Saturday, January 31, 2015

KEZUHUDAN ULAMA MASA LALU DAN KEBINGUNGAN ULAMA MASA KINI


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 26 September 2013

Syaikh Al-Albani: Sumber: globalwr.blogspot.com
Dengan senantiasa berharap agar Allah Swt menambahkan karunianya kepadaku dan menjadikan nikmat ini tidak dicabut hingga kematian tiba, serta mewafatkanku sebagai muslim di atas sunnah yang aku telah bernazar untuk itu, kehidupanku ialah dakwah dan menulis“ (Syaikh Muhammad Nashiruddien Al Al-Bani).



Jak Sikula Vs Jak Beut


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Mei 2014

Ilustrasi Sekolah. Sumber: markitca.blogspot.com
Meskipun terkesan usang dan sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman, namun slogan hareum jak sikula (haram sekolah) masih santer terdengar hingga hari ini. Khususnya di Aceh, keyakinan ini terus “diwariskan” dari generasi ke generasi. Di samping itu, keyakinan bahwa jak sikula jeut keu kaphe (belajar di sekolah menjadi kafir) dalam perkembangannya telah berevolusi menjadi semacam "i'tiqad" yang diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat Aceh. Dengan sendirinya dapat dipahami bahwa munculnya slogan hareum jak sikula merupakan manifestasi dari keyakinan jak sikula jeut keu kaphe yang ditransformasikan dalam bentuk “fatwa liar” oleh pihak-pihak yang “anti” pendidikan modern.



“Khanduri Nujoeh di Aceh”


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 November 2014

Ilustrasi Nujoeh. Sumber: Google
Dua tahun lalu, Media Serambi Indonesia edisi Sabtu (22/09/12) memberitakan bahwa seorang khatib di Pidie diturunkan oleh jama’ah Jumat karena isi khutbahnya dianggap menyimpang dan kontroversi. Jika dicermati, aksi menurunkan khatib dari minbar bukanlah hal baru di Aceh. Sebelumnya, kejadian yang sama juga berlangsung di Keumala Pidie yang menimpa Tgk Saiful. Diberitakan Tgk Saiful babak belur dihajar massa karena isi khutbahnya dianggap menyinggung kelompok tertentu. Kejadian serupa juga pernah terjadi di tempat-tempat lain yang mungkin luput dari pemberitaan media. Pada prinsipnya hal ini merupakan konsekwensi logis yang harus diterima oleh para da’i dalam menjalankan misi sucinya.



Sunday, January 25, 2015

Academic Freedom dan Fanatisme Masyarakat Aceh


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Januari 2015

Sumber: kronikapemuda.blogspot.com
Kebebasan akademik, sebagaimana termaktub dalam PP No. 60 tahun 1999, merupakan kebebasan yang dimiliki oleh civitas academika untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggungjawab dan mandiri. Arthur Lovejoy, sebagaimana dikutip oleh Santoso dari Haryasetyaka (2004), menerjemahkan kebebasan akademik sebagai kebebasan yang dimiliki oleh seseorang atau peneliti di lembaga ilmu pengetahuan untuk mengkaji berbagai persoalan serta mengutarakan kesimpulannya, baik melalui media penerbitan atau pun dalam acara perkuliahan, tanpa adanya campur tangan dari penguasa politik atau lembaga keagamaan dan juga lembaga yang memperkerjakannya, kecuali jika metode yang digunakan dalam penelitian tersebut bertentangan dengan etika profesional.



Friday, January 23, 2015

Antara Fiqih Doktrinal, Fiqih Toleran dan Phobia Mazhab


(Tanggapan Atas Tulisan Jailani M. Yunus dan Kairul Azfar – Mukhlisuddin)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Juni 2013

Sumber: www.bazarbrunei.com
Setahun yang lalu, tepatnya 24 Mei 2013, Serambi Indonesia mengangkat sebuah artikel yang ditulis oleh Jailani M. Yunus, seorang dosen UIN Ar-Raniry, dengan tajuk “Fikih Doktrinal vs Fikih Toleran”. Tulisan Jailani M. Yunus (JMY) ini langsung mendapat respon dari Khairul Azfar dan Mukhlisuddin (KAMU); masing-masing berprofesi sebagai Mahasantri Ma’had ‘Aly LPI Mudi Mesra Samalanga dan Dosen STAI Al-Aziziyah Samalanga. Tulisan dengan tajuk “Meluruskan Phobia Mazhab” juga diterbitkan oleh Serambi Indonesia pada Jumat, 31 Mei 2013. 



Agar Penulis Jangan "Tersesat"


(Menanggapi Tulisan Aria Sandra; “Aceh dalam Bidikan Misionaris”)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 September 2013

Ilustrasi. Sumber: nasional.news.viva.co.id
Menarik sekali membaca tulisan sahabat kita Aria Sandra (AS) di Media Serambi Indonesia (Rabu, 11/09/2013) dengan tajuk “Aceh dalam Bidikan Misionaris”. Dalam tulisannya tersebut AS terlihat begitu bersemangat dalam membeberkan serentetan informasi terkait aksi Kristenisasi yang terjadi di Aceh baru-baru ini. AS juga mengisahkan bahwa aksi Kristenisasi yang beliau (AS) istilahkan dengan “Gerilya Salib” di Aceh, bukan hanya terjadi pasca tsunami 2004, tapi aksi tersebut telah muncul jauh sebelumnya – yaitu ketika para penjajah memasuki tanah Aceh. Menurut AS, Aceh adalah benteng Islam terkuat di seluruh persada nusantara sehingga para armada salib tidak mampu menaklukkan Aceh. AS juga mengemukakan bahwa dalam peta penyebaran salib, Aceh diberi tanda garis hitam pekat sebagai isyarat bahwa wilayah Aceh tidak mampu dijangkau Injil.



Ada Apa dengan Syi’ah?


(Tanggapan atas Tulisan Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA: Mengenal Syi’ah)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 05 Mei 2014

Menarik sekali membaca tulisan Hasanuddin Yusuf Adan (HYA) yang disajikan oleh Serambi Indonesia melalui rubrik opini Jumat, 02 Mei 2014. Tulisan tersebut bertajuk: “Mengenal Syi’ah”. Bagi kaum muslimin, khususnya di Aceh, terkhusus lagi bagi penuntut ilmu, tentunya sudah tidak asing dengan sebuah firqah yang bernama Syi’ah.



Ada Apa Dengan Duduk Kangkang?


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen 12 Januari 2013

Baru-baru ini Aceh dihebohkan dengan larangan “duduk kangkang” yang kononnya dicetuskan oleh Walikota Lhokseumawe, Suadi Yahya. Beberapa media di Aceh dalam beberapa hari terakhir menjadikan isu ini sebagai topik utama dalam pemberitaannya. Isu larangan duduk kangkang ini ternyata juga telah menarik minat tokoh-tokoh nasional untuk ikut nimbrung dalam menyikapi kebijakan walikota tersebut. Sudah lumrah, sebuah kebijakan selalu saja ditanggapi secara pro-kontra oleh masyarakat.



