Tuesday, June 16, 2015

Bukan Syair Fansuri

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1880.
Sumber Foto: Doc Digital Faisal Ridha
Dikala kaum muslimin “sekalian alam” sedang bermunajat kepada Tuhan-Nya. Di Mesjid tanoh indatu justru terjadi “keriuhan” yang “menusuk kalbu” para insan beradab. Seandainya Syaikh Abdurrauf (syiah Kuala) yang “tenar” itu masih hidup, tentunya beliau akan “menangis” dan bahkan “tersedu” akibat ulah segelintir “anak cucunya” yang “hilang malu”.

Meunyoe Jumat ukeu hana perubahan siap roe darah” (kalau Jumat depan tidak ada perubahan, siap tumpahkan darah), demikianlah “kalimat syahdu” yang diucapkan oleh seorang “tokoh ulama” di dalam “Rumah Tuhan”. Sebuah seruan estetis “berbalaghah” tinggi yang tanpa sadar telah “mencabik-cabik” norma etis. Sesekali kalimat takbir pun ikut “dijual” demi menarik simpati para “prajurit”. Sungguh “mengharukan”.

Mesjid nyoe harus dengan syariat ahlussunnah waljama’ah” (mesjid ini harus bersyariat ahlussunnah waljama’ah). Luar biasa. Bergetar hati ini mendengar “fatwa pujangga” yang mendayu-dayu itu. Dengan semangat menggebu dan tangan mengepal, istilah Ahlussunnah pun dimonopoli hingga “tak terbeli”. Demikian mahalnya istilah itu, sehingga hanya menjadi milik orang-orang tertentu. Kita ibarat para “proletar” yang hanya bisa “gigit jari”, kita kalah dengan “borjuis” berlagak “suci”.

Harus Mazhab Syafi’i”. Lagi-lagi kita harus “pasang gigi” dan tersenyum lebar. Mungkin telah tiba “ajalnya” tanawwu’ itu, dan kita harus relakan ia pergi. Sudah tiba masanya tiga mazhab itu “gulung tikar” dari tanah ini. Tinggal kita sendiri, bersepi-sepi dengan satu “lirik” saja.

Hudep mulia mate syahid”. Betapa sejuknya hati ini mendengar slogan “keramat” dari sosok bergaya “malaikat”. Seolah tuturnya benar sangat, padahal racun menyengat yang hendak memburai persatuan umat. Beginilah jadinya, ketika laqab syahid dibeli di “kedai kopi”. 

Sesaat lagi kita akan terkurung dalam kamar-kamar jumud. Kita akan dihimpit oleh fanatisme yang telah membatu. Saat itulah “stempel-stempel sesat” akan menyasar jidat-jidat “tak berdosa”. 

Ini bukan kebangkitan! Tapi satu hegemoni menuju “tirani”. Untuk itu, izinkan saya mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dan tak perlu risih, karena coretan ini bukan syair Fansuri.
Share this article :


No comments:

Post a Comment