kondisi ini dipertahankan seperti masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam agar situs sejarah tidak terganggu? Tidak bolehkah kita berbenah untuk menata masa depan demi kemaslahatan umat?

Kadang-kadang kita itu aneh. Dalam bahasa Aceh disebut: “lon hana peurle pajoh bu, yang peunteng troe” (saya tidak perlu makan yang penting kenyang). Di satu sisi, (meskipun dalam hati kecil) kita tentu sepakat dengan perluasan Mesjid Raya demi kenyamanan dan juga keindahan, meskipun bermegah-megah itu tidak dianjurkan. Tapi di sisi lain kita justru melemparkan kritik yang tidak pada tempatnya. Semoga saja, ketika proyek perluasan mesjid itu selesai, para “Kohler Mania” tidak melakukan aksi selfie di payung-payung itu. Wallahul Musta’an.

Note: Maaf jika tulisan ini membingungkan, karena saya menulis pun dalam keadaan bingung.

Artikel ini sudah diterbitkan di Aceh Trend
Share this article :


1 comment: