Monday, June 1, 2015

Mahasiswa “Plastik”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Mei 2015

Khairil Miswar. Foto Kenangan Saat Melakukan
Aksi bersama Tim Keprihatinan Untuk Aceh
di Batavia sekira Tahun 2002


Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan temuan beras plastik yang kononnya sudah beredar di pasaran. Terlepas benar tidaknya temuan tersebut, tapi yang jelas isu beras plastik telah menjadi perbincangan “panas” dalam masyarakat. Sebenarnya isu tersebut bukanlah hal baru. Sebelumnya juga pernah tersiar kabar tentang temuan telur palsu. Bahkan baru-baru ini juga berhembus informasi bahwa tidak hanya beras dan telur yang dipalsukan, tetapi susu anak-anak juga banyak yang dipalsukan dengan menggunakan bahan-bahan berbahaya. 

Berbicara masalah palsu sebenarnya tidak hanya terbatas pada makanan saja. Baru-baru ini juga mulai mencuat masalah ijazah palsu yang melibatkan beberapa perguruan tinggi. Selain itu, kita pun sering mendengar dukun palsu, gigi palsu, polisi palsu (gadungan), tentara palsu (gadungan), uang palsu dan “sejuta” palsu lainnya. Pokoknya, dunia ini sudah mulai penuh dengan “kepalsuan”.


Palsu dan Plastik

Dulu, ketika saya masih kecil, saya sering dibelikan senjata mainan oleh ayah. Senjata tersebut umumnya terbuat dari plastik, seperti pistol plastik dan senapan plastik. Ayah saya menyebut pistol mainan tersebut sebagai pistol palsu karena terbuat dari plastik. Saat, itu saya memahami “plastik” itu sebagai salah satu ciri-ciri benda palsu, seperti mobil plastik, pedang plastik dan gelas plastik. Bagi anak-anak perempuan waktu itu juga sering dibelikan mainan seperti kompor plastik, belanga plastik, sendok plastik, piring plastik dan boneka plastik. Pokoknya, setiap yang plastik itu palsu, begitulah kesimpulan saya ketika itu.

Fenomena “plastik” tidak hanya sekedar untuk mainan anak-anak, orang dewasa pun banyak yang gemar dengan “plastik”. Di kampung saya, ada beberapa rumah yang di halamannya (di teras) “ditanami” dengan bunga-bunga plastik. Memang bunga-bunga plastik itu banyak kelebihannya, karena bunga plastik tersebut tidak pernah layu, sehingga tidak perlu disiram atau dirawat. Bagi wanita-wanita yang bawaannya “malas” bisa memperindah rumahnya dengan bunga plastik. Meskipun bunga plastik itu palsu, tapi dari kejauhan dia tampak indah juga.

Fenomena “Mahasiswa Plastik” 

Beberapa waktu lalu berkembang informasi bahwa pada 20 Mei 2015, mahasiswa seluruh Indonesia akan turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi besar-besaran guna mengingatkan Presiden Jokowi. Namun menjelang 20 Mei (tepatnya 18 Mei) beredar kabar bahwa Presiden Jokowi mengundang seluruh BEM di Indonesia ke Istana Negara. Akibat undangan yang mendadak, hanya beberapa BEM saja yang hadir pada pertemuan tersebut.

Entah ada hubungannya dengan undangan Presiden tersebut, isu demo 20 Mei yang semula berhembus kuat, perlahan mulai meredup. Ada dugaan dari sebagian pihak bahwa ketua BEM disogok sejumlah 50 juta guna menggagalkan demo tersebut. Entahlah. Wallahu A’lam.

Setelah membaca beberapa “berita miring” tersebut, saya jadi teringat kepada teman saya – lebih tepat saya sebut sebagai senior. Namanya Ismail, panggilan kerennya Ismail Von Sabi. Saat itu beliau masih berstatus sebagai Mahasiswa Fakultas Teknik di salah satu Perguruan Tinggi di Aceh. Adapun saya, ketika itu, sekira tahun 1999 adalah mahasiswa baru di IAIN Ar-Raniry, usia saya ketika itu baru 18 tahun. Untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan Ismail di Sekretariat Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) di kawasan Peunayong Banda Aceh. Beliau pernah berkata kepada kami: “Jadilah Mahasiswa, dan jangan jadi anak kuliah”. Saya tidak tahu persis apakah kalimat tersebut merupakan “produk” beliau atau “produk” orang lain yang sengaja beliau populerkan. Tapi yang jelas, setelah mendengar kalimat itu, saya mencoba untuk berpikir dan berusaha menafsirkan kalimat sederhana yang sarat makna itu.

Setelah berpikir agak lama baru saya menemukan makna yang tepat untuk kalimat yang diajukan oleh Ismail kepada kami – para mahasiswa baru yang tengah semangat-semangatnya hendak “menggulung kedhaliman” di negeri ini. Saya mencoba memutar ingatan saya pada aksi mahasiswa tahun 1998 yang telah sukses menggulingkan “Nek To” (panggilan khas kami untuk Almarhum Jenderal Soeharto – semoga Allah lapangkan kuburnya). Ketika itu saya masih duduk di kelas 3 MAN dan berharap cepat-cepat ujian, agar bisa segera menjadi mahasiswa. 

Akhir perenungan saya bermuara pada satu kesimpulan bahwa yang “menggulingkan” Soeharto adalah Mahasiswa, bukan anak kuliah. Mahasiswa tidak hanya berpikir untuk dirinya, tapi ia juga akan berbuat untuk bangsanya. Mahasiswa itu peka terhadap rangsangan di sekelilingnya. Mahasiswa itu peduli, tidak apatis. Mahasiswa itu “hidup” dan paham kemana “hidup” itu akan dibawa. Mahasiwa itu bukan orang-orang yang “menunggu ajal” di “kasur empuk”. Mahasiswa tidak akan tergoda hanya karena sepiring “Mie Caluek” (mie rebus). Singkatnya, mahasiwa sejati itu tidak akan pernah“terbeli”.

Lantas bagaimana dengan anak kuliah? Saya membayangkan seorang anak kuliah itu adalah mereka yang “berkacamata tebal” dan jalannya “menunduk”. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya agar beasiswa bisa cair setiap semester. Harapan terbesar anak kuliah adalah mendapat IPK 4, dan jika perlu harus dapat 5. Hidupnya mengalir saja seperti air. Seandainya kita melemparkan “bom” ke hadapannya, dia akan tetap “menunduk” dan hanya bergeser sedikit, sekedar menyelamatkan kakinya agar tidak terkena serpihan, selepas itu ia pun kembali berlalu. Begitulah anak kuliah. Jika ingin panjang, sambung saja sendiri.

Mari kita tinggalkan Ismail Von Sabi dan teori Mahasiswa Vs Anak Kuliah. Sekarang kita kembali pada masalah plastik yang telah disinggung di awal tulisan ini. Sebagaimana telah saya uraikan di atas, bahwa plastik sering digunakan untuk membuat benda-benda “palsu”, khususnya mainan anak-anak. Jika dicermati, fenomena “plastik” juga telah merambah dalam dunia mahasiswa di Republik ini. Untuk saat ini, saya melihat bahwa teori mahasiwa dan anak kuliah sudah tidak relevan lagi digunakan. Persoalan sekarang bukan lagi terletak pada anak kuliah, tapi pada mahasiswa itu sendiri.

Saya ingin katakan bahwa, mahasiswa yang sudah melupakan “jati dirinya” adalah “Mahasiswa Plastik”. Itu saja! Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah dipublikasikan di Kompasiana
Share this article :


No comments:

Post a Comment