Friday, June 26, 2015

“Mitos” Wahabi dalam “Kemelut” Baiturrahman

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1925
Sumber Foto; Koleksi Digital Khairil Miswar
Setelah terjadi “ketegangan” dalam beberapa hari terakhir, akhirnya polemik tata laksana ibadah di Mejid Raya Baiturrahman “terjawab sudah”. Para “mujahid” media sosial menyebarkan selembar surat yang ditandangani oleh Gubernur dan beberapa tokoh agama di Aceh. Kabarnya tata laksana ibadah di Mesjid Raya Baiturrahman telah kembali kepada Ahlussunnah Waljama’ah yaitu dengan penerapan fiqih Syafi’iyah. Meskipun hasil “negosiasi” ini disebut-sebut sebagai solusi sementara, dan untuk selanjutnya menunggu hasil Muzakarah Ulama yang akan dilaksanakan oleh Majelis Permusyawarat Ulama (MPU), tapi setidaknya “kesepakatan” tersebut telah berhasil meredam “konflik” untuk sementara waktu. Untuk itu, langkah ini patut kita apresiasi, walaupun dalam “tanda kutip”.

Namun, di sebalik kisah ini, ada beberapa hal yang terasa perlu untuk diperbincangkan kembali, bukan untuk memperkeruh dan bukan pula untuk menggugat “ketentraman” yang telah dirajut, tapi hanya sekedar mengurai “benang kusut” yang telah terlanjur merasuk ke dalam kalbu sebagian kaum muslimin di tanoh indatu.

Jika dicermati, “kisruh” terkait tata laksana ibadah di Mesjid Raya Baiturrahman yang berlangsung “alot” akhir-akhir ini, kita akan dihadapkan pada beberapa “isu” yang sulit dipahami. Sebagian kalangan (via media sosial) menduga bahwa “kisruh” Mesjid Raya merupakan satu momen yang sengaja diciptakan demi kepentingan politik. Ada pula sebagian pihak (juga via media sosial) yang menyebut fenomena yang terjadi di Baiturrahman sebagai “konflik” antara Profesor dan Ulama (tepatnya Teungku Dayah). Isu lainnya yang tak kalah menarik adalah isu Wahabi yang kononnya selama ini telah “menguasai” Baiturrahman. Isu terakhir inilah yang paling santer disebut-sebut di media sosial.

Terkait dua isu yang disebut pertama insya Allah akan dikupas dalam tulisan tersendiri pada kesempatan lain. Untuk kali ini, saya hanya akan mengulas sedikit terkait isu terakhir (Wahabi), di mana isu tersebut lumayan “laris” dan “laku keras” jika dihubungkan dengan “kisruh” Mesjid Raya Baiturrahman.

Beberapa pihak menyebut bahwa selama ini Mesjid Raya Baiturrahman telah dikuasai oleh Wahabi dan tata laksana ibadah di mesjid tersebut tidak sesuai dengan Ahlussunnah Waljama’ah dan Mazhab Syafi’i (tepatnya Syafi’iyah). Saya melihat, alasan inilah yang dijadikan sebagai “dalil” oleh sebagian pihak untuk mengembalikan Mesjid Raya Baiturrahman ke dalam pangkuan Ahlussunnah Waljama’ah.

Khususnya di Aceh, stigma Wahabi umumnya dilekatkan kepada pihak-pihak non dayah. Pihak non dayah ini sendiri terbagi ke dalam dua golongan. Pertama, golongan yang memang tidak pernah mengecap pendidikan di dayah, seperti para siswa yang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah agama dan juga mahasiswa yang belajar agama di Perguruan Tinggi. Kedua, golongan yang pernah belajar di dayah, tetapi kemudian meninggalkan pola pikir doktrinal serta terbuka kepada pemikiran-pemikiran baru, sehingga identitas “kedayahannya” tidak lagi dominan. Oleh sebagian masyarakat, dua golongan ini cenderung disebut sebagai Wahabi.

Di sisi lain, jika dikerucutkan, pengertian Ahlussunnah dalam pemahaman sebagian masyarakat Aceh sebenarnya sangat sederhana, di mana Ahlussunnah  itu dimaknai sebagai “bertauhid Asy’ari, ber-fiqih Syafi’i dan bertashawuf Ghazali”. Dengan demikian, jika ada pihak-pihak yang tidak bertauhid Asy’ari, tidak ber-fiqih Syafi’i dan praktek tashawufnya tidak sesuai dengan Ghazali, maka orang tersebut adalah Wahabi.

Di Aceh, Wahabi juga sering diindentikkan dengan orang-orang yang “suka baca” buku. Ada satu “keyakinan” yang berkembang di Aceh bahwa belajar agama dari buku adalah “sangat terlarang”. Namun jika ditelisik dengan jujur, sebenarnya ramai pula ulama-ulama dayah yang menulis buku. “Pengharaman” baca buku juga terkesan tidak adil ketika dihadapkan pada buku-buku yang ditulis oleh Sirajuddin Abbas, di mana buku Sirajuddin Abbas telah dianggap “halal” oleh mereka yang mengharamkannya. Dengan demikian, sangat “janggal” rasanya jika membaca buku disebut sebagai Wahabi. 

Isu Wahabi akan semakin menarik ketika dikontraskan dengan term Ahlussunnah Waljama’ah, di mana “kapling” Ahlussunnah Waljama’ah telah “diborong” oleh satu atau dua golongan saja, yaitu Asy’ariyah dan Maturidiyah. Adapun Wahabiyah (lebih tepat disebut Salafiyah) telah dikeluarkan “secara paksa” dari lingkungan Ahlussunnah Waljama’ah.

Di akui atau pun tidak, definisi Wahabi yang berkembang di Indonesia, khususnya di Aceh, lebih banyak merujuk kepada definisi yang dibuat oleh Sirajuddin Abbas melalui buku-bukunya yang “laris manis” di kalangan “santri”. Buku I’tiqad Ahlussunnah Waljama’ah yang ditulis oleh Sirajuddin Abbas sudah menjadi semacam “kitab keramat” bagi sebagian masyarakat Indonesia, tak terkecuali Aceh.

Seorang cendikiawan muslim dari Aceh, Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh pernah menulis sebuah buku yang mengulas tentang sejarah Salafiyah di Indonesia. Aboebakar Atjeh (1970) dengan mengutip Hafiz Wahbah, menulis bahwa itilah Wahabi tidak dikenal di negeri Arab. Istilah Wahabi sengaja dilancarkan oleh pihak-pihak yang kontra terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan maksud propaganda.

Adalah antagonis jika kita mengkaji Wahabi dari perspektif Asy’ariyah atau Maturidiyah, apalagi jika menggunakan perspektif Syi’ah tentu hasilnya akan semakin “parah”. Wahabi harus dilihat dari perspektif Wahabi. Jika kita ingin tahu tentang Wahabi, maka tanyalah kepada Wahabi. Jika kita hendak paham apa itu Wahabi, maka bacalah buku dan kitab-kitab yang ditulis oleh Wahabi. Jangan menghakimi Wahabi hanya berdasarkan buku-buku Asy’ariyah, Maturidiyah dan Syi’ah, karena hasilnya akan jauh panggang dari api. 

Dengan mengutip pepatah Melayu, Hamka pernah berpesan melalui tulisannya: “Hendak tahu di baik orang tanyakan kepada kawannya, hendak tahu di buruk orang tanyakan kepada lawannya”. Bagi kita yang mau berpikir dan bersikap adil, maka falsafah yang dipesankan oleh Hamka bisa menjadi satu metode untuk mendefinisikan Wahabi secara objektif. Namun, bagi sebagian pihak, pesan Hamka ini pun akan turut dipermasalahkan, mengingat Hamka pun pernah dituduh sebagai Wahabi.

