Saturday, December 19, 2015

Bahasa Kita

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 15 Desember 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: commons.wikimedia.org
Tindakan salah ucap yang mungkin tanpa sengaja telah dipraktekkan oleh guru kita Syaikh Muda Tuanku Samunzir bin Husein pada perayaan Milad GAM ke 39 beberapa waktu lalu, telah memberi inspirasi bagi banyak penulis di Aceh untuk mencurahkan isi kepalanya melalui tulisan yang beraneka rupa. Ada penulis yang secara “ikhlas” melakukan pembelaan, dan bahkan seperti membenarkan kata-kata itu berhamburan di udara dengan dalih untuk menaikkan semangat pendengar. 


Monday, December 14, 2015

Teumeunak Bukan Warisan Endatu

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 Desemberi 2015

Pasar Sigli Tahun 1930
Sumber Foto: Koleksi Digital
Setelah video yang berisi ceramah dari seorang pempimpin zikir di Aceh tersebar luas di dunia maya, berbagai respon pun bermunculan. Pro kontra tidak dapat dihindari, dan saya sendiri berada di pihak yang kontra. Pihak yang pro pada ceramah yang disisipi dengan makian tersebut pun menggunakan berbagai “dalil” untuk membenarkan tindakan yang sudah terlanjur itu. Sebaliknya, pihak yang kontra juga tidak tinggal diam, dengan menggunakan berbagai argumen, mereka (dan termasuk saya) juga mencoba meluruskan kekeliruan yang oleh sebagian pihak terlanjur dianggap benar. 


Saturday, December 12, 2015

Hasan Tiro “Telah Mati”

(Refleksi 39 Tahun GAM: 4 Desember 1976 – 4 Desember 2015)

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 06 Desember 2015

Dr. Muhammad Hasan Di Tiro
Sumber Foto: www.republika.co.id
Bagi penggemar Nietzsche, tentu tidak asing dengan satu kalimat heboh yang menyatakan bahwa “Tuhan Telah Mati”. Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf besar yang lahir di Roken Jerman pada tahun 1844 Masehi. Ungkapan “Tuhan Telah Mati” (God is death) yang dikemukakan Nietzshe dalam The Gay Science tentunya bebas ditafsirkan sesuai selera, meskipun jauh dari maksud Nietzshe itu sendiri. Namun sayangnya, tulisan ini tidaklah dimaksudkan untuk mengupas atau pun menafsirkan ungkapan God is death ala Nietzshe. Tulisan ini dengan segala keterbatasannya, berhajat untuk memperbincangkan pesan-pesan Hasan Tiro, proklamator Gerakan Aceh Merdeka yang kononnya secara kebetulan juga seorang pengagum Nietzshe.


Wednesday, December 9, 2015

Antara Zikir dan Caci Maki

(Respon Terhadap Pidato Syaih Muda Samunzir bin Husein)

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 Desember 2015

Syaikh Samunzir bin Husein
Sumber Foto: majeliszikrullahaceh.com
Seorang teman (entah sengaja atau tidak) menandai saya dalam satu video yang diupload via media youtube dengan tajuk “Cerapa Ustaz Samunzir Saat Milad GAM Ke-39”. Pada awalnya saya tidak begitu merespon video tersebut karena paket internet saya lagi kritis. Saya baru menikmati video tersebut keesokan harinya setelah membeli kartu internet di kedai Bang Li. Dengan mengucapkan bismillah saya pun memutar video tersebut. Setelah mendengar dengan tekun, dan mengulang beberapa bagian yang penting, saya pun mengakhiri tontonan dengan mengucapkan astagfirullah.



Istana Wali

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 08 Desember 2015

Sumber Foto: aceh.tribunnews.com
Sulit dibayangkan bagaimana jadinya hidup ini jika tanpa wali. Tentu kita akan menemui banyak kesukaran dalam kehidupan tanpa sosok wali. Siswa di kelas tentu akan kocar-kacir jika tidak dikawal oleh wali kelas. Jika orang tua kita meninggal, dalam kikuk harta warisan pun mesti melibatkan wali. Pernikahan calon pengantin pun akan gagal total jika tanpa restu dan kehadiran seorang wali. Semegah apapun sebuah kota akan kacau-balau tanpa dipimpin oleh seorang wali kota. Bahkan, dunia musik pun akan layu tanpa kemunculan Wali Band. Demikian besarnya peran wali dalam kehidupan ini. Tersebab itulah, jangan menghina, mengejek dan membenci sosok wali.



Monday, November 23, 2015

“Pohon Kohler” dan Sejarawan Dadakan

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 23 November 2015


Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1890
Sumber Foto: Koleksi Digital Khairil Miswar
Dalam dua hari terakhir, lidah kita semakin fasih mengucapkan kata-kata yang sebenarnya “asing” bagi mayoritas masyarakat Aceh. Kata-kata itu adalah “pohon Kohler”. Kabarnya pada 19 November 2015 pohon tersebut yang awalnya berada di pekarangan Mesjid Raya terpaksa ditebang karena terkena proyek perluasan mesjid. Kononnya pohon tersebut ditanam oleh Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan, untuk mengenang tewasnya Kohler pada perang Aceh 1873.


