Monday, November 23, 2015

“Pohon Kohler” dan Sejarawan Dadakan

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 November 2015


Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1890
Sumber Foto: Koleksi Digital Khairil Miswar
Dalam dua hari terakhir, lidah kita semakin fasih mengucapkan kata-kata yang sebenarnya “asing” bagi mayoritas masyarakat Aceh. Kata-kata itu adalah “pohon Kohler”. Kabarnya pada 19 November 2015 pohon tersebut yang awalnya berada di pekarangan Mesjid Raya terpaksa ditebang karena terkena proyek perluasan mesjid. Kononnya pohon tersebut ditanam oleh Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan, untuk mengenang tewasnya Kohler pada perang Aceh 1873.


Saturday, November 21, 2015

Merampas Harta Rakyat

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 November 2015

Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Sumber Foto: liputanislam.com
Syaikh Muhammad Al-Ghazali (2005) dalam salah satu bukunya meriwayatkan satu kisah yang patut disimak. Cerita ini mengisahkan tentang ketamakan seorang Dhahir Pipris, wali negeri Syam dan Mesir yang hidup di zaman Imam An-Nawawi. Pada suatu ketika, Dhahir Pipris berkeinginan untuk memerangi tentara Tartar yang saat itu sudah memasuki daerah Syam. Dhahir Pipris meminta kepada para ulama Syam untuk berfatwa agar ia diperbolehkan mengambil harta benda milik rakyat untuk digunakan sebagai bekal dalam peperangan melawan tentara Tartar. Pada saat itu seluruh ulama Syam menyetujuinya, kecuali Imam Nawawi. Ketidaksetujuan Imam Nawawi ini disebabkan oleh kehidupan Dhahir Pipris yang mewah dan berfoya-foya dengan hartanya. Peperangan dengan tentara Tartar hanya dijadikan sebagai alasan untuk merampas harta rakyat.


Tragedi Paris dan “Kelatahan” Nitizen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 November 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: whatdoesntsuck.com
Jumat lalu, tepatnya 13 November 2015, Pemerintah Perancis kembali berduka. Dikabarkan bahwa lebih seratus orang tewas dan tiga ratusan lainnya terluka dalam serangkaian serangan di sejumlah tempat di Kota Paris. Salah satu korban terbesar, sebagaimana dilansir republika.co.id, berada di gedung pergelaran konser di Baraclan. Di tempat tersebut sekitar 112 orang tewas saat seorang bersenjata senapan otomatis memberondong penonton yang sedang menyaksikan aksi panggung band Amerika. Kabarnya, pelaku juga menyandera sekitar 100 orang.


Saturday, November 14, 2015

Da’i Pelawak

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 November 2015

Ustaz Maulana. Sumber Foto: www.dianliwenmi.com
Setelah episode Wisnu dan “insiden Fatihah” berlalu, baru-baru ini jagad maya kembali dihebohkan oleh sosok Ustaz Maulana, seorang “da’i kocak” yang sering menghiasi layar televisi di Indonesia. Menyaksikan ceramah-ceramah yang disampaikan Maulana, tidak ubahnya seperti menyaksikan pentas lawak semisal Ria Jenaka di masa orde baru atau Opera Van Java di orde reformasi. Meskipun pentas dan tujuannya berbeda, tapi penampilannya nyaris sama.


Fenomena Peublo Cap di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 November 2015

Ilustrasi. Sumber: justsomethingimade.com
Dalam beberapa minggu terakhir ada beberapa “cap” (stempel) yang “laku keras” di Aceh. Cap-cap dimaksud adalah “pungo”, “pengkhianat”, dan “sesat”. Ketiga cap ini menjadi topik perbincangan paling hangat akhir-akhir ini. Jika diurut berdasarkan waktu, cap paling tua adalah “pengkhianat”. Cap ini sudah beredar luas pada masa kolonial yang ditujukan kepada “antek-antek kafir” (penjajah). Cap “pengkhianat” tidak hilang begitu saja dan terus lestari pada masa-masa selanjutnya, khususnya pada saat konflik bersenjata antara GAM dan RI. Pasca damai Aceh, cap ini juga masih laris manis, khususnya di panggung politik. Saya ingat betul pada pemilu legislatif 2009, cap ini laku keras di Aceh. Demikian pula pada pilkada 2012, cap tersebut juga masih beredar di arena politik. Baru-baru ini, cap “pengkhianat” juga kembali populer. Kali ini cap tersebut disematkan kepada para “penggugat UUPA”.


Thursday, November 12, 2015

Surat Edaran Kapolri dan Kebebasan Yang Terbatas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 November 2015
Ilustrasi. Sumber: the-unpopular-opinions.tumblr.com
Beberapa hari lalu, tepatnya 8 Oktober 2015, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengeluarkan surat edaran terkait ujaran kebencian. Menurut surat edaran tersebut, sebagaimana dilansir rappler.com, ujaran kebencian adalah tindakan pidana yang berupa penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, penyebaran berita bohong, dan semua tindakan tersebut memiliki tujuan atau berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa atau konflik sosial.


Saturday, November 7, 2015

Stiker dan Dilema Politisi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 November 2015

Ilustrasi. Sumber: thebreakthrough.co
Baru-baru ini, sebagian pengguna media sosial (medsos), khususnya facebooker di Aceh diramaikan dengan ragam komentar terkait sosok “stiker” yang kononnya telah berhasil “menghebohkan” Kabupaten Aceh Jaya. Kisah ini berawal dari komentar Wakil ketua DPRK Aceh Jaya di media yang mempertanyakan stiker listrik gratis berlambang Partai Aceh yang terpasang di sejumlah rumah penerima bantuan. Menurut wakil ketua DPRK Aceh Jaya, listrik gratis tersebut merupakan dukungan dana dari APBK yang dianggarkan sejak 2014 lalu hingga 2015 (aceh.tribunnews.com/01/11/2015).