Jika kita mau membaca buku dan tulisan-tulisan yang ditulis oleh Wahabi secara cermat, maka kita akan menemukan “cahaya terang” bahwa Wahabi juga Ahlussunnah Waljama’ah yang ’aqidahnya serumpun dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Jika kita cermat membaca sejarah, maka kita akan mengetahui bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dan sahabatnya Muhammad bin Nuh adalah “satu-satunya” tokoh yang sangat kuat mempertahankan keyakinan Ahlussunnah Waljama’ah di tengah hegemoni Mu’tazilah yang menguasai dunia Islam saat itu. Dan, jika kita berani jujur, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari sebagai tokoh besar Ahlussunnah Waljama’ah pasca “keruntuhan” Mu’tazilah juga banyak menyandarkan pendapatnya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Sekarang mari kita bertanya kepada diri kita, apakah Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Ahmad bin Hanbal juga seorang Wahabi? Wallahul Musta’an. []

Artikel ini juga telah dikutip sebagaimana aslinya oleh Rubrik Wacana Republika Online dengan tajuk "Menelisik Wahabi di Mesjid Baiturrahman (1)" dan  "Menelisik Wahabi di Mesjid Baiturrahman (2-Habis)". 
Share this article :


22 comments:

  1. Terima kasih, Pak!
    Alhamdulillah mencerahkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit berbagi pengalaman siapa tau bermanfaat
      Sudah berkali-kali saya mencari tempat yang menyediakan pesugihan, mungkin lebihdari 15 kali saya mencari paranormal mulai dari daerah jawa Garut, Sukabumi, cirebon, semarang, hingga pernah sampai ke bali , namun tidak satupun berhasil, suatu hari saya sedang iseng buka-buka internet dan menemukan website ustad.hakim
      www.pesugihan-islami88.blogspot.co.id
      sebenarnya saya ragu-ragu jangan sampai sama dengan yang lainnya tidak ada hasil juga, saya coba konsultasikan dan bertanya meminta petunjuk pesugihan apa yang bagus dan cepat untuk saya, nasehatnya pada saya hanya di suruh YAKIN dan melaksanakan apa yang di sampaikan pak.ustad, Semua petunjuk saya ikuti dan hanya 1 hari Alhamdulilah akhirnya 5M yang saya tunggu-tunggu tidak mengecewakan, yang di janjikan cair keesokan harinya, kini saya sudah melunasi hutang-hutang saya dan saat ini saya sudah memiliki usaha sendiri di jakarta, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya sering menyarankan untuk menghubungi ustad.hakim bawazier di 085210335409 agar di berikan arahan

      Delete
  2. Assalammualaikum. Bolehkah tulisan ini sy publikasikan utuk rubrik wacana di Republika Online? Jika berkenan bisa berkomunikasi melalui email sy, akbar_akb@yahoo.com
    Wassalam

    ReplyDelete
  3. Assalammualaikum. Bolehkah tulisan ini sy publikasikan utuk rubrik wacana di Republika Online? Jika berkenan bisa berkomunikasi melalui email sy, akbar_akb@yahoo.com
    Wassalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa alaikum salam. Boleh saja jika berkenan.....

      Delete
  4. klo seandainya sya kirimkan scanan/kitab krangan ulama wahabi seperti muhammad ibn abdulwahab, albani, ibn bazz, 'usaimin, shaleh fauzan dll. Yang mna tulisan mereka bertentangan dgan aqidah asya'irah dan maturidiyah 180° , Apakah bpak mw merujuk dri artikel yg bpak tulis ini??? Han ek kujak peabeh minyek keunan nyoe hna hase....

    ReplyDelete
  5. Kalau wahabi bermashaf hambali berarti bermashaz tauhid dg asyari kan. Tp kok wahabi dtempat kami beda. Mereka anti mashaz dan katnya mereka kita kembali kepda alquran dan hadis sahaja.

    ReplyDelete
  6. Mereka memang berafiliasi kepada imam Ahmad bin hambal tpi aqidahnya jauh berbeda

    ReplyDelete
  7. Neu jak keuno bak lon jet lon peulemah kitab2 peu yg di pebet di pesantren2 binaan awak nyan...