Demokrasi; Antara Kegembiraan Rakyat dan Tirani Penguasa

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Desember 2014

Ilustrasi. Sumber: sinifsiz.org
“Demokrasi adalah kegembiraan rakyat”. Begitulah kalimat “sejuk” yang keluar dari “mulut mungil” Joko Widodo (sekarang Presiden RI) di akhir debat Capres pada 9 Juni 2014. Kalimat singkat yang sangat bermakna, setidaknya bagi para pendukungnya dalam meraup suara di musim Pilpres. Terlepas dari tudingan sebagian pihak bahwa “kelembutan” dan “kebersahajaan” yang “dipamerkan” oleh Jokowi hanya sebatas pencitraan, namun menurut penulis, husnu dzan harus diutamakan dan su’u dzan mesti dikesampingkan. Sehingga tidaklah “berdosa” jika petuah dari Jokowi tersebut dimaknai secara positif dan menjadi falsafah bagi masyarakat Indonesia dalam memaknai demokrasi.



Sekularis Yang Sok Anti Sekularisme


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 Oktober 2013

Sumber: jejak-iblis.blogspot.com

Ashim Ahmad Ajillah dalam bukunya menyebutkan bahwa inti dari Sekularisme adalah pemisahan agama dari urusan negara, politik, sosial, undang-undang dan ekonomi serta menjadikan agama terkungkung dalam urusan ibadah saja (A.A. Ajillah, terj. Samsuri, 2003: 138). Menurut H. M. Rasjidi sebagaimana dikutip oleh Juyaha S. Praja (2010: 188) Sekularisasi adalah sebuah sistem etika plus filsafat yang bertujuan memberi interpretasi terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, Kitab Suci dan hari kemudian. 



Ketika Damai “Diperkosa”


(Refleksi 9 Tahun MoU Helsinky)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Agustus 2014

Tanpa kita sadari, sembilan tahun sudah kita menikmati aroma damai di bumi Aceh. Masih berbekas di memori kita, sembilan tahun lalu, tepatnya 15 Agustus 2005, tokoh-tokoh kita (baca: GAM) telah mengukir janji dengan tangan-tangan Republik (baca: Pemerintah Indonesia) di Helsinky, dan telah pula melahirkan sebuah kesepahaman antara kedua pihak sebagaimana termaktub dalam Memorandum of Understanding RI-GAM yang lazim kita sebut dengan MoU Helsinky.



Jauh Panggang dari Api!


(Refleksi 9 Tahun Damai Aceh)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 Agustus 2014

Ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara pihak Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah RI di Helsinky yang dimediasi oleh CMI pada 15 Agustus 2005 silam merupakan titik awal dimulainya era baru di Aceh – setelah hampir 30 tahun Aceh larut dalam konflik panjang yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, khususnya masyarakat sipil. Berdasarkan catatan sejarah, gejolak konflik Aceh tidak hanya terjadi pada era 1976-2005, namun jauh sebelumnya, Aceh juga telah diguncang oleh serentetan konflik bersenjata, baik secara vertikal maupun horizontal. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa pada awal-awal kemerdekaan (1945-1946) telah terjadi konflik antara ulama dan ulee balang yang bermuara pada“Perang Cumbok”. Pada tahun 1953 di Aceh juga meletus pemberontakan DI TII yang dipimpin Teungku Muhammad Daud Beureu-eh. Konflik Aceh terus berlanjut setelah Dr. Hasan Muhammad Ditiro memproklamirkan berdirinya Acheh Soematra Libaration Front (ASNLF) pada 1976.



Atheisme dan Perilaku Atheistik


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 28 September 2013

Kedustaan Atheisme
Sumber: jon1ali.wordpress.com
Secara garis besar manusia terbagi ke dalam dua kelompok; pertama, kelompok yang percaya kepada Tuhan (theisme), kedua, kelompok yang tidak percaya kepada Tuhan (atheisme). Jika kelompok pertama butuh kepada agama, sebaliknya kelompok kedua tidak membutuhkan agama. Bahkan salah seorang tokoh materialis bernama Lenin menyatakan bahwa agama adalah candu masyarakat (Praja, 2010: 55).



Thursday, January 22, 2015

Pemuda Aceh, Dulu dan Kini


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Oktober 2014

Tanggal 28 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai hari “Sumpah Pemuda”, di mana kejadian sejarah tersebut menjadi titik awal bangkitnya para pemuda di tanah air. Sebagamana telah dicatat dalam sejarah bahwa ada tiga isu pokok yang didengungkan oleh pemuda kala itu, yaitu isu kebangsaan, tanah air dan bahasa. Pemuda Indonesia bersatu dan bahu-membahu dalam memperjuangkan ketiga slogan tersebut. 



Tegakkan Syari’at dengan Syari’at


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Mei 2012

Sumber: perjalananvey.wordpress.com
Islam adalah agama yang mengedepankan cara-cara muslihat dalam menyelesaikan setiap persoalan. Islam bukanlah agama yang mengandalkan kekerasan dan permusuhan. Islam adalah agama damai, bukan agama dictator atau predator. Rasul yang mulia Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam tidak menegakkan agama ini dengan pedang, kecuali dalam kondisi tertentu yang memang membutuhkan pedang untuk menyelesaikannya. 



STUDI BANDIT PIMPINAN DAYAH


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Mei 2011

Rencana Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh yang akan memberangkatkan sejumlah orang untuk studi banding ke Arab Saudi dengan menguras APBA Rp954.660.000 (Harian Aceh, 27 Mei 2011) merupakan program yang sangat tidak logis dan juga pemborosan anggaran. Apalagi jika pihak BPPD juga berkeinginan untuk membawa pimpinan dayah ke Kolombo (Sri Langka). Ini adalah program yang lumayan lucu dan patut ditertawakan. 



“Serambi Preman”


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 Juni 2013

Ilustrasi Preman. Sumber: www.antarakalteng.com
Akhir-akhir ini aksi premanisme kian marak terjadi di bumi Aceh. Terlepas siapa pelaku aksi premanisme tersebut, yang jelas perilaku para preman di Aceh telah mencoreng irama damai yang sedang mengalun merdu di Aceh. Aksi premanisme di Aceh adalah sebuah aib yang tidak pantas ditutupi, apalagi aksi tersebut telah tercium oleh publik melalui pemberitaan di beberapa media yang ada di Aceh.



SANG PETUALANG


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Juni 2011

Ilustrasi. Sumber: desaingrafisonlineagus.wordpress.com
Petualangan Pimpinan Dayah Afyatul Yamil Abah Dua, Grong-grong, Pidie, Tgk YC berakhir di Neuhen Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar setelah kritis diamuk massa kamis malam lalu (Sumber : Harian Aceh, 25 Juni 2011). Seperti diberitakan dibeberapa media lokal di Aceh bahwa Tgk Yc juga sudah pernah ditemukan mesum dalam mobil di Grong-grong beberapa waktu lalu. 



PUNK ACEH DAN SYARIAT ISLAM


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 23 Desember 2011

Pro kontra penangkapan anak punk di Aceh harus disikapi secara sehat dan bijak tanpa mengedepankan emosi. Seperti diberitakan dibeberapa media baik lokal dan juga beberapa media asing terjadi kontroversi terhadap penangkapan anak punk. Mayoritas masyarakat Aceh dan beberapa organisasi di Aceh mendukung aksi penangkapan dan pembinaan terhadap anak punk. Disisi lain ada juga beberapa pihak yang malah menuding penangkapan anak punk melanggar HAM seperti yang diutarakan oleh Komnas HAM. 



