Saturday, June 13, 2015

Teungku Chiek Awe Geutah dalam Riwayat

(Kajian Awal) 

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 13 Juni 2015

Khairil Miswar


Bagi masyarakat Bireuen, khususnya masyarakat Peusangan, nama Teungku Chiek Awe Geutah tentu tidak lagi asing. Cerita tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, nama Teungku Chiek Awe Geutah juga dikenal oleh sebagian besar masyarakat Aceh melalui cerita dalam pengajian di dayah-dayah (pesantren). Di sisi lain, kisah tentang Teungku Chiek Awe Geutah juga menarik perhatian para peneliti di luar Aceh dan bahkan luar negeri. Kabarnya ada beberapa mahasiswa dan peneliti yang datang dari luar Aceh untuk melakukan penelitian tentang Teungku Chiek Awe Geutah.

Makam Teungku Chiek Awe Geutah yang terletak di Desa Awe Geutah Kecamatan Peusangan Siblah Krueng (pemekaran dari Kecamatan Peusangan) selalu saja ramai dikunjungi oleh masyarakat. Para pengunjung tersebut berasal dari berbagai daerah di Aceh dan juga luar Aceh. Bahkan para pelancong dari luar negeri juga ramai yang berkunjung ke makam tersebut.

Makam Teungku Chiek Awe Geutah pada awalnya masih belum terurus dengan baik dan terlihat agak kotor. Renovasi dan pembangunan beberapa tempat singgahan bagi para pengunjung dilakukan pada masa Gubernur Irwandi Yusuf atas prakarsa dari Wakil Gubernur Muhammad Nazar. Kononnya istri Wagub Muhammad Nazar adalah keturunan dari Teungku Chiek Awe Geutah.


Motivasi para peziarah yang berkunjung ke makam tersebut bermacam-macam, ada yang sekedar berwisata dan melihat-lihat bangunan bersejarah di sekitar makam, ada pula yang khusus untuk berdoa di makam. Selain itu, ada juga beberapa masyarakat yang mendatangi makam Teungku Chiek Awe Geutah untuk keperluan menunaikan hajat (peuglah kaoy).

Menjelang bulan Ramadhan, beberapa teungku dan santri dari beberapa daerah juga melakukan ritual khalut di komplek makam. Biasanya khalut tersebut dilakukan sepuluh hari sebelum Ramadhan dan berakhir pada malam hari raya Idul Fitri. Selain itu, beberapa pengunjung, biasanya juga membawa pulang air sumur yang kononnya keramat. Sumur tersebut dikenal dengan nama mon khalut. Ada kepercayaan sebagian masyarakat bahwa ie mon khalut tersebut memiliki berkat dan dapat menjadi obat.

Mon Khalut 
Biografi Ringkas

Menurut penuturan Teungku Mukhsin, salah seorang penjaga makam, nama asli dari Teungku Chiek Awe Geutah adalah Teungku Chiek Abdurrahim bin Jamaluddin. Beliau berasal dari Baghdad. Teungku Chiek Awe Geutah datang ke Aceh pada masa Sultan Ali Mughayat Syah. Oleh Sultan Ali Mughayat Syah, Teungku Chiek Awe Geutah diutus ke Peusangan. Setelah bermukim di beberapa tempat, beliau akhirnya menetap di Desa Awe Geutah. Kononnya, beliau memilih Desa Awe Geutah setelah mendapat isyarat berupa cahaya putih yang diyakini berasal dari desa tersebut.

Penulis (Khairil Miswar) sedang mewawancarai Tgk. Mukhsen
Penjaga Makam Teungku Chiek Awe Geutah
Sesampainya di Desa Awe Geutah, Beliau mendirikan gubuk (rumah) di tempat keluarnya cahaya putih tersebut. Tempat keluarnya cahaya tersebut konon dulunya adalah bekas kubang badeuk (kubangan badak). Beberapa lama kemudian beliau mendirikan dayah di daerah tersebut. Sejak saat itu mulailah beliau mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat.

Diceritakan bahwa pada saat Teungku Chiek Awe Geutah tiba di daerah tersebut, beliau juga membawa air zamzam (ie mon zamzam). Pada awalnya beliau ingin membagikan air zamzam tersebut kepada masyarakat Awe Geutah, namun air tersebut tidak mencukupi. Untuk memenuhi keinginannya tersebut Teungku Chiek Awe Geutah akhirnya menggali sebuah sumur di depan rumahnya. Setelah selesai menggali sumur, akhirnya air zamzam tadi dituangkan ke dalam sumur tersebut. Sampai sekarang sumur tersebut dikenal dengan nama mon khalut (sumur khalut). Masyarakat sekitar dan para peziarah meyakini bahwa ie mon khalut tersebut keramat dan memiliki khasiat.

Dikisahkan juga bahwa Teungku Chiek Awe Geutah memiliki seorang anak yang tinggal di Mekkah. Kabarnya anak Teungku Chiek Awe Geutah tersebut adalah seorang Syaikh yang mengajar di Masjidil Haram. Setelah Teungku Chiek wafat, anaknya yang berada di Mekkah tersebut pulang dan menetap di Awe Geutah. 

