Friday, July 31, 2015

Idul Fitri dan Pemimpin Baru

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 08 Agustus 2014

Sumber Foto: bisnis.liputan6.com
Dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat pada 27 Juli lalu, berakhir pula Ramadhan 1435 H. Kemunculan hilal menjadi sinyal bagi kaum muslimin seluruh dunia bahwa 1 Syawal akan segera tiba. Semarak hari raya diawali dengan lantunan takbir pasca shalat Maghrib yang dilanjutkan dengan pawai takbiran di sepanjang jalan negara. Tak hanya tabuhan beduk dan gemuruh takbir, dentuman mercon dan percikan kembang api juga ikut menghiasi ritual penyambutan 1 Syawal 1435 H. Meskipun terdapat perbedaan dalam mengawali Ramadhan, namun hari raya tahun ini dilaksanakan secara bersamaan. Kementrian Agama RI selaku lembaga yang otoritatif bersama dengan ormas-ormas Islam lainnya seperti NU dan Muhammadiyah bersepakat untuk menetapkan bahwa 1 Syawal 1435 H jatuh pada 28 Juli 2014, namun demikian di beberapa tempat, dengan pertimbangan tertentu justru memilih merayakan Idul Fitri pada 29 Juli 2014. Wallahu A’lam.


Koin Emas, Antara Nilai Sejarah dan Kesempitan Ekonomi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 November 2013

Sumber Foto: www.tribunnews.com
 Alhamdulillah! Tentunya kalimat inilah yang mesti terucap dari mulut saudara-saudara kita ketika mendapatkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala semisal koin emas yang ditemukan oleh para pencari tiram di Gampong Pande Banda Aceh beberapa waktu lalu. Penemuan peti kuno yang dipenuhi dengan koin emas sebagaimana dilansir oleh Serambi Indonesia (12/11/13) telah menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan sampai hari ini. Penemuan benda bersejarah tersebut tidak hanya diperbincangkan oleh masyarakat awam, tetapi juga ikut direspon oleh sejarawan dan akademisi di Aceh.


Mata Rantai Dinasti Politik

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 24 Oktober 2013

Ilustrasi. Sumber Foto: nasional.kompas.com
Baru-baru ini beberapa media di Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan terkait “Dinasti Politik” yang dipraktekkan oleh Gubernur Atut di Banten. Isu tersebut terus bergulir dan menghiasi berbagai surat kabar, tidak hanya di tingkat Nasional, namun juga dipublis oleh koran-koran lokal, baik media cetak maupun elektronik. Terbongkarnya praktek “Politik Dinasti”, bermula dari tertangkapnya adik Ratu Atut bernama Wawan oleh KPK. Berawal dari Atut, beberapa waktu lalu Mendagri Gamawan Fauzi juga memberi informasi kepada publik terkait sejumlah kepala daerah di Indonesia yang terindikasi memainkan “Politik Dinasti” di daerahnya (merdeka.com).


Dukun Politik

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 November 2013

Sumber Foto: www.dukunindonesia.com
Menarik sekali menikmati pembahasan yang ditayangkan oleh TV One (Jumat, 15/11/13) beberapa waktu lalu dalam acara “Ruang Kita” yang mengangkat tema “dukun politik” menjelang Pemilu 2014. Dalam acara tersebut turut dihadirkan pakar metafisika, seorang politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan juga Ki Kusumo yang disebut-sebut sebagai seorang paranormal (konsultan spiritual) bagi tokoh-tokoh politik. Perbincangan dalam acara tersebut adalah terkait dengan peran para dukun politik dalam kancah perpolitikan di Indonesia.


Harmonisasi Mayoritas dan Minoritas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Juli 2105

Ilustrasi. Sumber Foto: blogs.warwick.ac.uk
Apa yang terjadi di Tolikara Papua pada Hari Raya Idul Fitri 1436 H beberapa hari lalu merupakan ujian berat bagi kaum muslimin Indonesia. Toleransi dan saling menghargai satu sama lain tidak hanya merupakan perintah agama, tapi juga telah diatur rapi dalam Konstitusi Republik Indonesia. Tapi sayang, keakraban umat yang selama ini terjaga baik di Papua telah dirusak oleh tangan-tangan jahil segelintir anak negeri.


Tuesday, July 28, 2015

“Mensyari’atkan” Media

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 Mei 2015



Dalam bukunya, Amirul Hadi (2010: 244) menyebutkan bahwa tidak diketahui dengan jelas sejak kapan pertama kalinya Syari’at Islam dilaksanakan di Aceh. Namun yang pasti, ketika Islam masuk ke Nusantara, termasuk Aceh, maka seiring dengan hal tersebut terbentuklah sebuah “komunitas Islam” yang selanjutnya menjelma menjadi kesatuan politis yang dikenal dengan istilah Kerajaan Islam, seperti halnya Kerajaan Aceh, Kerajaan Peureulak dan Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan-kerajaan dimaksud telah berperan secara aktif dalam melakukan Islamisasi di Aceh dengan mengadopsi dan mengadaptasi Islam yang datang dari Timur Tengah sehingga menjadi sebuah agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Aceh sampai dengan saat ini.


Wednesday, July 22, 2015

Tragedi Tolikara dan Sikap Kita

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 18 Juli 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: www.republika.co.id
Hari raya Idul Fitri yang jatuh pada 17 Juli 2015 (1 Syawal 1436 H) dirayakan serentak oleh mayoritas muslim di Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Namun sayangnya, “kesyahduan” Idul Fitri tahun ini telah terusik akibat tindakan anarkis-radikal oleh pihak-pihak yang tidak paham atau bahkan “anti toleransi”. Minoritas muslim di Kabupaten Tolikara telah “ditindas” secara “brutal” oleh sekelompok anak bangsa yang menyebut diri sebagai Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Bagi para pelaku, atau pun pihak-pihak lain yang pro pada tindakan “barbarian” ini tentu akan tersenyum lebar, karena telah berhasil membuat umat Islam “kocar-kacir” dan shock. Namun bagi umat Islam, tidak hanya di Tolikara, tetapi di seluruh penjuru negeri, akan menganggap tindakan “primitif” tersebut sebagai sebuah tragedi yang telah “melukai” kaum muslimin. Tragisnya lagi, aksi yang jauh dari nilai-nilai peradaban modern tersebut terjadi pada “hari suci” dan bahkan “sakral”.


Menyoal Akhlak di Media Sosial

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Juli 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: exxpad.com
Dulu, sekitar tahun 90-an, memiliki pesawat telepon rumah saja sudah dianggap sebagai “orang kaya”. Saya ingat ketika di rumah orang tua saya dipasang pesawat telepon pada sekira tahun 1996, saat itu saya masih kelas tiga MTsN. Sepulang sekolah, saya selalu duduk di depan box telepon, menunggu suara telepon berdering. Saat itu, biasanya saya akan “melompat-lompat” kegirangan ketika tiba-tiba telepon mengeluarkan suara “tlululu- tlululu- tlululu”. Lantas saya berteriak: “mak telepon…telepon…” Kalau diingat-ingat sekarang memang “memalukan”, tapi, ya begitulah faktanya ketika itu. Bagi saya dan juga masyarakat kampung saya, telepon pada saat itu adalah barang mewah. Lagi pula, pada ketika itu, orang-orang yang memiliki telepon dapat dihitung dengan jari. Saya yakin, hal serupa juga dialami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, kecuali masyarakat perkotaan yang mungkin sudah duluan maju.