Thursday, March 26, 2015

Wahabi Ajarkan Toleransi di Aceh

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 24 Maret 2015
Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, Salah Seorang Tokoh PUSA
Sumber: www.harianaceh.co.id
Meskipun telah muncul hampir selama tiga abad (sejak abad 18), namun isu Wahabi masih saja “laris manis” dan selalu menjadi topik hangat dalam perbincangan kaum muslimin di seluruh dunia. Tidak seperti isu-isu lain yang hilang ditelan zaman, tapi isu tentang Wahabi (Wahabisme/Wahabiyah) terus menggelinding mengikut alur masa. Nampaknya, sebelum dunia ini kiamat, topik tentang Wahabi tidak akan pernah mati dan bahkan akan terus menyita perhatian kaum muslimin dari dua kutub yang saling bertentangan. 
Di satu pihak, Wahabiyah dianggap sebagai gerakan pemurnian agama paling sukses di panggung sejarah – yang di beberapa wilayah telah berhasil mengembalikan ajaran Islam ke dalam bentuk aslinya. Namun di pihak lain, gerakan Wahabi justru dianggap sebagai petaka yang telah merusak tradisi nenek moyang. Dalam perkembangan selanjutnya, ramai pula pihak-pihak yang menghubungkaitan Wahabi dengan ektrimisme dan terorisme. Terlepas di kutub mana kita berdiri, tapi yang jelas isu Wahabi telah membuat kita saling bertegang urat saraf sesama kaum muslimin. Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah memperingatkan kita, bahwa kaum muslimin itu bagaikan tubuh yang satu, di mana ketika satu bagian tubuh merasa sakit, bagian lain juga ikut merasakan kesakitan itu. Namun yang terjadi hari ini, jauh panggang dari api, tanpa sengaja kita telah terjebak dalam skenario devide et impera yang dilancarkan oleh kaum kafirin. Dalam beberapa literatur, di antaranya sebagaimana disebut oleh Ruray, bahwa stigma Wahabi adalah istilah yang digunakan oleh penjajah Inggris untuk menamakan Gerakan Mujahidin di Deoband India.

Oleh sebagian pihak, Wahabi sering dicitrakan sebagai penentang adat istiadat sehingga istilah Wahabi menjadi momok yang menakutkan. Bahkan, tragisnya lagi, oleh sebagian kalangan, Wahabi telah dianggap sebagai golongan di luar Ahlussunnah Waljama’ah. Padahal jika ditelisik secara objektif, Wahabi juga bagian dari Ahlussunnah Waljama’ah, sama halnya dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah, meskipun terdapat perbedaan yang ketat di beberapa sisi. Dalam hal teologi, banyak terdapat persamaan antara Salafiyah (Wahabi) dengan pendapat-pendapat Abu Hasan Al-Asy’ari. Demikian pula dalam bidang fiqh, umumnya Salafiyah (Wahabi) lebih dekat kepada Mazhab Hanbali, cuma saja, mereka tidak mengikatkan diri dengan mazhab-mazhab yang ada. Tapi, jika dicermati, pendapat-pendapat Salafiyah “tidak pernah keluar” dari pusaran empat “Mazhab Mu’tabar”. Wallahu A’lam.

Aceh dan Wahabi 

Aceh yang terletak di ujung Barat Indonesia sebenarnya juga telah “akrab” dengan Wahabi. Pada masa-masa pergerakan kemerdekaan, di Aceh telah berdiri Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang diketuai oleh Teungku Muhammad Daud Beureu-eh. Secara idiologis, jika teliti dengan cermat, pemikiran keagamaan PUSA memiliki banyak kesamaan (untuk tidak menyebut identik) dengan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabiya pada abad ke 18. Bahkan, berdasarkan riset yang pernah dilakukan oleh Djami’ah IAIN Ar-Raniry sekira tahun 70-an, disebutkan bahwa Tgk. Hasballah Indrapuri, seorang ulama di Aceh Besar menggunakan Kitab Tauhid karangan Muhammad bin Abdul Wahab dalam mengajarkan tauhid kepada umat.

