Friday, June 5, 2015

Si Pitung dan Din Minimi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 28 Mei 2015


Sekira empat bulan lagi, tepatnya pada 15 Agustus 2015 mendatang, usia damai Aceh akan genap sepuluh tahun. Hitungan sepuluh tahun itu sendiri bersifat relatif. Jika angka tersebut dilekatkan pada manusia, maka kesimpulannya usia tersebut adalah usia yang sangat belia. Disebut belia karena usia manusia itu paling lama berkisar antara 60-100 tahun. Jadi, bagi manusia, usia sepuluh tahun adalah usia “anak kecil” yang masih sangat sensitif dan rentan dengan berbagai persoalan di sekelilingnya. 

Berbeda halnya, jika angka sepuluh tahun itu disandangkan pada hewan ternak seperti sapi atau kerbau. Bagi sapi dan kerbau, usia sepuluh tahun adalah usia yang sangat matang dan bahkan sudah memasuki masa sepuh. Seorang anak dengan usia sepuluh tahun masih berada di bawah asuhan orang tuanya, sedangkan sapi dan kerbau dalam usia tersebut sudah menjadi “nenek-nenek” dengan segudang “cucu”. Begitulah.

Dari dua contoh di atas, penulis ingin menjelaskan bahwa perbedaan sudut pandang (perspektif) akan menghasilkan perbedaan kesimpulan. Namun demikian, dalam kaitannya dengan damai Aceh, tentunya “rumus” manusia dan kerbau tidak dapat dipakai, mengingat perdamaian di Aceh adalah kasus yang kompleks yang mesti dikaji dari berbagai sudut pandang, berbeda dengan kasus manusia dan kerbau seperti penulis sebut di atas.

Sebagaimana telah kita saksikan bersama, bahwa meskipun damai Aceh telah memasuki usia sepuluh tahun, namun berbagai gejolak masih saja terjadi. Jika dicermati, gejolak yang terjadi di Aceh pasca damai dapat diklasifikasikan dalam dua kasus; pertama, kasus bermotif politik dan kedua, kasus bermotif ekonomi. Namun demikian, berbagai kasus yang terjadi di Aceh selama sepuluh tahun terakhir tidak mungkin semuanya disenaraikan dalam tulisan singkat ini.

Kematian TNI di Nisam

Beberapa bulan yang lalu, Aceh dihebohkan dengan peristiwa tewasnya dua personil TNI di Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Dua personil TNI tersebut dibunuh secara sadis oleh orang tak dikenal (OTK). Pasca tewasnya dua TNI tersebut, pihak TNI dan Polri langsung melakukan berbagai langkah pencarian terhadap para tersangka. 

Saat itu beredar informasi bahwa aksi pembunuhan terhadap personil TNI tersebut dilakukan oleh kelompok Din Minimi. Namun demikian, dalam keterangan persnya di beberapa media, Din Minimi membantah tudingan tersebut. Bahkan Din Minimi juga mempertegas bahwa kelompok mereka tidak memiliki urusan dengan TNI-Polri, sasaran mereka hanyalah Pemerintah Aceh. Wallahu A’lam.

Din Minimi Vs Pemerintah Aceh

Jika kita menyimak dalam berbagai pemberitaan di media, hampir setiap saat Din Minimi mengulang kalimat-kalimat yang sama, bahwa musuhnya adalah Zaini dan Muzakkir Manaf, bukan TNI-Polri. Din Minimi juga selalu mengkampanyekan kepada publik bahwa perjuangan yang dilakukannya adalah demi kepentingan mantan kombatan, janda korban konflik dan anak yatim.

Dalam pandangan Din Minimi, kondisi Aceh hari ini masih jauh dari harapan. Kesejahteraan masyarakat juga belum terlaksana secara penuh. Demikian pula dengan janji-janji yang pernah dikampanyekan juga belum terealisasi. Atas dasar ini-lah Din Minimi mengangkat senjata guna melawan Pemerintah Aceh. Demikianlah pengakuan Din Minimi yang sempat direkam oleh beberapa media.

Terlepas benar tidaknya pengakuan dari Din Minimi tersebut – yang tentunya hanya dia dan Allah yag tahu, namun yang jelas saat ini Din Minimi adalah sosok yang paling dicari oleh aparat keamanan di Aceh. Media mengabarkan bahwa beberapa waktu lalu juga telah terjadi kontak-tembak di beberapa tempat seperti di Pidie dan Limpok Banda Aceh.

Si Pitung

Dulu, ketika masih sekolah (tahun 90-an), penulis pernah menonton satu film yang mengisahkan tentang seorang tokoh Betawi bernama si Pitung. Film tersebut kononnya dirilis pada tahun 70-an. Dalam film tersebut dikisahkan bahwa Si Pitung adalah seorang “pahlawan rakyat kecil” yang berprofesi sebagai perampok. Pitung merampok harta-benda orang kaya dan tuan tanah untuk kemudian hasilnya dibagikan kepada rakyat kecil.

Beberapa penulis menyebut bahwa kisah si Pitung merupakan salah satu bentuk pemberontakan sosial dari orang Betawi terhadap pemerintah Belanda yang saat itu berkuasa di Indonesia. Bagi pemerintah Belanda dan para tuan tanah, si Pitung adalah seorang penjahat yang pekerjaannya merampok harta milik orang lain. Namun bagi rakyat kecil, sosok Pitung adalah seorang pahlawan yang sangat peduli kepada nasib masyarakat. Dua sisi ini akan terus berlawanan dan tidak mungkin disatukan, sehingga sosok Pitung menjadi tokoh yang “kontroversial” di zamannya.

Munculnya tokoh seperti Pitung tentunya tidak terlepas dari kondisi sosial yang melingkupinya. Pitung adalah simbol perlawanan masyarakat tertindas dan merupakan respon terhadap kedhaliman penguasa. Kondisi penguasa yang bergelimang harta di tengah rakyat yang miskin papa ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Tanpa teori Marxis pun gejolak sosial ini akan tetap muncul, karena ia adalah konsekwensi logis dari fenomena itu sendiri.

Terkait dengan perlawanan Din Minimi di Aceh, penulis tidak berani berspekulasi terlalu jauh. Namun jika dicermati dengan seksama, maka akan terlihat beberapa persamaan antara Din Minimi dan sosok Si Pitung dari Betawi. Bagi para kombatan yang merasa senasib dengan Din Minimi, tentunya sosok Din Minimi akan dianggap sebagai pahlawan. Demikian pula sebaliknya, bagi pihak-pihak yang berseberangan tentunya akan punya kesimpulan yang berbeda. 

Mari Bersatu Bangun Aceh

Beberapa paragraph yang telah penulis uraikan di atas tidak bermaksud untuk membela pihak manapun, dan tidak pula untuk menyindir siapa pun. Tulisan ini hanyalah curahan hati anak bangsa yang senantiasa berhajat agar kedamaian Aceh tetap “abadi” hendaknya. Di akhir tulisan ini, penulis mengajak semua pihak agar bijak dalam bertindak, karena kita semua bersaudara. 

Kita berharap damai Aceh tidak lagi terusik agar kesejahteraan rakyat bisa segera tercapai. Seluruh elemen masyarakat Aceh hendaknya segera bersatu untuk membangun Aceh. Jika kita terus bersitegang dan berpecah belah, maka kesejahteraan itu akan semakin jauh. Wallahu Waliyut Taufiq.

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Waspada Medan


Share this article :


No comments:

Post a Comment