Friday, June 26, 2015

“Mitos” Wahabi dalam “Kemelut” Baiturrahman

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1925
Sumber Foto; Koleksi Digital Khairil Miswar
Setelah terjadi “ketegangan” dalam beberapa hari terakhir, akhirnya polemik tata laksana ibadah di Mejid Raya Baiturrahman “terjawab sudah”. Para “mujahid” media sosial menyebarkan selembar surat yang ditandangani oleh Gubernur dan beberapa tokoh agama di Aceh. Kabarnya tata laksana ibadah di Mesjid Raya Baiturrahman telah kembali kepada Ahlussunnah Waljama’ah yaitu dengan penerapan fiqih Syafi’iyah. Meskipun hasil “negosiasi” ini disebut-sebut sebagai solusi sementara, dan untuk selanjutnya menunggu hasil Muzakarah Ulama yang akan dilaksanakan oleh Majelis Permusyawarat Ulama (MPU), tapi setidaknya “kesepakatan” tersebut telah berhasil meredam “konflik” untuk sementara waktu. Untuk itu, langkah ini patut kita apresiasi, walaupun dalam “tanda kutip”.


Wednesday, June 24, 2015

“Insiden” Baiturrahman dan Persatuan Umat

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 23 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1895
Sumber Foto: Koleksi Digital Khairil Miswar
Sebagai bagian dari masyarakat Aceh, tentunya saya sangat paham bahwa apa yang hendak saya uraikan dalam tulisan ini adalah satu persoalan sensitif yang bisa memicu reaksi dari pihak-pihak yang “berseberangan”. Namun demikian, saya ingat pada pesan Nabi, bahwa agama itu adalah nasehat. Dalam kondisi segenting apapun, saya juga merasa harus “merealisasikan” kalam Allah dalam Alquran: watawashau bil haqqi watawashau bi shabri. Dua “titah” inilah yang “memaksa” saya untuk menulis sekedar perlu, meskipun “hujatan” datang menyerbu.



Tuesday, June 16, 2015

Bukan Syair Fansuri

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1880.
Sumber Foto: Doc Digital Faisal Ridha
Dikala kaum muslimin “sekalian alam” sedang bermunajat kepada Tuhan-Nya. Di Mesjid tanoh indatu justru terjadi “keriuhan” yang “menusuk kalbu” para insan beradab. Seandainya Syaikh Abdurrauf (syiah Kuala) yang “tenar” itu masih hidup, tentunya beliau akan “menangis” dan bahkan “tersedu” akibat ulah segelintir “anak cucunya” yang “hilang malu”.


Jilbab Untuk Tentara Wanita

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Juni 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: jilbab.indonesia.cc
Tidak hanya sekedar tahu, tapi nampaknya kita semua telah sepakat bahwa Negara Republik Indonesia menjamin kebebasan beragama bagi setiap warganya. Pasal 29 ayat 2 adalah dalil paling tegas dan lugas yang memberikan sinyal terang tentang kebebasan beragama di Indonesia. Bahkan, pasca pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965, penguasa Orde Baru telah memaklumkan bahwa Indonesia adalah negara yang anti kepada komunisme, tentunya termasuk ateisme di dalamnya. Dengan kata lain, setiap warga negara Indonesia secara normatif harus-lah memeluk salah satu agama.


Saturday, June 13, 2015

Teungku Chiek Awe Geutah dalam Riwayat

(Kajian Awal) 

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 13 Juni 2015

Khairil Miswar


Bagi masyarakat Bireuen, khususnya masyarakat Peusangan, nama Teungku Chiek Awe Geutah tentu tidak lagi asing. Cerita tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, nama Teungku Chiek Awe Geutah juga dikenal oleh sebagian besar masyarakat Aceh melalui cerita dalam pengajian di dayah-dayah (pesantren). Di sisi lain, kisah tentang Teungku Chiek Awe Geutah juga menarik perhatian para peneliti di luar Aceh dan bahkan luar negeri. Kabarnya ada beberapa mahasiswa dan peneliti yang datang dari luar Aceh untuk melakukan penelitian tentang Teungku Chiek Awe Geutah.


Menggugat “Moral” Wakil Rakyat

(Tragedi DPRK Bireuen)

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 11 Juni 2015 

Ilustrasi. Sumber Foto: aleks79.blogspot.com
Bagi masyarakat Indonesia, sudah tidak aneh lagi jika terdengar ada anggota dewan yang nyeleneh. Sepertinya hal tersebut sudah menjadi semacam tren tersendiri di abad modern, di mana ramai orang-orang terhormat yang sudah tak layak dihormati. Mendengar ada oknum anggota dewan nonton “video panas” di gedung dewan, kita hanya bisa tersenyum. Demikian pula jika beredar kabar ada oknum anggota dewan melakukan mesum, juga sudah dianggap sebagai fenomena yang biasa saja. Adapun terkait kasus korupsi dan sejenisnya yang melibatkan oknum dewan, juga semakin tidak relevan untuk dibahas, mengingat perilaku tersebut sudah menjadi semacam “tradisi” yang terus dipertahankan.


Polemik “Kaset Mengaji” dan “Polusi Suara”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 Juni 2015 

Ilustrasi. Sumber: www.tokopedia.com




Bagai memantik api di jerami kering, pernyataan Wapres Jusuf Kalla (JK) terkait larangan memutar kaset mengaji di mesjid sontak saja mengundang “keriuhan” para nitizen di media sosial. Pro-kontra akan terus berhembus menuju penjuru yang berbeda dan kemudian berhenti di muaranya masing-masing – tidak akan pernah ada kata sepakat. Memang, apa yang disampaikan JK adalah sebuah topik yang sensitif sehingga dapat memicu “adrenalin” dan mengundang perdebatan yang tidak berkesudahan. Polemik ini akan terus mengalir dan akan berhenti ketika kita semua sudah “jemu” – tanpa ada titik temu.


Friday, June 5, 2015

Si Pitung dan Din Minimi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 28 Mei 2015


Sekira empat bulan lagi, tepatnya pada 15 Agustus 2015 mendatang, usia damai Aceh akan genap sepuluh tahun. Hitungan sepuluh tahun itu sendiri bersifat relatif. Jika angka tersebut dilekatkan pada manusia, maka kesimpulannya usia tersebut adalah usia yang sangat belia. Disebut belia karena usia manusia itu paling lama berkisar antara 60-100 tahun. Jadi, bagi manusia, usia sepuluh tahun adalah usia “anak kecil” yang masih sangat sensitif dan rentan dengan berbagai persoalan di sekelilingnya. 


Monday, June 1, 2015

Berjilbab, Kenapa Harus ke Aceh?

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 31 Mei 2015 

Ilustrasi: Sumber: news.fimadani.com
Kalau mau pakai jilbab pindah ke Aceh! Begitulah sepotong kalimat yang kononnya diucapkan oleh Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, beberapa waktu lalu. Dalam tulisan singkat ini, saya tidak ingin berpanjang-panjang kalam. Karena berhadapan dengan sosok “tegas”, maka kita pun harus tegas. Kita langsung saja ke pokok persoalan.


Mahasiswa “Plastik”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Mei 2015

Khairil Miswar. Foto Kenangan Saat Melakukan
Aksi bersama Tim Keprihatinan Untuk Aceh
di Batavia sekira Tahun 2002


Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan temuan beras plastik yang kononnya sudah beredar di pasaran. Terlepas benar tidaknya temuan tersebut, tapi yang jelas isu beras plastik telah menjadi perbincangan “panas” dalam masyarakat. Sebenarnya isu tersebut bukanlah hal baru. Sebelumnya juga pernah tersiar kabar tentang temuan telur palsu. Bahkan baru-baru ini juga berhembus informasi bahwa tidak hanya beras dan telur yang dipalsukan, tetapi susu anak-anak juga banyak yang dipalsukan dengan menggunakan bahan-bahan berbahaya.