Saturday, November 21, 2015

Merampas Harta Rakyat

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 November 2015

Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Sumber Foto: liputanislam.com
Syaikh Muhammad Al-Ghazali (2005) dalam salah satu bukunya meriwayatkan satu kisah yang patut disimak. Cerita ini mengisahkan tentang ketamakan seorang Dhahir Pipris, wali negeri Syam dan Mesir yang hidup di zaman Imam An-Nawawi. Pada suatu ketika, Dhahir Pipris berkeinginan untuk memerangi tentara Tartar yang saat itu sudah memasuki daerah Syam. Dhahir Pipris meminta kepada para ulama Syam untuk berfatwa agar ia diperbolehkan mengambil harta benda milik rakyat untuk digunakan sebagai bekal dalam peperangan melawan tentara Tartar. Pada saat itu seluruh ulama Syam menyetujuinya, kecuali Imam Nawawi. Ketidaksetujuan Imam Nawawi ini disebabkan oleh kehidupan Dhahir Pipris yang mewah dan berfoya-foya dengan hartanya. Peperangan dengan tentara Tartar hanya dijadikan sebagai alasan untuk merampas harta rakyat.


Tragedi Paris dan “Kelatahan” Nitizen

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 19 November 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: whatdoesntsuck.com
Jumat lalu, tepatnya 13 November 2015, Pemerintah Perancis kembali berduka. Dikabarkan bahwa lebih seratus orang tewas dan tiga ratusan lainnya terluka dalam serangkaian serangan di sejumlah tempat di Kota Paris. Salah satu korban terbesar, sebagaimana dilansir republika.co.id, berada di gedung pergelaran konser di Baraclan. Di tempat tersebut sekitar 112 orang tewas saat seorang bersenjata senapan otomatis memberondong penonton yang sedang menyaksikan aksi panggung band Amerika. Kabarnya, pelaku juga menyandera sekitar 100 orang.


Saturday, November 14, 2015

Da’i Pelawak

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 November 2015

Ustaz Maulana. Sumber Foto: www.dianliwenmi.com
Setelah episode Wisnu dan “insiden Fatihah” berlalu, baru-baru ini jagad maya kembali dihebohkan oleh sosok Ustaz Maulana, seorang “da’i kocak” yang sering menghiasi layar televisi di Indonesia. Menyaksikan ceramah-ceramah yang disampaikan Maulana, tidak ubahnya seperti menyaksikan pentas lawak semisal Ria Jenaka di masa orde baru atau Opera Van Java di orde reformasi. Meskipun pentas dan tujuannya berbeda, tapi penampilannya nyaris sama.


Fenomena Peublo Cap di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 November 2015

Ilustrasi. Sumber: justsomethingimade.com
Dalam beberapa minggu terakhir ada beberapa “cap” (stempel) yang “laku keras” di Aceh. Cap-cap dimaksud adalah “pungo”, “pengkhianat”, dan “sesat”. Ketiga cap ini menjadi topik perbincangan paling hangat akhir-akhir ini. Jika diurut berdasarkan waktu, cap paling tua adalah “pengkhianat”. Cap ini sudah beredar luas pada masa kolonial yang ditujukan kepada “antek-antek kafir” (penjajah). Cap “pengkhianat” tidak hilang begitu saja dan terus lestari pada masa-masa selanjutnya, khususnya pada saat konflik bersenjata antara GAM dan RI. Pasca damai Aceh, cap ini juga masih laris manis, khususnya di panggung politik. Saya ingat betul pada pemilu legislatif 2009, cap ini laku keras di Aceh. Demikian pula pada pilkada 2012, cap tersebut juga masih beredar di arena politik. Baru-baru ini, cap “pengkhianat” juga kembali populer. Kali ini cap tersebut disematkan kepada para “penggugat UUPA”.


Thursday, November 12, 2015

Surat Edaran Kapolri dan Kebebasan Yang Terbatas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 07 November 2015
Ilustrasi. Sumber: the-unpopular-opinions.tumblr.com
Beberapa hari lalu, tepatnya 8 Oktober 2015, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengeluarkan surat edaran terkait ujaran kebencian. Menurut surat edaran tersebut, sebagaimana dilansir rappler.com, ujaran kebencian adalah tindakan pidana yang berupa penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, penyebaran berita bohong, dan semua tindakan tersebut memiliki tujuan atau berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa atau konflik sosial.


Saturday, November 7, 2015

Stiker dan Dilema Politisi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 03 November 2015

Ilustrasi. Sumber: thebreakthrough.co
Baru-baru ini, sebagian pengguna media sosial (medsos), khususnya facebooker di Aceh diramaikan dengan ragam komentar terkait sosok “stiker” yang kononnya telah berhasil “menghebohkan” Kabupaten Aceh Jaya. Kisah ini berawal dari komentar Wakil ketua DPRK Aceh Jaya di media yang mempertanyakan stiker listrik gratis berlambang Partai Aceh yang terpasang di sejumlah rumah penerima bantuan. Menurut wakil ketua DPRK Aceh Jaya, listrik gratis tersebut merupakan dukungan dana dari APBK yang dianggarkan sejak 2014 lalu hingga 2015 (aceh.tribunnews.com/01/11/2015).