Pergaulan Muda-Mudi Aceh dan Bahaya AIDS


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 Desember 2012

Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) pertama kali muncul di Amerika Serikat pada 10 Desember 1981. Para peneliti juga berhasil menemukan virus penyebab AIDS yang diberi nama HIV (Human Immunideficiency Virus) pada tahun 1983 (onlineisfum.blogspot.com). virus ini menyerang kekebalan tubuh sehingga menurun dan menjadi rentan terhadap penyakit lainnya. Tentang asal usul HIV tidaklah diketahui secara persis. Salah satu hipotesis mengatakan kalau untai utama (M) HIV muncul karena penggunaan vaksin anti poliomyelitis yang telah disiapkan dengan membiakkan virus polio pada sel primata non manusia. Diajukan kalau untai simian virus penurun kekebalan ini (SIV) pada awalnya ada dalam kultur sel dan mengkontaminasi vaksin. Lalu vaksin ini memasuki populasi manusia yang divaksinasi (terutama di Kongo) di akhir tahun 1950. Studi selanjutnya pada virus dari daerah Kongo ternyata tidak mendukung hipotesis ini (faktailmiah.com). 



“Pemuda Maboek”


(Refleksi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 28 Oktober 2012

Ilustrasi. Sumber: sirojuth-tholibin.net

Dalam kamus Ilmiah Populer, Ramadhan (2010:335) mengartikan pemuda sebagai kaum muda; orang muda atau remaja. Dari pengertian yang dibuat oleh Ramadhan tersebut terlihat bahwa seseorang dinamakan sebagai pemuda dengan batasan usia tertentu. Secara biologis, yang digolongkan pemuda adalah mereka yang berumur antara 15 sampai dengan 30 tahun (http://ekkinuarihakim.blogspot.com). Adapula anggapan lain dari sebagian kita yang membatasi istilah pemuda pada orang-orang yang belum menikah, sedangkan yang sudah menikah cenderung dianggap sebagai kalangan tua meskipun usianya masih tergolong muda. Terserah mana yang benar.



Wednesday, January 21, 2015

Menggugat Premanisme di Aceh


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 14 Mei 2011

Ada perasaan geram ketika saya membaca berita di halaman depan Harian Aceh (sabtu 14 Mei 2011) dengan tajuk “ Ghazali Abbas Diserang Sekelompok Orang “. Sebuah perilaku yang sudah mulai membudaya di Aceh dan sudah terjadi berulangkali di tempat dan waktu yang berbeda. Sebagian orang menganggap kejadian seperti ini adalah hal yang biasa terjadi didaerah yang baru saja didera konflik seperti Aceh. Namun menurut hemat saya perilaku ini bukan semata-mata lahir karena konflik, buktinya tidak semua masyarakat Aceh berperilaku bringas seperti mereka. 



LAKNAT DI NEGERI SYARI`AT


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 16 April 2011

Ilustrasi. Sumber: www.merdeka.com
Dengan bermodalkan penduduk yang mayoritas muslim dan pernah menjadi pusat peradaban Islam pertama di nusantara pada masa lalu membuat Aceh layak menyandang gelar “Serambi Mekkah“. Sebuah gelar yang tidak mudah didapat dan hanya menjadi hak paten bagi Aceh. Meskipun banyak wilayah di nusantara yang berpenduduk mayoritas Islam seperti Sumatra Barat namun gelar kehormatan tersebut cuma diberikan untuk Aceh. Sebuah negeri yang katanya pernah berjaya di masa Sultan Iskandar Muda. Negeri yang dikenal sebagai tanah lahirnya para Ulama besar. Demikian hebatnya Islam di Aceh masa lalu sampai-sampai pencuri juga digelari dengan panggilan “ teungku”. 



Kartini Vs Kacingieng


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 23 April 2012

Seratus tiga puluh tiga tahun lalu, tepatnya 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah lahir seorang wanita dari keturunan bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Wanita itu bernama Raden Ajeng Kartini. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orang tuanya. Pada saat itu dia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Ia sangat sedih dengan keadaan tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka.



JANGAN PANIK!


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 01 Oktober 2012



Sumber: www.herlambangadhytia.com
Dalam Kamus Ilmiah Populer (Ramadhan, 2010: 325), kata panik diartikan sebagai sebuah sikap gugup mendadak yang dialami oleh seseorang. Sebagai manusia normal kita pasti sering mengalami penyakit “panik” ini. Penyakit panik yang penulis maksud bukanlah penyakit medis yang bisa disembuhkan dengan obat generik ataupun obat paten. Panik merupakan penyakit mental yang di alami oleh setiap orang. Penyakit mental inipun bukanlah penyakit seperti dugaan banyak orang. Pada umumnya ketika disebut penyakit mental, pikiran orang-orang akan tertuju kepada sesuatu yang aneh (baca: penyakit gila). Dalam tulisan ini, penulis tidak sedang membahas penyakit gila tersebut. Mental yang penulis maksud dalam tulisan ini lebih tertuju kepada kondisi kejiwaan seseorang yang pada prinsipnya merupakan sifat normal. 



Ide Konyol Paduka Walikota


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 05 Januari 2013

Walikota Lhokseumawe
Menarik sekali menonton acara “Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan” yang ditayangkan TV One pada pagi 05 Januari 2013. Dalam satu sesi acaranya tersebut TV ONE mengangkat topik tentang “larangan duduk mengangkang” yang baru-baru ini menjadi isu populer, khususnya di Aceh. Ide larangan duduk mengangkang bagi wanita kononnya dicetuskan oleh Paduka Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya yang telah berhasil mengalahkan rivalnya pada pilkada 2012 lalu dengan perolehan suara 39,62%. Penulis yakin ketika itu Pak Walikota tidak mensyaratkan wanita yang memilih dirinya pada Pilkada tersebut harus duduk menyamping dalam berkendaraan, bahkan mungkin saja mayoritas wanita yang mendukung Pak Suaidi ketika itu adalah “Pengangkang”.



“Ibu Gadungan”


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Desember 2012

“…Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
Dan bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan…”

(Chairil Anwar)



“HAREUM JAK SIKULA”


Oleh Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Mei 2011

Sumber: khotbahjumat.com
Khususnya di Aceh "fatwa liar" tentang haramnya sekolah masih sering dibicarakan terutama oleh masyarakat di pedesaan. Apalagi pada saat para pendakwah berbicara diatas panggung isu ini tekadang menjadi tema utama dari beberapa dakwah yang pernah penulis temui. Penulis menamakannya dengan fatwa liar karena fatwa ini bukan berasal dari lembaga resmi seperti MPU atau MUI. Tetapi fatwa ini sering dilontarkan oleh oknum-oknum di beberapa tempat pengajian yang ada di desa-desa.



Bireuen, Metro Komplotan


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 01 April 2013

Tepatnya pada 12 Oktober 1999, melalui Undang Undang Nomor 48 tahun 1999, Bireuen resmi berdiri sendiri sebagai Kabupaten yang terpisah dari induknya Kabupaten Aceh Utara (acehprov.go.id). Pada awal berdirinya, Bireuen terdiri dari 10 kecamatan, termasuk tiga kecamatan baru masing-masing Kecamatan Pendrah, Juli Keude Dua dan Kecamatan Jangka yang peresmiannya diselenggarakan pada 28 September 1999 (www.oocities.org), sedangkan kecamatan lama adalah Samalanga, Jeunib, Peudada, Jempa, Juli, Peusangan dan Gandapura. Sejak tahun 2006, secara administratif Kabupaten Bireuen ini terdiri dari 17 Kecamatan (elib.rangkang.com) dengan bertambahnya kecamatan baru; Simpang Mamplam, Pandrah, Peulimbang, Kota Juang, Kuala, Peusangan Selatan dan Peusangan Siblah Krueng. Berdasarkan catatan pada tahun 2012, Kabupaten Bireuen sekarang dihuni oleh 409.899 jiwa (http://atjehpost.com, 06/12/02).



BERSIKAP ADIL TERHADAP ANAK PUNK


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 16 Desember 2011

Dalam beberapa bulan terakhir istilah “anak punk” kian populer di Aceh. Popularitas mereka semakin bertambah ketika beberapa waktu lalu lebih dari 60 anak punk di Aceh ditangkap polisi dan aparat pemerintah setempat. Peristiwa penangkapan tersebut terjadi pada saat anak punk sedang menggelar konser yang sudah berizin untuk menggalang dana bagi panti asuhan (kbr68h.com)



Aksi Premanisme dalam Dunia Pendidikan


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 September 2014

Ing Ngarso Sung TulodoIng Madya Mangun KarsoTut Wuri Handayani
Ketika mendengar istilah “preman”, lazimnya nalar kita akan tertuju kepada sosok pria bertubuh besar dan tegap, berkulit gelap, berambut gondrong serta dipenuhi tato. Menakutkan! Begitulah kira-kira. Sosok preman juga identik dengan tukang pukul yang sering berkeliaran di terminal dan pasar. Tak jarang, seorang preman juga menggeluti “profesi haram” semisal mencopet dan merampok, sehingga dalam kondisi tertentu sosok preman juga sering didentikkan dengan penjahat.



Untuk Siapa si Bintang Bulan?


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 April 2013

Bendera Bintang Bulan. Sumber: m.detik.com
Dalam MoU Helsinky yang ditandatangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinky Finlandia pada 15 Agustus 2005, disebutkan dalam poin 1.1.5 bahwa Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk bendera, lambang dan himne. Poin ini kemudian diterjemahkan kembali dalam UU No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh yang termaktub dalam Bab XXXVI pasal 246 poin 2 yang berbunyi; “Selain Bendera Merah Putih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Aceh dapat menentukan dan menetapkan bendera daerah Aceh sebagai lambang yang mencerminkan keistimewaan dan kekhususan”. Selanjutnya di poin ke 3 pasal tersebut ditambahkan bahwa “Bendera daerah Aceh sebagai lambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan simbol kedaulatan dan tidak diberlakukan sebagai bendera kedaulatan di Aceh”. 



TIKUS MENIDURKAN SINGA!


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Juli 2011

Dalam beberapa hari terakhir suhu politik di Aceh sudah mulai memanas dan berpotensi menimbulkan konflik baru di Aceh. Terlebih lagi pro kontra tentang calon independen masih terus diperdebatkan dan nyaris tak berujung. Pihak-pihak yang mengerti hukum terus mempertahankan agar calon independen harus ada di Aceh, sedangkan beberapa pihak (maaf) yang mungkin belum mengerti hukum juga berjuang mati-matian untuk menolak keterlibatan calon independen dalam pemilukada mendatang.



Semangat Perang Badar dalam Pilpres 2014


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 01 Juni 2014

Tepatnya pada 9 Juli mendatang, masyarakat Indonesia akan kembali disibukkan dengan sebuah momentum besar untuk menentukan pemimpin Indonesia lima tahun ke depan. Dalam pileg yang digelar pada 9 April lalu, tidak ada satu partai pun yang berhasil memperoleh suara 20%. Kemenangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada Pileg lalu hanya berkisar pada angka 18,95%, diikuti oleh Golkar 14,75%, Gerindra 11,81%, Demokrat 10,19%, PKB 9,04%, PAN 7,59%, PKS 6,79%, Nasdem 6,72%, PPP 6,53%, Hanura 5,26%, PBB 1,46%, dan PKPI 0,91% (http://nasional.kompas.com). Kondisi tersebut mengakibatkan seluruh partai politik peserta pemilu menjadi kewalahan untuk mengusung capres, karena persentase suara yang dicapai tidak memadai sehingga angka 20% untuk presidential treshold tidak terpenuhi. Suka atau pun tidak, kondisi tersebut memaksa partai-partai untuk bergentayangan mencari teman koalisi. 



POLITISASI AGAMA DI ACEH


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 25 Maret 2012

Menjelang pemilukada di Aceh yang direncanakan jatuh pada 9 April 2012 mendatang baik Pilgub (Pemilihan Gubernur) maupun Pilbup (Pemilihan Bupati) kita menyaksikan macam-macam saja tingkah para kandidat yang terkadang lucu sekaligus aneh. Ada yang sibuk turun ke desa dengan alasan ingin berjumpa dengan masyarakat sembari mendengar keluhan mereka. Ada juga yang pandai memanfaatkan momentum, seperti musibah banjir di Tangse, Pidie beberapa waktu lalu. Di beberapa media kita lihat banyak kandidat yang menyerbu kesana untuk mengantarkan bantuan. Entah bantuan tersebut diberikan ikhlas atau hanya sekedar sebagai sebuah atraksi untuk meraih dukungan, hanya mereka (baca: kandidat) dan Allah yang tau.



Politik Atas Nama


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 24 Maret 2013

Ada yang atasnama Tuhan melecehkan TuhanAda yang atasnama negara merampok NegaraAda yang atasnama rakyat menindas rakyatAda yang atasnama kemanusiaan memangsa manusiaAda yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilanAda yang atasnama persatuan merusak persatuanAda yang atasnama perdamaian mengusik kedamaianAda yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaanMaka atasnama apa saja atau siapa saja,kirimlah laknat kalianatau atasnamaKu perangilah mereka!dengan kasih sayang!
(Sajak Atas Nama, KH Mustofa Bisri)



POLISI INDIA DAN TUAN TAKUR


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 31 Maret 2012

Setelah melalui polemic panjang tentang keterlibatan calon independen dalam pemilukada Gubernur Aceh 9 April 2012 akhirnya MK dengan fatwanya yang qath`i (pasti) dalam konteks hukum Republik Indonesia telah dianggap berhasil melahirkan keputusan hukum yang lumayan bijak. Meskipun keputusan MK tersebut ditentang oleh sebagian pihak, namun penentangan tersebut tidak membuahkan hasil apa-apa dan terkesan hanya membuang energi. Walau penuh onak duri dan sempat terhenti di persimpangan jalan namun proses pelaksanaan pemilukada di Aceh terus berjalan. Partai yang sebelumnya menyatakan menolak keterlibatan independen dan menegaskan bahwa mereka tidak akan mendaftarkan diri sebelum MK mencabut putusannya akhirnya hanya menjadi gertak sambal. Buktinya ketika mereka tidak mendaftar proses terus berjalan dan terkesan KIP tidak peduli dengan gertakan mereka. 



Pilpres 2014 dan Pertarungan Idiologis


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen. 28 Mei 2014

Jika tidak ada aral melintang, pada 9 Juli 2014 mendatang, masyarakat Indonesia akan kembali menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin Indonesia lima tahun ke depan. Berbeda dengan Pilpres sebelumnya (2004 dan 2009), kali ini panggung Pilpres hanya diisi oleh dua pasangan capres yang akan bertarung menuju RI 1. Hal menarik lainnya, pada Pilpres kali ini tidak ada dominasi capres dari unsur militer seperti halnya pada Pilpres sebelumnya, di mana komposisi capres dan cawapres saat itu diisi oleh mantan militer seperti Prabowo, Wiranto dan SBY. Sedangkan kedua capres yang akan berlaga pada Pilpres 2014 memiliki latar belakang yang berbeda, Prabowo dari unsur militer dan Jokowi dari sipil.



PENJAJAHAN BARU DI NEGERI INDATU


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 13 September 2011

Rasa geram masih membayangi pikiran kita sebagai umat Islam ketika kita membaca di beberapa media tentang pemukulan khatib di Pidie beberapa waktu lalu. Aksi brutal yang mengadopsi sifat-sifat hewani telah menumbangkan khatib ketika sedang menyampaikan nasehat kepada umat. Suasana khusyu` seketika menjadi gaduh setelah para predator menghujamkan pukulan dan tendangan kepada khatib yang sedang membacakan khutbah di Mesjid Raya Keumala, Pidie.Mereka telah merusak reputasi Aceh dimata dunia dengan perilaku mereka yang bringas dan tidak berperikamanusiaan. Mesjid sebagai tempat beribadah umat Islam seolah tidak berharga dimata mereka. 



PENDEKAR MENANTANG TUHAN


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 10 September 2011

Ilustrasi Pendekar. Sumber: afifufefo.deviantart.com
Lagi-lagi tragedi memilukan sekaligus memalukan kembali terjadi di Aceh. Kali ini menimpa seorang ulama di Pidie yang sedang menyampaikan nasehat kepada umat. Sang khatib dipukuli dan dianiaya oleh sekelompok orang yang identitas pelakunya sudah sama-sama kita ketahui. Sayangnya aksi kekerasan tersebut terjadi didalam mesjid yang merupakan tempat para hamba berzikir dan beribadah kepada Tuhannya. Mungkin hati mereka telah beku dan membatu sehingga otak mereka menjadi goncang. Mereka tak sanggup lagi membedakan antara mesjid dengan terminal bus. Jika dulu kita mendengar kabar pencuri dikeroyok mungkin masih mending walaupun dalam agama perilaku ini juga terlarang, namun kali ini seorang khatib yang menjadi sasaran tendangan dan pukulan mereka-mereka itu. Sungguh luar biasa dan mengagumkan. 



PADAMKAN BARA KONFLIK


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 April 2012

Ilustrasi
Aksi kekerasan menjelang pilkada 9 April mendatang terus meningkat dan membabi buta. Setelah sebelumnya ketika “calon independen” masih menjadi polemic serangkaian penembakan nampak menghiasai pemberitaan berbagai media massa di Aceh. Salah satu kasus yang masih terbayang dipikiran kita adalah tragedy penembakan terhadap para buruh di Bireuen. Kemudian kasus penembakan masyarakat di Setya Agung Aceh Utara dan serentetan kekerasan lainnya yang terjadi di se antero Aceh.



MONSTER POLITIK ALA “MIE AGAM“


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 30 Januari 2011

Ilustrasi Monster. Sumber: www.clancodes.com
Secara sederhana “monster“ dapat diartikan dengan binatang, orang, atau tumbuhan yang bentuk atau rupanya sangat menyimpang dari kebiasaan. Monster berasal dari bahasa latin "monstrum" yang akar katanya adalah "monere" berarti "memperingatkan". Bisa juga mengandung arti "keajaiban" atau "keanehan". Pengertian "monster" sering diartikan sebagai sesuatu yang menyalahi atau diluar kebiasaan dari hukum alam. Selain itu monster juga mempunyai andil yang buruk terhadap keberlangsungan suatu ekosistem. Seperti mempunyai kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia atau lingkungan manusia, daripada sekedar contoh kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang kurang mendukung kehidupannya (wikipedia).



Menggugat Mekanisme Dukungan Calon Independen


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 11 Maret 2012

Meskipun beberapa waktu lalu sempat terjadi polemik panjang tentang keterlibatan calon independen dalam pemilukada di Aceh, namun fatwa Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberi angin segar kepada para kandidat yang maju melalui independen dengan dikabulkannya permohonan judicial review terhadap pasal 256 Undang-Undang No. 11 Tentang Pemerintahan Aceh atau yang lazim disebut dengan UUPA. 



MANIS SAAT MEMEGANG PAHIT SAAT MELEPAS

( Ketakutan PA Terhadap Calon Independen )

Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Maret 2011

Ilustrasi. Sumber: politik.kompasiana.com
Keinginan Partai Aceh untuk mengerahkan massa pendukungnya ke Banda Aceh (Harian Aceh, 26 Maret 2011) sebagai upaya untuk menolak keputusan MK tentang diberlakukannya calon independen di Aceh merupakan tindakan latah dan gerogi dalam berpolitik. Sikap latah Partai Aceh sudah terlihat sejak Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan dari beberapa masyarakat Aceh yang meminta dihapuskan pasal 256 UUPA. Sebagai partai pemenang pemilu seharusnya PA harus lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai persoalan khususnya yang menyangkut dengan pemilukada. Partai Aceh yang kononnya dilahirkan oleh para pejuang seharusnya lebih kesatria dalam menghadapi permasalahan yang terjadi. 



Konflik Saudara Kembar di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Maret 2014

Tanpa terasa, waktu terus bergulir dan tahun terus berganti. Pesta demokrasi yang dinanti-nanti oleh kontestan pun semakin dekat, hanya menghitung bulan. Atribut kampanye kian bertebaran di seantero negeri, tidak hanya di jalan raya, tapi juga di pelosok desa. Potret wajah penuh senyuman terpampang megah di spanduk dan baliho dengan slogan dan motto yang beragam – sebagian unik dan tak sedikit yang nampak “lebay”. 



Kolonialisme


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 17 Agustus 2013

Tepatnya 17 Agustus 1945, Indonesia secara resmi memproklamirkan kemerdekaannya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan bebas dari penjajahan asing. Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa usaha-usaha menuju Indonesia merdeka tidaklah mudah. Berbagai rintangan dan halangan dihadapi oleh para pejuang kita. Hampir seluruh usia para pendahulu kita tersita demi memperjuangkan kemerdekaan guna disumbangkan kepada anak cucunya – putra-putra Indonesia.



KETIKA KEBENARAN TERUNGKAP !

(TINJAUAN KEMBALI TERHADAP ANALISIS HMI TERSANDERA POLITIK PRAKTIS) 

Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 31 Juli 2011

Dari berbagai informasi yang berkembang pasca demonstrasi yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai HMI Nusantara ternyata dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan pengecut. Mereka sengaja ingin merusak citra HMI dengan cara mengatasnamakan HMI. Setelah dilakukan pengecekan ke PB HMI ternyata tidak ada yang namanya HMI Nusantara. Yang ada Cuma beberapa orang oknum mantan HMI yang kemungkinan besar dibiayai oleh kandidat tertentu karena merasa tersaingi dengan figur Nazar yang selama ini berhasil menarik simpati rakyat Aceh. Mungkin saja kandidat tersebut kalah saing dengan Nazar sehingga melakukan trik politik kotor dan mengatasnamakan diri dengan HMI Nusantara. 



HUJAN TEROR DI ACEH


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 08 Maret 2012

Ilustrasi. Sumber: www.politikadergisi.com
Menjelang Pemilukada yang akan digelar pada April mendatang, kekerasan demi kekerasan terus menghantui Aceh. Beberapa waktu lalu juga terjadi penembakan terhadap ketua DPRK Kota Lhoksemumawe (Suarapembaruan.com, 09/03/12). Sebelumnya sederetan kasus penembakan juga sempat menghebohkan pemberitaan di beberapa media lokal di Aceh. Diantaranya kasus penembakan terhadap para penggali tambang yang terjadi di Kabupaten Bireuen (okezone.com, 01/01/12) dan Kabupaten Aceh Besar (tvonenews.tv, 05/01/12). Kasus terbaru adalah aksi penyerangan dan perusakan mobil terhadap tim sukses Irwandi di Lhoksukon dan Bireuen (The Atjehpost.com, 24/03/12). Sayangnya sampai saat ini kejadian – kejadian tragis tersebut belum semuanya berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. 



Tuesday, January 20, 2015

HMI TERSANDERA POLITIK PRAKTIS


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 29 Juli 2011

Sikap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menolak pencalonan Muhammad Nazar sebagai kandidat yang diusung Partai Demokrat dalam Pilkada Gubernur Aceh periode 2011-2016 merupakan tindakan yang lumayan tendensius dan dapat merusak citra HMI dimata masyarakat. HMI menuduh Muhammad Nazar terindikasi korupsi pada 14 kasus selama periode jabatannya sebagai wakil gubernur yang berpasangan dengan Irwandi Yusuf. 



FATWA KONYOL SANG “PROFESOR”


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 13 November 2011

"Saya maju adalah sebagai proses supaya pilkada ditunda. Karena kalau saya maju akan butuh waktu untuk pemeriksaan kesehatan, dan tes baca al-quran. Itu akan menyebabkan penundaan pilkada. Dengan terlewatinya pilkada pada tahun 2012, maka anggaran pilkada 2011 tidak bisa digunakan untuk 2012 tanpa persetujuan DPRA," (atjecpost.com, 13/11/11).



Dinasti Al-Banditiyah


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 30 Juni 2012

Mendengar istilah Dinasti pikiran kita lebih tertuju kepada kerajaan-kerajaan yang tumbuh dan berkembang di daratan Cina, seperti Dinasti Ming, Dinasti Qing, Dinasti Yuan, dll. Hal ini disebabkan karena dalam tulisan-tulisan sejarah berbahasa Indonesia untuk menyebut kerajaan-kerajaan di Cina sering dipakai istilah Dinasti yang rajanya dikenal dengan sebutan Kaisar. Meskipun jika merujuk dalam catatan sejarah istilah Kaisar itupun bukanlah istilah yang lahir di Cina melainkan istilah yang muncul di negeri Romawi kuno ketika dipimpin oleh seorang raja yang masyhur ketika itu – Julius Caesar. Kata dinasti, jika dirujuk dalam beberapa kamus sering diartikan sebagai keturunan, kerabat atau keluarga raja. 



Debat Kandidat Vs Lawak Kandidat


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 06 April 2012

Ilustrasi Lawak. Sumber: malaysianreview.com
Menarik sekali menonton acara “Debat Kandidat Gubernur Aceh” yang ditayangkan secara live oleh Metro TV malam kemarin (05/04/12). Tingkah para kandidat ketika memberi penjelasan dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para panelis terlihat beragam dan unik. Ada kandidat yang terlihat lancar dalam menjawab dengan susunan kata yang teratur dan sistematis. Ada juga kandidat yang terlihat santai dan cuek saja dalam menjawab pertanyaan sambil tersenyum-senyum sendiri alias malu-malu kucing. Selain itu ada pula kandidat yang terlihat sok pandai dalam menjawab karena merasa pasangan merekalah yang paling pintar disebabkan tingginya gelar akademik yang mereka sandang. Juga tak kalah uniknya ada kandidat yang memberi jawaban tegas layaknya panglima perang yang sedang panik namun sayang jawabannya tidak relevan dengan pertanyaan.



Daud Beureu-eh, Hasan Tiro dan Ritual 17 Agustus


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 Agustus 2014

Kedua tokoh sebagaimana tersebut dalam judul tulisan ini secara estafet pernah membuat Republik ini menjadi “panik” dan “salah tingkah”. Daud Beureu-eh pernah membuat Indonesia kalang kabut di era 1953-1962, di mana saat itu Daud Beureu-eh memproklamirkan bahwa Aceh merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo di Jawa Barat dan sebagai pertanda lenyapnya kekuasaan Pancasila di bumi Aceh. Setelah pemberontakan DI TII reda, tak lama berselang, tepatnya periode 1976-2005, Aceh kembali bergolak dengan meletusnya pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikomandoi oleh Dr. Muhammad Hasan di Tiro.



DARI ABSOLUT MENUJU BULUT


Oleh :Khairil Miswar

Bireuen, 11 Februari 2011

Ilustrasi. Sumber: in.minghui.org
Keputusan Partai Aceh untuk mengusung Zaini dan Muzakkir Manaf sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur Aceh pada pemilukada 2011 mendatang kedengarannya sangat aneh dan janggal jika ditinjau dari beberapa aspek;



Bireuen dan Hembusan Angin Surga Jilid Dua


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Juni 2012

Sebenarnya tulisan dengan judul yang sama sudah pernah penulis tulis pada tahun 2007 lalu ketika Nurdin Abdul Rahman-Busmadar Ismail (Bupati-Wakil Bupati Periode 2007-2012) melakukan kampanye terakhir di Lapangan Blang Asan Matang Glumpang Dua. Tulisan tersebut dimuat di media internal bernama ‘Tabloid Suwa”. Ketika itu pasangan ini belum secara resmi di umumkan oleh KIP Bireuen sebagai pemenang pilkada Bupati Bireuen. Namun ketika itu ada keyakinan dalam hati penulis bahwa pasangan Nurdin - Busmadar akan memenangkan pesta demokrasi tersebut. 



“Basinya Demokrasi di Aceh”


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 29 April 2013

Ilustrasi. Sumber: anwarsaragih.wordpress.com
Meskipun pelaksanan pemilu legislatif masih lumayan lama dan baru akan digelar pada tahun 2014 mendatang, namun dalam beberapa hari terakhir fenomena kekerasan sudah mulai muncul di Aceh. Sebagaimana dilansir oleh AtjehLink, beberapa hari lalu seorang caleg perempuan dari Partai Nasional Aceh (PNA) di Aceh Besar dipaksa untuk mundur dari caleg dan mendapat ancaman tembak. Kasus pertama ini belum terungkap, keesokan harinya AtjehLink kembali memberitakan bahwa Cekgu yang juga kader PNA ditemukan tewas dengan luka tembak. Belum lagi kasus ini tuntas, lagi-lagi diberitakan bahwa rumah seorang perempuan yang juga kader dari PNA diteror dengan peluru ketapel. 



BANDIT BERLAGAK SUFI


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 April 2012

Mendengar istilah bandit pikiran kita pasti tertuju kepada actor antagonis yang ada di pentas perfileman, drama atau opera. Istilah bandit merupakan istilah yang sangat indentik dengan kejahatan dan kekacauan. Bagi orang Aceh, istilah bandit merupakan gambaran orang jahat yang selalu membuat kekacauan dan keributan. 



