Wednesday, September 2, 2015

Menggungat “Tuhan” dan “Syaitan”

Oleh: Khairil Miswar 

Krueng Mane, 29 Agustus 2015

Pria Bernama "Tuhan" di Banyuwangi
Sumber Foto: www.tempo.co
Jujur, sebenarnya saya merasa “risih” dengan judul artikel ini, tapi apa boleh buat, saya kehabisan akal untuk mencari redaksi judul yang relevan guna membahas dua fenomena unik yang sedang “menghebohkan” Indonesia, khususnya jagad maya. Nampaknya publik Indonesia lebih tertarik dengan isu ini dibanding masalah rupiah yang “naik-turun”. Masyarakat kita juga terlihat lebih “responsif” terhadap isu “Tuhan” dan “Syaitan” jika dibanding dengan “perseteruan” Rizal Ramli versus Jusuf Kalla yang sempat menghiasi media tanah air baru-baru ini.

Pada saat pertama sekali membaca informasi via media bahwa ada sosok bernama “Tuhan” di Indonesia, saya justru menganggap berita tersebut sebagai hoax belaka, maklum saja ada beberapa media kita yang “lebay”. Tapi keyakinan saya tersebut segera pudar ketika nama “Tuhan” semakin populer dan menjadi isu yang lumayan “sensasional”. Bak episode senetron, kehebohan nama “Tuhan” terus berlanjut setelah muncul sosok bernama Syaitan (Saiton) di Palembang. Rasa “pusing” yang saya alami pun semakin merajalela menyikapi kehadiran dua sosok “paling top” abad ini.

Terkait “asbabun nuzul” alias kronologis kelahiran kedua nama tersebut menurut saya adalah perkara yang tidak pantas untuk dikomentari, mengingat hal tersebut adalah masalah “privat” yang seharusnya tidak menjadi urusan publik. Namun apa hendak dikata, peradaban teknologi telah mengantar berita tersebut ke seantero negeri.

Tentang Sebuah Nama

Apalah artinya sebuah nama? Kononnya ungkapan ini diperkenalkan oleh William Shakespeare. Dalam perbincangan filsafat tentunya ungkapan ini sah-sah saja, namun dalam konteks sosial ungkapan ini sulit diterima. Dalam kaca mata seorang muslim, ungkapan ini juga paradoks dengan “sinyal-sinyal” agama dalam Alquran. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 31-33 bahwa Allah telah mengajarkan sejumlah nama benda kepada Adam ‘Alaihissalam. Kemudian Allah juga memerintahkan kepada Adam agar memberi tahu nama-nama tersebut kepada para malaikat. Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan kecil bahwa persoalan nama bukanlah sesuatu yang remeh.

Dalam KBBI, “nama” diterjemahkan sebagai kata untuk menyebut atau memanggil orang, tempat, barang atau binatang. Tanpa nama kita tidak akan bisa mengenal satu sama lain. Kita mengenal si Husen atau si Ahmad melalui nama. Kita mengetahui bahwa ini kulkas dan itu sepeda motor adalah melalui perantaraan nama. Kita mampu membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain juga melalui nama. Seandainya sosok “nama” itu tidak ada, entah bagaimana jadinya dunia ini. Bagaimana caranya kita mendaftarkan anak kita untuk masuk sekolah jika anak kita tersebut tidak memiliki nama. Bagaimana pula “nasib” seorang guru yang ingin mengetahui kehadiran para siswa, sedangkan di absen para siswa tersebut tidak ada nama. Dengan demikian, sudah sepatutnya orang-orang yang mengatakan nama tidak penting untuk segera “bertaubat”. 

Nama dan Etika

Terkait dengan nama “Tuhan” dan “Syaitan” (Saiton) yang heboh baru-baru ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di satu sisi, ditinjau dari perspektif “kebebasan” (HAM), seseorang bebas saja menggunakan nama apapun untuk dirinya. Tidak ada larangan bagi orang tua untuk memberikan nama anaknya dengan nama presiden atau pun tokoh-tokoh besar, seperti Bill Clinton, Jokowi atau pun Soekarno. Bahkan pada saat Perang Teluk antara Iraq dan Iran, ramai orang tua, khususnya di Aceh yang memberikan nama anaknya dengan Saddam Husen.