Monday, October 26, 2015

Ijazah Palsu dan “Bencana” Moralitas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 23 Oktober 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: rri.co.id
Palsu dan dusta adalah dua kata yang meskipun berbeda tetapi memiliki keterkaitan yang erat. Kepalsuan merupakan sebuah produk yang muncul dari kedustaan. Kita tentu sering mendengar istilah janji palsu, sumpah palsu, beras palsu dan uang palsu. Kemunculan janji palsu, sumpah palsu, beras palsu dan uang palsu tersebut tentu tidak bisa dipisahkan dengan kedustaan para pelakunya. Berawal dari kedustaan, kemudian melahirkan kepalsuan dan akhirnya mengantarkan pelakunya pada “neraca moralitas”, di mana publik berhak memberi penilaian dengan “tinta merah”.


Thursday, October 22, 2015

Bijak Melihat Singkil

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Oktober 2015

Sumber Foto: http://beritagar.id/
Mendengar nama Singkil, tentu kita akan terkenang pada sosok ulama besar yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan empat ratu. Beliau adalah Syaikh Abdurrauf As-Singkily, penulis Kitab Miratul Thullab. Nama Syaikh Abdurrauf As-Singkily atau yang lebih dikenal dengan Syiah Kuala telah diabadikan sebagai nama salah satu perguruan tinggi ternama di Aceh (Unsyiah).


Thursday, October 15, 2015

Harus Muda dan Generasi Rabbani

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 24 September 2015

Bireuen Tahun 1910
Sumber Foto: Koleksi Digital KM
Tanpa terasa, pada 12 Oktober 2015 mendatang, Bireuen akan kembali merayakan Ulang Tahunnya yang ke-16. Bireuen adalah salah satu kabupaten di Aceh yang dikenal sebagai kota dagang dan juga digelar dengan Kota Juang. Gelar Kota Juang bukanlah “pemberian gratis”, tapi diperoleh dengan kerja keras di masa lalu, di mana saat itu Bireuen menjadi tempat berkumpulnya para pejuang militan dari seluruh Aceh untuk kemudian bertaruh nyawa di Medan Area dalam rangka melawan agresi militer Belanda. Dari Bireuenlah api perjuangan itu dikobarkan. Di Bireuen pula Soekarno membakar semangat para pejuang untuk melakukan jihad fi sabilillah guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang kala itu baru seumur jagung.


Menyikapi “Konflik Agama” di Aceh Singkil

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 13 Oktober 2015

Sumber Foto: Serambinews.com
Tanpa terasa waktu terus bergulir dan kita akan segera meninggalkan tahun 1436 H. Besok (14 Oktober 2015) kita akan memasuki tanggal 1 Muharram 1437 H yang merupakan tahun baru bagi kaum muslimin di seluruh dunia.


Jangan Kerdilkan Mahasiswa!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Oktober 2015

Sumber Foto: Nitizen
Sebelum berpanjang-panjang kalam, saya mohon maaf kepada semua pihak yang nantinya mungkin kurang berkenan dengan tulisan ini. Negara ini negara demokrasi, di mana setiap warga negara diberi hak oleh Konstitusi untuk menyampaikan pendapatnya, selama pendapat tersebut tidak mengandung fitnah, tidak memicu permusuhan, tidak menanam kebencian terhadap pihak-pihak tertentu atau pun tindakan makar terhadap negara.


Wednesday, September 30, 2015

Ketika Kekerasan Menjadi Tabi’at

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 23 September 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: www.sorotnews.com
Yang Pah Kupeh Sige” (cocoknya kupukul sekali), “nyan yang pah tapak tajoek” (cocoknya kita tendang). Kalimat-kalimat serumpun ini sudah sangat sering kita dengar di kedai-kedai kopi, khususnya di Aceh. Ia adalah kalimat-kalimat sederhana yang saya, anda dan mereka ucapkan sehari-hari. Ketika amarah telah memuncak dan akal telah mati, maka mulut pun “berpuisi” dengan kalimat-kalimat itu. Tak puas hanya berucap, terkadang berlanjut pada aksi. Kekerasan itu bermula dari hati tersebab benci, kemudian turun ke mulut dengan caci dan akhirnya bermuara ke “kaki”, maka terjadilah pemukulan, pembunuhan, pembantaian, pengusiran, perusakan dan bahkan pembakaran.


Wednesday, September 23, 2015

Abu Indrapuri; Seorang Mujahid “Wahabi”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 September 2015

Dari kiri ke kanan: Abu Indrapuri, Abu Daud Beureueh dan Tgk Di Lam Oe
Sumber Foto: T.A. Talsya, Sekali Republiken Tetap Republiken
Pendahuluan

Belakangan ini banyak beredar poster yang berisi foto-foto ulama kharismatik Aceh. Poster-poster tersebut bisa dengan mudah kita dapatkan di toko-toko buku yang ada di Aceh. Di sebagian tempat juga ada para pedagang keliling yang membawa poster-poster tersebut pada hari-hari pasaran (uroe peukan). Keberadaan poster-poster tersebut yang memuat foto dan juga biografi singkat para ulama Aceh tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat guna mengenal ulama dan tokoh-tokoh pendahulunya.