ATHEIS MENGAKU BERTUHAN


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 20 Juni 2011

Atheis adalah sebuah faham yang tidak mengakui Tuhan, baik dari segi keberadaannya maupun perannya dalam mengatur kehidupan umat manusia. Sifat atheis sering muncul akibat rasa kecewa seseorang kepada Tuhan dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak berTuhan. Mereka (orang-orang atheis) merasa bahwa Tuhan adalah pelayan baginya, ketika ada keinginannya yang tidak tercapai lantas dia menjadi kecewa dengan Tuhan. Akibat kekecewaannya tersebut muncullah pikiran – pikiran anti Tuhan karena dia mengaggap Tuhan tidak melayaninya. 



Antara Damai dan Merdeka

(Refleksi MoU Helsinky 15 Agustus 2005 dan Proklamasi Kemerdakaan RI 17 Agustus 1945)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Agustus 2012

Ditinjau dari berbagai aspek Aceh memang pantas disebut unik. Keunikan yang lahir secara natural tersebut dalam kondisi tertentu malah menjadi sesuatu yang khas bagi Aceh. Sepanjang sejarah kemunculannya di muka bumi ini Aceh telah mencatat cerita-cerita unik di masa lalu. Pada masa penjajahan Belanda meskipun Sultan berhasil dikalahkan oleh Belanda, namun perjuangan gerilya rakyat Aceh terus berlanjut di bawah pimpinan para Teungku Chiek dan Ulee Balang. Mungkin hal ini berbeda dengan daerah lain di mana Sultan merupakan simbol kekuatan, jika Sultan kalah secara otomatis rakyatpun kalah; dan hal ini tidak berlaku bagi Aceh. 



AKU MAU HIDUP SERIBU TAHUN LAGI


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 07 Juli 2011 

Chairil Anwar. Sumber: anton-rustanto03.blogspirit.com
Judul tulisan ini sengaja saya kutip dari bait puisi hasil karya penyair terkenal Chairil Anwar yang berjudul “ Aku “. Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922 dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai dan ayahnya kawin lagi. Setelah perceraian tersebut Chairil Anwar ikut bersama ibunya ke Jakarta. Chairil Anwar menikahi seorang gadis Karawang yang bernama Hapsah. Namun Pernikahan tersebut tak berumur panjang disebabkan kesulitan ekonomi dan gaya hidup Chairil yang tak berubah. Hapsah meminta cerai saat anaknya berumur 7 bulan dan Chairil pun menjadi duda. Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis. Pada saat meninggal Chairil Anwar berumur 27 tahun. Sungguh umur yang lumayan pendek. (kolom-biografi.blogspot.com)



Akai Beulanda


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Juni 2012

Siapa tak kenal Belanda? Sebuah negeri kecil yang terletak di Eropa Barat berbatasan dengan Jerman Timur dan Belgia. Negara yang dulunya sering dilanda banjir karena secara umum daratannya terletak dibawah permukaan laut. Negara Belanda yang memiliki nama asli Netherland terkenal dengan kincir angin dan bunga tulip yang beraneka warna.



Aceh dan Eksistensi Indonesia

(Peran Aceh dalam Agresi Belanda 1947-1949)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Agustus 2013

Batee Kureng. Foto. A. Jakobi
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, sebagaimana disebutkan oleh T. A Talsya (1990a) tidak diketahui oleh masyarakat Aceh, meskipun proklamasi tersebut telah disiarkan oleh beberapa radio. Pada 21 Agustus 1945, Radio Australia kembali menyiarkan bahwa Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, namun sayangnya informasi ini juga tidak diketahui oleh orang Aceh karena ketika itu radio-radio milik rakyat telah disita oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak meletusnya Perang Asia Timur Raya. Berita kemerdekaan Republik Indonesia baru diketahui oleh rakyat Aceh pada tanggal 15 September 1945. 



Wahabi di Mata Orang Aceh


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 22 Januari 2013

Istilah “Wahabi” bukanlah istilah baru yang asing bagi masyarakat muslim, khususnya masyarakat Aceh yang kental rasa keagamaannya jika dibanding dengan daerah lain di Nusantara. Istilah wahabi itu sendiri telah muncul dalam literatur sejarah pada seputaran abad ke 18 Masehi atau selaras dengan abad ke 12 Hijriah, telah berlalu dua abad dari sekarang.



TSUNAMI ACEH; MOMENTUM UNTUK BERTAUBAT, BUKAN UNTUK BERSEDIH


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen 26 Desember 2012

Ilustrasi Tsunami. Sumber: www.youtube.com
Gempa Tsunami yang terjadi di Aceh delapan tahun silam tepatnya 26 Desember 2004 yang lalu merupakan musibah besar yang sangat sulit dilupakan, khususnya oleh mereka yang selamat dari gelombang dahsyat tersebut. Bencana mengerikan tersebut bukan saja menerjang Aceh dan Nias, tetapi juga beberapa negara seperti Thailand, Malaysia, Srilanka dan beberapa negara lainnya. Kejadian dahsyat tersebut telah merenggut ratusan ribu nyawa dan menyebabkan kerusakan yang tak terhingga. Mayat bergelimpangan disepanjang jalan, bangunan hancur, jalanan dipenuhi lumpur, listrik padam, jaringan komunikasi terputus dan keadaan sunyi mencekam. Allah Maha Kuasa, tidak ada yang bisa lolos dari kehendakNya.



Tipologi Khatib di Aceh


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 24 Januari 2014

Rasanya, anak kecil pun tahu bahwa menjadi khatib adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Khatib ibarat sebuah lentera yang memancarkan cahaya untuk menerangi kegelapan yang melanda hati umat. Menjadi seorang khatib bukanlah hal mudah, tidak cukup dengan “bin salabin abra kadabra”. Seorang khatib tidak dilahirkan begitu saja, tetapi harus diciptakan melalui usaha yang giat. Untuk menjadi seorang khatib dibutuhkan ketekunan dan keseriusan dalam memahami sendi-sendi agama.



Terminologi Sesat di Aceh


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 Oktober 2014

Sumber: rakaboookmark.blogspot.com
Bagai jamur di musim hujan, aliran sesat di Aceh terus bermunculan, entah hanya sekedar klaim atau memang fakta. Telah pula menjadi pengetahuan umum, bahwa masyarakat Aceh memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap istilah “sesat”. Kasus terbaru yang sempat membuat seantero Aceh terhenyak adalah dugaan aliran sesat yang melibatkan Tgk. Ahmad Barmawi Cs di Aceh Selatan. Terbunuhnya seorang caleg dari salah satu parlok di musim kampanye 2014 lalu akibat ulah Barmawi Cs juga telah melahirkan problema tersediri dalam penyelesaian kasus aliran sesat di tengah masyarakat.



SYARIAT ISLAM DI ACEH SEBUAH KEMUSYKILAN


Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 19 Februari 2012

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak paling barat. Mayoritas masyarakat Aceh adalah pemeluk agama Islam yang sudah berlangsung sejak turun-temurun. Dari beberapa referensi sejarah disebutkan bahwa Aceh merupakan daerah pertama masuknya agama Islam. Aceh juga dikenal sebagai pusat peradaban Islam pertama di nusantara. 



SYARIAT ISLAM DAN KEMUNAFIQAN


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Juli 2011

Ilustrasi. Sumber: jiwapraja.blogspot.com
Syariat Islam yang kabarnya mulai diterapkan di Aceh pada tahun 2001 ternyata hanyalah sebuah kemunafiqan dan kepura-puraan belaka. Penerapan syariat Islam di Aceh terkesan hanya diperuntukkan untuk masyarakat awam alias wong cilik. Sedangkan kasus-kasus pelanggaran syariat yang dilakukan oleh orang-orang berpangkat dan terhormat nyaris tidak tersentuh sama sekali. Sebagai contoh kasus asusila yang dilakukan oleh oknum pimpinan dayah di Grong-Grong beberapa waktu lalu sudah mulai senyap dan tidak terdengar kabarnya. 



SYARIAT ISLAM VS SEKULARISME


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen,  12 Februari 2011

Secara etimologi sekularisme berasal dari kata eculum (bahasa latin), mempunyai arti dengan dua konotasi waktu dan lokasi: waktu menunjukan kepada pengertian ‘sekarang’ atau ‘kini’, dan waktu menunjuk kepada pengertian ‘dunia’ atau ‘duniawi’.(Syed Naquib Al Attas ; Islam dan Sekularisme)



Syari’at Apa Ta’ak


Oleh: Khairil Miswar 


Bireuen, 27 Mei 2013

“Aceh Nanggro Islam, Aceh Tanoh Aulia, Aceh Tanoh Syuhada, rame that ulama di Aceh, Aceh nyoe Tanoh Keuramat, Aceh Serambi Mekkah dithei ban sigom donya.” Begitulah sebagian sanjungan yang akan keluar dari bibir orang Aceh ketika mereka membicarakan Aceh, khususnya ketika mereka berhadapan dengan orang-orang di luar Aceh. 



Siapa Berani Tegakkan Shalat?


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Agustus 2012

Ilustrasi. Sumber: jareperpus.blogspot.com
Dalam banyak hadits Rasul yang mulia Shallallahu 'alaihi wasallam tak henti-hentinya menegaskan tentang penting dan wajibnya shalat bagi setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Shalat merupakan salah satu pondasi dari lima pondasi Islam, hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ' anhu ; “Islam itu dibangun atas lima perkara, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji” (HR. Bukhari dan Muslim).



Siapa Ahlussunnah Waljama’ah?


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Februari 2014

Sumber: abangdani.wordpress.com
Bagi umat Islam, term Ahlussunnah Waljama’ah bukanlah istilah asing dan bahkan istilah tersebut terus terucap dari mulut para da’i dalam setiap khutbahnya. Istilah tersebut tidak hanya familiar bagi tokoh-tokoh agama dan kalangan penuntut ilmu, namun juga sangat populer bagi kalangan awam. Namun demikian tidak ada salahnya jika dalam tulisan singkat ini penulis kembali mengulas tentang istilah tersebut, setidaknya untuk memperbaiki ingatan saja, sebagaima kata pepatah: “lancar kaji karena diulang”. 



QURBAN UNTUK SIAPA?


Oleh : Khairil Miswar 

Bireuen, 05 November 2011

Anas bin Malik R.a berkata bahwa Rasulullah Saw datang ke Madinah dan penduduknya memiliki dua hari di mana mereka bermain di dalamnya. Maka beliau bertanya: Apakah dua hari ini? Mereka menjawab: Dahulu kami biasa bermain di dua hari ini semasa Jahiliyah. Beliaupun bersabda: “Sungguh Allah telah menggantikannya dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddien Al-Albani rh. 



Politik Ghuluw di Aceh


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 27 Maret 2014

Pemilu semakin dekat. Kekerasan antar pelaku politik masih terus berlangsung hingga detik ini. Sebagaimana diberitakan oleh beberapa media, bentrok antar pendukung parpol belum juga berakhir. Di Aceh Tengah dikabarkan kelompok Pembela Tanah Air (PETA) melakukan perusakan terhadap atribut Partai Aceh (PA). Aksi PETA tersebut akhirnya memicu tindakan balasan yang dilakukan oleh pihak PA sehingga kondisi Aceh Tengah terkesan mencekam.



Monday, January 19, 2015

Polemik Kolom Agama di KTP


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 November 2014

Dalam beberapa waktu terakhir, polemik terhadap wacana penghilangan (pengosongan) kolom agama di KTP terus bergulir. Fenomena ini telah mengundang sejumlah pihak untuk adu argumen. Berbagai dalil pun dikemukakan, baik pro maupun kontra. Isu tentang penghilangan kolom agama di KTP telah berhembus pada saat kampanye pilpres beberapa waktu lalu.



Sunday, January 18, 2015

Perayaan Natal dan Sikap Kaum Muslimin


Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 Desember 2014

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam menghargai keberbedaan dan keragaman. Islam menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia (HAM) dan toleransi. Konsep HAM yang digagas oleh Nabi Muhammad Saw adalah HAM yang langsung dibimbing oleh wahyu. Hal ini berdasarkan pada khutbah Nabi Saw di Arafah pada tanggal 09 Dzulhijjah tahun ke 9 Hijrah: “Hai manusia! Masing-masing Tuhanmu itu satu, agamamu satu, nenek moyangmu satu, masing-masing orang di antara kamu dari keturunan Adam Alaihissalam dan Adam terbuat dari sari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab melebihi orang-orang `Azam, kecuali karena taqwa. Manusia itu memiliki hak seperti gigi-gig sisir.” 



PENGARUH STIGMA WAHABI TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM


Oleh : Khairil Miswar

Bireuen, 07 Desember 2012

Meskipun isu wahabi terkesan sudah usang namun kontroversi terhadap wahabi terus terjadi sampai hari ini. Bagi kaum modernis wahabisme merupakan sebuah gerakan pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam sedangkan bagi kaum tradisional/konservatif wahabisme dianggap sebagai ajaran baru yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Terlepas dari kontroversi tersebut dalam tulisan singkat ini penulis akan mencoba mengulas kembali isu-isu seputar wahabisme dan pengaruhnya terhadap pendidikan Islam di Indonesia. 



PELECEHAN AGAMA


Oleh : Khairil Miswar 
Bireuen, 26 September 2011

Berdasarkan hasil pemeriksaan para saksi, Tgk Saiful Bahri telah terpenuhi unsur pasal 315 junto 310 KUHP dengan ancaman hukuman sembilan bulan (Harian Aceh, 26/09/2011). Kita semua salut kepada Pak Polisi yang sudah bekerja maksimal dan berhasil menjerat Tgk Saiful dengan pasal 315 junto 310 KUHP. Pak Polisi dengan sigap merespon laporan yang dibuat oleh Ilyas Abu Bakar yang sebelumnya tersiar kabar ikut melakukan pemukulan terhadap Tgk Saiful Bahri pada saat sedang berkhutbah di Mesjid Raya Keumala, Pidie. Tgk Saiful Bahri dituduh telah melakukan pencemaran nama baik terhadap Tuan Ilyas Abu Bakar. Namun sayang Bapak Polisi yang selama ini kita banggakan ternyata belum memeriksa Ilyas AB dengan dalih belum turun surat izin dari Gubernur. Disinilah letak istimewanya pejabat, untuk pemeriksaan saja butuh izin. Berbeda dengan rakyat jelata yang bisa diperiksa kapan saja tanpa negosiasi.