Bahkan, di Aceh banyak ulama-ulama, khususnya di masa lampau yang pemikiran keagamaannya “serumpun” dengan pemikiran Salafiyah (Wahabi), sebut saja Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie yang buku-bukunya masih dibaca sampai sekarang. Uniknya lagi, ramai tokoh-tokoh Aceh di masa pergerakan kemerdekaan yang konsep keagamaannya serupa dengan Wahabi (Salafiyah). Dan bahkan organisasi PUSA yang merupakan organisasi besar di Aceh kala itu, mayoritas anggotanya adalah “Wahabi”.

Terlepas dari berbagai kekurangan (namanya manusia), diakui atau pun tidak, khususnya di Aceh, Wahabi memiliki kontribusi besar dalam memajukan pendidikan di Aceh, khususnya pendidikan modern. Didirikannya Al-Muslim di Aceh, tepatnya di Kota Matangglumpangdua, yang pada perkembangan selanjutnya telah melahirkan sekolah-sekolah modern, sekolah tinggi dan universitas, merupakan bukti paling otentik bahwa Wahabi punya “pengaruh besar” kala itu. 

Pengaruh Wahabi baru “meredup” di Aceh pada era 90-an, di mana – seiring dengan populernya Gerakan Aceh Merdeka, “hegemoni” gerakan tradisional konservatif semakin kuat di Aceh. Demikianlah guliran sejarah yang tak bisa dihalau. Timbul-tenggelamnya suatu gerakan pemikiran dalam pentas sejarah adalah lumrah saja. Tapi, narasi di atas setidaknya bisa mengingatkan kita bahwa Wahabi bukanlah istilah baru di Aceh. Suka tidak suka, senang tidak senang, Wahabi telah mengukir prestasi gemilang di masa lalu, khususnya di awal-awal kemerdekaan. Beberapa tokoh besar di Indonesia, semisal HOS Cokroaminoto, Muhammad Natsir, Ahmad Dahlan, Hamka dan sederetan nama-nama besar lainnya, tentunya tidak bisa dipisahkan dari pengaruh Wahabi (meskipun tidak selamanya identik). Demikian pula di Aceh, terkenal nama di antaranya, Teungku Daud Beureu-eh, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Hasballah Indrapuri, Ayah Hamid Namploh, Ali Hasyimi, Husen Al-Mujahid, M. Nur El-Ibrahimy dan sejumlah nama lainnya yang tidak mungkin semuanya disenaraikan dalam tulisan ini, adalah tokoh-tokoh yang (dalam banyak hal) tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Wahabi. 

Prof. Dr. T.M. Hasbi Asj Shiddiqie
Ketika “Santri” Menolak Wahabi

Beberapa waktu lalu (Jumat, 27/02/15), seorang yang mengaku santri menulis sebuah surat terbuka di Serambi Indonesia dengan tajuk “Surat Terbuka kepada Kapolda Aceh”. Surat tersebut ditulis oleh Muhammad Iqbal Jalil. Dalam surat tersebut, Muhammad Iqbal Jalil menyatakan keberatannya kepada Kapolda Aceh, Husein Hamidi, yang kononnya akan mendatangkan seorang penceramah dari Arab Saudi, Syekh Adil Al-Kalbani. Yang menjadi alasan utama penolakan santri tersebut adalah disebabkan Syaikh Adil Al-Kabani adalah seorang Wahabi. Santri tersebut berdalih bahwa mayoritas masyarakat Aceh menganut mazhab Syafi’i dalam bidang fiqih dan Ahlussunnah waljama’ah dalam bidang teologi. Menurut santri tersebut, Syekh Adil Al-Kalbani adalah sosok yang kontroversial sehingga bisa mengundang penolakan dari sejumlah masyarakat. Sang santri juga menyarankan kepada Kapolda untuk mengundang para Masyaikh Al-Azhar di Mesir yang menurutnya memiliki kesamaan idiologi dengan mayoritas masyarakat Aceh. 

Namun apa yang terjadi? Akhirnya Allah ‘Azza Wajalla telah “menggulung lidah” orang-orang yang selama ini menaruh “syak wasangka” tak berdasar kepada seorang ulama besar di tanah haram. Berbagai tudingan emosional yang dituduhkan kepada Syaikh Adel Al-Kalbani oleh santri Muhammad Iqbal Jalil tidak terbukti adanya.

Wahabi Baca Qunut di Aceh 

Dalam suratnya, Muhammad Iqbal Jalil menyebut bahwa Syaikh Adel Al-Kalbani adalah seorang Wahabi yang idiologinya berseberangan dengan keyakinan umum masyarakat Aceh. Demikian pula dengan mazhab fiqih yang dianut oleh Al-Kalbani juga dianggap bertolak belakang dengan mazhab Syafi’iyah yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Aceh.

Namun apa lacur? Syaikh Al-Kalbani justru telah menunjukkan kebesaran jiwanya yang sangat menghargai pemahaman agama masyarakat Aceh. Beredar informasi, bahwa Syaikh Al-Kalbani menjaharkan bacaan bismillah ketika membaca Fatihah. Tidak hanya itu, beliau juga membaca doa qunut pada saat memimpin shalat Shubuh, sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan di negerinya. Tentunya hal ini tak pernah terduga sebelumnya dan mungkin tak pernah terpikir oleh santri kita Muhammad Iqbal Jalil. Ketakutan berlebihan yang melanda Muhammad Iqbal Jalil cs selama ini hanyalah ketakutan yang tak beralasan. 

Apa yang telah dilakukan oleh Syaikh Al-Kalbani di Aceh, tentunya berbeda jauh dengan tingkah sebagian masyarakat Aceh yang datang ke tanah suci. Ada sebagian kecil masyarakat Aceh yang tidak mau shalat di belakang Imam Masjidil Haram ketika mereka pergi haji atau umrah. Alasan mereka, karena imamnya Wahabi. Tapi anehnya mereka (masyarakat kita) masih berthawaf di Ka’bah yang saban tahun dijaga dan dibersihkan oleh Wahabi. Kita menghujat Wahabi, tapi setiap musim haji kita masih berwuquf di “negeri Wahabi”. Tentunya Allah Subhanahu wata'aala Maha Tahu, kepada siapa tanah haram itu pantas dititipkan.

Semoga saja, apa yang telah dilakukan oleh Syaikh Al-Kalbani di Aceh dapat menjadi renungan bagi kita semua. Meskipun beliau adalah Imam Besar di tanah haram dan bermazhab “non Syafi’i”, tapi beliau sangat menghormati mazhab yang dianut orang Aceh. Hal serupa juga sangat sering dilakukan oleh imam-imam kaum muslimin di masa lalu, semisal Imam Syafi’i yang meninggalkan bacaan qunut ketika beliau shalat di seputaran makam Imam Abu Hanifah. Toleransi seperti ini harus terus kita lestarikan.

Akhirnya kita cuma bisa berharap agar kaum muslimin tidak terkotak-kotak dan saling tuding-menuding satu sama lain dengan stigma-strigma buruk semisal stigma Wahabi. Ego mazhab harus dikesampingkan dan ukhuwah Islamiyah harus dikedepankan. Wallahu A’lam.

Artikel ini sudah diterbitkan di Hidayatullah.com dalam dua bagian dengan tajuk Aceh dan Wahabi, Sebuah Wacana Menarik [1] dan Aceh dan Wahabi Sebuah Wacana Menarik [2].
Share this article :


No comments:

Post a Comment