Sunday, September 20, 2015

Mazhab dan Toleransi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 September 2015

Ilustrasi. Sumber: www.panoramio.com
Mustafa Masyhur, sebagaimana dikutip oleh Muhammad AR (2007: 16), menyebut bahwa Islam adalah suatu nizam, suatu sistem hidup yang lengkap, syumul dan merangkumi setiap realitas kehidupan. Dengan kata lain, Islam adalah agama “terlengkap” yang pernah ada di muka bumi ini. Islam tidak hanya mengurusi masalah-masalah ritual (hablu minallah) semata, tapi juga membahas masalah keduniawian (hablu minan nas), semisal ekonomi, politik dan juga persoalan-persoalan kenegaraan.


Friday, September 18, 2015

Mendamaikan Kaum Muslimin di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 September 2015

Khairil Miswar. Foto 2013
Innamal mukminuuna ikhwah, fa ashlihu baina akhawaikum, demikianlah potongan surat Al-Hujurat ayat 10 yang termaktub dalam Al-Qur’an Al Karim. Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wata'aala menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Tidak hanya bersaudara, tapi kita juga dilarang untuk bercerai berai. Dalam surat Ali Imran ayat 103, Allah juga berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu saling bercerai-berai”.


Monday, September 14, 2015

Idrus Ramli, Jangan “Ganggu” Aceh Kami!

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 10 September 2015

Sumber Foto: Nitizen
Tulisan ini aku tujukan ke hadapan Yang Mulia Kiyai Haji Muhammad Idrus Ramli Hafizahullah. Anggap saja tulisan ini sebagai “surat cintaku” kepadamu. Bukannya aku tidak mengenal kantor Pos, bukan pula aku tak punya ongkos, tapi sengaja kutulis surat ini di sini, agar saudara-saudaraku dan juga saudara-saudaramu dapat membaca surat ini. Meskipun surat ini kutujukan kepadamu, tapi tidak ada secuil rahasia pun dalam surat ini.


Saturday, September 5, 2015

Teuku Wisnu, Wahabi dan “Khilafiyah Karet”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 September 2015

Teuku Wisnu Bersama Ulama Darul Hadits Yaman di Banda Aceh
Sumber Foto: aceh.tribunnews.com
Sebagai masyarakat “kampung”, saya tidak banyak tahu tentang dunia keartisan (dunia hiburan), karena saya paling malas nonton acara-acara berbau artis di TV, apalagi yang namanya SE-NE-TRON, kecuali film-film layar lebar yang diangkat dari novel-novel ternama, semisal El-Syirazi itu. Dari kecil, saya tidak pernah hafal nama-nama artis, karena tidak pernah ditanyakan di sekolah. Hanya beberapa artis yang saya ingat namanya, seperti Rhoma Irama, Rano Karno, Titik Puspa dan artis-artis “lawas” lainnya.


Wednesday, September 2, 2015

Menggungat “Tuhan” dan “Syaitan”

Oleh: Khairil Miswar 

Krueng Mane, 29 Agustus 2015

Pria Bernama "Tuhan" di Banyuwangi
Sumber Foto: www.tempo.co
Jujur, sebenarnya saya merasa “risih” dengan judul artikel ini, tapi apa boleh buat, saya kehabisan akal untuk mencari redaksi judul yang relevan guna membahas dua fenomena unik yang sedang “menghebohkan” Indonesia, khususnya jagad maya. Nampaknya publik Indonesia lebih tertarik dengan isu ini dibanding masalah rupiah yang “naik-turun”. Masyarakat kita juga terlihat lebih “responsif” terhadap isu “Tuhan” dan “Syaitan” jika dibanding dengan “perseteruan” Rizal Ramli versus Jusuf Kalla yang sempat menghiasi media tanah air baru-baru ini.


Wednesday, August 26, 2015

Rezim Mu’tazilah dan “Konflik” Mazhab di Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Agustus 2015

Sumber Foto; Fb Serambi Mekkah
Dalam bukunya, Muhammad Ahmad menyebutkan bahwa kata Mu’tazilah berasal dari kata I’tizal yang berarti memisahkan diri. Sedangkan Mu’tazilah adalah orang-orang yang memisahkan diri. Sebagian ulama menyebut bahwa nama Mu’tazilah adalah sebuah nama yang diberikan oleh orang dari luar golongan Mu’tazilah. Adapun orang-orang Mu’tazilah sendiri lebih senang menggunakan nama Ahlut Tauhid wal ‘Adl.[1] Pendapat lain, sebagaimana dikutip oleh Harun Nasution dari Ibn Al-Murtadha, menyatakan bahwa kaum Mu’tazilah sendirilah yang memakai nama tersebut dan bukan diberikan oleh orang lain.[2] Menurut Syahrastani, firqah Mu’tazilah disebut juga dengan kaum Qadariyah, akan tetapi Mu’tazilah sendiri menyatakan bahwa sebutan tersebut mubham sehingga mereka menolak disebut Qadariyah.[3]


Friday, August 21, 2015

Memerdekakan Damai Aceh

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Agustus 2015

Bagi Aceh, bulan Agustus sangatlah “istimewa”. Pada bulan Agustus, ada dua momen besar yang diperingati oleh masyarakat Aceh. Pertama adalah HUT Republik Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus. Peringatan HUT RI ini telah dimulai sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya sampai dengan saat ini. Kedua adalah peringatan Damai Aceh yang diperingati pada 15 Agustus setiap tahunnya. Ini adalah “tradisi” baru pasca penandatangan Memorandum of Understanding (MoU Helsinky) antara RI dan GAM pada 15 Agustus 2005 silam. 


Sepuluh Tahun Damai Aceh dan Kontroversi “Bintang Bulan”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 15 Agustus 2015


Tanpa terasa, hari ini (15 Agustus 2015) genap sepuluh tahun usia damai Aceh. Peristiwa bersejarah tersebut berlangsung pada 15 Agustus 2005, di mana kedua belah telah menandatangani satu nota kesepahaman yang dikenal dengan MoU Helsinky. Pasca penandatangan tersebut, secara perlahan perdamaian pun terwujud dan kondisi keamanan pun mulai pulih. Namun dalam perjalanannya, riak-riak kecil masih saja terjadi, meskipun dalam skala kecil. 


Wednesday, August 12, 2015

Menjawab Kegundahan Muhammad Iqbal Jalil Cs terhadap Wahabi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 Agustus 2015


Dalam status facebooknya tertanggal 09 Agustus 2015, Al-Imam Al-Muhaddits Al-‘Allamah Asy-Syaikhul Akbar Al-Mukarram Muhammad Iqbal Jalil Hafidhahullah kembali mengeluarkan “fatwa” mencengangkan dengan menyebut bahwa “Aceh Darurat Aqidah”. Satu “fatwa” yang patut diacungi jempol oleh semua pihak. Fatwa tersebut bukanlah sembarang fatwa karena ia lahir dari hasil ijtihad mendalam seorang ‘alim besar nan wara’, seorang maha guru bernama Muhammad Iqbal Jalil. 


Friday, July 31, 2015

Idul Fitri dan Pemimpin Baru

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 08 Agustus 2014

Sumber Foto: bisnis.liputan6.com
Dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat pada 27 Juli lalu, berakhir pula Ramadhan 1435 H. Kemunculan hilal menjadi sinyal bagi kaum muslimin seluruh dunia bahwa 1 Syawal akan segera tiba. Semarak hari raya diawali dengan lantunan takbir pasca shalat Maghrib yang dilanjutkan dengan pawai takbiran di sepanjang jalan negara. Tak hanya tabuhan beduk dan gemuruh takbir, dentuman mercon dan percikan kembang api juga ikut menghiasi ritual penyambutan 1 Syawal 1435 H. Meskipun terdapat perbedaan dalam mengawali Ramadhan, namun hari raya tahun ini dilaksanakan secara bersamaan. Kementrian Agama RI selaku lembaga yang otoritatif bersama dengan ormas-ormas Islam lainnya seperti NU dan Muhammadiyah bersepakat untuk menetapkan bahwa 1 Syawal 1435 H jatuh pada 28 Juli 2014, namun demikian di beberapa tempat, dengan pertimbangan tertentu justru memilih merayakan Idul Fitri pada 29 Juli 2014. Wallahu A’lam.


Koin Emas, Antara Nilai Sejarah dan Kesempitan Ekonomi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 November 2013

Sumber Foto: www.tribunnews.com
 Alhamdulillah! Tentunya kalimat inilah yang mesti terucap dari mulut saudara-saudara kita ketika mendapatkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala semisal koin emas yang ditemukan oleh para pencari tiram di Gampong Pande Banda Aceh beberapa waktu lalu. Penemuan peti kuno yang dipenuhi dengan koin emas sebagaimana dilansir oleh Serambi Indonesia (12/11/13) telah menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan sampai hari ini. Penemuan benda bersejarah tersebut tidak hanya diperbincangkan oleh masyarakat awam, tetapi juga ikut direspon oleh sejarawan dan akademisi di Aceh.


Mata Rantai Dinasti Politik

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 24 Oktober 2013

Ilustrasi. Sumber Foto: nasional.kompas.com
Baru-baru ini beberapa media di Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan terkait “Dinasti Politik” yang dipraktekkan oleh Gubernur Atut di Banten. Isu tersebut terus bergulir dan menghiasi berbagai surat kabar, tidak hanya di tingkat Nasional, namun juga dipublis oleh koran-koran lokal, baik media cetak maupun elektronik. Terbongkarnya praktek “Politik Dinasti”, bermula dari tertangkapnya adik Ratu Atut bernama Wawan oleh KPK. Berawal dari Atut, beberapa waktu lalu Mendagri Gamawan Fauzi juga memberi informasi kepada publik terkait sejumlah kepala daerah di Indonesia yang terindikasi memainkan “Politik Dinasti” di daerahnya (merdeka.com).


Dukun Politik

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 November 2013

Sumber Foto: www.dukunindonesia.com
Menarik sekali menikmati pembahasan yang ditayangkan oleh TV One (Jumat, 15/11/13) beberapa waktu lalu dalam acara “Ruang Kita” yang mengangkat tema “dukun politik” menjelang Pemilu 2014. Dalam acara tersebut turut dihadirkan pakar metafisika, seorang politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan juga Ki Kusumo yang disebut-sebut sebagai seorang paranormal (konsultan spiritual) bagi tokoh-tokoh politik. Perbincangan dalam acara tersebut adalah terkait dengan peran para dukun politik dalam kancah perpolitikan di Indonesia.