Sebelum wafat, Teungku Chiek Awe Geutah berwasiat seseorang agar pada saat meninggal nantinya dia dimakamkan di bawah rumahnya. Beliau juga berpesan agar ke dalam peti jenazah dimasukkan pedang dan cincin. Namun pada saat beliau wafat, si penerima wasiat tidak menjalankan wasiat dari Teungku Chiek secara sempurna. Si penerima wasiat justru memerintahkan masyarakat untuk menggali kuburan di tanah pekuburan umum. Selain itu, si penerima wasiat hanya memasukkan cincin ke dalam peti jenazah, sedangkan pedang tidak dimasukkan dengan alasan hal tersebut tidak lazim. Setelah prosesi pengurusan jenazah selesai, terjadi keanehan pada saat masyarakat hendak membawa jenazah Teungku Chiek ke pekuburan umum, di mana jenazah Teungku Chiek menjadi berat dan tidak bisa diangkat. 

Karena sulitnya mengangkat jenazah, akhirnya jenazah Teungku Chik diletakkan di bawah rumah beliau. Kemudian si penerima wasiat kembali menggali kuburan di samping peti jenazah. Setelah itu masyarakat kembali mengangkat jenazah Teungku Chiek untuk dikuburkan, tapi usaha mereka kembali gagal, jenazah tersebut tidak bisa digeser sedikit pun. Karena tidak bisa diangkat dan dipindahkan ke dalam liang kubur, akhirnya jenazah Teungku Chiek terpaksa ditimbun atasnya dengan tanah sehingga makam beliau sampai sekarang terlihat tinggi dan berbeda dengan makam lain.

Makam Teungku Chiek Awe Geutah
Teungku Chiek Awe Geutah selama hidupnya dikenal sebagai sosok ulama yang keramat. Dikisahkan bahwa setelah beliau meninggal, ruh beliau berjumpa dengan anaknya di Masjidil Haram. Kepada anaknya, Teungku Chiek bercerita tentang kejadian di Awe Geutah, di mana masyarakat di sana tidak menjalankan wasiat beliau. 

Teungku Chiek juga menjelaskan kepada anaknya tentang hikmah di balik dua benda (pedang dan cincin) yang beliau wasiatkan agar dimasukkan ke dalam peti jenazah. Beliau mengatakan kepada anaknya bahwa, apabila pedang tersebut dikuburkan bersama jenazahnya, maka orang-orang kafir tidak akan bisa masuk ke tanah Aceh. Adapun cincin, dimaksudkan agar agama Islam di Aceh lebih kuat dibanding dengan daerah lain. Namun si penerima wasiat hanya memasukkan cincin saja, sehingga agama Islam tetap kuat di Aceh, tapi di sisi lain orang kafir bisa masuk ke Aceh.

Setelah selesai bercerita, Teungku Chiek meminta anaknya yang sudah menjadi Syaikh di Mekkah tersebut agar pulang ke Awe Geutah dan menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat di sana. Akhirnya anak Teungku Chiek pun pulang ke Awe Geutah. Sesampainya di sana, anak Teungku Chiek tersebut menceritakan kisah pertemuannya dengan ayahnya di Mekkah. Mendengar cerita tersebut, masyarakat Awe Geutah merasa menyesal karena tidak menjalankan wasiat dari Teungku Chiek.

Shalat Jumat di Masjidil Haram 

Sebagai sosok ulama yang dianggap keramat, Teungku Chiek Awe Geutah diyakini memiliki beberapa kelebihan. Dikisahkan bahwa Teungku Chiek Awe Geutah sering melaksanakan shalat Jumat di Mekkah, sedangkan beliau tidak berdomilisi di Mekkah. Hal ini menimbulkan keheranan di tengah masyarakat, di mana pada hari Jumat, Teungku Chiek tidak pernah shalat Jumat di Awe Geutah. Dari waktu ke waktu, masyarakat semakin heran karena mereka melihat Teungku Chiek yang notabene seorang ulama besar tidak pernah shalat Jumat.

Alkisah, ada seorang perantau asal Awe Geutah yang bermukim di Mekkah. Pada suatu ketika perantau tersebut pulang ke Awe Geutah. Tanpa sengaja, masyarakat di Awe Geutah menceritakan kepada perantau tersebut, bahwa ulama besar Teungku Chiek Awe Geutah tidak pernah shalat Jumat. Mendengar keterangan tersebut, si perantau ini terkejut dan mengatakan bahwa dia selalu berjumpa dengan Teungku Chiek di Masjidil Haram pada hari Jumat. Mendengar informasi unik dari si perantau tersebut, masyarakat kembali terkagum-kagum dengan karamah yang dimiliki oleh Teungku Chiek. [] 

Bersambung…Ritual di Makam Teungku Chiek Awe Geutah

Note: Tulisan ini dibuat untuk melengkapi Tugas Mata Kuliah Agama dan Ilmu-Ilmu Kemanusiaan di PPs UIN Ar-Raniry yang diasuh oleh Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D
Share this article :


No comments:

Post a Comment