Namun di sebalik itu, dalam memberikan nama anak, kita juga harus memperhatikan etika sosial dan juga keagamaan. Dalam prinsip kebebasan, seseorang bebas saja memberi nama anaknya dengan cangkul, gerobak, asbak, keranjang dan sebagainya. Cuma saja, apakah nama tersebut etis digunakan untuk manusia, terlebih lagi dalam hubungannya dengan pergaulan sosial. Bukankah nama-nama seperti itu hanya akan menjadi bahan olok-olok.

Demikian pula dengan nama “Tuhan” dan “Syaitan” juga tidak etis digunakan untuk manusia. “Tuhan” adalah sebutan yang “sakral” bagi umat beragama. Dalam perspektif Islam, kata Tuhan (rabb, ilah) tidak hanya sakral, tetapi juga memberi bekas pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Tuhan itu Esa (Allahu ahad). Tuhan adalah pencipta (khaliq). Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda bahwa nama yang paling buruk di sisi Allah adalah seorang yang bernama Malikul Muluk. Sebagaimana disebut dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa tidak ada malik (raja) kecuali Allah. Dengan demikian, tidak ada pilihan bagi sosok bernama “Tuhan” di Banyuwangi untuk segera mengganti namanya, apalagi yang bersangkutan adalah seorang muslim.

Pria Bernama "Syaitan" di Palembang
Sumber Foto: m.infospesial.net
Adapun nama “Syaitan” (Saiton) yang digunakan oleh seorang warga di Palembang merupakan nama yang buruk, dan bahkan “paling buruk” sekalian alam, karena Syaitan adalah makhluk yang telah dikutuk oleh Allah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits bahwa nama Zainab pada awalnya adalah barrah, tapi kemudian nama tersebut diubah menjadi Zainab. 

Dalam riwayat Al-Bukhari, Rasulullah pernah bertanya kepada seseorang tentang namanya. Orang tersebut menjawab bahwa namanya adalah huzn (kasar atau sedih). Kemudian Rasulullah bersabda agar orang tersebut mengganti namanya dengan sahl (mudah). Berdasarkan hadits ini dapat dipetik pelajaran bahwa kita dianjurkan untuk memberikan nama yang baik kepada anak-anak kita. Adapun bagi yang sudah terlanjur dinamai dengan nama buruk, maka yang bersangkutan harus mengganti namanya dengan nama yang lebih baik.

Anekdot

Ditemukannya “Tuhan” dan “Syaitan” di Indonesia adalah satu peristiwa unik dan langka. Menurut saya, kedua nama tersebut pantas mendapat rekor MURI ditinjau dari sisi ketidaklaziman. Namun demikian, sebagaimana telah diulas di atas bahwa pilihan terbaik bagi pemilik nama tersebut adalah segera mengganti namanya. Dalam peradaban teknologi seperti sekarang ini, memiliki nama serupa itu saja sudah membuat heboh sejagat. Apalagi di media sosial sudah mulai muncul olokan bahwa “Tuhan” hanya berprofesi sebagai tukang kayu, sementara “Syaitan” adalah lulusan S2.

Pelecehan demi pelecehan akan terus berkembang di tengah semaraknya media sosial di tanah air. Saya tidak sanggup membayangkan jika sosok “Tuhan” dan “Syaitan” bertemu dan terlibat perkelahian. Bagaimana jadinya jika dalam perkelahian itu “Tuhan” kalah dengan “Syaitan”? Tentunya “media-media lebay” akan menulis berita dengan tajuk “Wah, Tuhan dihajar Syaitan?” Mungkin masih untung, karena sosok “Tuhan” di Banyuwangi bukan pejabat. Tentu kita semua akan bingung jika membaca berita “Tuhan Ditangkap KPK”. Kepala kita juga akan semakin “hancur” jika orang yang bernama Syaitan menjadi politisi. Kita tentu tidak sanggup membaca surat kabar yang menulis bahwa “Syaitan Terpilih Menjadi Presiden.”

Oleh sebab demikian, sebagai orang beragama sudah sepatutnya “Tuhan” dan “Syaitan” tidak lagi berlama-lama dan segera ganti nama. Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah diterbitkan di Rubrik Wacana Republika Online dalam Menggungat "Tuhan" dan "Syaitan" (1) dan Menggungat "Tuhan" dan "Syaitan" (2)
Share this article :


1 comment:

  1. Maaf, setau saya nama pak Tuhan, itu kalo orang Using (suku yg ada di Banyuwangi) di ucapkan Tohan. dan masyarakat disana untuk menyebut yang disembah ‘Pengeran’ atau ‘Gusti Allah’
    Kebetulan sy pernah tinggal di Banyuwangi untuk mengabdi di PP Darussalam.

    ReplyDelete