Harmonisasi Mayoritas dan Minoritas

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Juli 2105

Ilustrasi. Sumber Foto: blogs.warwick.ac.uk
Apa yang terjadi di Tolikara Papua pada Hari Raya Idul Fitri 1436 H beberapa hari lalu merupakan ujian berat bagi kaum muslimin Indonesia. Toleransi dan saling menghargai satu sama lain tidak hanya merupakan perintah agama, tapi juga telah diatur rapi dalam Konstitusi Republik Indonesia. Tapi sayang, keakraban umat yang selama ini terjaga baik di Papua telah dirusak oleh tangan-tangan jahil segelintir anak negeri.


Tuesday, July 28, 2015

“Mensyari’atkan” Media

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 12 Mei 2015



Dalam bukunya, Amirul Hadi (2010: 244) menyebutkan bahwa tidak diketahui dengan jelas sejak kapan pertama kalinya Syari’at Islam dilaksanakan di Aceh. Namun yang pasti, ketika Islam masuk ke Nusantara, termasuk Aceh, maka seiring dengan hal tersebut terbentuklah sebuah “komunitas Islam” yang selanjutnya menjelma menjadi kesatuan politis yang dikenal dengan istilah Kerajaan Islam, seperti halnya Kerajaan Aceh, Kerajaan Peureulak dan Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan-kerajaan dimaksud telah berperan secara aktif dalam melakukan Islamisasi di Aceh dengan mengadopsi dan mengadaptasi Islam yang datang dari Timur Tengah sehingga menjadi sebuah agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Aceh sampai dengan saat ini.


Wednesday, July 22, 2015

Tragedi Tolikara dan Sikap Kita

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 18 Juli 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: www.republika.co.id
Hari raya Idul Fitri yang jatuh pada 17 Juli 2015 (1 Syawal 1436 H) dirayakan serentak oleh mayoritas muslim di Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Namun sayangnya, “kesyahduan” Idul Fitri tahun ini telah terusik akibat tindakan anarkis-radikal oleh pihak-pihak yang tidak paham atau bahkan “anti toleransi”. Minoritas muslim di Kabupaten Tolikara telah “ditindas” secara “brutal” oleh sekelompok anak bangsa yang menyebut diri sebagai Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Bagi para pelaku, atau pun pihak-pihak lain yang pro pada tindakan “barbarian” ini tentu akan tersenyum lebar, karena telah berhasil membuat umat Islam “kocar-kacir” dan shock. Namun bagi umat Islam, tidak hanya di Tolikara, tetapi di seluruh penjuru negeri, akan menganggap tindakan “primitif” tersebut sebagai sebuah tragedi yang telah “melukai” kaum muslimin. Tragisnya lagi, aksi yang jauh dari nilai-nilai peradaban modern tersebut terjadi pada “hari suci” dan bahkan “sakral”.


Menyoal Akhlak di Media Sosial

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 11 Juli 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: exxpad.com
Dulu, sekitar tahun 90-an, memiliki pesawat telepon rumah saja sudah dianggap sebagai “orang kaya”. Saya ingat ketika di rumah orang tua saya dipasang pesawat telepon pada sekira tahun 1996, saat itu saya masih kelas tiga MTsN. Sepulang sekolah, saya selalu duduk di depan box telepon, menunggu suara telepon berdering. Saat itu, biasanya saya akan “melompat-lompat” kegirangan ketika tiba-tiba telepon mengeluarkan suara “tlululu- tlululu- tlululu”. Lantas saya berteriak: “mak telepon…telepon…” Kalau diingat-ingat sekarang memang “memalukan”, tapi, ya begitulah faktanya ketika itu. Bagi saya dan juga masyarakat kampung saya, telepon pada saat itu adalah barang mewah. Lagi pula, pada ketika itu, orang-orang yang memiliki telepon dapat dihitung dengan jari. Saya yakin, hal serupa juga dialami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, kecuali masyarakat perkotaan yang mungkin sudah duluan maju.


Friday, June 26, 2015

“Mitos” Wahabi dalam “Kemelut” Baiturrahman

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 26 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1925
Sumber Foto; Koleksi Digital Khairil Miswar
Setelah terjadi “ketegangan” dalam beberapa hari terakhir, akhirnya polemik tata laksana ibadah di Mejid Raya Baiturrahman “terjawab sudah”. Para “mujahid” media sosial menyebarkan selembar surat yang ditandangani oleh Gubernur dan beberapa tokoh agama di Aceh. Kabarnya tata laksana ibadah di Mesjid Raya Baiturrahman telah kembali kepada Ahlussunnah Waljama’ah yaitu dengan penerapan fiqih Syafi’iyah. Meskipun hasil “negosiasi” ini disebut-sebut sebagai solusi sementara, dan untuk selanjutnya menunggu hasil Muzakarah Ulama yang akan dilaksanakan oleh Majelis Permusyawarat Ulama (MPU), tapi setidaknya “kesepakatan” tersebut telah berhasil meredam “konflik” untuk sementara waktu. Untuk itu, langkah ini patut kita apresiasi, walaupun dalam “tanda kutip”.