    ReplyDelete
  8. klo seandainya sya kirimkan scanan/kitab krangan ulama wahabi seperti muhammad ibn abdulwahab, albani, ibn bazz, 'usaimin, shaleh fauzan dll. Yang mna tulisan mereka bertentangan dgan aqidah asya'irah dan maturidiyah 180° , Apakah bpak mw merujuk dri artikel yg bpak tulis ini??? Han ek kujak peabeh minyek keunan nyoe hna hase....

    ReplyDelete
  9. Tidak, sebaiknya kirim scan kitabnya abul hasan al-asy'ary yg menunjukkan akidah ahlus sunnah itu.

    ReplyDelete
  10. dr tulisan y anda tulis, ky'a anda sendiri tidak paham apa, siapa, n bagaimana wahabi itu sendiri.
    jika ada pihak-pihak yang tidak bertauhid Asy’ari, tidak ber-fiqih Syafi’i dan praktek tashawufnya tidak sesuai dengan Ghazali, maka orang tersebut adalah Wahabi.
    Di Aceh, Wahabi juga sering diindentikkan dengan orang-orang yang “suka baca” buku. NYAN PEU ATA NEU TELITI, PEU ATA LAM ULE DROE NEUH PAK ?

    ReplyDelete
  11. Kurang meyakinkan tulisan anda...

    ReplyDelete
  12. Anda harus banyak cari referensi lagi perbedaan wahabi dan aswaja. Banyak buku2, video debat wahabi dan aswaja ustad idrus ramli, buya yahya, dan ulama aswaja lainnya sering dialog dan debat terbuka dengan dedengkot wahabi indonesia..Khusus wahabi di aceh, bisa dibilang wahabi ikut2an yg dia sendiri tidak tau apa itu wahabi, dan bahkan tidak sadar kalau dia wahabi. Diaceh mereka mengaku bermazhab, tapi buktinya mreka anti mazhab dan kadang pakek mazhab gado2. Mreka terkesan cinta nabi, tapi maulid di anggap bid'ah, ngomong kembali ke hadist, tapi ingkar hadist, kalau pendapat sahabat nabi tidak di gubris, yg beda ama pemikiran mreka semuanya salah. Gampang membid'ahkan org lain. Kalau anda mau bukti cek aja sendiri di lapangan. Kalau au bukti kuat, coba maen2 ke negara arab biar tau wahabi itu seperti apa. Dan satu lagi, sampai kiamat wahabi tidak akan mau menerima kebenaran meskipun terbukti keliru mreka tetap kekeh ama pendirian mreka yg keliru.

    ReplyDelete
  13. Terma kasih pemaparannya... ringkasnya pakai Islam yg sudah ditradisikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  14. Kerancuan pada tulisan disini http://m.republika.co.id/…/nqqboim-menelisik-wahabi-di-masj…

    1. Ditulisan disini bahwa masyarakat Aceh cenderung menyebut WAHABI kepada Mahasiswa atau masyarakat biasa non dayah/non universitas.

    2. Dalam pemahaman Masyarakat Aceh Ahlussunnah wal Jamaah adalah bertauhid Asy'ari.

    Tanggapannya adalah :
    1. Ini Bahasa Tuduhan kepada masyarakat, Wahabi bukanlah Mahasiswa atau masyarakat biasa non dayah/non universitas, tapi Wahabi adalah golongan sesat yang ciri-cirinya telah jelas antaralain bertauhid dengan Tauhid Rububiyah/Uluhiyah/Asma wa Sifat,Meyakini Allah dilangit, Mengharamkan Takwil ayat Mutasyabihat, Mengharamkan Maulid Nabi SAW, Tawassul, Ziarah Kubur, Tahlilan, Talqin, dll. Dan Masyarakat Aceh sangat faham tentang demikian.

    2. Pemahaman Masyarakat Aceh bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah bertauhid Asy'ari itu sesuai dengan perkataan Ulama dahulu, seperti tertulis dalam Syarah Ihya Ulumiddin yaitu " Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jamaah maka artinya adalah Pengikut Imam Asy'ari.

    Mari sama-sama kita perhatikan tulisan-tulisan di berbagai Media yang menyudutkan masyarakat dan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah.

    ReplyDelete
  15. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete