Sunday, December 21, 2014

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA (SPANYOL)

Oleh: Khairil Miswar, S. Pd. I
Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry, Konsentrasi Pemikiran dalam Islam 

Sumber Foto: www.snipview.com

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam Encylopedia Islam, sebagaimana dikutip oleh Merduati, disebutkan bahwa kata Spanyol berasal dari bahasa Arab, yaitu Sabtah yang awalnya berasal dari bahasa Latin; Septem yang berarti tujuh. Lengkapnya Septem Fatres yang berarti tujuh saudara.[1] Di dunia Islam, nama Spanyol lebih dikenal dengan Andalusia.

Andalusia adalah sebuah daerah yang terletak di benua Eropa Barat Daya. Di bagian timur dan tenggara, Andalusia berbatasan dengan Laut Tengah. Di sebelah selatan berbatasan dengan Afrika yang terhalang oleh selat Gibraltar, sedangkan di bagian barat berbatasan dengan Samudra Atlantik. Adapun di bagian timur laut, Andalusia dibatasi oleh Perancis.[2]

Andalusia adalah nama bagi Semenanjung Iberia pada zaman pemerintahan Bani Umayyah. Menurut Siti Maryam dan Jaih Mubarok, sebagaimana dikutip oleh Dedi Supriyadi, disebutkan bahwa Andalusia (Spanyol) berasal dari Vandal, karena Iberia pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum terusir oleh bangsa Ghotia Barat pada abad ke-5 Masehi.[3] Sebelum kedatangan Islam, penduduk Spanyol terdiri dari beberapa golongan. Golongan pertama dikenal dengan Latifundia yang artinya para penguasa tanah. Golongan kedua adalah para buruh tani yang disebut dengan Serf, golongan ini juga terdiri dari budak belian. Golongan ketiga adalah golongan menengah yang bergerak dalam bidang ekonomi dan produksi. Golongan keempat adalah para pengusaha yang memiliki hak-hak istimewa dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Kelompok kelima adalah kelompok terakhir yang terdiri dari para pemimpin gereja Katholik pemikiran St. Agustinus.[4] Umat Islam baru berhasil menaklukkan Semenanjung Iberia tersebut pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 86-96 Hijrah (705-715 M).[5]

Ekspansi pasukan Islam ke Andalusia (Spanyol) merupakan serangan terakhir dan paling dramatis dari seluruh operasi militer yang pernah dijalankan oleh orang-orang Arab. Serangan ke Andalusia adalah puncak ekspansi muslim ke wilayah Afrika-Eropa, seperti halnya penaklukan Turkistan yang merupakan titik terjauh ekspansi ke kawasan Mesir-Asia.[6]

Sejak abad ke-8, Granada dan sebahagian wilayah Spanyol berada dalam kekuasaan Islam. Sejarah panjang kekuasaan Islam di Spanyol dibagi ke dalam enam periode, yaitu: periode pertama, Spanyol berada di bawah pimpinan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah di Damaskus. Periode kedua, Spanyol dipimpin oleh panglima dan gubernur yang dikenal dengan amir, tetapi mereka tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam di Baghdad yang saat itu dikuasai oleh Bani Abbasiyah. Periode ketiga dimulai sejak pemerintahan Abdurrahman III (An-Nashir) sampai dengan munculnya kerajaan-kerajaan kecil. Pada periode keempat, kekuasaan Islam di Spanyol terpecah kepada lebih dari tiga puluh kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal dengan Muluk ath-Thawaif. Periode kelima, kekuasaan Islam di Spanyol yang sudah terpecah dalam kerajaan kecil didominasi oleh dua Dinasti, yaitu Murabithun dan Muwahhidun. Periode keenam adalah periode terakhir kekuasaan Islam di Spanyol, di mana kekuasan Islam hanya tinggal di Granada dibawah kekuasaan Bani Ahmar.[7]

Pemerintahan Islam di Spanyol dalam waktu yang panjang telah menyisakan berbagai karya luar biasa yang menjadi cikal bakal peradaban dunia. Hasil karya umat Islam di Spanyol juga memiliki kontribusi besar dalam membebaskan bangsa Eropa dari kegelapan.[8] Kegemilangan umat Islam di Spanyol dibangun oleh Abdurrahman III, namun kondisi ini tidak berlangsung lama. Pada saat umat Kristen Spanyol telah menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki kepandaian, mereka justru menyusun strategi untuk menghancurkan kekuasaan Islam di Spanyol. Dinasti Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol adalah Dinasti Ahmar di Granada. Pada tahun 1492 M, Raja Ferdinad II dan Ratu Isabella berhasil merebut Granada dari tangan umat Islam. Kejatuhan Dinasti Ahmar ini akhirnya membawa kepada keruntuhan kekuasaan Islam di Spanyol.[9]

Kejayaan dan kemegahan yang pernah dibangun oleh umat Islam di Spanyol rupanya tidak mampu dilanjutkan oleh para penguasa Kristen. Bangsa Eropa baru mulai mengadakan pembaharuan atau modernisasi pada abad ke-18.[10]

Untuk mengetahui sejarah Islam di Andalulisa (Spanyol) secara komprehensif, penulis akan membahasnya secara ringkas dalam makalah ini yang merupakan tugas mata kuliah Sejarah Perabadan Islam di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Adapun sistematika pembahasan dalam makalah ini meliputi: Pertama, perkembangan Islam di Andalusia; periode para Wali, masa Keamiran, masa Kekhalifahan, Muluk at-Thawaif, Reconquesta, Dinati Murabithun, Dinasti Muwahidun dan masa Bani Ahmar. Kedua, kemajuan peradaban Islam di Andalusia; bidang ilmu pengetahuan dan filsafat, bidang geografi dan sains, bidang sejarah dan sosiologi, bidang agama dan hukum Islam, bidang musik dan kesenian, bidang bahasa dan sastra dan bidang perkembangan fisik. Ketiga, runtuhnya kerajaan Andalusia; lemahnya kekuasaan Bani Umayyah II dan bangkitnya kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia dan timbulnya semangat orang-orang Eropa untuk menguasai kembali Andalusia. Keempat, hancurnya peradaban Islam di Andalusia; hancurnya kekuasaan Islam dan rendahnya semangat para ahli dalam menggali budaya Islam dan banyaknya orang-orang Eropa yang menguasai ilmu pengetahuan dari Islam.

Sumber data dalam pembahasan makalah ini adalah beberapa buku sejarah peradaban Islam dan juga beberapa jurnal yang terkait dengan sejarah Islam di Andalusia.


BAB II

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA

(SPANYOL)

A. Perkembangan Islam di Andalusia

Pada saat berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Daulah Bani Umayyah melakukan ekspansi besar-besaran ke Barat. Pada masa pemerintahan Al-Walid yang berjalan lebih kurang sepuluh tahun, pada tahun 711 M tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya benua Eropa. Setelah menundukkan Aljazair dan Maroko, pemimpin pasukan Islam, Thariq bin Ziyad bersama pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan benua Eropa. Pasukan Thariq bin Ziyad berlabuh di suatu tempat yang saat ini dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq).[1] Kapal-kapal yang digunakan oleh pasukan Thariq, menurut beberapa riwayat disediakan oleh Julian, Pangeran Ceuta, yang namannya cukup melegenda.[2]

Sebelum ditakukkan oleh pasukan Islam, Spanyol diperintah oleh Raja Visigoth Roderick yang memerintah Spanyol dengan sewenang-wenang. Salah seorang keluarganya yang menjadi gubernur Ceuta, Julian, menaruh dendam kepada Roderick. Akhirnya Julian melakukan kerjasama dengan tentara Islam yang dipimpin oleh Musa bin Nushair untuk menjatuhkan Roderick.[3]

Dalam ekspedisi yang dilakukan oleh pasukan Islam tersebut, tentara Spanyol dapat dikalahkan oleh pasukan Islam. Ibu Kota Spanyol, Cordova, dengan cepat dapat dikuasai oleh pasukan Islam. Kemudian disusul oleh kota-kota lain, seperti: Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan sebagai ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordova.[4]

Dalam proses penaklukan Spanyol, terdapat tiga pahlawan Islam yang sangat berjasa. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa bin Nushair. Tharif ibn Malik dapat dikatakan sebagai perintis penaklukan Spanyol. Dia menyeberangi selat yang berada antara Maroko dan benua Eropa bersama pasukan perangnya.[5] Dikisahkan bahwa, setelah mendapat persetujuan dari Khalifah Al-Walid I, Musa bin Nushair memerintahkan panglima Tharif bin Abdul Malik an-Nakhai yang membawa 400 orang tentara dengan 100 pasukan berkuda guna melakukan penjajakan awal. Pasukan Tharif memasuki Spanyol (Andalusia) pada tahun 710 M.[6]

Didorong oleh keberhasilan Tharif tersebut dan juga munculnya kemelut dalam kerajaan Visigothic yang menguasai Spanyol saat itu, serta didorong pula untuk memperoleh harta rampasan perang,[7] bukan hasrat untuk menaklukkan,[8] pada tahun 711 M, Musa bin Nushair mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.[9] Thariq bin Ziyad adalah seorang budak Barbar yang telah dibebaskan oleh Musa bin Nushair.[10]

Ketika Raja Roderick mengetahui bahwa pasukan Thariq telah memasuki Spanyol, dia berusaha mengumpulkan pasukan penangkal sebanyak 25 ribu tentara. Menyadari jumlah musuh yang tidak seimbang, Thariq meminta bantuan kepada Musa bin Nushair, akhirnya Thariq mendapat tambahan pasukan sebanyak 12 ribu tentara.[11] Sebelum Thariq bin Ziyad menyerang kota-kota lain, Thariq terlebih dahulu menaklukkan Arknidona, kemudian Elvira.[12]

Thariq bin Ziyad[13] adalah pahlawan Islam yang dikenal sebagai penakluk Spanyol disebabkan pasukannya lebih besar serta membuahkan hasil yang nyata. Pasukan Thariq bin Ziyad sebagian besar terdiri dari suku Barbar yang didukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian orang Arab yang dikirim oleh Khalifah Al-Walid. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan.[14] Pasukan Roderick porak-poranda dalam keadaan kacau, sementara nasib Roderick ditentukan diujung tombak Thariq bin Ziyad.[15] Kemenangan yang diperoleh oleh pasukan Thariq bin Ziyad telah membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Pada tahapan selanjutnya, Musa bin Nushair ikut melibatkan diri dalam pertempuran dengan membawa pasukan dalam jumlah besar. Akhirnya satu persatu kota penting di Spanyol, seperti Sidonia, Karmona, Seville dan Merida dapat ditaklukkan.[16]

Dikisahkan bahwa Musa bin Nushair[17] membakar semua kapal perangnya dengan tujuan agar pasukannya tidak kembali lagi ke Afrika atau melarikan diri. Akhirnya, setelah berhasil menaklukkan Semananjung Iberia (Spanyol), Musa bin Nushair mendeklarasikan kawasan tersebut sebagai bagian dari kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus.[18]

Kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh pasukan Islam di Spanyol tidak terlepas dari dua faktor; internal dan eksternal. Faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di negeri Spanyol sendiri. Pada saat pasukan Islam melakukan ekspansi, kondisi sosial, politik dan ekonomi di Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan. Saat itu, penguasa Gothic di Spanyol bersikap tidak toleran terhadap aliran-aliran agama yang berkembang di Spanyol. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian besar dari penduduk Spanyol dipaksa untuk dibabtis menurut ajaran Kristen. Dalam kondisi seperti itu, kaum tertindas di Spanyol menanti kedatangan juru selamat, dan juru selamat tersebut adalah pasukan Islam.[19] Faktor lainnya yang menjadi penyebab kekalahan Roderick adalah kondisi pasukannya yang tidak mempunyai semangat perang.[20]

Adapun faktor internal yang menyebabkan kemenangan pasukan Islam di Spanyol adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan prajurit Islam yang terlibat dalam pasukan perang di Spanyol. Para pemimpin pasukan Islam adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Hal terpenting lainnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan oleh para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan dan tolong menolong sehingga masyarakat Spanyol dengan mudah bisa menerima kedatangan pasukan Islam.[21]

Badri Yatim, dalam bukunya mengemukakan bahwa sejak berhasil ditaklukkan, Islam memainkan peranan besar di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh abad. Menurut Yatim, sejarah panjang umat Islam di Spanyol dapat dibagi ke dalam enam periode;

1. Masa Periode Para Wali (711-755 M)

Periode pemerintahan Islam pertama di Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang saat itu berpusat di Damaskus. Pada periode pertama ini, stabilitas politik di Spanyol belum sempurna dan masih terjadi berbagai gangguan, baik yang datang dari dalam, maupun dari luar.[22]

Ganggguan dari dalam, di antaranya berupa perselisihan anta relit penguasa yang diakibatkan oleh perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, juga terdapat perbedaan pandangan antara Khalifah Umayyah di Damaskus dengan Gubernur Afrika Utara, di mana masing-masing pihak saling klaim bahwa mereka-lah yang menguasai Spanyol. Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya dua puluh kali pergantian wali (gubernur) di Spanyol dalam waktu yang singkat. Perbedaan politik tersebut juga mengakibatkan sering terjadinya perang saudara di Spanyol.[23]

Adapun gangguan dari luar berasal dari sisa-sisa musuh Islam yang ada di Spanyol. Mereka bertempat tinggal di daerah pegunungan dan tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam Spanyol. Karena sering terjadinya konflik internal dan mendapat serangan-serangan dari luar, pada periode ini Spanyol belum mampu melaksanakan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode para wali ini berakhir setelah datangnya Abdul Rahman ad-Dakhil ke Spanyol pada tahun 755 M.[24]

2. Masa Keamiran (755-912 M)

Setelah berakhirnya periode pemerintahan para wali, untuk selanjutnya Spanyol berada di bawah pimpinan para amir (panglima atau gubernur). Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh para amir di Spanyol tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang saat itu dipegang oleh para khalifah Abbasiyah di Bagdad.[25]

Amir pertama yang memerintah di Spanyol setelah masa para wali adalah Abdurrahman I yang diberi gelar ad-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Abdurrahman ad-Dakhil masuk ke Spanyol pada tahun 755 M. Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari serangan Bani Abbasiyah yang saat itu telah berhasil menaklukkan Khilafah Bani Umayyah di Damaskus.[26] Abdurrahman ad-Dakhil berhasil menyingkirkan Yusuf ibn Abdurrahman Al-Fihri yang menyatakan diri tunduk kepada kekuasaan Bani Abbasiyah pada tahun 138 H/756 M. Abdurrahman ad-Dakhil memproklamirkan bahwa Andalusia lepas dari kekuasaan Bani Abbasiyah dan dia memakai gelar amir, bukan khalifah.[27]

Kekuasaan yang didirikan oleh Abdrahman ad-Dakhil mampu bertahan selama dua tiga per empat abad (756-1031).[28] Para penguasa Spanyol pada masa Keamiran adalah: Abdurrahman ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdul Rahman al-Ausath, Muhammad ibn Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad dan Abdullah bin Muhammad.[29] Masa Keamiran di Spanyol mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan amir ke delapan, Abdurrahman III (912-961) yang merupakan pemimpin terkuat dan orang yang pertama sekali menyandang gelar khalifah.[30] Abdurrahman III memilih sendiri gelarnya, yaitu Al-Khalifah An-Nashir li Din Allah (Khalifah penolong agama Allah).[31]

Pada periode pemerintahan di bawah para amir, Spanyol sudah mulai memperoleh kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman ad-Dakhil pada saat itu mendirikan masjid Cordova dan juga membangun sekolah di beberapa kota besar di Spanyol. Selain Abdurrahman ad-Dakhil, beberapa amir lainnya juga telah berhasil membangun peradaban di Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam di Spanyol. Sementara itu, Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran yang telah memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdul Rahman al-Ausath dikenal sebagai penguasan yang mencintai ilmu pengetahuan. Pada periode ini, pemikiran filsafat juga sudah mulai masuk ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol sudah mulai marak.[32]

Meskipun demikian, stabilitas negara pada periode pemerintahan para amir juga sempat terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan pada pertengahan abad ke-9. Namun, seluruh gereja Kristen di Spanyol tidak mendukung gerakan tersebut karena jauh sebelumnya pemerintahan Islam telah mengembangkan kebebasan beragama di Spanyol.[33]

Gangguan politik paling serius pada masa ini justru datang dari umat Islam sendiri. Gerakan pemberontak di Toledo pada tahun 825 M telah berhasil membantuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu, perseteruan antara orang Arab dan Barbar juga terus terjadi di Spanyol.[34]

3. Masa Kekhalifahan (912-1013 M)

Periode ketiga sejarah Islam di Spanyol, dimulai dari pemerintahan Abdurrahman III sampai dengan munculnya raja-raja kelompok (Muluk Thawaif). Pada periode ini, Spanyol diperintah oleh penguasa muslim yang menggunakan gelar khalifah. Penggunaan gelar khalifah ini dipicu oleh kondisi Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad yang sedang berada dalam kemelut dengan terbunuhnya Khalifah Al-Muktadir. Menurut Abdurrahman III, penggunaan gelar khalifah pada saat itu sudah sangat tepat, setelah gelar khalifah tersebut hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun. Untuk pertama kalinya, gelar khalifah bagi penguasa Spanyol digunakan pada tahun 929 M. Ada tiga orang khalifah besar yang mengendalikan kekuasaan Islam di Spanyol, yaitu Abdurrahman III (912-961 M), Hakam II (961-976 M) dan Hisyam II (976-1009 M).[35]

Pemerintahan Abdurrahman III dan penerusnya Al-Hakam II, kemudian dilanjutkan oleh kediktatoran Hajib al-Manshur menandai puncak kejayan muslim di Barat. Sebelum dan sesudah periode ini, sebagaimana disebut Hitti, Spanyol muslim tidak pernah mampu menggenggam pengaruh politik sedemikian rupa, baik di Eropa maupun di Afrika.[36]

Pada periode ini, umat Islam di Spanyol berhasil mencapai puncak kejayaan dan mampu menyaingi kejayaan Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad. Pada masa ini masyarakat Spanyol dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran.[37]

4. Muluk at-Thawaif (1013-1086 M)

Pada periode ini, kekuasaan Islam di Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh kerjaan kecil yang dipimpin oleh raja-raja golongan atau Al-Muluk at-Thawaif. Pemerintahan ini terpusat di kota-kota tertentu, seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Kerajaan terbesar pada masa ini adalah Abbadiyah di Seville. Pada masa ini juga sering terjadi perang saudara antara umat Islam, bahkan ada sebagian pihak yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Disebabkan kondisi umat Islam yang lemah pada saat itu, para penguasa Kristen mulai melakukan penyerangan. Meskipun kondisi politik tidak stabil, namun pada masa Muluk at-Thawaif ini kehidupan intelektual terus mengalami perkembangan.[38]

Kerajaan-kerajaan kecil pada masa Muluk at-Thawaif dipimpin oleh orang-orang Barbar, Slavia dan Arab. Kerajaan kecil yang terkuat pada masa ini, di antaranya: Bani Ibad di Seville, Alfasid di Bedajoz, Al-Ziri di Granada, Zu al-Nun di Toledo dan Bani Hud di Saragossa serta 38 kerajaan kecil lainnya yang tersebar di wilayah Spanyol.[39]

Puncak berakhirnya Muluk Thawaif ditandai dengan jatuhnya Toledo ke tangan Alfonso VI (1065-1109) yang pada saat itu berada dalam pemerintahan Banu Zi an-Nun (1032-1085). Alfonso memanfaatkan pertentangan raja-raja kecil Muluk at-Thawaif dengan memberikan bantuan kepada salah satu pihak yang sedang bertikai.[40]

5. Reconquesta (Penaklukkan Kembali)

Periode penaklukan kembali Spanyol (reconquesta) dimulai sejak jatuhnya kekhalifahan Umayyah pada abad ke-11. Namun demikian, para sejarawan Spanyol menganggap bahwa pertempuran Covadonga pada tahun 718 M yang dilakukan oleh pemimpin Asturia, Pelayo, yang berhasil memukul mundur pasukan Islam merupakan tanda dimulainya penaklukan sesungguhnya. Menurut Hitti, andai saja pasukan Islam menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Kristen di wilayah pegunungan utara, mungkin kisah Spanyol selanjutnya akan sangat berbeda.[41]

Setelah sempat berhenti beberapa saat, karena mengurusi pertikaian internal antar pemimpin Kristen di utara, proses perebutan kembali ini menjadi lebih cepat karena Castile dan Leon telah bersatu pada tahun 1230 M. Pada paruh abad ke-13, penaklukkan kembali ini dengan pengecualian Granada hampir tuntas dijalankan. Toledo direbut pada tahun 1085 M, diikuti Cordova tahun 1236 M dan Seville pada 1248 M.[42]

Reconquesta menampakkan dirinya sebagai sebuah gerakan yang bertujuan membebaskan negeri Spanyol dari pengaruh Islam. Gerakan ini sekaligus merupakan lambing pemberontakan umat Kristen terhadap pemerintahan Islam dan kaum muslimin. Pemberontakan tersebut telang berlangsung selama berabad-abad, akan tetapi gerakan ini tidak menyeluruh dan tanpa koordinasi dengan baik.[43]

Gerakan Reconquesta baru terlaksana secara menyeluruh dan terkoordinasi setelah akhir kekuasaan Bani Umayyah di Spanyol. Gerakan ini tidak putus-putus memainkan peranannya dalam menyingkirkan Islam di Spanyol.[44]

6. Masa Dinasti Murabithun

Gerakan Al-Murabithun dimulai sekitar tahun 1039 M oleh seorang tokoh muslim Maroko, Abdullah bin Yasin. Dia mendirikan sebuah benteng di sebuah pula di sungai Nigeria. Benteng yang disebut ribat tersebut didirikan sepanjang garis perbatasan antara dunia muslim dan non muslim. Pada saat tidak berperang, mereka menghabiskan waktu untuk berzikir kepada Allah di dalam ribat sehingga mereka disebut dengan Murabithun, yaitu orang-orang yang menghuni ribat. [45]

Dinasti Murabithun pada awalnya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf in Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062, dia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Dinasti Murabithun masuk ke Spanyol atas undangan para penguasa Islam di Spanyol yang sedang kewalahan mempertahankan kekuasaan Islam akibat serangan-serangan dari penguasa Kristen. Yusuf ibn Tasyfin bersama pasukannya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.Kondisi Spanyol yang tidak stabil saat itu akhirnya mendorong Dinati Murabithun untuk menguasai Spanyol. Akan tetapi, penguasa Dinasti Murabithun sepeninggal Yusuf ibn Tasyfin adalah orang-orang lemah sehingga pada tahun 1143 kekuasaan Dinasti Murabithun berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol. Pada saat Spanyol dikuasi oleh Dinasti Murabithun, tepatnya pada tahun 1118 M, Saragossa jatuh ke tangan Kristen. Sepeninggal Dinasti Murabithun ini, di Spanyol kembali muncul dinasti-dinasti kecil yang berlangsung tiga tahun. Selanjutnya kekuasaan Dinasti Murabithun digantikan oleh Dinasti Muwahidun.[46]

Dinasti Murabithun berhasil merebut kota-kota di Spanyol, satu per satu. Pada bulan November 1090 M, mereka berhasil merebut Granada dan disusul oleh Seville. Satu-satunya kota yang masih berada dalam kekuasaan Kristen dan tidak mampu direbut oleh Dinasti Murabithun adalah kota Toledo. Pemerintahan Dinasti Murabithun sudah mulai stabil pada tahun 1102 M dan mulai saati itu Dinasti Murabithun menjadi sebuah dinasti yang diperhitungkan sepanjang utara Afrika dan Spanyol. Keberadaan Dinasti Murabithun di Spanyol juga telah berhasil mewujudkan kepastian hukum, sehingga orang-orang Nasrani juga mendapat hak mereka sesuai hukum yang berlaku. Dalam beberapa dasawarsa kemakmuran masyarakat Spanyol terasa meningkat.[47]

Di atas kekuasaan golongan Murabithun, yang terdiri dari para muallaf yang mewarisi tradisi Barbar memunculkan ledakan gairah keagamaan fanatik di awal abad ke-12 yang pada gilirannya merugikan kaum Kristen, Yahudi dan bahkan kaum muslimin liberal.[48]

Dalam bidang fiqh, Dinasti Murabithun menjadikan Mazhab Maliki sebagai mazhab resmi dalam pemerintahannya. Meskipun Al-Ghazali merupakan salah seorang ulama terkemuka yang mendukung Dinasti Murabithun untuk menyerang Muluk at-Thawaif, namun penguasa dinasti tersebut memasukkan karya-karya Al-Ghazali dalam daftar hitam hitam dan diperintah untuk dibakar karena dianggap dianggap tidak sejalan dengan Mazhab Maliki.[49]

Selama lebih dari setengah abad, kekuasaan Murabithun begitu kuat di Afrika Barat Daya dan Spanyol Selatan. Untuk pertama kalinya seorang Barbar memainkan peran penting di panggung dunia.[50] Selama menguasai Spanyol, Dinasti Murabithun telah menyelamatkan umat Islam dari serangan Kristen, atau setidaknya mereka telah mampu menunda kehancuran Islam di Spanyol. Dinasti Murabithun juga berhasil mengalahkan perlawanan Alfonso IV.[51]

Dinasti Murabithun di Spanyol berumur pendek, kekuasaan dinasti tersebut dilingkupi oleh lingkar nasib kerajaan-kerajaan Asiatik dan Afrika, oligarki militer yang efesien dan diikuti kemalasan dan korupsi yang mengarah pada disintegrasi dan kejatuhan.[52]

7. Masa Dinasti Muwahhidun

Dinasti Muwahhidun didirikan oleh Ibn Tumart yang wafat pada 1128 M. Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd Al-Mun’im. Antara tahun 1114 dan 1154 M beberapa kota penting, seperti Cordova, Almeria dan Granada berhasil direbut oleh Dinasti Muwahhidun. Selama berkuasa di Spanyol, Dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen berhasil memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa.[53]

Muhammad ibn Tumart yang digelari dengan Al-Mahdi, berkeinginan memulihkan Islam ke dalam bentuknya yang asli. Dia mengajarkan kepada para pengikutnya tentang doktrin tauhid, keesahan Tuhan dan konsep sritual tentang Tuhan. Langkah ini merupakan bentuk protes kepada antromorfisme yang berlebihan dan telah menyebar di kalangan umat Islam kala itu.[54]

Setelah Abdul al-Mu’min meninggal (1163 M), penguasa al-Muwahhidun terbesar lainnya adalah Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur (1184-1199 M). Pada masa ia berkuasa, Seville dijadikan sebagai ibu kota kerajaan untuk Spanyol. Dia juga membantu kaum muslimin di Mesir yang sedang melawan tentara Salib dengan mengirim 180 kapal kepada Salahuddin al-Aiyubi. Masa pemerintahan al-Mansur ini dipandang sebagai masa keemasan bagi Dinasti Muwahhidun.[55]

Perhatian utama Dinasti Muwahhidun adalah memenangi perang suci melawan Kristen di Spanyol. Namun keinginan tersebut tidak berhasil dicapai.[56] Disebabkan beberapa kakalahan yang dialami oleh Dinasti Muwahhidun, akhirnya para penguasa Dinasti ini memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara pada tahun 1235 M. Pasca ditinggalkan oleh Dinasti Muwahhidun, keadaan Spanyol kembali kacau di bawah kekuasaan raja-raja kecil. Kondisi tersebut menyebabkan umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan pasukan Kristen. Pada tahun 1238 M, Cordova jatuh ke tangan Kristen dan disusul oleh Seville pada tahun 1248 M. Akhirnya, seluruh Spanyol, kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.[57]

8. Masa Bani Ahmar (1232-1492 M)

Pada periode keenam sejarah Islam di Spanyol, umat Islam hanya berkuasa di daerah Granada yang dipimpin oleh Bani Ahmar. Pemerintah bani Ahmar berdiri dan berkuasa di Spanyol selama 2,5 abad yang dipimpin oleh 32 orang Khalifah. Pada awalnya pergantian kepemimpinan dilakukan dengan rasa ikhlas, tetapi lama kelamaan disebabkan nafsu terhadap kemewahan banyak yang menyodorkan diri sebagai pemimpin. Kondisi ini akhirnya menyebabkan terjadinya pergolakan politik dalam istana.[58]

Pada masa Bani Ahmar, peradaban Islam di Granada mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nashir, tetapi sayangnya dinasti ini hanya memiliki wilayah kekuasaan yang kecil.[59] Kejayaan Bani Ahmar, mencapai puncaknya pada masa sultan Muhammad V Al-Ghani Billah yang merupakan sultan ke delapan. Orang yang berusaha mengembangkan tamaddun Islam di Spanyol terbagi kepada dua golongan. Pertama, golongan Arab dan ahli pikir yang pindah ke Spanyol pada saat Islam masuk ke sana. Kedua, adalah golongan yang lahir di Spanyol sendiri. Golongan kedua ini adalah gabungan antara pendatang dengan rakyat pribumi Islam di Spanyol.[60]

Kebudayaan umat Islam di Spanyol terhenti ketika terjadinya kemelut di lingkungan istana akibat perebutan kekuasaan. Hal ini menyebabkan hilangnya pamor Granada yang terkenal dengan peradaban dan keunikan bangunannya. Bangunan megah terakhir yang didirikan oleh umat Islam di Spanyol adalah istana Alhamra yang diselesaikan pada masa Sultan Muhammad Al-Ghani Billah. Pada masa pemerintahan selanjutnya, kebudayaan umat Islam di Spanyol tidak lagi menonjol.[61]

Kekuasaan Islam yang merupakan benteng terakhir umat Islam di Spanyol ini berakhir setelah terjadi konflik internal di tubuh Bani Ahmar. Abu Abdullah Muhammad yang merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain untuk menjadi raja, akhirnya melakukan pemberontakan yang mengakibatkan ayahnya terbunuh. Kemudian pemerintahan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinad dan Isabella untuk menjatuhkan pemerintahan Muhammad ibn Sa’ad. Akhirnya, dua penguasa Kristen ini berhasil menjatuhkan penguasa yang sah dan kemudian digantikan oleh Abu Abdullah. Namun pada perkembangan selanjutnya, Ferdinand dan Isabella berkeinginan untuk merebut kekuasaan Bani Ahmar yang merupakan kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol.[62]

Tak lama setelah Muhammad XII (Zaghall) dikalahkan, Abu Abdullah diminta oleh Ferdinand untuk menyerahkan kota yang baru dikuasainya. Pada musim semi tahun berikutnya, Ferdinand bersama 10.000 tentara berkuda kembali memasuki Granada dan menghancurkan lading-ladang pertanian dan kebun buah-buahan. Kemudian Ferdinand mengepung benteng pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol dengan sangat rapat dengan maksud agar penguasa muslim tersebut segera menyerah.[63]

Setelah mendapat serangan dari pasukan Kristen tersebut, akhirnya Abu Abdullah menyerahkan kekuasaan Bani Ahmar kepada Ferdinand dan Isabella, Abu Abdullah sendiri terpaksa hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1609 M.[64]

Sebelumnya, pada saat pasukan muslim telah menyatakan menyerah, penguasa Kristen memberikan beberapa syarat kepada umat Islam di Spanyol. Pertama, sultan beserta pejabatnya harus mengucapkan sumpah setia kepada raja-raja Castile. Kedua, Abu Abdillah akan menerima sebidang tanah di al-Basyarat. Ketiga, orang Islam dijamin keamanannya oleh hukum mereka dan bebas menjalankan ajaran agamanya.[65] Tetapi pada perkembangan selanjutnya, raja tertinggi dari penguasa Kristen, Ferdinand dan Isabella melanggar syarat kesepakatan perlindungan. Di bawah kepemimpinan pendeta kepercayaan Isabella, yang bernama Kardinal Ximenez de Cisneros, kampanye untuk memaksa perpindahan agama pun dilakukan, tepatnya pada tahun 1499. Kardinal tersebut menarik buku-buku tentang Islam dan membakarnya. Saat itu, Granada menjadi medan api tempat pembakaran naskah-naskah Arab. Semua orang muslim yang tetap tinggal di Spanyol setelah penaklukkan Granada disebut sebagai Moriscos, sebuah nama yang awalnya diterapkan kepada orang Spanyol yang memeluk Islam.[66]

B. Kemajuan Peradaban Islam di Andalusia

Masuk dan berkembangnya Islam di Andalusia (Spanyol) selama lebih kurang tujuh setengah abad telah membuka ckarawala baru dalam sejarah Islam. Pada saat itu umat Islam di Spanyol telah mencapai kemajuan yang pesat, baik di bidang ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Hal ini ditandai dengan bermunculan figur-figur ilmuan yang sukses di bidangnya masing-masing.[67] Sampai dengan saat ini, buah karya ilmuan muslim di Spanyol telah menjadi bahan rujukan para akademisi, baik di Barat maupun di Timur.[68]

Meskipun terjadi persaingan sengit antara penguasa Abbasiyah di Baghdad dengan Umayyah di Spanyol, namun hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selamanya berupa peperangan. Walaupun umat Islam berpecah dalam beberapa kesatuan politik, tetapi kesatuan budaya Islami tetap terjaga dengan baik. Bahkan, perpecahan umat Islam di Spanyol pada masa Muluk at-Thawaif juga tidak menyebabkan mundurnya peradaban dan justru pada masa itu merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian dan kebudayaan Spanyol Islam. Muluk at-Thawaif juga disebut-sebut berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang lebih maju.[69]

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri, bahwa kemajuan peradaban Islam di Spanyol pada saat itu telah berimbas pada bangkitnya Renaisans di dunia Barat pada abad pertengahan sehingga dapat dikatakan bahwa Arab Spanyol adalah guru bagi bangsa Eropa. Cordova sebagai ibukota Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang tinggi sehingga dapat menyamai kemasyhuran Baghdad di Timur dan Kairo di Mesir.[70]

Kemajuan Eropa yang terus berkembang sampai saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Meskipun banyak saluran yang menjadi media bagi peradaban Islam dalam mempengaruhi Eropa, namun Spanyol adalah saluran yang terpenting. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Eropa adalah Ibn Rusyd. Dia telah melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berpikir. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, sehingga menimbulkan gerakan Averroisme (Ibn Rusyd). Berawal dari gerakan Averroisme ini-lah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.[71]

Pengaruh peradaban Islam di Eropa, berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti: Universitas Cordoba, Seville, Malaga, Granada dan Salamanca.[72]

Adapun beberapa kemajuan intelektual dan fisik yang berhasil dicapai oleh umat Islam di Spanyol adalah sebagai berikut:

1. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Filsafat

Dalam bidang filsafat, Spanyol Islam telah merintis pembangunannya sekitar abad ke-9 M selama pemerintahan Muhammad bin Abdurrahman. Kajian tentang filsafat ini dilanjutkan oleh penguasa berikutnya, yakni Al-Hakam (961-976 M) yang mengeluarkan kebijakan untuk mengimpor karya-karya ilmiah dan filosofis dari Timur dalam jumlah yang besar.[73]

Kekuasaan Islam di Spanyol merupakan jembatan penyeberangan ilmu pengetahuan Yunani dari Arab ke Eropa pada abad ke-12. Tokoh utama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibn Al-Sayigh yang lahir di Saragosa dan lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh lainnya adalah Ibn Thufail yang lahir di sebuah dusun kecil sebelah timur Granada.[74]

Pada akhir abad ke-12 juga muncul seorang pengikut Aristoteles yang berasal dari Andalusia (Spanyol).[75] Beliau adalah Ibn Rusyd. Namanya mencuat karena pemikirannya dalam filsafat telah membawa kemajuan pesat, tidak hanya di dunia Islam, tetapi juga bagi dunia Barat.[76] Ibn Rusyd dilahirkan di Cordoba pada tahun 520 H/1126 M.[77]

Karya paling penting yang dihasilkan oleh Ibn Rusyd dalam bidang filsafat adalah Tahafut at-Tahafut sebagai jawaban atas serangan Al-Ghazali atas rasionalisme dalam karyanya Tahafut al-Falasifah. Berkat karyanya tersebut, Ibn Rusyd menjadi filosof paling terkenal di dunia muslim, sedangkan di kalangan Yahudi dan Kristen, dia dikenal sebagai komentator Aristoteles.[78]

2. Bidang Geografi dan Sains

Spanyol Islam (Andalusia) juga banyak melahirkan ilmuan di bidang sains. Dalam bidang Matematika, pakar yang paling terkenal adalah Ibn Sina. Bidang Matematika juga melahirkan Ibn Saffat dan Al-Kimmy, keduanya juga dikenal sebagai ahli di bidang teknik. Dalam bidang Fisika muncul tokoh Ar-Razi yang telah berhasil membuat sejumlah substansi dan proses kimiawi. Dalam bidang Kimia dan Astronomi, selain Abbas ibn Farmas juga dikenal Ibrahim ibn Yahya An-Naqqash. Abbas ibn Farmas adalah penemu pembuatan kaca dari batu, sedangkan Yahya An-Naqqash dikenal sebagai orang yang dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari.[79]

Para tokoh muslim di Spanyol juga memperoleh prestasi di bidang ilmu pengetahuan alam, terutama ilmu botani murni dan terapan. Mereka melakukan berbagai penelitian yang akurat tentang perbedaan jenis kelamin berbagai tanaman.[80] Pada abad ke-12, di Seville, hidup Abu Zakariya Yahya ibn Muhammad ibn Al-Awwam yang telah mampu menghasilkan karya di bidang agrikultur, yaitu Al-Filahah. Karya ini tidak menjadi referensi penting di dunia Islam, tetapi menjadi karya istimewa pada abad pertengahan. Buku tersebut menjelaskan sekitar 585 jenis tanaman serta mengungkapkan perkembangbiakan lebih dari 50 jenis buah. Tapi sayangnya, menurut Hitti, buku yang sangat istimewa tersebut tidak terlalu dikenal oleh penulis Arab.[81]

Ilmuan yang paling terkenal dalam bidang botani dan farmasi di Spanyol, bahkan di seluruh dunia Islam, adalah Abdullah ibn Muhammad Al-Baythar yang lahir di Malaga. Di antara karyanya adalah al-Mughni fi al-Adwiyah al-Mufradah tentang pengobatan dan al-Jami’ fi al-Adwiyah al-Mufradah yang merupakan catatan mengenai obat-obatan dari binatang, sayuran dan mineral.[82] Ahli obat-obatan lainnya adalah Ahmad ibn Ibas dari Cordova. Sementara itu, Umm Al-Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.[83]

Ibn Al-Khatib (1313-1374 M) adalah dokter ternama di Granada. Dia telah pernah mengarang sebuah buku tentang penyakit menular dan epidemia. Pada saat itu Al-Khatib muncul di antara dokter-dokter di Eropa, dia menerangkan dengan baik tentang bentuk dan penyebab penyakit epidemia.[84] Selain itu, Ibn Khatima juga seorang dokter yang masyhur dan wafat pada tahun 1369 M. Dia juga menulis tentang penyakit menular.[85]

Ahli geografi paling terkenal pada abad ke-11 M adalah Al-Bakri, seorang Arab Spanyol. Al-Bakri adalah ahli geografi pertama dari muslim Barat yang karyanya mampu bertahan sampai sekarang. Sedangkan penulis geografi dan ahli kartografi paling cerdas pada abad ke-12 adalah Al-Idrisi, seorang keturunan bangsawan Arab Spanyol. Setelah Al-Idrisi, kepustakaan geografi berbahasa Arab dapat dikatakan tidak sepenuhnya menampilkan originalitas, tapi lebih banyak bercerita tentang kisah para petualang.[86]

3. Bidang Sejarah dan Sosiologi

Dalam bidang sejarah, Spanyol Islam telah melahirkan banyak penulis sejarah terkenal, di antaranya Zubair dari Valancia yang menulis sejarah tentang negeri-negeri muslim di Mediterania serta Sisilia. Tokoh lainnya, Ibn Al-Khatib yang menulis sejarah tentang Granada dan Ibn Khaldun yang merumakan seorang perumus filsafat sejarah. Karya besar lainnya yang ditulis oleh sejarawan Spanyol Islam adalah Tarikh Iftitah Al-Andalus yang ditulis oleh Ibn Qutyah, dia lahir dan dibesarkan di Cordoba, wafat pada tahun 977 M. Selain itu, karya besar lainnya ditulis oleh Ibn Hayyan yang berjudul Al-Muqrabis fi Tarikh Ar-Rizal Al-Andalus.[87]

Ibnu Khaldun adalah ahli sejarah yang sangat terkenal melalui karyanya Miqaddimah. Sebagai seorang ilmuan yang mencoba merumuskan hukum-hukum kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, Ibn Khaldun juga dianggap sebagai penemu sejati cabang ilmu sosiologi. Tidak ada penulis Arab, atau pun Eropa yang pernah meletakkan sudut pandang sejarah dengan begitu komprehensif dan filosofis. Menurut Hitti, semua pendapat kritis bersepakat bahwa Ibn Khaldun merupakan filosof sejarah terbesar yang pernah dilahirkan Islam sepanjang masa.[88]

Umat Islam di Spanyol juga melahirkan beberapa orang penulis biografi. Salah satu yang pertama di antara mereka adalah Abu Al-Walid ibn Abdullah Al-Faradhi yang lahir pada 962 M di Cordova. Satu-satunya karya Ibn Al-Faradhi adalah Tarikh Ulama al-Andalus yang masih ada sampai sekarang.[89]

4. Bidang Agama dan Hukum Islam

Umat Islam di Spanyol menganut Mazhab Maliki pada awalnya diperkenalkan oleh Ziyad ibn Abdurrahman yang selanjutnya dikembangkan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam bin Abdurrahman. Ahli Fiqih lainnya yang terkenal di Spanyol adalah Abu Baki, Ibn Al-Qutiyah, Munzir, Ibn Said Al-Batuthi dan Ibn Hazm. Selain itu, Ibn Rusyd yang juga ahli fiqih telah menulis sebuah kitab fiqih monumental yang dinamai dengan Bidayatul Mujtahid. Sampai dengan saat ini, kitab tersebut masih menjadi rujukan dalam bidang fiqih, khususnya di Indonesia.[90]

Dalam bidang keagamaan, di Spanyol saat itu juga hidup sufi terkenal, yaitu Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyidin ibn Arabi. Dia dilahirkan di Murcia pada tahun 1165 M dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Seville sampai 1202 M dan wafat di Damaskus pada 1240 M. Di antara sekian banyak karyanya yang berpengaruh adalah al-Futuhat al-Makkiyah dan Fishush al-Hikam.[91]

Kejayaan Islam di Andalusia juga memberi pengaruh pada perkembangan ilmu tafsir. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Norasid dan Abdullah dalam artikelnya, bahwa “pengajian ilmu tafsir pastinya menjadi salah satu cabang ilmu fundamental yang bertapak seterusnya berkembang pesat di Andalus selain teras ilmu hadith, Bahasa Arab, falsafah, perubatan, astronomi dan sebagainya”.[92]

5. Bidang Musik dan Kesenian

Indikasi kemajuan bidang seni dan musik di Spanyol, ditandai dengan berdirinya sekolah music di Cordoba yang didirikan oleh Zaryab, seorang artis terbesar di zamannya. Zaryab adalah siswa sekolah musik Ishaq Al-Mausuli di Baghdad. Sekolah tersebut akhirnya menjadi model bagi sekolah musik lainnya yang bermunculan di Villa, Toledo, Valencia dan Granada.[93]

Ziryab adalah seorang musisi yang pernah mengharumkan istana Harun Ar-Rasyid yang tidak hanya memperoleh popularitas sebagai artis, tetapi juga sebagai seorang ilmuan dan sastrawan. Ketenarannya itu menimbulkan kecemburuan dari gurunya yang sama-sama populer, Ishaq Al-Maushuli. Akhirnya Ziryab melarikan diri ke Afrika Barat Laut. Ziryab bersinar sebagai seorang penyair sekaligus astronom dan ahli geografi. Ziryab menjadi figur paling popular pada masa itu dan bahkan menjadi pencipta tren.[94]

Perkembangan seni musik di Spanyol, memberikan pengaruh yang cukup besar pada seni musik di kawasan Eropa. Ketika masyarakat Kristen menerima model lirik lagu muslim, nyanyian Arab menjadi populer di seluruh semenanjung Spanyol.[95]

Dalam bidang seni kerajinan, umat Islam di Spanyol menyebarkan dan mengembangkan semua bidang seni dan kerajinan yang dikenal oleh umat Islam. Dalam bidang kerajinan logam, yang meliputi seni dekorasi, pengembangan pola-pola relief atau ukiran, kemudian melapisinya dengan emas dan perak serta penggambaran berbagai karakter. Salah satu peninggalan seni yang paling tua adalah gambar Hisyam V (976-1009 M) yang terdapat di atas altar tinggi di Katedral Gerona di atas bentuk peti mati kayu dilapisi sepuhan perak. Lukisan tersebut mengambil bentuk repouse dengan beberapa lengkungan berbentuk Spiral.[96]

Salah satu bidang seni yang cukup berkembang adalah seni porselen dan pelapisan logam. Impor produk-produk ini memberikan dasar yang baik bagi pengembangan industry porselen di Poitier. Dari Spanyol, kemudian industry tersebut diperkenalkan ke Italia. Dalam ragam bentuk karya seni porselen, khususnya keramik lantai dan faince biru, muslim Spanyol dikenal memiliki keistimewaan tersendiri.[97]

6. Bidang Bahasa dan Sastra

Di antara tokoh bidang bahasa dan sastra yang lahir di Spanyol adalah Al-Qali, yang dikenal dengan karyanya Al-Kitab Al-Bari fil Al-Lughah dan Az-Zubaidy, seorang ahli tata bahasa dan filologi.[98] Tokoh lainnya dalam bidang sastra dan bahasa sebagaimana disebut oleh Yatim dalam bukunya: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan ibn Usfur dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.[99]

Dalam bidang sastra, penulis yang paling terkenal adalah Ibn Abd Rabbihi (860-940 M) dari Cordova yang merupakan penyair kesayangan Abdurrahman III. Tapi pujangga terbesar dan memiliki pemikiran murni dari kalangan muslim Spanyol adalah Ali ibn Hazm (994-1064 M).[100] Selain itu, penyair terkenal lainnya adalah Abu al-Walid ibn Zaidun (1003-1071 M). Dia dianggap oleh beberapa orang sebagai penyair terbesar di Andalusia (Spanyol).[101]

Seiring dengan perkembangan sastra yang pesat di Spanyol, karya-karya sastra-pun banyak bermunculan, di antaranya: Al-Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, Al-Dzakirah fi Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam dan kitab Al-Qalaid karya Al-Fath ibn Khaqan.[102] Puisi-puisi Arab memberikan kontribusi penting pada munculnya skema sastra yang tegas tentang cinta platonic dalam bahasa Spanyol pada awal abad ke-8.

7. Bidang Pembangunan Fisik

Dalam bidang fisik, Spanyol Islam telah mendirikan bangunan-banguan dan berbagai fasilitas, seperti perpustakaan yang jumlahnya sangat banyak, gedung pertanian, jembatan-jembatan air, irigasi, roda air dan lain-lain. Istana-istana dan mesjid-mesjid besar yang megah serta tempat pemandian dan taman juga disatukan dalam kota yang tertata dengan teratur. Di Cordoba terdapat 700 mesjid dan 300[103] buah pemandian umum. Istana Raja Az-Zahra yang dibangun di kaki gunung dan menghadap sungai Quadalquiurr memiliki 400 buah ruangan. Di atas istana tersebut terdapat jembatan yang melintasi sungai dengan konstruksi lengkung sebagai penyangga.[104] Karena air sungai tidak dapat diminum, penguasa muslim juga membuat saluran air dari pegunungan sepanjang 80 km.[105]

Kemegahan Islam Spanyol juga dapat dilihat di Granada. Kota ini mengambil tempat pada sebuah dataran tinggi yang tersubur dan termasyhur di Spanyol. Rio Darro mengalir membelah jantung kota ini. Rio Darro adalah sebuah kanal besar yang sangat panjang yang digali pada masa pemerintahan Bani Ahmar di Granada. Kanal ini digali mulai dari pegunungan Searra Nevada, yang membujur jauh di sebelah timur laut kota Granada. Puncaknya selalu diselimuti salju dan memutih bersih saat ditimpa sinar matahari.[106]

Orang-orang Arab di Spanyol telah memperkenalkan hidrolik untuk tujuan irigasi; dam untuk mengecek curah air hujan dan waduk untuk konservasi (penyimpanan air). Pengaturan hidrolik dibangun dengan memperkenalkan roda air (water wheel) yang berasal dari Persia.[107] Kaum Arab di Spanyol memperkenalkan metode pertanian yang dipraktikkan di Asia Barat. Mereka menggali kanal-kanal, menanam anggur dan tanaman lainnya. Mereka juga memperkenalkan padi, aprikot, persik, delima, jeruk, tebu, kapas dan kunyit. Kemajuan pertanian merupakan salah satu sisi keagungan peradaban Islam di Spanyol dan menjadi hadiah abadi yang diberikan oleh orang Arab di daratan Eropa tersebut.[108]

Produk-produk industri dan pertanian Spanyol Muslim lebih dari cukup untuk konsumsi domestik. Seville adalah satu pelabuhan besar yang mengekspor kapas, zaitun, minyak dan kain. Melalui Iskandariyah dan Konstantinopel produk-produk muslim Spanyol memperoleh pasarnya sampai jauh ke India dan Asia Tengah. Pemerintah Spanyol juga membuat lembaga mata uang dengan dinar sebagai satuan emas dan dirham sebagai satuan perak. Uang Arab digunakan di kerajaan-kerajaan Kristen di Utara yang hampir empat ratus tahun tidak memiliki mata uang, selain mata uang Arab dan Perancis.[109]

Semua monument karya seni religius di Spanyol telah musnah, kecuali satu yang paling tua dan paling indah, yaitu Mesjid Cordova. Sedangkan monument-monumen non religius seperti istana Alcazar di Seville dan Alhamra di Granada, dengan dekorasinya yang besar, megah dan indah merupakan contoh peninggalam paling agung di Spanyol.[110] Model dekorasi Spanyol muslim mencapai puncak kebesarannya pada bangunan istana Dinasti Nashiriyah, yaitu Al-Hamra. Sebagian besar dekorasi interior istana tersebut dipenuhi oleh kaligrafi . Bagian paling indah dan paling agung adalah istana singa. Di tengah-tengah istana tersebut terdapat dua belas patung singa yang terbuat dari Porselen dan tegak berdiri dalam lingkaran.[111]

C. Runtuhnya Kerajaan Andalusia

Kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan sumbangan yang tidak ternilai bagi peradaban dunia saat ini. Tetapi imperium yang begitu besar di daratan Eropa ini pada akhirnya juga mengalami nasib yang sangat memilukan.[112]

Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna di Spanyol dan membiarkan penduduk Spanyol mempertahankan hukum dan adat mereka. Pemerintah Islam terlalu cepat merasa puas hanya dengan setoran upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen asalkan mereka tidak melakukan perlawanan bersenjata kepada pemerintah Islam.[113]

1. Lemahnya Kekuasaan Bani Umayyah II dan Bangkitnya Kerajaan-Kerajaan Kecil di Andalusia

Masa kejayaan Islam di Spanyol dimulai pada saat kendali pemerintahan dipegang oleh Abdurrahman III dan dilanjutkan oleh puteranya, Hakam. Pada masa kedua penguasa tersebut, keadaan politik dan ekonomi di Spanyol mengalami puncak kejayaan dan kestabilan. Setelah Hakam II wafat, dia digantikan oleh Hisyam II yang pada saat itu baru berusia 11 tahun. Karena usia yang masih sangat muda, Hisyam II tidak mampu mengendalikan kekuasaan. Akhirnya roda pemerintahan dikendalikan oleh ibunya dengan bantuan Muhammad ibn Abi Umar yang dikenal dengan Hajib Al-Mansur, seorang yang haus kekuasaan. Akhirnya khalifah hanya dijadikan sebagai boneka. Setelah Hajib Al-Mansur wafat, dia digantikan oleh anaknya Abdul Malik Al-Muzaffar, kemudian Al-Muzaffar digantikan oleh Abdurrahman yang gemar berfoya-foya serta tidak disenangi oleh rakyat sehingga keadaan negara menjadi tidak stabil.[114]

Pada tahun 1009 M, khalifah mengundurkan diri, kemudian beberapa orang mencoba untuk menduduki jabatan khalifah, tetapi tidak ada yang mampu memperbaiki keadaan di Spanyol. Akhirnya pada tahun 1013, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah sehingga Spanyol terpecah dalam banyak sekali kerajaan kecil yang menguasai kota-kota tertentu.[115]

Di sisi lain, munculnya Muluk Ath-Thawaif (dinasti-dinastin kecil) secara politis juga menjadi sebab kemunduran Islam di Spanyol. Melemahnya kekuasaan Islam di Spanyol, telah diketahui oleh orang-orang Kristen sehingga mereka bersiap-siap untuk menyerang pemerintahan Islam. Kerajaan Kristen Aragon berhasil Huesea pada tahun 1096 M, Saragosa (1118 M), Tyortosa (1148 M) dan Kenida pada tahun 1149 M. Pada tahun 1212 M, koalisi raja-raja Kristen berhasil menaklukkan Las Navas De Tolosa yang menyebabkan Dinasti Muwahhidun menarik diri dari Spanyol. Sebagian besar kota penting yang awalnya dikuasai oleh Islam, akhirnya satu per satu jatuh ke tangan pihak Kristen.[116]

Pada pertengahan abad ke-13, satu-satunya kota penting yang masih dikuasai oleh Islam adalah Granada di bawah pimpinan Dinasti Ahmar. Pada awalnya, para penguasa Kristen membiarkan keberadaan Dinasti Ahmar dengan syarat membayar pajak kepada penguasa Kristen, tapi akhirnya di antara mereka terjadi perselisihan sehingga kekuasaan Dinasti Ahmar menjadi terancam. Selain itu, dalam tubuh Dinasti Ahmar sendiri juga terjadi perebutan kekuasaan yang mengakibatkan munculnya perang saudara. Akhirnya pada tahun 1492 M, Granada, yang merupakan benteng terakhir umat Islam di Spanyol dapat dikuasai oleh penguasa Kristen Spanyol.[117]

Nasib umat Islam pasca penaklukan Granada oleh penguasa Kristen sangat menyedihkan. Pada tahun 1556 M, penguasa Kristen melarang pakaian Arab dan Islam di seluruh wilayah Spanyol, bahkan pada tahun 1566 M, penggunaan bahasa Arab dilarang di Spanyol.[118]

2. Timbulnya Semangat Orang-Orang Eropa Untuk Menguasai Kembali Andalusia

Setelah berhasil menaklukkan Spanyol, para penguasan muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna dengan membiarkan penduduk Spanyol memeluk agamanya serta diberi ruang untuk mempertahankan hukum dan tradisi mereka sendiri. Pemerintah Islam hanya mewajibkan membayar pajak kepada negara bagi penduduk Spanyol. Lambat laun, kondisi ini menjadi bumerang bagi pemerintah Islam, di mana penduduk Kristen Spanyol terus menyusun kekuatan untuk menggulingkan penguasa muslim.[119]

Pada perkembangan selanjutnya, di Spanyol bermunculan beberapa kerajaan yang didirikan oleh orang-orang Kristen, di antaranya: Kerajaan Leon dan Castile, Kerajaan Navarre dan Kerajaan Aragon. Kemelut yang diciptakan oleh para penguasa Kristen ini juga menjadi pemicu melemahnya kekuasaan Islam di Spanyol. Para penguasa Kristen tersebut bermaksud ingin menguasai kembali Spanyol. 

Dikisahkan bahwa, kelompok orang-orang Katholik yang menolak kehadiran kaum muslimin di Spanyol melarikan diri ke perbatasan Spanyol bagian Utara yang merupakan kawasan pegunungan dan terdiri dari lembah dan gua sehingga cocok dijadikan sebagai tempat persembunyian. Mereka mengangkat Pelayo (718-747 M) sebagai pemimpin pertama di pengasingan yang semasa dengan amir Islam di Spanyol, Abdurrahman. Ibu kota kerajaan Katholik ini berada di Cangas de Onis dan kemudian dipindahkan ke Oviedo pada masa pemerintahan Alfonso II. Raja tersebesar Khatolik Spanyol adalah Alfonso III yang semasa dengan Muhammad bin Abdurrahman II, pemimpin Islam Andalusia (Spanyol).[120]

Ketika Garcia I (909-914 M) memerintah, ibu kota kekuasaan Katholik dipindahkan ke Leon. Ketika Ordono III (951-956 M) naik tahta, dia mengakui hegemoni kekhalifahan Islam di Spanyol yang saat itu dipimpin oleh Abdurrahman An-Nashir. Para penguasa Kristen pada saat itu membayar upeti kepada pemerintahan Islam.[121] Pada abad ke-10, Kerajaan Kristen Navarre menampakkan kekuasaannya setelah berhasil merebut sebagian wilayah Arragon. Pada saat pemerintahan Sancho III Garces (1005-1035 M), dia menyatukan wilayah Navarre, Castile, Leon dan Sobrarbe di bawah kekuasaannya.[122]

Kerajaan Kristen lainnya yang muncul di saat umat Islam Spanyol dalam keadaan lemah adalah Kerajaan Aragon pada tahun 1035 M. Kemudian pada tahun 1179 M, Alfonso dari Aragon membuat perjanjian dengan Kerajaan Castile untuk memberikan kesempatan kepada Kerajaan Aragon menghadapi Arab di Valencia.[123] Perkembangan kerajaan Kristen Spanyol menjelang terusirnya umat Islam dari Semenanjung Iberia tersebut lebih banyak terlibat pergolakan politik dengan Perancis, Inggris, Portugal, Itali dan Sisilia.[124] Pada perkembangan selanjutnya, Ferdinan II (1479-1516 M) dari Aragon mengawini Isabella dari Castile dan menggabungkan kedua kerajaannya menjadi satu. Gabungan dua kerajaan tersebut dikenal dengan Reyes Catolicos atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Catholic Kings.[125]

Setelah berhasil menaklukkan kekuasaan Islam di Spanyol, para penguasa Kristen melakukan pemaksaan kepada umat Islam di Spanyol untuk berpindah agama atau keluar dari Spanyol. Semua buku dan naskah-naskah berbahasa Arab dibakar oleh para penguasa Kristen.

Umat Islam yang tetap tinggal di Spanyol, banyak di antara mereka yang menjadi kripto-muslim, yaitu orang yang mengaku Kristen, tetapi secara diam-diam mempraktikkan ajaran Islam. Sebagian umat Islam yang pulang dari pesta pernikahan ala Kristen, kemudian secara diam-diam melakukan pernikahan kembali sesuai dengan ajaran Islam. Banyak pula umat Islam yang mengadopsi nama Kristen sebagai nama publik, tetapi menggunakan nama Arab secara pribadi.[126]

D. Hancurnya Peradaban Islam di Andalusia

1. Hancurnya Kekuasaan Islam dan Rendahnya Semangat Para Ahli dalam Menggali Budaya Islam

Pada tahun 1212 M, umat Kristen mengadakan serangan besar-besaran ke Spanyol dengan mengatasnamakan perang suci di Eropa. Mereka dapat menghimpun bantuan sukarelawan yang terdiri dari orang-orang Perancis, Jerman, Inggris dan Itali. Serangan tersebut dihadapi oleh pasukan Khalifah Al-Mansur Billah bersama 600.000 tentara di Las Navas de Toloso, sekitar 70 mil sebelah timur Cordova. Pada saat itu pasukan Kristen dipimpin oleh Raja Castile, Alfonso VIII. Dalam pertempuran tersebut pasukan Kristen dapat mengalahkan pasukan Islam dan menyebabkan berkahirnya kekuasaan Al-Muwahhidun di Spanyol.[127]

Karim menyebutkan bahwa, kemunduran dan kehancuran Islam di Andalusia disebabkan oleh para penguasa Islam yang cukup puas menerima upeti dari penguasa Kristen dan tidak melakukan Islamisasi secara sempurna di Spanyol. Sementara kehadiran bangsa Arab di Spanyol menimbulkan rasa iri bagi penduduk Kristen dan kondisi ini turut membangkitkan rasa kebangsaan umat Kristen di Spanyol. Selain itu, loyalitas militer Islam sebagai tentara bayaran juga sangat diragukan. Di sisi lain, etnis-etnis non Arab di Spanyol juga sering menjadi perusak perdamaian.[128]

Setelah kekalahan besar yang dialami Muwahhidun yang menewaskan ratusan ribu umat Islam, pasukan Kristen yang memenangkan pertempuran tersebut terus melakukan penaklukan Andalusia selama empat puluh tahun. Seluruh wilayah Spanyol dikuasai Kristen, kecuali Granada.[129] Namun demikian, seiring dengan serangan terhadap kekuatan kaum muslimin di bagian utara, tekanan hebat juga terus dilancarkan oleh para penguasa Kristen terhadap kaum muslim di Granada yang berada di kawasan selatan Spanyol. Akhirnya Granada sebagai kekuasaan terkahir umat Islam juga terpaksa menyerah kepada penguasa Kristen.[130]

Pada awal abad ke-16, seluruh Semenanjung Iberia (Spanyol) berada di bawah kekuasaan Kristen. Setelah mereduksi kaum muslimin di Spanyol ke dalam perbudakan, Gereja Katholik Roma kini berkonsentrasi untuk menjadikan budak-budak muslim tersebut sebagai Kristen Trinitarian. Umat Kristen di Spanyol terus melakukan usaha-usaha untuk mengeliminasi semua umat Islam yang masih mempraktikkan nilai-nilai Islam di Spanyol.[131]

Proses pengalihan agama kaum muslimin ke dalam agama Kristen dipercepat dengan cara memecah belah keluarga mereka. Berdasarkan dekrit yang dikeluarkan oleh Ratu Isabella, semua pria di bawah usia 14 tahun dan wanita di bawah usia 12 tahun harus dipisahkan dari keluarga mereka dan diserahkan kepada Gereja Katholik Roma untuk dibesarkan sebagai Kristen Trinitarian.[132]

2. Banyaknya Orang-Orang Eropa yang Menguasai Ilmu Pengetahuan dari Islam

Kemajuan berbagai peradaban dan ilmu pengetahuan di dunia Barat saat ini tidak terlepas dari kontribusi besar umat Islam di Spanyol. Pada masa itu, banyak orang-orang Eropa yang datang ke Spanyol untuk belajar kepada umat Islam. Para mahasiswa asal Eropa yang datang ke Spanyol, selain untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahun, mereka juga melakukan penerjemahan berbagai karya umat Islam di Spanyol ke dalam bahasa-bahasa Eropa.[133]

Setelah pulang dan memperoleh ilmu pengetahuan dari Spanyol, para mahasiswa asal Eropa mendirikan sekolah dan universitas di negeri mereka. Universitas pertama yang didirikan di Eropa adalah Universitas Paris pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman pertengahan, di Eropa telah berdiri 18 universitas.[134]


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada saat berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Daulah Bani Umayyah melakukan ekspansi besar-besaran ke Barat. Pada masa pemerintahan Al-Walid yang berjalan lebih kurang sepuluh tahun, pada tahun 711 M tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya benua Eropa. Setelah menundukkan Aljazair dan Maroko, pemimpin pasukan Islam, Thariq bin Ziyad bersama pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan benua Eropa.

Dalam ekspedisi yang dilakukan oleh pasukan Islam tersebut, tentara Spanyol dapat dikalahkan oleh pasukan Islam. Ibu Kota Spanyol, Cordova, dengan cepat dapat dikuasai oleh pasukan Islam. Kemudian disusul oleh kota-kota lain, seperti: Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan sebagai ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordova.

Kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh pasukan Islam di Spanyol tidak terlepas dari dua faktor; internal dan eksternal. Faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di negeri Spanyol sendiri. Pada saat pasukan Islam melakukan ekspansi, kondisi sosial, politik dan ekonomi di Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan. Saat itu, penguasa Gothic di Spanyol bersikap tidak toleran terhadap aliran-aliran agama yang berkembang di Spanyol. Adapun faktor internal yang menyebabkan kemenangan pasukan Islam di Spanyol adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan prajurit Islam yang terlibat dalam pasukan perang di Spanyol. Para pemimpin pasukan Islam adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri.

Periode pemerintahan Islam pertama di Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang saat itu berpusat di Damaskus. Pada periode pertama ini, stabilitas politik di Spanyol belum sempurna dan masih terjadi berbagai gangguan, baik yang datang dari dalam, maupun dari luar. Setelah berakhirnya periode pemerintahan para wali, untuk selanjutnya Spanyol berada di bawah pimpinan para amir (panglima atau gubernur). Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh para amir di Spanyol tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang saat itu dipegang oleh para khalifah Abbasiyah di Bagdad.

Periode ketiga sejarah Islam di Spanyol, dimulai dari pemerintahan Abdurrahman III sampai dengan munculnya raja-raja kelompok (Muluk Thawaif). Pada periode ini, Spanyol diperintah oleh penguasa muslim yang menggunakan gelar khalifah. Pada periode ini, umat Islam di Spanyol berhasil mencapai puncak kejayaan dan mampu menyaingi kejayaan Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad. Pada masa ini masyarakat Spanyol dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran.

Pada periode selanjutnya, kekuasaan Islam di Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh kerjaan kecil yang dipimpin oleh raja-raja golongan atau Al-Muluk at-Thawaif. Pemerintahan ini terpusat di kota-kota tertentu, seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Meskipun kondisi politik tidak stabil, namun pada masa Muluk at-Thawaif ini kehidupan intelektual terus mengalami perkembangan.

Periode penaklukan kembali Spanyol (reconquesta) dimulai sejak jatuhnya kekhalifahan Umayyah pada abad ke-11. Namun demikian, para sejarawan Spanyol menganggap bahwa pertempuran Covadonga pada tahun 718 M yang dilakukan oleh pemimpin Asturia, Pelayo, yang berhasil memukul mundur pasukan Islam merupakan tanda dimulainya penaklukan sesungguhnya. Gerakan Reconquesta terlaksana secara menyeluruh dan terkoordinasi setelah akhir kekuasaan Bani Umayyah di Spanyol. Gerakan ini tidak putus-putus memainkan peranannya dalam menyingkirkan Islam di Spanyol.

Pada perkembangan selanjutnya, umat Islam di Spanyol dipimpin oleh Dinasti Murabithun. Dinasti Murabithun berhasil merebut kota-kota di Spanyol, satu per satu. Pada bulan November 1090 M, mereka berhasil merebut Granada dan disusul oleh Seville. Satu-satunya kota yang masih berada dalam kekuasaan Kristen dan tidak mampu direbut oleh Dinasti Murabithun adalah kota Toledo. Pemerintahan Dinasti Murabithun sudah mulai stabil pada tahun 1102 M dan mulai saati itu Dinasti Murabithun menjadi sebuah dinasti yang diperhitungkan sepanjang utara Afrika dan Spanyol.

Selanjutnya kekuasaan Dinasti Murabithun digantikan oleh Dinasti Muwahidun. Perhatian utama Dinasti Muwahhidun adalah memenangi perang suci melawan Kristen di Spanyol. Namun keinginan tersebut tidak berhasil dicapai. Disebabkan beberapa kakalahan yang dialami oleh Dinasti Muwahhidun, akhirnya para penguasa Dinasti ini memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara pada tahun 1235 M. Pasca ditinggalkan oleh Dinasti Muwahhidun, keadaan Spanyol kembali kacau di bawah kekuasaan raja-raja kecil. Kondisi tersebut menyebabkan umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan pasukan Kristen.

Pada periode keenam sejarah Islam di Spanyol, umat Islam hanya berkuasa di daerah Granada yang dipimpin oleh Bani Ahmar. Pemerintah bani Ahmar berdiri dan berkuasa di Spanyol selama 2,5 abad yang dipimpin oleh 32 orang Khalifah. Pada masa Bani Ahmar, peradaban Islam di Granada mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nashir, tetapi sayangnya dinasti ini hanya memiliki wilayah kekuasaan yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan benteng terakhir umat Islam di Spanyol ini berakhir setelah terjadi konflik internal di tubuh Bani Ahmar.

Masuk dan berkembangnya Islam di Andalusia (Spanyol) selama lebih kurang tujuh setengah abad telah membuka ckarawala baru dalam sejarah Islam. Pada saat itu umat Islam di Spanyol telah mencapai kemajuan yang pesat, baik di bidang ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Hal ini ditandai dengan bermunculan figur-figur ilmuan yang sukses di bidangnya masing-masing. Dalam bidang filsafat, Spanyol Islam telah merintis pembangunannya sekitar abad ke-9 M selama pemerintahan Muhammad bin Abdurrahman. Kajian tentang filsafat ini dilanjutkan oleh penguasa berikutnya, yakni Al-Hakam (961-976 M) yang mengeluarkan kebijakan untuk mengimpor karya-karya ilmiah dan filosofis dari Timur dalam jumlah yang besar. Spanyol Islam (Andalusia) juga banyak melahirkan ilmuan di bidang sains. Dalam bidang Matematika, pakar yang paling terkenal adalah Ibn Sina. Para tokoh muslim di Spanyol juga memperoleh prestasi di bidang ilmu pengetahuan alam, terutama ilmu botani murni dan terapan. Dalam bidang sejarah, Spanyol Islam telah melahirkan banyak penulis sejarah terkenal, di antaranya Zubair dari Valancia yang menulis sejarah tentang negeri-negeri muslim di Mediterania serta Sisilia. Tokoh lainnya, Ibn Al-Khatib yang menulis sejarah tentang Granada dan Ibn Khaldun yang merumakan seorang perumus filsafat sejarah. 

Umat Islam di Spanyol menganut Mazhab Maliki pada awalnya diperkenalkan oleh Ziyad ibn Abdurrahman yang selanjutnya dikembangkan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam bin Abdurrahman. Ahli Fiqih lainnya yang terkenal di Spanyol adalah Abu Baki, Ibn Al-Qutiyah, Munzir, Ibn Said Al-Batuthi, Ibn Hazm dan Ibn Rusyd.

Indikasi kemajuan bidang seni dan musik di Spanyol, ditandai dengan berdirinya sekolah music di Cordoba yang didirikan oleh Zaryab, seorang artis terbesar di zamannya. Zaryab adalah siswa sekolah musik Ishaq Al-Mausuli di Baghdad. Sekolah tersebut akhirnya menjadi model bagi sekolah musik lainnya yang bermunculan di Villa, Toledo, Valencia dan Granada. Dalam bidang sastra muncul Ibn Abd Rabbihi (860-940 M) dari Cordova yang merupakan penyair kesayangan Abdurrahman III. Tapi pujangga terbesar dan memiliki pemikiran murni dari kalangan muslim Spanyol adalah Ali ibn Hazm (994-1064 M).

Dalam bidang fisik, Spanyol Islam telah mendirikan bangunan-banguan dan berbagai fasilitas, seperti perpustakaan yang jumlahnya sangat banyak, gedung pertanian, jembatan-jembatan air, irigasi, roda air dan lain-lain. Istana-istana dan mesjid-mesjid besar yang megah serta tempat pemandian dan taman juga disatukan dalam kota yang tertata dengan teratur.

Kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan sumbangan yang tidak ternilai bagi peradaban dunia saat ini. Tetapi imperium yang begitu besar di daratan Eropa ini pada akhirnya juga mengalami nasib yang sangat memilukan. Pada pertengahan abad ke-13, satu-satunya kota penting yang masih dikuasai oleh Islam adalah Granada di bawah pimpinan Dinasti Ahmar. 

Nasib umat Islam pasca penaklukan Granada oleh penguasa Kristen sangat menyedihkan. Pada tahun 1556 M, penguasa Kristen melarang pakaian Arab dan Islam di seluruh wilayah Spanyol, bahkan pada tahun 1566 M, penggunaan bahasa Arab dilarang di Spanyol. Umat Islam yang tetap tinggal di Spanyol, banyak di antara mereka yang menjadi kripto-muslim, yaitu orang yang mengaku Kristen, tetapi secara diam-diam mempraktikkan ajaran Islam. Sebagian umat Islam yang pulang dari pesta pernikahan ala Kristen, kemudian secara diam-diam melakukan pernikahan kembali sesuai dengan ajaran Islam. Banyak pula umat Islam yang mengadopsi nama Kristen sebagai nama publik, tetapi menggunakan nama Arab secara pribadi.

Pada awal abad ke-16, seluruh Semenanjung Iberia (Spanyol) berada di bawah kekuasaan Kristen. Setelah mereduksi kaum muslimin di Spanyol ke dalam perbudakan, Gereja Katholik Roma kini berkonsentrasi untuk menjadikan budak-budak muslim tersebut sebagai Kristen Trinitarian. Umat Kristen di Spanyol terus melakukan usaha-usaha untuk mengeliminasi semua umat Islam yang masih mempraktikkan nilai-nilai Islam di Spanyol.

Kemajuan berbagai peradaban dan ilmu pengetahuan di dunia Barat saat ini tidak terlepas dari kontribusi besar umat Islam di Spanyol. Pada masa itu, banyak orang-orang Eropa yang datang ke Spanyol untuk belajar kepada umat Islam. Setelah pulang dan memperoleh ilmu pengetahuan dari Spanyol, para mahasiswa asal Eropa mendirikan sekolah dan universitas di negeri mereka. Universitas pertama yang didirikan di Eropa adalah Universitas Paris pada tahun 1231 M.

B. Saran-Saran

Kepada pihak perpustakaan Pascasarjana UIN Ar-Raniry diharapkan dapat menyediakan buku-buku yang lengkap, khususnya terkait sejarah peradaban Islam guna mempermudah mahasiswa dalam mencari literatur untuk penulisan karya ilmiah.

Kepada mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry diharapkan untuk terus mempelajari sejarah Islam secara komprehensif sebagai bahan pengetahuan dan perbandingan guna melakukan perubahan-perubahan menuju kebangkitan umat Islam di masa mendatang.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata ‘Urrahim, Islam Andalusia: Sejarah Kebangkitan dan

            Keruntuhan, terj. Kampung Kreasi, Ciputat: Gaya Media Pratama, 2004

Afrizal, Ibn Rusyd; Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, Jakarta: Erlangga, 2006

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014 

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008

Hepi Andi Bastoni, 101 Kisah Tabi’in, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006

Muhammad Ali Hanafiah dan Mustafa Abdullah, Variasi Aliran Tafsir di Andalus pada Era

             Kerajaan Muwahhidun (540 H/1142 M-667/1268 M); Satu Tinjauan Awal, makalah

            Akademi Pengkajian Islam, University Malaya, Kuala Lumpur, t.t 

M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka

            Book Publisher, 2009

Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam di Spanyol dan Implikasinya Terhadap Umat Islam di

            Eropa, Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007

Philip K. Hitti, History of The Arabs, terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, 

            Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013


Not: Silahkan dikutip seperlunya bagi yang membutuhkan dengan syarat mencantumkan                  sumber blog ini. Tks





[1]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), cet. 25, hal. 43. 
[2]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 114. 
[3]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam di Spanyol dan Implikasinya Terhadap Umat Islam di              Eropa, (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007), hal. 8. 
[4]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 43-44. 
[5]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 88. 
[6]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 8. 
[7]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 89. 
[8]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 114. 
[9]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 89. 
[10]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 114. 
[11]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 118. 
[12]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 9. 
[13]Philip K. Hitti, dalam bukunya, menyebutkan bahwa, pada saat bertemu di Toledo, Musa bin             Nushair mencambuk Thariq bin Ziyad dan merantainya karena tidak mematuhi perintahnya untuk       berhenti sejenak pada tahap-tahap awal penyerbuan, tetapi kenyataanya Thariq terus melancarkan      upaya penaklukkan. Hal ini dipicu oleh kecemburuan Musa bin Nushair atas keberhasilan yang          dicapai oleh Thariq bin Ziyad. Lihat: Philip K. Hitti, History of The Arabs, terj. Cecep Lukman           Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013), hal. 630-631. 
[14]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 89-90. 
[15]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 10. 
[16]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 89-90. 
[17]Musa bin Nushari adalah penakluk wilayah Maroko dan Spanyol. Di masa hidupnya dia sempat         menyaksikan berbagai peristiwa, di antaranya tragedy Usman bin Affan dan perang Shiffin antara      Ali dan Mu’awiyah. Lihat: Hepi Andi Bastoni, 101 Kisah Tabi’in, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,         2006), hal. 428. Meskipun Musa bin Nushair telah berjasa dalam menaklukkan Afrika dan                  Spanyol, namun menjelang akhir hayatnya, Musa seperti tidak dihargai oleh penerus Al-Walid yang    melemparkan Musa dalam jurang kehinaan. Musa dihukum untuk berdiri di bawah terik matahari       sampai kelelahan. Seluruh kekayaan Musa juga disita dan akhirnya Musa menjadi seorang pengemis    di sebuah desa terpencil di Kawasan Hijaz, tepatnya di Wadi al-Qura. Lihat: Philip K. Hitti, History    of The Arabs, hal. 633. 
[18]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 115. 
[19]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 91. 
[20]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 119. 
[21]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…., hal. 93. 
[22]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 93-94. 
[23]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 94. 
[24]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 94. 
[25]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 94-95. 
[26]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 95. 
[27]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 115. 
[28]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 115. 
[29]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 95. 
[30]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 115. 
[31]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 116. 
[32]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 95. 
[33]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 95. 
[34]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 96. 
[35]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 96. 
[36]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 668-669. 
[37]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 97. 
[38]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 97-98. 
[39]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 33. 
[40]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 40. 
[41]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 700. 
[42]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 700. 
[43]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 64. 
[44]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 64-65 
[45]Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata ‘Urrahim, Islam Andalusia: Sejarah Kebangkitan dan             Keruntuhan, terj. Kampung Kreasi, (Ciputat: Gaya Media Pratama, 2004), hal. 103. 
[46]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 98. 
[47]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 36. 
[48]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 690. 
[49]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 37. 
[50]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 689. 
[51]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 35. 
[52]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 45. 
[53]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 99. 
[54]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 694. 
[55]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 39. 
[56]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 697. 
[57]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 99. 
[58]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 52. 
[59]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 99-100. 
[60]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 53. 
[61]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 74. 
[62]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 99-100. 
[63]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 704. 
[64]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 100. 
[65]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 705. 
[66]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 706. 
[67]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 119. 
[68]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 120. 
[69]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 106-107. 
[70]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 120. 
[71]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 108-109. 
[72]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 109. 
[73]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 120. 
[74]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 101. 
[75]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 102. 
[76]Afrizal, Ibn Rusyd; Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Erlangga, 2006), hal.        ii. 
[77]Afrizal, Ibn Rusyd…, hal. 18. 
[78]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 743. 
[79]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 121. 
[80]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 731. 
[81]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 732. 
[82]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 733. 
[83]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 102. 
[84]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 56. 
[85]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 56-57. 
[86]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 724. 
[87]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 122. 
[88]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 724. 
[89]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 720. 
[90]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 122. 
[91]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 747-748. 
[92]Muhammad Ali Hanafiah dan Mustafa Abdullah, Variasi Aliran Tafsir di Andalus pada Era             Kerajaan Muwahhidun (540 H/1142 M-667/1268 M); Satu Tinjauan Awal, (makalah Akademi           Pengkajian Islam, University Malaya, Kuala Lumpur, t.t), hal. 38. 
[93]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 122. 
[94]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 654. 
[95]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 765. 
[96]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 754. 
[97]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 755. 
[98]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 121-122. 
[99]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 103. 
[100]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 709. 
[101]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 712. 
[102]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 103. 
[103]Menurut Badri Yatim, jumlah pemandian di Cordova saja sebanyak 900 pemandian. Lihat:                 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 105. 
[104]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 123. 
[105]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 105. 
[106]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 58. 
[107]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 104. 
[108]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 671-672. 
[109]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 673. 
[110]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 758-759. 
[111]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 761. 
[112]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 123-124. 
[113]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 107. 
[114]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 124. 
[115]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, hal. 97. 
[116]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 125. 
[117]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 125. 
[118]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 125-126. 
[119]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,hal. 124 
[120]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 17. 
[121]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 18. 
[122]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 18-19. 
[123]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 24-26. 
[124]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 27. 
[125]Merduati, Runtuhnya Kekuasaan Islam…, hal. 29. 
[126]Philip K. Hitti, History of The Arabs, hal. 706-707. 
[127]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book                       Publisher, 2009), cet. 2, hal. 248. 
[128]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran…, hal. 250. 
[129]Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata ‘Urrahim, Islam Andalusia…, hal. 203. 
[130]Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata ‘Urrahim, Islam Andalusia…, hal. 203-204. 
[131]Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata ‘Urrahim, Islam Andalusia…, hal. 221. 
[132]Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata ‘Urrahim, Islam Andalusia…, hal. 222. 
[133]Munawiyah dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Banda Aceh: PSW IAIN Ar-Raniry, 2009), hal.               162. 
[134]Munawiyah dkk, Sejarah Peradaban Islam, hal. 162
Share this article :


3 comments:

  1. Sedikit berbagi pengalaman siapa tau bermanfaat
    Sudah berkali-kali saya mencari tempat yang menyediakan pesugihan, mungkin lebihdari 15 kali saya mencari paranormal mulai dari daerah jawa Garut, Sukabumi, cirebon, semarang, hingga pernah sampai ke bali , namun tidak satupun berhasil, suatu hari saya sedang iseng buka-buka internet dan menemukan website ustad.hakim
    www.pesugihan-islami88.blogspot.co.id
    sebenarnya saya ragu-ragu jangan sampai sama dengan yang lainnya tidak ada hasil juga, saya coba konsultasikan dan bertanya meminta petunjuk pesugihan apa yang bagus dan cepat untuk saya, nasehatnya pada saya hanya di suruh YAKIN dan melaksanakan apa yang di sampaikan pak.ustad, Semua petunjuk saya ikuti dan hanya 1 hari Alhamdulilah akhirnya 5M yang saya tunggu-tunggu tidak mengecewakan, yang di janjikan cair keesokan harinya, kini saya sudah melunasi hutang-hutang saya dan saat ini saya sudah memiliki usaha sendiri di jakarta, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya sering menyarankan untuk menghubungi ustad.hakim bawazier di 085210335409 agar di berikan arahan

    ReplyDelete