Wednesday, June 24, 2015

“Insiden” Baiturrahman dan Persatuan Umat

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 23 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1895
Sumber Foto: Koleksi Digital Khairil Miswar
Sebagai bagian dari masyarakat Aceh, tentunya saya sangat paham bahwa apa yang hendak saya uraikan dalam tulisan ini adalah satu persoalan sensitif yang bisa memicu reaksi dari pihak-pihak yang “berseberangan”. Namun demikian, saya ingat pada pesan Nabi, bahwa agama itu adalah nasehat. Dalam kondisi segenting apapun, saya juga merasa harus “merealisasikan” kalam Allah dalam Alquran: watawashau bil haqqi watawashau bi shabri. Dua “titah” inilah yang “memaksa” saya untuk menulis sekedar perlu, meskipun “hujatan” datang menyerbu.



Tuesday, June 16, 2015

Bukan Syair Fansuri

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 16 Juni 2015

Mesjid Raya Baiturrahman Tahun 1880.
Sumber Foto: Doc Digital Faisal Ridha
Dikala kaum muslimin “sekalian alam” sedang bermunajat kepada Tuhan-Nya. Di Mesjid tanoh indatu justru terjadi “keriuhan” yang “menusuk kalbu” para insan beradab. Seandainya Syaikh Abdurrauf (syiah Kuala) yang “tenar” itu masih hidup, tentunya beliau akan “menangis” dan bahkan “tersedu” akibat ulah segelintir “anak cucunya” yang “hilang malu”.


Jilbab Untuk Tentara Wanita

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 04 Juni 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: jilbab.indonesia.cc
Tidak hanya sekedar tahu, tapi nampaknya kita semua telah sepakat bahwa Negara Republik Indonesia menjamin kebebasan beragama bagi setiap warganya. Pasal 29 ayat 2 adalah dalil paling tegas dan lugas yang memberikan sinyal terang tentang kebebasan beragama di Indonesia. Bahkan, pasca pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965, penguasa Orde Baru telah memaklumkan bahwa Indonesia adalah negara yang anti kepada komunisme, tentunya termasuk ateisme di dalamnya. Dengan kata lain, setiap warga negara Indonesia secara normatif harus-lah memeluk salah satu agama.


Saturday, June 13, 2015

Teungku Chiek Awe Geutah dalam Riwayat

(Kajian Awal) 

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 13 Juni 2015

Khairil Miswar


Bagi masyarakat Bireuen, khususnya masyarakat Peusangan, nama Teungku Chiek Awe Geutah tentu tidak lagi asing. Cerita tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, nama Teungku Chiek Awe Geutah juga dikenal oleh sebagian besar masyarakat Aceh melalui cerita dalam pengajian di dayah-dayah (pesantren). Di sisi lain, kisah tentang Teungku Chiek Awe Geutah juga menarik perhatian para peneliti di luar Aceh dan bahkan luar negeri. Kabarnya ada beberapa mahasiswa dan peneliti yang datang dari luar Aceh untuk melakukan penelitian tentang Teungku Chiek Awe Geutah.


Menggugat “Moral” Wakil Rakyat

(Tragedi DPRK Bireuen)

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 11 Juni 2015 

Ilustrasi. Sumber Foto: aleks79.blogspot.com
Bagi masyarakat Indonesia, sudah tidak aneh lagi jika terdengar ada anggota dewan yang nyeleneh. Sepertinya hal tersebut sudah menjadi semacam tren tersendiri di abad modern, di mana ramai orang-orang terhormat yang sudah tak layak dihormati. Mendengar ada oknum anggota dewan nonton “video panas” di gedung dewan, kita hanya bisa tersenyum. Demikian pula jika beredar kabar ada oknum anggota dewan melakukan mesum, juga sudah dianggap sebagai fenomena yang biasa saja. Adapun terkait kasus korupsi dan sejenisnya yang melibatkan oknum dewan, juga semakin tidak relevan untuk dibahas, mengingat perilaku tersebut sudah menjadi semacam “tradisi” yang terus dipertahankan.


Polemik “Kaset Mengaji” dan “Polusi Suara”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 09 Juni 2015 

Ilustrasi. Sumber: www.tokopedia.com




Bagai memantik api di jerami kering, pernyataan Wapres Jusuf Kalla (JK) terkait larangan memutar kaset mengaji di mesjid sontak saja mengundang “keriuhan” para nitizen di media sosial. Pro-kontra akan terus berhembus menuju penjuru yang berbeda dan kemudian berhenti di muaranya masing-masing – tidak akan pernah ada kata sepakat. Memang, apa yang disampaikan JK adalah sebuah topik yang sensitif sehingga dapat memicu “adrenalin” dan mengundang perdebatan yang tidak berkesudahan. Polemik ini akan terus mengalir dan akan berhenti ketika kita semua sudah “jemu” – tanpa ada titik temu.


Friday, June 5, 2015

Si Pitung dan Din Minimi

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 28 Mei 2015


Sekira empat bulan lagi, tepatnya pada 15 Agustus 2015 mendatang, usia damai Aceh akan genap sepuluh tahun. Hitungan sepuluh tahun itu sendiri bersifat relatif. Jika angka tersebut dilekatkan pada manusia, maka kesimpulannya usia tersebut adalah usia yang sangat belia. Disebut belia karena usia manusia itu paling lama berkisar antara 60-100 tahun. Jadi, bagi manusia, usia sepuluh tahun adalah usia “anak kecil” yang masih sangat sensitif dan rentan dengan berbagai persoalan di sekelilingnya. 


Monday, June 1, 2015

Berjilbab, Kenapa Harus ke Aceh?

Oleh: Khairil Miswar 

Banda Aceh, 31 Mei 2015 

Ilustrasi: Sumber: news.fimadani.com
Kalau mau pakai jilbab pindah ke Aceh! Begitulah sepotong kalimat yang kononnya diucapkan oleh Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, beberapa waktu lalu. Dalam tulisan singkat ini, saya tidak ingin berpanjang-panjang kalam. Karena berhadapan dengan sosok “tegas”, maka kita pun harus tegas. Kita langsung saja ke pokok persoalan.


Mahasiswa “Plastik”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 25 Mei 2015

Khairil Miswar. Foto Kenangan Saat Melakukan
Aksi bersama Tim Keprihatinan Untuk Aceh
di Batavia sekira Tahun 2002


Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan temuan beras plastik yang kononnya sudah beredar di pasaran. Terlepas benar tidaknya temuan tersebut, tapi yang jelas isu beras plastik telah menjadi perbincangan “panas” dalam masyarakat. Sebenarnya isu tersebut bukanlah hal baru. Sebelumnya juga pernah tersiar kabar tentang temuan telur palsu. Bahkan baru-baru ini juga berhembus informasi bahwa tidak hanya beras dan telur yang dipalsukan, tetapi susu anak-anak juga banyak yang dipalsukan dengan menggunakan bahan-bahan berbahaya. 


Friday, May 22, 2015

Rohingya itu Soal “Rasa”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 18 Mei 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: portalsatu.com
Sebenarnya saya tidak begitu kenal dengan Myanmar. Orang-orang mengatakan bahwa Myanmar itu dahulunya disebut Burma. Mau disebut apapun juga, saya juga tidak kenal mereka. Memang, waktu sekolah dulu, saya pernah belajar IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Dalam pelajaran ini memang Myanmar dan Burma sering disebut-sebut. Tapi yang namanya tak kenal, meskipun banyak disebut, ya tetap saja saya tak kenal. 


Tuesday, May 5, 2015

Preman Lungkiek Dapu

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 05 Mei 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: m.antarakalteng.com
Ada perasaan han ek takhem (tak sanggup tertawa) ketika saya menyaksikan sebuah video yang dilansir oleh serambinewstv.com (04/05/15) dengan tajuk “Bendera Bintang Bulan Gagal Berkibar di DPR Aceh”. Dalam video tersebut, seorang politisi senior, Abdullah Saleh terlihat mengalungkan bendera Bintang Bulan secara paksa ke leher Sekwan DPRA, Hamid Zain. Dalam kondisi tegang tersebut, Hamid Zain segera diamankan dan menjauh dari lokasi. (Baca Kronologis).


Saturday, May 2, 2015

Untuk Apa Menulis?

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 02 Mei 2015

Khairil Miswar. Foto Tahun 2013
Kira-kira apa yang harus kita jawab jika pertanyaan ini diajukan kepada kita? Tentu, masing-masing kita punya jawaban yang beragam dan tidak mesti sama. Silahkan jawab sendiri-sendiri dan tulis jawaban anda di kertas, kemudian anda baca sendiri supaya anda tahu untuk apa anda menulis. 


Tuesday, April 28, 2015

Ahok Kian “Menohok”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 28 April 2015

Foto Ahok. Sumber: news.liputan6.com
Sebenarnya tidak ada untungnya membicarakan Ahok, hanya buang-buang waktu dan energi. Dia bukan abang saya, bukan adik saya, bukan ayah saya, bukan mak cik saya, bukan paman saya, bukan sepupu saya, bukan ipar saya, bukan yahwa saya, bukan miwa saya, dan bukan pula anak saya, apalagi kakek saya. 


Thursday, April 23, 2015

Aceh, Kristenisasi dan “Periuk Nasi”

Oleh: Khairil Miswar 

Bireuen, 14 April 2015

Ilustrasi. Sumber Foto: ketikakuberkata1.rssing.com
Sepanjang sejarahnya, Aceh yang terletak di ujung utara Sumatera telah mengalami berbagai kondisi pahit manisnya sebuah kehidupan dari generasi ke generasi. Meskipun kedatangan Islam ke Aceh “masih diperselisihkan” oleh pakar sejarah – di mana ada teori Pasai (abad ke 14) dan teori Peureulak (abad ke 7), baru-baru ini kononnya juga telah muncul teori baru pasca penemuan koin emas di Pande, namun terlepas dari semua itu, nampaknya tidak ada “khilaf” ahli sejarah bahwa dari Aceh-lah Islam tersebar ke Nusantara. Tidak hanya itu, Kerajaan Aceh di masa lalu juga pernah mencapai puncak kejayaannya yang memiliki armada laut “terkuat” di Asia Tenggara dengan 500 buah kapal perang. Kononnya kekuatan militer yang dimiliki Aceh kala itu telah membuat Portugis berdiri “bulu kuduk”.