Thursday, April 23, 2015

Aceh, Kristenisasi dan “Periuk Nasi”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 April 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: ketikakuberkata1.rssing.com
Sepanjang sejarahnya, Aceh yang terletak di ujung utara Sumatera telah mengalami berbagai kondisi pahit manisnya sebuah kehidupan dari generasi ke generasi. Meskipun kedatangan Islam ke Aceh “masih diperselisihkan” oleh pakar sejarah – di mana ada teori Pasai (abad ke 14) dan teori Peureulak (abad ke 7), baru-baru ini kononnya juga telah muncul teori baru pasca penemuan koin emas di Pande, namun terlepas dari semua itu, nampaknya tidak ada “khilaf” ahli sejarah bahwa dari Aceh-lah Islam tersebar ke Nusantara. Tidak hanya itu, Kerajaan Aceh di masa lalu juga pernah mencapai puncak kejayaannya yang memiliki armada laut “terkuat” di Asia Tenggara dengan 500 buah kapal perang. Kononnya kekuatan militer yang dimiliki Aceh kala itu telah membuat Portugis berdiri “bulu kuduk”.

Dalam masa revolusi kemerdekaan RI, Aceh – sebagaimana disebut ahli sejarah, juga pernah menjadi “nafas terakhir” Indonesia yang saat itu berada dalam keadaan “koma”. Sehingga tidak-lah berlebihan disebut, seandainya tidak ada Aceh saat itu, mungkin Indonesia akan abadi dalam “kematiannya”. Tidak hanya pemandangan manis, Aceh juga pernah mengalami saat-saat pahit di masa lalu. Perang Cumbok antara Ulama dan Ulee Balang adalah “tragedi paling kelam” dalam sejarah Aceh. Di samping itu, sebagaimana di daerah lain, kononnya di Aceh juga pernah terjadi “pembantaian” terhadap orang-orang yang dituduh sebagai PKI, entah semuanya terlibat, wallahu a’lam.

Tragedi selanjutnya adalah meletusnya pemberontakan Darul Islam yang dipimpin oleh Al-Mujahid Teungku Muhammad Daud Beureu-eh yang di masa-masa revolusi kemerdekaan pernah menjabat sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Setelah konflik DI TII berakhir, pada perkembangan selanjutnya muncul pula pemberontakan dari Gerakan Aceh Merdeka yang dipimpin oleh seorang genius Paduka Teungku Muhammad Hasan di Tiro. Setelah hampir 30 tahun Aceh dilanda konflik bersenjata, akhirnya musibah gempa tsunami pada 2004 secara tidak langsung telah “memaksa” kedua belah pihak untuk berdamai.

Meskipun perdamaian telah terajut, namun gesekan-gesekan politik masih saja terjadi, walaupun dalam skala kecil. Di samping itu, beberapa tragedi memilukan sedikit demi sedikit mulai berulang. Beberapa aksi kriminal seperti penembakan terhadap Saiful Cage (mantan Panglima Wilayah GAM) dan penembakan pekerja asal Jawa di Bireuen beberapa tahun lalu serta serentetan aksi kriminal lainnya, khususnya di musim politik, secara tidak langsung telah membuat kondisi Aceh “panas-dingin”, kadang panas, kadang dingin.

Baru-baru ini dua anggota TNI juga dikabarkan tewas setelah sebelumnya diculik oleh kelompok bersenjata. Di tempat berbeda, seorang tokoh KPA juga mengalami penculikan, namun akhirnya lepas dari sekapan. Entah apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, wallahu a’lam. Kita hanya bisa berharap agar konflik tak lagi berulang.

Aceh, Kristenisasi dan Aliran Sesat 

Pasca musibah gempa tsunami – di mana Aceh telah memasuki babak baru (masa damai), sebagaimana telah disebut di atas bahwa “gejolak-gejolak” kecil masih saja terjadi. Di samping berbagai “aksi kriminal” pada musim pemilu, gesekan politik semisal kontroversi Lembaga Wali Naggroe dan Bendera Aceh serta aksi kriminal seperti pembunuhan dua TNI baru-baru ini, Aceh juga dihadapkan pada beberapa persoalan lain di luar konteks politik, semisal aliran sesat dan isu Kristenisasi.

Pasca tsumani, berbagai aliran sempalan dan pemahaman yang dianggap keliru bermunculan di Aceh, sebut saja Millata Abraham yang sempat menghebohkan Aceh beberapa waktu lalu. Demikian pula dengan ajaran Laduni yang muncul di Aceh Barat. Baru-baru ini MPU Aceh juga telah menfatwakan sesat terhadap Gafatar, sebuah organisasi yang diduga memiliki kaitan dengan Millata Abraham.

Tidak hanya aliran sesat, Aceh juga dihebohkan dengan isu Kristenisasi. Jika dicermati, memang upaya Kristenisasi telah mulai berlangsung di Aceh, khusunya pasca tsunami. Berbagai temuan, seperti ditemukannya Injil berbahasa Aceh, beredarnya buku-buku ber-aroma Kristen di beberapa daerah dan juga kasus pembagian buku bernuansa Kristen yang dilakukan oleh sepasang suami istri di Aceh Besar merupakan indikasi kuat bahwa gerakan Kristenisasi memang nyata adanya dan bukan sekedar bualan semata.

Beberapa waktu terakhir, Aceh juga dibuat heboh dengan kemunculan seorang “muallaf” yang mengaku sebagai mantan pendeta bernama I Gusti Ilham Ramadhani. Dalam pengakuannya sebagaimana dilansir oleh beberapa media, Gusti Ilham juga menyebut dirinya sebagai mantan Presiden Misonaris Asia yang ditugaskan untuk “meng-Kristenkan” masyarakat Aceh. Bersamaan dengan munculnya Gusti Ilham, di Aceh juga tersebar selebaran yang berisi nama-nama orang Aceh yang disebut telah murtad dan sudah berprofesi sebagai pendeta. Tidak hanya itu, dalam berbagai ceramahnya, Gusti Ilham juga menyebutkan beberapa produk yang haram dipakai karena mengandung lemak babi. Di antara produk yang diharamkan oleh Gusti Ilham adalah Tuperwere. Akibat “informasi aneh” yang disampaikan oleh Gusti Ilham, beberapa masyarakat sempat membakar produk-produk tersebut. Anehnya, sebagian masyarakat Aceh percaya saja dengan informasi yang disampaikan oleh Gusti Ilham.

Setelah melanglang buana ke berbagai daerah di Aceh untuk berceramah, akhirnya kecurigaan terhadap Gusti Ilham pun muncul. Gusti Ilham diduga telah dengan sengaja menyebarkan kebohongan kepada publik dengan informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Kristenisasi dan “Periuk Nasi” 

Sebagaimana telah penulis sebutkan di atas, bahwa upaya Kristenisasi memang sedang berjalan di Aceh, namun demikian sebagai seorang muslim, tentunya kita harus bijak dan kritis dalam menerima segala bentuk informasi, jangan ditolak mentah-mentah dan jangan pula ditelan bulat-bulat. 

Sebenarnya, sejak pertama munculnya “muallaf” bernama Gusti Ilham, penulis sudah merasa curiga, karena informasi yang disampaikannya cenderung “provokatif” dan mengundang keresahan dari sebagian masyarakat Aceh. Apalagi beberapa nama orang Aceh yang ditudingnya sudah murtad dan telah menjadi pendeta tidak terbukti adanya. Demikian pula dengan beberapa produk seperti Tuperwere, Coffee Mix, minyak Bimoli dan produk-produk lainnya yang oleh Gusti Ilham dituding mengandung lemak babi, justru sudah memiliki sertifikat halal dari MUI.

Penyebaran isu-isu provokatif seperti ini jika dibiarkan saja oleh pemerintah, maka ditakutkan akan muncul gejolak sosial di tengah masyarakat. Jangan sampai isu-isu Kristenisasi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan praktek devide et impera di Aceh. Penulis melihat, gebrakan yang dilakukan oleh mantan pendeta bernama Gusti Ilham hanyalah sarana untuk mendapatkan popularitas yang bermuara kepada kepentingan “periuk nasi”. Gusti Ilham “telah berhasil” menghipnotis sebagian masyarakat Aceh dengan informasi-informasi yang tidak rasional dan imajiner. Secara matematis, semakin banyak ceramah yang diisi oleh Gusti Ilham, tentunya akan semakin banyak pula “rupiah” yang mengalir ke kantongnya.

Di akhir tulisan ini, penulis mengajak kita semua untuk kritis dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di Aceh. Jangan biarkan “Snouck Hungronje” memainkan propagandanya di Aceh sehingga ukhuwah Islamiyah menjadi rusak hanya karena propaganda murahan dari pihak-pihak yang tidak jelas asal-usulnya. Wallahul Musta’an.

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Waspada Medan


Share this article :


No comments:

Post a Comment